
“Kamu sengaja mau buat saya dimarahin sama ibu ya?”
Anggita langsung melebarkan kelopak mata. Gerakan tangannya yang hendak memasang seat belt langsung terhenti.
“Nggak. Kamu jangan nuduh orang sembarangan,” jawab Anggita sedikit ketus mendengar tuduhan Alan.
“Terus kenapa nggak langsung bilang kalo mau minta diantar ke pasar?” desak Alan karena baru sehari ia di rumah, sudah dimarahi oleh ibunya.
“Kamu yang bilang lima menit lagi,” ujar Anggita agar pria di sampingnya ingat apa yang ia katakan.
“Ya tapi kan kamu bisa---.”
“Saya takut ganggu,” potong Anggita.
Alan tidak lagi melanjutkan ucapannya, ia menoleh ke arah Anggita yang menunduk dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Lelaki itu menghela napas panjang, sebelum kembali bertanya, “Biasanya ke pasar sama dia?”
“Sama supir di rumah kamu, tapi kata ibu tadi dianya lagi kurang enak badan.”
Anggita hanya menjawab pertanyaan yang Alan ajukan seadanya. Tanpa mencoba untuk menanyakan hal lain, untuk memperpanjang perbincangan mereka. Ia tidak ingin dicap sebagai orang yang sok dekat ataupun banyak tanya. Dia juga tidak ingin mengetahui apa pun tentang putra sulung majikannya itu.
Melihat respon Anggita yang kurang bersahabat, Alan pun tidak lagi banyak bertanya. Hanya sesekali Anggita mengucapkan arah mana yang harus Alan ambil, hingga akhirnya mereka tiba di pasar tradisional, tempat biasa Anggita berbelanja.
“Kamu biasa belanja di sini?” tanya Alan lagi setelah melihat pasar yang Anggita tuju.
Gadis itu mengangguk cepat.
“Kenapa? Emm, kalo nggak mau masuk, kamu tunggu di sini aja. Nggak lama banget kok,” ucap Anggita melihat raut muka jijik di wajah Alan.
Lelaki itu terlihat seperti jarang atau bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisinoal tersebut. Ditambah hari ini jatuh pada pasar mingguan, sehingga penjual hampir dua kali lipat lebih banyak, dan otomatis menjadi lebih padat.
“Nggak, aku harus ngikutin kamu,” tolak Alan dengan dada membusung.
“Eh?” Anggita mengernyit dengan mata menyipit.
“Kenapa? Aku udah lama nggak ke pasar ini, jadi sekalian mau lihat-lihat aja,” lontar Alan melihat Anggita yang menatapnya aneh.
“Oh, ya udah.” Mengangguk pelan, kemudian berjalan memasuki pasar.
Baru beberapa langkah, mereka langsung disambut oleh banyak penjual buah, serta barang pecah belah dengan harga murah meriah.
__ADS_1
Anggita hanya menggeleng, tersenyum ramah, atau membungkuk saat melewati pembeli atau penjual yang sudah cukup tua.
Setelah cukup lama berdesak-desakkan, mereka pun tiba pada bagian tengah pasar yang mayoritasnya menjual lauk pauk, sayuran, dan bahan sembako lainnya.
Anggita mulai memilih sayuran segar sesuai yang ada dalam daftar belanjaan yang ia buat.
“Eh, Neng Anggita. Mau cari apa aja, Neng?” tanya seorang penjual yang terlihat sudah tua.
“Biasa, Bu. Belanjaan bulanan untuk bu Ida,” jawab Anggita tersenyum hangat.
Ia pun mengabaikan Alan yang sejak tadi memperhatikan dirinya beberapa langkah di belakang.
“Eh, itu calonnya Neng Anggita ya? Yaah, kalo gitu batal dong jadi calon mantu ibu,” celetuk seorang wanita penjual barang sembako di samping penjual sayuran yang Anggita datangi.
Gadis itu langsung menoleh, dan mengikuti arah pandang wanita tersebut. Ia kemudian terkekeh dan menggeleng pelan.
“Bukan, Bu. Ini anaknya majikan saya. Mana ada yang mau sama saya,” terang Anggita memperkenalan Alan secara singkat pada penjual langganannya.
“Si Ujang anak ibu ada tuh. Siapa coba yang nggak mau sama gadis cantik dan baik kayak kamu,” sahut beliau begitu ingin mendapat menantu yang ramah seperti Anggita.
