
“Anggita takut salah jatuh cinta lagi,” ujar Anggita berurai air mata.
Ia mencurahkan seluruh isi hatinya di hadapan makam kedua orang tuanya, hingga tidak sadar jika langit di atasnya perlahan berubah menjadi gelap, seakan merasakan kesedihan gadis yang tengah mengadu ke kedua orang tuanya itu.
Anggita tidak mempedulikan rintik gerimis yang perlahan jatuh membasahi bumi. Sweater biru muda yang ia kenakan pun perlahan berubah gelap karena basah oleh tetesan air tersebut.
“Ibu sama ayah jangan sedih ya. Anggita akan berusaha sebaik mungkin untuk hubungan Anggita dan Alan sekarang. Anggita nggak akan jadi anak lemah dan cengeng lagi. Tapi Anggita mohon, hari ini biarin Anggita nangis sepuasnya. Karena Anggita nggak tahu lagi kapan bisa ke sini,” tutur Anggita dengan air mata yang mulai tersamarkan oleh rintik hujan yang semakin lama kian lebat dan deras.
***
Di kamar tamu yang ditempati oleh Jihan, gadis itu terus menangis saat ia tidak melihat kakaknya sejak tadi. Hingga Ana pun akhirnya mengabari Galang yang sedang berada di kantor. Tanpa peduli kakaknya sedang sibuk atau apa pun.
Galang yang saat itu sedang meeting bersama para klien, terpaksa menghentikan presentasinya saat asistennya masuk dengan membawa ponsel.
“Maaf, Pak. Ada panggilan dari Nona Anaya,” bisik asisten Galang.
“Ana?”
Galang langsung mengambil ponselnya dan berjalan ke luar ruang rapat.
“Ada apa, Ana?” tanya Galang.
“Huffh! Akhirnya aku bisa ngomong sama kakak juga,” ucap Ana dengan helaan napas lega.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu sama kamu?” tanya Galang saat tanpa sengaja mendengar isak tangis seseorang.
“Bukan aku. Tapi Kak Anggita. Dia nggak ada di rumah dan nggak ada yang tahu dia ke mana, termasuk pacarnya sendiri,” jelas Ana membuat kelopak mata Galang melebar.
“Kakak akan cari dia sekarang. Kamu tenangin Jihan, dan jangan panik ya. Dia pasti baik-baik aja,” jawab Galang langsung memutuskan panggilan dan kembali masuk ke ruang rapat.
“Maaf, saya sedang ada urusan mendadak. Jadi, rapatnya akan kita lanjutkan lain waktu. Terima kasih,” ucap Galang pada seluruh peserta rapat dan bergegas memasuki lift.
__ADS_1
Di saat sedang terdesak seperti ini, ia merasa jika kecepatan liftnya sangat lambat, padahal semua karena ruangannya berada terlalu tinggi dari lantai pertama kantor. Tak ingin terjadi sesuatu pada Anggita, Galang berlari dengan cepat menuju parkiran, dan menghubungi orang-orangnya untuk membantu mencari Anggita.
“Di mana kamu hujan-hujan begini Laras,” gumam Galang saat dalam perjalanan mencari Anggita.
Sepasang netra Galang bergerak gelisah ke kanan dan kiri jalan yang ia lalui.
Jarak pandangnya pun menjadi terbatas karena hujan yang cukup deras, dan ia tidak dapat memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tujuan pertamanya adalah kediaman lama Anggita. Berharap mantan kekasihnya itu benar-benar ada di sana.
“Laras!” panggil Galang seraya mengetuk pintu papan di hadapannya.
Ia bahkan berkeliling, dan mengintip dari jendela yang sempat ia congkel beberapa waktu lalu. Namun, tak terlihat tanda-tanda ada orang yang memasuki rumah kecil tersebut. Galang pun kembali masuk ke mobilnya. Melanjutkan pencariannya hingga tanpa sengaja ia melihat seseorang di sebuah pemakaman yang tidak terlalu jauh dari jalan raya.
“Laras? Apa itu benar-benar dia?” tanya Galang menurunkan kaca mobil dan semakin yakin jika penglihatannya tidak salah.
Dengan cepat Galang keluar dari mobil, dan membawa sebuah payung.
Anggita yang terlarut dalam kesedihannya, tidak sadar jika ada seseorang yang datang dan mendekat ke arahnya.
