
Galang langsung berjingkat saat tiba-tiba pintu lemarinya terbuka lebar, dan menampakkan sosok seorang gadis melompat keluar dan berdiri tepat di hadapannya.
“Naya?” tanya Galang seakan tidak percaya dengan sosok yang kini berdiri di depannya.
Lelaki itu mengucek mata dan mengerjap beberapa kali, berusaha untuk meyakini diri jika saat ini ia tidak sedang bermimpi ataupun berhalusinasi.
“Kakak!” teriak Naya langsung mendekap Galang dengan erat, agar sang kakak sadar jika ia tidak sedang berkhayal.
“Kamu kapan pulang? Siapa yang bawa kamu pulang?” tanya Galang merenggangkan dekapan mereka.
“Dijemput sama orang suruhan papa,” jujur Naya dengan senyum lebar terus terukir di bibirnya.
Sejak kecil Naya lebih memilih tinggal di desa bersama neneknya. Gadis itu jatuh cinta pada keindahan desa sejak pandangan pertama, dan kini ia terpaksa pulang dan kembali menetap bersama keluarganya atas permintaan sang papa, yang mengatakan ingin melihat perkembangan putri mereka secara langsung.
“Beneran papa yang jemput?” Galang cukup terkejut mendengar jawaban adiknya. Ekspektasinya langsung melayang jauh, hingga akhirnya Naya menggeleng pelan.
“Nggak gitu juga. Papa ada urusan di dekat desa sana, terus papa nyuruh orang untuk jemput Naya,” ucap Naya.
Galang hanya ber oh ria, harapannya terlalu tinggi jika mengharapkan adik kecilnya akan mendapatkan kasih sayang lebih, dari yang ia rasakan dari kedua orang tuanya.
“Kamu dari tadi ngumpet di situ?” Menuntun Naya berjalan ke arah ranjang.
“Nggak, bisa-bisa Naya pingsan kalo di dalam sana kelamaan,” jawab gadis itu dengan gelengan pelan.
Usia mereka yang hanya terpaut empat tahun, membuat mereka dapat bercerita dengan lebih leluasa. Sedikit hal yang Naya tahu, kepulangannya adalah untuk membuat sang kakak tidak merasa kesepian, ditambah ia juga khawatir saat mengetahui kakaknya mengalami kecelakaan yang cukup parah.
Ia bahkan rela pindah, padahal sebentar lagi akan mengikuti ujian kenaikan kelas.
“Nanti kalo Naya udah sekolah, kakak bantu ajarin Naya ya,” pinta Naya dengan raut muka memelas.
“Iya, nanti kakak ajarin,” jawab Galang seraya mengacak-acak rambut adiknya.
Kehadiran Naya, membuat hari-hari Galang tidak sesuram sebelumnya, lelaki itu cukup terhibur dengan kehadiran sang adik, dan ia berusaha untuk mulai menyibukkan diri dengan membantu gadis itu belajar untuk mengejar ketertinggalannya.
Namun, meskipun Naya kerap menemani dirinya, rasa sepi dan luka yang berusaha untuk Galang sembunyikan, tetap tidak dapat sembuh. Kala sunyi dan gelap mulai menyapa, bayang-bayang tentang Anggita dan Denis tetap berputar dalam kepalanya.
Rasa sakit, kecewa, dan penyesalan itu terus menghantui dirinya. Bahkan hingga akhirnya ia sudah menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA, meskipun harus melalui semua itu dengan susah payah, ia masih tidak tahu di mana keberadaan mereka.
__ADS_1
“Berapa lama lagi aku baru bisa lupain kamu Anggita?” tanya Galang menatap kerlip bintang dari balkon kamarnya.
Sedang di kota lain, Anggita baru saja tiba di tempat keluarga bu Ratih dan pak Galih mengadakan acara makan malam.
Gadis itu berjalan bergandengan dengan Jihan, rasa gugup terus menyergap keduanya, karena mereka tidak pernah makan di restoran mewah. Rasanya tidak pantas jika ia ikut bersama keluarga yang cukup terpandang di kota tersebut.
“Ayo duduk, Alan sebentar lagi sampai,” ujar bu Ratih mempersilakan Anggita dan Jihan.
Keduanya mengangguk dan tersenyum kaku.
“Sudah, jangan tegang begitu. Kita cuma makan saja, kalian itu sudah kami anggap anak sendiri lho,” lanjut Bu Ratih yang sejak tadi memperhatikan raut muka kakak beradik tersebut.
