
Kini Galang telah kembali ke kediamannya bersama Ana. Gadis itu terlihat sangat bahagia karena kini ia tidak lagi merasa kesepian karena kakaknya telah kembali. Ana yang kini sangat manja langsung berlari dan mendekap kakaknya.
“Aku kangen banget sama Kakak,” ungkap Ana mendongakkan kepala menatap Galang.
“Baru aja ditinggal sehari udah kangen. Besok juga kalo kamu udah nikah, kamu tinggalnya sama kakak,” jawab Galang menuntun adiknya ke arah sofa.
“Memangnya berapa lama Ana sama Kevin tinggal di sini?” tanya gadis itu penasaran.
“Sampai dia mapan, dan bisa hidupin kamu dengan kerja keras dia sendiri,” tukas Galang tidak ingin suami adiknya menjadi laki-laki yang lemah dan hanya mengandalkan harta orang tua.
“Kakak suruh aja dia kerja di perusahaan keluarga kita. Gaji dia di sana pasti cukup untuk hidup kami berdua,” usul gadis itu.
“No. Tidak semudah itu ferguso,” goda Galang menyentil hidung adiknya.
“Iiih! Terus dia kerja apa?” geram Ana karena kakaknya terlihat ingin mengerjai calon suaminya.
“Ya mana kakak tahu. Tanya aja sama dia,” balas Galang mengedikkan bahu.
“Kamu tahu? Untuk masuk perusahaan kita itu seleksinya ketat, nggak sembarang orang masuk ke sana,” jelas Galang.
Ia menerangkan tahapan untuk menjadi karyawan di perusahaan yang sudah ia kelola, dan Ana hanya melongo mendengar penjelasan kakaknya itu.
“Tau ah! Aku nggak ngerti,” ucap gadis itu memalingkan wajah. Tidak ingin mendengarkan lagi penjelasan kakaknya.
“Ya udah, kalo nggak mau belajar tentang perusahaan, suruh aja dia nanti cari kerja lain,” putus Galang tak ingin ambil pusing.
“Eeeh, Kakak mau adik Kakak yang cantik ini kelaparan? Huh! Pasti nggak mungkin, ‘kan?” ujar Ana dengan penuh percaya diri. Ia yakin jika kakaknya akan tetap memberi perhatian penuh pada dirinya.
“Mungkin aja. Kan kalo kamu udah nikah, semua jadi tanggung jawab suami kamu,” jawab Galang kemudian mendekatkan wajahnya pada Ana.
“Kalau dia nggak bisa gantiin tanggung jawab kakak ke kamu, kakak akan bawa kamu pergi dari dia,” bisik Galang dengan senyum miring tercetak di bibirnya.
“Aaahh! Kakak jahat banget sih,” rengek Ana hendak menangis.
Sejak hamil, adiknya yang periang itu berubah menjadi gadis cengeng dan lebih emosional.
“Nggak usah nangis. Kakak juga udah cariin dokter kandungan sama ahli gizi untuk jagain kamu dan kandungan kamu,” ujar Galang seraya mengacak-acak rambut Ana menjadi berantakan.
“Memangnya harus banget ya?” tanya gadis itu merasa kakaknya terlalu berlebihan.
“Banget. Kalo perlu kakak mau langsung siapin ruang bersalin sama kamar untuk anak kamu,” jawab Galang dengan persiapan penuh.
“Jangan! Kan kandungannya baru beberapa bulan ,” larang Ana. Menurutnya dengan menyiapkan seorang dokter kandungan dan ahli gizi, semua itu sudah lebih dari cukup.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, tepat tiga hari sebelum hari H pernikahan Ana dan Kevin, Galang mendatangi kediaman pak Galih.
“Anggita, tolong siapkan makanan dan minuman ya,” ujar bu Ratih menghampiri Anggita.
“Baik, Bu,” jawab Anggita tanpa banyak bertanya.
Gadis itu membuat jus jeruk serta beberapa macam kue kering untuk dihidangkan pada tamu yang datang.
Baru saja Anggita keluar dari dapur, manik mata gadis itu tertuju pada pria bersetelan jas yang tampak sangat rapi. Sejenak ia terpana melihat Galang yang kini menjadi pria tampan dan mapan.
‘Aku bahagia karena sekarang aku tahu kamu baik-baik aja, Galang,’ batin Anggita sebelum melanjutkan langkah meletakkan minuman serta kue yang ia hidangkan untuk Galang.
Melihat Anggita yang berjalan ke arahnya, meletakkan serta menuangkan jus jeruk tepat di hadapannya, ingin rasanya Galang mengenggam jemari kecil yang saat itu hanya dapat ia sentuh sekilas.
‘Ternyata laki-laki itu belum mengikat kamu,’ batin Galang sedikit merasa lega karena harapan itu semakin mekar dalam hatinya.
