
Anggita yang sejak tadi diam, agar tidak terjadi masalah. Justru Galang terang-terangan ingin mengacaukan suasana hatinya. Tawaran pria itu untuk membiayai pernikahannya bersama Alan. Sedetik pun Anggita tidak pernah membayangkan kalimat itu akan terlontar dari bibir Galang, di hadapan keluarga pak Galih.
“Aha, nggak perlu. Anggita ingin aku berjuang sendiri untuk pernikahan kami. Benarkan Sayang?” tanya Alan menatap kekasihnya.
“Iya,” jawab Anggita singkat dan tetap memaksakan senyumnya.
“Bagaimana kalau uang yang sudah kalian berikan untuk acara pernikahan ini, saya kembalikan? Jadi kalian bisa segera menikah,” usul Galang seakan memang ingin melihat Anggita menikah tepat di depan matanya.
“Nggak usah. Alan sudah mengatakan jika itu adalah hadiah pernikahan mereka. Alan memang tidak sekaya Anda. Tapi yang saya lihat adalah perjuangan dia. Jadi Anda tidak perlu repot-repot,” jawab Anggita dengan penuh ketegasan.
Suasana yang semula santai, berubah tegang saat mendengar Anggita bicara dengan formal pada Galang.
“Iya, Nak Galang. Nggak usah repot-repot. Dengan Nak Galang menyetujui pernikahan Kevin dan Ana saja, itu semua sudah lebih dari cukup. Termasuk tumpangan yang Nak Galang berikan pada kami. Betul kan, Pak?” ujar bu Ratih menatap suaminya.
“Iya. Biar Alan juga makin semangat kerjanya untuk halalin Anggita,” timpal pak Galih, membuat Galang tidak dapat menahan senyum yang diliputi kepahitan.
“Semuanya pasti sudah lelah seharian menyambut tamu undangan. Lebih baik Tante sama Om istirahat,” saran Galang tidak lagi melanjutkan pembahasan sebelumnya.
“Iya. Tamunya banyak juga. Kalo gitu kami berdua pamit ke kamar dulu. Alan sama Anggita juga istirahat ya,” pesan bu Ratih sebelum beranjak meninggalkan tiga anak muda di hadapannya.
“Iya, Bu,” jawab Anggita mengangguk patuh.
“Aku ke kamar dulu,” ucap Anggita pada Alan dan langsung berbalik meninggalkan kekasihnya bersama Galang.
‘Kenapa kamu ngelakuin itu semua kalo kamu bener-bener masih cinta sama aku?’ batin Anggita semakin sakit mendengar ucapan Galang sebelumnya.
“Tunggu, Laras!” ucap Galang menahan tangan Anggita yang hendak membuka pintu.
“Apa lagi sih, Lang?” gerutu gadis itu berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Galang yang membawanya menuju sudut ruangan.
“Kenapa kamu nolak tawaran aku?” tanya Galang menyudutkan Anggita ke sudut tembok.
“Memangnya kenapa? Kamu bisa nggak, nggak usah ikut campur dengan hubungan aku sama Alan?” oceh Anggita terus menunjuk Galang.
“Nggak. Aku cuma mau mempermudah pernikahan kalian aja. Apa salahnya? Kamu juga bahagiakan sama dia?” balas Galang.
__ADS_1
Ia menahan kedua pundak Anggita agar senantiasa menatap dirinya.
“Jawab aku, Laras. Dia bener-bener udah gantiin posisi aku di hati kamu? Sejak kapan aku nggak ada lagi di hati kamu?”
Galang terus mengajukan pertanyaan bertubi, sampai Anggita kehabisan kata untuk menjawab pertanyaannya.
“Aku nggak pernah cinta sama kamu. Ingat itu,” ucap Anggita seraya mendorong Galang agar menjauh darinya.
“Aku tahu kamu bohong. Aku tahu kamu masih cinta sama aku. Kenapa kamu nggak bisa dengar suara hati kamu sendiri, Laras?” sanggah Galang.
Anggita berbalik. Hendak melayangkan tangannya pada wajah Galang yang sudah kelewatan.
“Kalo kamu memang nggak cinta sama aku, nggak mungkin kamu diem aja waktu aku peluk kamu! Kalo kamu nggak cinta sama aku, nggak mungkin kamu tutup mata malam itu! Dan kalo kamu nggak ada perasaan apa-apa sama aku, pasti malam itu kamu udah kabur dari ruang kerja aku!” terang Galang.