Sedang di hadapan Anggita, Kevin duduk dengan santati sembari memainkan gawai yang berada dalam genggaman tangannya.
Tidak berselang lama, seorang pria dengan celana jeans panjang, serta kemeja kotak-kotak yang kancingnya tidak terpasang, memperlihatkan kaos putih yang melekat di tubuhnya.
“Assalamualaikum,” ucap Alan langsung menyalami kedua tangan orang tuanya.
“Alaan, ibu sama bapak kangen banget sama kamu,” riang bu Ratih langsung berdiri dan mendekap putra sulungnya.
Kemudian lelaki itu menghampiri pak Galih dan melakukan hal yang sama. Beliau menepuk pundak putranya sesekali, seraya mengucapkan rasa bangga melihat putranya tumbuh menjadi laki-laki tampan, cerdas, dan tetap sopan.
Ia tidak menyangka jika adiknya yang dulu kerap bertengkar dengan dirinya, kini sudah semakin besar.
“Balikin hp aku, Kak,” pinta Kevin menengadahkan tangannya.
“Nggak. Nanti di rumah kakak balikin. Besok juga pasti kamu nggak butuh hp,” seloroh Alan penuh percaya diri.
“Sombong amat,” ledek Kevin, mencibir kakaknya.
Lelaki itu hanya tertawa renyah, melihat Kevin meragukan dirinya. Sebelum netra laki-laki itu jatuh pada sepasang gadis yang duduk satu meja dengan keluarganya. Tawanya langsung terhenti, saat pandangan mereka saling bertemu.
“Oh iya, ibu lupa kenalin. Ini Anggita, dia yang bantu ibu di rumah, dan yang di samping dia itu Jihan, adiknya Anggita,” ujar bu Ratih memperkenalkan mereka.
Anggita hanya tersenyum ramah, dan mengalihkan pandangannya.
“Nah, karena kita semua sudah kumpul, lebih baik kita mulai acara makan malamnya. Kalian pasti udah pada lapar,” ujar pak Galih seakan tahu jika remaja di sekitar mereka menahan lapar sejak tadi.
__ADS_1
Pelayan restoran kemudian datang menghidangkan banyak makanan di atas meja yang mula kosong, dan kini terisi penuh dengan makanan dan minuman.
“Selamat makan,” ujar beliau yang langsung dibalas oleh semuanya.
“Eeeuum. Rasanya beda banget ya makan sama keluarga, sama makan sendiri di kost,” celetuk Alan langsung membuat semua mata di meja tersebut menatap ke arahnya.
“Makanya itu, jangan kuliah jauh-jauh lagi,” sahut bu Ratih, sebenarnya selalu mengkhawatirkan putranya itu.
“Iya, Bu. Sebentar lagi aku wisuda, jadi ibu nggak usah cemasin keadaan aku terus,” jawab Alan.
“Oh iya, kamu kuliah di mana?” tanya Alan menoleh ke arah Anggita yang sejak tadi hanya diam.
“Hm?” Gadis yang sejak tadi menunduk menatap makanannya itu, langsung mengangkat kepala.
Hingga akhirnya Anggita hanya dapat menggeleng pelan, dan tersenyum kaku.
“Oh, kalau adik kamu masih sekolah?”
Kini bergantian Jihan yang mengangkat kepala, dengan jawaban yang berbeda dari sang kakak.
“Masih, Kak,” jawab Jihan singkat.
Suasana di antara mendadak akward, Anggita mengusap punggung tangan Jihan yang berada di bawah meja. Tersenyum hangat menatap adiknya, jika pertanyaan itu tidak perlu terlalu ia pikirkan.
Hingga akhirnya Kevin, berdeham kuat karena sang kakak tak kunjung mengajukan pertanyaan pada dirinya.
“Eh, kamu kenapa, Dek? Mau kakak ambilin minum?” tawar Alan.
Kevin menggeleng pelan, dan langsung mengambil air minum di sampingnya.
“Kalo mau ngasih, kasih aja. Nggak usah nanya dulu,” jawab Kevin setelah membasahi tenggorokkannya dengan air putih.
“Besok, kamu cicip makanan buatan Anggita. Masakan dia itu, enak banget. Ibu jamin, kamu bakal ketagihan dan milih nggak pergi ke luar kota lagi,” cetus bu Ratih membanggakan Anggita pada putranya.
Seketika mata Alan berbinar.
“Kenapa nggak sekarang aja? Kenapa nggak makan di rumah aja?”
__ADS_1
***