Senyum gadis itu begitu hangat, membuat banyak penjual yang suka pada dirinya. Anggita yang sudah biasa mendengar lelucon itu, hanya menanggapinya dengan senyuman.
Alan terus mengikuti ke mana Anggita melangkah.
“Mau aku bawain?” tawarnya melihat Anggita yang tampak keberatan membawa keranjang sayurnya.
“Nggak usah, aku bisa kok,” tolak Anggita dengan gelengan pelan, kemudian kembali menenteng keranjang hijau di tangannya.
Berkali-kali Alan menawarkan diri, Anggita tetap menolak hingga saat berjalan kembali ke mobil pun ia tidak ingin dibantu.
“Kamu itu pura-pura kuat atau memang keras kepala?” Alan kembali mengajukan pertanyaan saat mereka dalam perjalanan pulang.
“Nggak tahu, terserah kamu aja mau anggapnya apa,” seloroh Anggita tidak peduli dengan penilaian putra majikannya itu.
Ia tidak ingin menerima bantuan siapa pun. Tidak ingin kembali merasakan patah hati kedua seperti yang ia alami lima tahun lalu. Semua itu berawal dari pertolongan yang Galang berikan pada dirinya.
Tidak peduli jika itu sebagai sikap seorang laki-laki pada perempuan lemah, sikap tanggung jawab, ataupun yang lainnya. Karena bagi Anggita, semua itu merupakan awal dari terbentuknya luka.
Sejak menemani Anggita di pasar, Alan pikir Anggita merupakan gadis yang sangat pembersih, tidak tahan dengan bau ikan dan segala macamnya, serta gadis yang tidak tahan berada dalam kerumunan. Namun, semua persepsinya patah begitu saja setelah melihat interaksi Anggita dengan orang-orang di dalam sana. Cara gadis itu berbicara, menawar, dan tersenyum, membuat Alan perlahan mulai kagum dan semakin penasaran dengan dirinya.
__ADS_1
“Kamu beneran mau jadi menantu ibu yang tadi?”
“Yang mana?” tanya Anggita tidak ingat siapa yang Alan maksud.
“Yang Si Ujang tadi,” kata Alan.
“Pssfftt!” Anggita menahan tawanya agar tidak pecah.
“Kenapa? Memangnya pertanyaan aku ada yang lucu?” ujar Alan melihat Anggita yang menahan tawa.
“Hmm? Nggak kok. Cuma lucu aja. Kamu percaya sama ibu-ibu tadi?” tanya Anggita balik.
“Heh! Aku itu anak majikan kamu. Jadi kamu harus jawab dulu pertanyaan aku tadi, bukan malah balik nanya.” Alan memelototkan mata dan menatap Anggita dengan garang. Tidak ingin Anggita mendapati dirinya yang menelan mentah-mentah perkataan ibu-ibu di pasar tadi.
“Iya, Pak,” sahut Anggita mengangguk patuh.
Baru saja Alan membuka mulut hendak menyuruh Anggita menjawab pertanyaannya, Anggita lebih dulu bicara.
“Bercanda. Mana ada orang yang mau sama aku,” jawab Anggita tersenyum tipis.
Sejak dirinya memutuskan hubungan bersama Galang, sejak detik itu juga Anggita tidak ingin jatuh hati, atau menaruh harapan pada pria lain. Ia hanya berusaha untuk bertahan dengan dirinya sendiri, serta selalu menjaga dan melindungi Jihan.
“Aha! Nggak mungkin,” cetus Alan terbahak mendengar jawaban Anggita yang terlalu klasik.
Anggita hanya diam, membiarkan Alan tertawa dengan puas. Ia hanya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
“Sorry-sorry,” ucap Alan setelah berhasil meredakan tawanya.
“Kamu udah lama tinggal di sini?”
“Kisaran lima tahun,” jujur Anggita.
“Nah! Nggak mungkin selama itu nggak ada yang deketin kamu, atau nggak ada orang yang kamu taksir,” terka Alan.
Anggita tidak terlalu jelek, bahkan gadis di sampingnya terlihat cantik, meskipun tidak terlihat memakai make up di wajahnya. Tatapannya teduh, senyumnya hangat, dan ramah. Sangat mustahil tidak ada pemuda yang tidak tertarik padanya.
“Memangnya kenapa?” tanya Anggita begitu penasaran karena Alan tidak kunjung percaya pada dirinya.
***
__ADS_1