“Tampar aku kalo memang aku salah. Tampar aku, Ras!”
Plak!
“Itu pernyataan kalo kamu salah nilai aku. Aku ngelakuin itu semua karena aku nggak mau Alan sakit hati. Puas?” ucap Anggita dengan tatapan nyalang.
“Jawab aku,” tukas Galang menjauhkan kertas tersebut dari jangkauan Anggita.
“Salah kalo aku berpikir perasaan kamu masih sama ke aku?”
“Kenapa kamu nerima cinta orang lain, kalo di hati kamu sudah ada seseorang?”
Galang terus menuntut jawaban dari Anggita.
“Karena aku tahu kita nggak akan pernah sama-sama. Buktinya kita kembali dipertemukan, setelah aku punya orang lain,” jawab Anggita dengan mata berkaca-kaca.
‘Aku mohon Galang, stop bahas ini. Jangan buat aku ragu dengan hati aku sendiri,’ ucap Anggita dalam hati.
Semakin dalam Galang menyelami lubuk hatinya, semakin menguat pula cinta yang sekian lama ia pendam.
“Aku yakin dengan takdir Tuhan, Laras. Sejauh apa pun kamu pergi, dan sama siapa kamu saat ini. Kalo kita memang ditakdirin berjodoh, kamu tetap akan balik ke aku, gimana pun caranya,” tutur Galang begitu yakin jika dalam hati Anggita masih terukir namanya di sana.
__ADS_1
“Terserah kamu,” pungkas Anggita bergegas meninggalkan Galang, tanpa berusaha merebut kembali kertas yang ia tulis sebelum ia pergi malam itu.
***
Setelah insiden semalam, Galang dan Anggita berubah menjadi orang asing. Hanya bicara seadanya dan seperlunya saja. Galang yang sibuk mengurus perusahaan keluarga, dan Anggita yang berusaha mencari kesibukan sendiri, agar tidak terlalu memikirkan semua ucapan Galang.
“Kamu kenapa? Kok melamun aja?” tanya Alan melihat kekasihnya duduk termenung di bangku halaman kediaman Galang.
“Nggak papa. Kita kapan pulangnya?” tanya Anggita tidak tahan berada semakin lama di kediaman mantan kekasihnya.
“Kenapa? Kalo kamu mau pulang cepet, kita bisa pulang sekarang,” jawab Alan.
“Nggak. Bareng yang lain aja kita pulangnya,” tolak Anggita, tidak ingin dicap sebagai gadis yang terlalu banyak minta.
Baru saja mereka berbincang sebentar, Alan sudah lebih dulu dipanggil oleh pak Galih, dan terpaksa ia meninggalkan Anggita seorang diri.
Semakin hari, Anggita seolah kehilangan arah. Hingga akhirnya setelah Alan masuk, ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi.
Dengan berjalan kaki, Anggita menyusuri jalanan kota dengan mata basah. Ia pergi menuju makam kedua orang tuanya.
“Ayah, Ibu, Anggita datang,” sapa Anggita menatap kedua makam orang tuanya.
“Maaf Anggita udah lama banget nggak berkunjung ke sini. Anggita bahkan nggak percaya kalo ternyata Anggita balik ke kota ini,” ujar Anggita mengusap sepasang batu nisan di hadapannya.
Bibir gadis itu bergetar hebat. Terlalu banyak kisah yang ingin ia ceritakan pada kedua orang tuanya. Tentang bagaimana beratnya ia menjalani hidup tanpa mereka berdua.
“Anggita nggak tahu harus gimana,” ucap Anggita dengan suara yang nyaris tercekat di tenggorokannya.
“Anggita udah berhasil jaga Jihan, walaupun Anggita hampir kehilangan dia. Tapi dia sekarang udah baik-baik aja. Jadi ayah sama ibu nggak usah khawatirin dia ya. Karena Anggita nggak akan biarin dia kenapa-kenapa lagi.”
Gadis itu menyeka air matanya yang berusaha untuk tetap tersenyum.
“Ibu, Anggita takut. Anggita takut keputusan Anggita kali ini salah,” jujur Anggita mulai kembali bercerita.
***
__ADS_1