The Last Love

The Last Love
Menjadi Diri Sendiri


__ADS_3

Kini Anggita hanya berdua Galang di dalam mobil pribadi Galang.


“Maaf kalau aku buat kamu kesel banget sampai kamu nangis,” sesal Galang sama sekali tidak bermaksud membuat Anggita menitikkan air mata.


“Nggak usah minta maaf. Bukan karena kamu juga,” jawab Anggita tidak ingin Galang semakin menyalahkan dirinya sendiri.


“Terus kalau bukan karena aku karena siapa? Cuma aku sama Jihan yang ada di samping kamu dari tadi, dan nggak mungkin Jihan yang buat kamu nangis,” urai Galang yakin jika kini Anggita berbohong.


“Memang bukan kamu ataupun Jihan. Tapi aku sendiri,” jujur Anggita dengan tegas dan tatapan yang meyakinkan.


“Kenapa? Masalah yang lagi kamu alami, jangan kamu pendam sendiri Laras. Banyak orang yang sayang sekaligus khawatir sama kamu. Kamu nggak perlu pura-pura kuat cuma untuk buat orang di sekitar kamu tenang. Mungkin kamu bisa nipu mereka dengan senyum palsu kamu. Tapi nggak dengan sorot mata kamu di depan aku,” ungkap Galang dapat melihat luka mendalam dibalik tatapan tajam Anggita yang selalu dilayangkan padanya.


Kata-kata Galang yang frontal, membuat pertahanan Anggita selalu runtuh di hadapannya. Tidak tahu berapa kali ia menangis tepat di hadapan Galang hanya karena hatinya sendiri.


“Aku nggak tahu apa yang sebenarnya hati aku mau,” lirih Anggita tertunduk dalam menyembunyikan wajahnya.


Ia benar-benar tidak ingin Galang melihat jelas keadaannya yang benar-benar kacau sekarang.


Galang hanya dapat mengenggam jemari tangan Anggita, seiring dengan bergetarnya kedua bahu gadis di hadapannya itu.


“Laras yang aku kenal selalu yakin dengan keputusan yang dia buat. Aku yakin, kamu masih sama seperti Laras yang aku kenal dulu. Gadis yang selalu berpikiran optimis dan menyebarkan hal-hal positif pada orang-orang di sekitar dia,” tutur Galang berusaha untuk menguatkan Anggita.


“Aku nggak tahu, Galang. Aku nggak tahu keputusan aku ini tepat apa nggak,” ucap Anggita di sela isak tangisnya.


“Aku mau kamu jauh-jauh dari kehidupanku seperti yang terjadi selama bertahun-tahun ke belakang,” pinta Anggita membuat Galang menghentikan usapan tangannya.


“Aku akan turuti semua kata-kata kamu, tapi nggak dengan yang satu ini. Untuk urusan cinta, aku lebih milih dan yakin dengan hati aku sendiri,” jawab Galang tanpa ada rasa ragu.


“Kalo gitu aku akan pastiin kalau keputusan kamu salah,” balas Anggita bergerak keluar dari mobil Galang.


“Dan aku akan buktiin kalau di hati kamu cuma ada nama aku!” sahut Galang semakin tertantang untuk merajut kisah kembali bersama Anggita.

__ADS_1


Anggita menutup rapat telinganya mendengar suara Galang. Berharap Galang tidak akan kembali memperjuangkan dirinya.


Guna mengalihkan pikirannya yang kini terus dipenuhi oleh Galang, Anggita memilih untuk langsung membuat kue yang hendak ia jual. Satu per satu bahan telah ia siapkan dalam jumlah sedikit, agar jika kue buatannya tidak berhasil, tidak terlalu banyak bahan yang terbuang.


Bersama Jihan, keduanya mulai mengikuti tutorial yang telah Anggita catat dalam buku.


“Kak! Adonannya sudah mengembang!” teriak Jihan penuh semangat.


Anggita pun melihat adonannya yang mengembang sempurna, dan mereka mulai membagi adonan tersebut menjadi beberapa bagian, dan mulai membentuknya menjadi beragam bentuk. Mulai dari bulat, hati, serta bentuk huruf.


Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya kue percobaan mereka siap dicicipi.


“Gimana rasanya?” tanya Anggita pada Jihan yang lebih dulu menyantap donat buatannya.


“Eeuuum … enak banget, Kak,” jawab Jihan mengacungkan dua ibu jarinya pada Anggita.