“Maaf, Om. Boleh saya permisi ke toilet sebentar?” izin Galang saat Anggita hendak meninggalkan ruang tamu.
“Boleh-boleh. Anggita, tolong beritahu Nak Galang letak toiletnya ya,” ujar bu Ratih menatap Anggita yang berjalan di belakangnya.
Gadis itu meremas nampan yang berada dalam dekapannya, dan mengangguk pelan. Tak sedikitpun Anggita menoleh ke belakang, di mana Galang berjalan di belakangnya. Sedang Galang terus menatap punggung kecil serta sepasang pundak Anggita yang ia tahu telah menanggung beban yang begitu berat selama ini karena keluarganya.
“Ini toiletnya,” ucap Anggita kembali melanjutkan langkahnya hendak meninggalkan Galang.
“Maaf. Aku nggak tahu semua yang kamu alamin selama ini,” ujar Galang penuh penyesalan.
Anggita memaku di tempatnya, bibirnya membentuk garis lurus dengan tatapan senantiasa tajam.
“Lepas!” tukas gadis itu menghempaskan tangan Galang dan menjaga jarak di antara mereka.
“Nggak ada yang perlu dimaafin. Semua itu cuma kenangan buruk yang udah aku kubur dalam-dalam,” jawab Anggita kemudian berbalik dan mempercepat langkahnya menuju halaman belakang dan bersembunyi di sana.
Melihat Anggita yang berlari menjauhinya, terpaksa Galang mengurungkan niatnya saat ia mendengar langkah kaki seseorang berjalan ke arah dapur.
“Anggita!”
Galang terus mendengarkan suara laki-laki yang memanggil perempuan tercintanya.
Anggita yang mendengar suara Alan, langsung menyeka air mata dan mengusap wajahnya. Gadis itu kemudian berjalan keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Alan.
“Ada apa?” tanya Anggita dengan lembut, jauh berbeda dari nada suara gadis itu saat berbicara dengan mantan kekasihnya.
“Kamu dari mana bawa ini?” tanya Alan menatap nampan yang masih berada dalam dekapan kekasihnya.
“Oh ini, tadi itu aku kira gerimis,” jawab Anggita menyengir lebar.
__ADS_1
“Oh iya, kamu kenapa cari aku?”
“Oh iya, hampir aja aku lupa kenapa aku nyariin kamu,” ucap Alan mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
“Aku kangen sama kamu,” lontar pria itu sengaja ingin menggoda kekasihnya.
Ia begitu senang tiap kali melihat wajah Anggita yang blushing, tanpa tahu jika kini ada hati yang terbakar di balik pintu toilet yang ada di dekat dapur.
“Aku serius Alan,” jawab Anggita tidak ingin bercanda.
“Iya, Sayang.”
Sayang?!
Galang yang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu semakin panas dan geram mendengar gombalan Alan.
“Ibu dan Bapak udah putusin untuk ajak kamu dan Jihan ke nikahannya Kevin sama Ana,” ujar Alan membuat Galang mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
Jantung laki-laki itu berdebar menunggu jawaban Anggita. Ia takut jika gadis itu akan menolak.
“Memangnya harus banget ya? Nanti yang jaga rumah kamu siapa?” tanya Anggita mencari-cari alasan agar ia tidak perlu pergi.
“Kan ada supir sama satpam. Lagi pula kita di sananya nggak lama. Palingan cuma seminggu,” bujuk Alan.
“Eeuum. Kayaknya aku nggak bisa. Jihan kan lagi ujian,” elaknya lagi.
“Hari ini terakhir lho dia ujian,” jawab Alan yang sudah tahu jadwal ujian Jihan.
Tidak tahan karena Anggita terus menolak, akhirnya Galang pun keluar dari persembunyiannya, membuat sepasang kekasih itu terkejut.
“Lho! Kamu ngapain di sini?” tanya Alan menuding Galang.
“Kenapa? Apa kamu lupa fungsi toilet untuk apa?” tanya Galang balik.
Anggita hanya mengerucutkan bibirnya melihat sikap angkuh Galang.
“Kalian kenapa berdua-duaan di sini? Bukannya kalian belum menikah?” tanya Galang menatap Anggita dan Alan bergantian.
“Ini rumahku sendiri. Jadi terserah aku mau bicara di mana dan sama siapa. Bukan urusan kamu,” balas Alan membuat suasana di dapur semakin panas.
“Kalian kenapa malah diskusi di dapur? Mendingan ke depan aja. Kamu juga ikut ya Anggita,” ajak bu Ratih karena tamunya tidak kunjung kembali ke ruang tamu.
“Saya, Bu? Memangnya ada apa, Bu?” tanya Anggita menunjuk diri.
***
__ADS_1