The Last Love

The Last Love
Menguak Luka Lama


__ADS_3

“Ras, tenang dulu. Mereka sudah menyesali semua perbuatan mereka,” jawab Galang berusaha untuk menenangkan keduanya.


Jihan yang ketakutan, serta Anggita yang marah karena adiknya menangis.


“Menyesali kamu bilang? Kamu pikir dengan mereka minta maaf itu semua bisa nyembuhin lukaku dan Jihan?” tuding Anggita tidak habis pikir jika Galang akan melakukan ini tanpa meminta pertimbangan dirinya dan Jihan lebih dulu.


“Kamu dan mereka nggak tahu apa yang aku dan Jihan alami setelah kejadian itu,” ucapnya lagi dengan mata memerah dan basah.


“Ayo, Sayang! Kita pergi dari sini!” pungkas Anggita hendak membawa adiknya pergi dari ruangan penuh sesak ini.


“Nona. Kami mohon maafkan kami. Tuan Galang yang menyadarkan kami kalau semua itu salah,” ujar salah satu di antara mereka berusaha untuk menahan kepergian Anggita dan Jihan.


“Laras, dengerin mereka dulu! Aku mereka cuma diperintah, Anggita,” ujar Galang juga berusaha untuk menarik Anggita dan Jihan agar tetap berada di ruangan tersebut.


“Aku mohon, dengerin dulu permintaan maaf mereka,” bujuknya mengenggam erat pergelangan tangan Anggita.


“Oke. Mereka cuma mau minta maaf, ‘kan? Dan jawabanku, aku nggak menerima maaf mereka,” pungkas Anggita langsung membawa Jihan pergi dari ruangan tersebut.


Ia berjalan cepat menuju halaman rumah Galang, agar mereka tidak lagi bersitatap dengan orang-orang jahat tersebut.


“Kembalilah ke ruangan kalian. Saya akan membujuk dia,” ucap Galang sebelum berlari menyusul Anggita.


Dengan cepat Galang berlari mengikuti arah yang Anggita tuju, hingga mereka tiba di halaman rumah Galang yang begitu luas.


“Laras ,” panggilnya dengan lembut.


“Apa lagi? Kamu mau bangkitin trauma Jihan? Iya? Kamu mau lihat gimana susahnya Jihan untuk berdamai dengan semua luka itu, dan gimana aku berusaha keras untuk nyembuhin dia,” cecar Anggita menatap tajam mantan kekasihnya.


“Aku nggak ada maksud untuk ngelakuin itu semua, Ras,” jawab Galang terus membela diri.


“Udahlah! Kamu itu bener-bener buat aku kecewa. Aku benci sama kamu!” tukas Anggita kembali membawa adiknya pergi.


“Apa aku harus bunuh mereka dulu baru kamu mau maafin mereka?” tanya Galang dengan suara yang keras.


Para pesuruh yang semula ingin meminta maaf pada Anggita, seketika bulu kuduk mereka meremang, karena takut jika tuannya akan melakukan hal tersebut.


Melihat Anggita yang tidak menanggapi mereka, akhirnya Galang pun memanggil delapan orang tersebut dan menyuruh mereka untuk berbaris di lapangan yang berada di belakang rumah.


Anggita yang terus memperhatikan gerak-gerik Galang, mulai resah saat melihat pria itu seakan benar-benar ingin melenyapkan seluruh nyawa orang yang telah menyakitinya.

__ADS_1


Jihan yang berada dalam dekapan Anggita pun perlahan mengintip dari balik punggung kakaknya. Galang menghampiri mereka dengan sebuah pistol berada tepat di tangannya.


“Ini kan yang kamu mau? Aku membunuh mereka, karena sudah memisahkan kita,” ujar Galang sudah siap untuk menarik pelatuk dengan ujung pistol menempel di dahi pria yang ada di sampingnya.


“Memangnya kamu berani untuk bunuh mereka?” tanya Anggita menantang mantan kekasihnya.


“Ya. Aku siap untuk melakukannya, kalau setelah mereka semua mati, kamu memaafkan mereka,” jawab Galang tanpa ragu.


“Silakan,” ujar Anggita mempersilakan Galang untuk menghabisi nyawa delapan pria di hadapannya.


Mendengar hal tersebut, Jihan langsung berlari dan memeluk lengan Galang dengan erat.


“Jangan! Jihan nggak mau Kakak jadi pembunuh karena Jihan. Jangan, Kak,” mohon Jihan berurai air mata.