“Serius? Kamu nggak bercanda, kan?” tanya Anggita.


Ia mengangguk perlahan. Menikmati donat yang mulai melembut dan hancur dalam mulutnya. Sayuran yang menjadi bahan utama dari adonannya memberikan rasa yang sangat lezat. Ia pun tidak lagi perlu memberikan pewarna makanan pada adonannya, karena warna alami dari sayuran yang ia gunakan sudah cukup bagus.


“Nah, yang ini kamu simpan dulu. Kakak mau kasih donatnya ke tetangga kita,” ujar Anggita beranjak dari duduknya dengan membawa sepiring donat untuk dicicipi oleh tetangga kontrakannya.


Gadis itu begitu senang saat makanan hasil buatannya mendapat respon yang baik dari para tetangganya. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang langsung memesan untuk bekal anak-anak mereka sekolah.


***


Keputusan Anggita berhenti kerja di kediaman pak Galih dengan harapan dirinya dapat merasakan rindu yang teramat sangat, seperti rindunya pada Galang yang ia pendam selama bertahun-tahun.


Merasakan bagaimana cara mencari dan meluangkan waktu disela kesibukan mereka masing-masing, untuk yakin jika mereka memprioritaskan satu sama lain. Namun, semua rasa pada Alan tidak semenggebu rasanya pada Galang dulu.


Hingga hari ini saja, ia hanya menghubungi Alan agar bangun untuk menunaikan ibadah dan tidak ingin kekasihnya bangun kesiangan. Setelahnya mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.

__ADS_1


Anggita yang sibuk membuat beragam kue, dan Alan yang sibuk dengan pekerjaannya membantu usaha perkebunan pak Galih.


“Kak, ini donatnya ada berapa?” tanya Jihan menatap sebuah wadah yang telah terisi penuh oleh donat berbahan dasar wortel dan kentang.


“Ada limapuluh. Kamu bawa segitu aja ya biar nggak berat banget,” jawab Anggita seraya terus berkutat dengan pekerjaannya.


“Kurang, Kak. Biasanya itu jam istirahat kedua, temen-temen Jihan pada nanyain lagi,” ujar Jihan berharap Anggita akan memberinya lebih banyak donat untuk dibawa ke sekolah hari ini.


Bukan hanya teman. Akan tetapi guru-gurunya yang memiliki anak kecil pun kerap membeli dagangannya.


“Nggak usah. Kalo gitu nanti kakak bawa dagangannya ke dekat sekolah kamu,” tolak Anggita tidak ingin semakin merepotkan Jihan yang seharusnya saat di sekolah hanya fokus pada pelajaran. Bukannya saat jam istirahat adiknya malah sibuk berjualan dari kelas yang satu ke kelas yang lain.


“Serius, Kak?” tanya Jihan dengan mata berbinar.


“Iya, Sayang. Kalo banyak yang nyari, bilang aja nanti siang jam pulang sekolah akan ada yang jualan di situ,” tutur Anggita seraya menghiasi donatnya dengan cokelat batangan yang sudah ia lelehkan.


“Yeeey! Jadi nanti aku temenin Kakak di sana ya,” riang Jihan mendekap Anggita dari belakang.


Gadis itu menoleh ke arah adiknya yang kini menatapnya dengan mata berbinar.


“Siapa yang bilang gitu?” tanya Anggita membuat Jihan menurunkan sudut bibirnya yang melengkung ke atas menjadi ke bawah.


“Kamu harus pulang Sayang. Kamu pasti pulang sekolah capek,” nasihat Anggita pada adiknya.


“Jihan nggak papa, Kak. Jihan nggak mau sendirian di rumah. Kan jarang Jihan bisa liat Kakak dari pulang sekolah,” urai Jihan mengungkapkan kerinduannya pada Anggita secara tidak langsung.


“Ya udah, temenin aja ya. Cukup duduk dan lihat kakak aja,” peringat Anggita.


Jihan mengangguk patuh, seraya melepaskan dekapannya dari Anggita. Gadis berseragam biru putih itu bergegas berangkat ke sekolah bersama sang kakak membawa dagangan mereka yang sebagian dititipkan ke warung, dan sebagian lagi dibawa ke sekolahan Jihan.


Tanpa Anggita ketahui adiknya memiliki rencana lain, yang sama sekali tidak ia ketahui.

__ADS_1


***


__ADS_2