Sebelum Galang memayungi Anggita, langkah pria itu tertahan saat Anggita tengah membicarakan dirinya di hadapan makam tersebut. Akhirnya ia pun tahu jalan mana dan sikap seperti apa yang harus ia ambil, untuk menyadarkan Anggita.
Anggita menatap makam orang tuanya yang masih ditetesi oleh guyuran air dari langit, sedang ia tidak lagi merasakannya. Perlahan kepalanya terangkat, melihat sebuah payung yang menaungi dirinya. Dengan gerakan kaku, kepalanya menoleh ke arah belakang, melihat seorang pria mengenakan sepatu pantofel, celana dasar, serta sebuah jas yang rapi. Tanpa melihat wajah pria tersebut, ia sudah menebak siapa yang sedang menemaninya sekarang.
“Ayo pulang, semuanya nungguin kamu di rumah,” ujar Galang merunduk. Membiarkan sepatunya dan bajunya tambah kotor oleh cipratan tanah di sekeliling mereka.
“Kamu kenapa bisa di sini?” tanya Anggita dengan bibir bergetar.
Melihat wajah Anggita yang memucat, basah kuyup, serta bibir ranumnya berubah membiru karena menggigil, Galang meletakkan payungnya dan membuka jas yang ia kenakan.
Memasangkan jas tersebut pada tubuh mungil Anggita.
__ADS_1
“Kamu bisa pegang payungnya? Kita pulang sekarang,” ucap Galang langsung meletakkan lengan kirinya di bawah lipatan tungkai kaki Anggita, serta tangan kanannya menyangga bahu perempuan itu.
“Ayo ambil payungnya? Atau mau hujan-hujanan ke mobilnya?” tanya Galang saat Anggita tetap bergeming.
“Ya udah kalo kamu nggak mau,” pungkas Galang mulai berjalan menuju mobil, dan mendudukkan Anggita di samping kursi kemudi.
Dengan cekatan pria itu mencari handuk dan selimut untuk mengeringkan rambut Anggita yang basah, serta menyelimuti gadisnya.
“Lain kali jangan hujan-hujanan. Kalo kamu sakit semua orang sedih, terutama Jihan dan pacar kamu,” tutur Galang seraya terus mengeringkan rambut Anggita dengan lembut. Tidak peduli dengan rambut dan pakaiannya yang juga sudah basah.
Tangan Anggita perlahan terangkat, menyentuh tangan Galang yang masih berada di atas kepalanya.
“Aku nggak papa,” ucap Anggita sembari menurunkan tangan Galang dari kepalanya.
“Kamu nggak bisa bohong sama aku. Jelas-jelas kamu lagi nggak baik-baik aja. Kenapa pergi nggak kasih tahu siapa pun orang di rumah? Termasuk adik kamu sendiri. Dia nangis nyariin kamu,” omel Galang panjang lebar, membuat Anggita merasa bersalah pada adiknya.
“Aku nggak tahu,” jawab Anggita lirih.
Ia membuang muka ke arah jendela. Tidak ingin Galang melihat dirinya menangis.
“Nggak tahu kalo adik kamu khawatir?” tanya Galang terus menatap Anggita meskipun perempuan di hadapannya tidak menatapnya balik.
Anggita menggeleng pelan. “Nggak tahu kalo aku malah ke sini,” jujurnya.
Galang tidak lagi menanggapi perkataan Anggita. Ia melajukan mobilnya menjauh dari pemakaman. Kebisuan dan keheningan kini begitu akrab menemani mereka berdua saat sedang bersama. Sampai mereka melewati jalan yang sering mereka lalui, tidak ada di antara mereka yang membuka suara, walau hanya untuk sekadar saling mengingatkan dan bernostalgia.
Dalam diamnya, Anggita mengingat dengan jelas jalan raya yang menjadi tempat pertama pertemuan mereka, perlahan sudut bibir Anggita terangkat. Membentuk sebuah senyum yang sangat tipis, hingga Galangvyang berada di sampingnya tidak dapat melihat senyum tersebut.
“Lucu.”
Reflek Galang menoleh ke arah Anggita, mendengar suara lirih gadis di sampingnya.
__ADS_1
“Siapa? Aku?” tanya Galang penuh percaya diri.
***