Tangisnya kembali pecah, setelah beberapa saat lalu baru akan mereda.


“Jihan maafin, mereka. Tapi Jihan nggak berani lihat mereka,” jujur Jihan.


Galang kemudian menatap wajah para pesuruh almarhum orang tuanya. Gadis wajah, perawakan, serta ekspresi wajah mereka memang sangat menyeramkan.


Ia kemudian menghela napasnya dan menurunkan pistol di tangannya, membuat deretan pria itu sedikit rileks.


Galang merunduk. Mensejajarkan tingginya dengan Jihan.


“Dua-duanya,” ucap Jihan sedikit terbata.


Walaupun saat penculikan itu cahaya yang menerangi mereka tidak terlalu terang, tetapi ia dapat melihat wajah mereka dalam jarak yang dekat.


“Ya sudah, kalo kamu udah siap untuk lihat mereka, kasih tahu kakak ya,” pinta Galang.


Jihan mengangguk pelan, menjauhkan pistol dalam genggaman Galang agar sedikit lebih jauh darinya.


“Ayo, kita pergi dari sini,” ajak Jihan menarik tangan Galang agar menjauh dari orang-orang menyeramkan tersebut.


“Itunya jauhin,” pintanya lagi.


Galang kemudian menyimpan pistolnya, dan bergandengan tangan ke arah Anggita.


“Ayo, Kak,” ajak Jihan saat kakaknya terus menatap para pria itu dengan tajam.

__ADS_1


“Kenapa kamu nggak biarin orang ini bunuh mereka?” tanya Anggita begitu saja pada adiknya yang mulai tenang.


Jihan menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya pada Anggita.


“Karena kakak nggak pernah ngajarin Jihan untuk jadi anak pendendam. Kakak juga yang bilang sama Jihan, kalau kita harus memaafkan orang yang jahat sama kita,” urai Jihan mengingat semua pesan yang pernah Anggita katakan padanya.


Hati gadis itu terenyuh, Jihan bahkan memberi jawaban polos yang begitu menohok hatinya. Padahal ia sendiri yang mengatakan hal tersebut, tetapi ia tidak mewujudkannya.


Mendengar ucapan Jihan, Galang semakin bangga telah mencintai Anggita yang mendidik adiknya dengan sangat baik.


“Kamu kenapa?” tanya gadis itu saat memergoki Galang tengah senyum-senyum sendiri.


“Kenapa? Kan senyum itu ibadah,” seloroh Galang semakin melebarkan senyumnya.


“Ih, dasar nyebelin,” desis gadis itu melepas genggaman tangan Galang dari Jihan, dan membawa adiknya pergi.


“Kalian jangan senyum-senyum! Sebelum kalian meminta maaf pada mereka, nyawa kalian belum aman!” ancam Galang saat melihat para pria di belakangnya terkikik.


Ia kemudian kembali menyusul Anggita. Seakan tidak memberi waktu sedikitpun untuk keduanya menghabiskan waktu bersama, serta tidak ingin membentang jarak lagi.


“Lebih baik kamu ajak Jihan istirahat. Dia pasti lelah,” saran Galang saat melihat Jihan yang lemas dan menguap.


“Rumah kami bukan di sini,” jawab Anggita sarkas.


“Kamar kalian ada di samping kamar Ana. Di lantai dua,” kata Galang memberitahu keduanya.


Anggita berbalik menatap mantan kekasihnya itu.


“Kenapa Kevin ada di lantai pertama?” tanyanya merasa jika Galang merencanakan sesuatu.


“Pikiran kamu itu negatif banget ya. Semuanya kamu permasalahin,” tutur Galang berdecak pelan.


“Kalian ada di kamar atas itu biar lebih terjaga. Sekalian biar kamu bisa temani Ana. Atau mau sekamar sama dia?” tawar Galang memberikan solusi yang lebih menarik.


Setidaknya jika mereka sekamar, mereka bisa semakin dekat, dan Ana dapat meluluhkan hati batu Anggita yang tidak lagi melihat ketulusan yang ia berikan.


“Terus kamu tidur di mana?”


“Ya di lantai dualah. Kamar aku ada di sana,” jawabnya cepat.

__ADS_1


“Kenapa nggak di lantai satu aja? Barengan sama Kevin,” serobot Anggita tak sabaran, dan mulai emosi.


***


__ADS_2