
Anggita nyaris tersedak mendengar pertanyaan laki-laki yang baru ia kenal. Semula ia berpikir jika Alan hanya akan menilai seseorang dari pendidikannya saja. Sehingga ia begitu terkejut melihat respon Alan setelah melihat ibunda dari laki-laki itu memuji tentang makanannya.
“Karena ibu udah tahu reaksi kamu bakal gimana. Kalo kamu beneran mau cicip masakannya dia.” Menunjuk Anggita.
“Kamu harus janji, nggak akan pergi jauh-jauh lagi,” pinta bu Ratih.
“Bu, nggak bisa gitu dong. Alan kan harus tahu dulu bener apa nggak, kalo masakan dia seenak yang ibu bilang,” sanggah Alan dengan sejuta rasa penasaran dalam dada.
“Ya sudah, besok kamu akan mencicipi masakan dia,” jawab bu Ratih, tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka, serta tidak enak jika pihak restoran mendengar mereka membanding-bandingkan makanan di restoran tersebut dengan makanan rumahan.
Setelah makan, ternyata keluarga tersebut sudah lebih dulu menyiapkan dessert sebelum mereka beranjak pulang. Benar-benar makanan lezat yang tak terlupakan bagi Anggita dan Jihan. Sejak kecil mereka tidak terlalu berharap dapat mencicipi makanan mahal tersebut, karena masih ada banyak kebutuhan lain yang lebih penting.
“Terima kasih untuk tumpangan dan makan malamnya Bu, Pak,” ujar Anggita pada bu Ratih dan pak Galih setelah mengantar mereka pulang.
“Sama-sama, Nak. Kalian langsung istirahat ya, ingat besok kamu kerja terus adik kamu juga harus sekolah,” pesan bu Ratih sebelum meninggalkan Anggita dan Jihan.
“Baik, Bu. Bapak juga hati-hati ya bawa mobilnya, assalamualaikum,” pamit Anggita kemudian melambaikan tangan saat mobil tersebut kembali melaju.
Dari bangku mobil paling belakang, Alan semakin penasaran dengan Anggita yang bisa sangat akur dengan kedua orang tuanya.
‘Nggak mungkin kalo cuma pembantu aja, bisa sampe buat ibu sama bapak ngajak mereka makan sama aku,’ batin Alan merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya.
Setelah mobil milik keluarga pak Galih menghilang dari pandangan mereka, barulah Anggita dan Jihan berjalan memasuki kontrakan kecil mereka.
“Mereka baik banget ya, Kak,” puji Jihan dengan senyum terukir di bibirnya.
Anggita mengangguk pelan. “Kakak juga beruntung banget dapat majikan kayak mereka,” timpal Anggita.
Setelah bertukar pakaian, mereka siap untuk istirahat. Namun, acara makan malam tersebut membuat Jihan mengingat sosok laki-laki yang dulu juga membuat dia dan kakaknya begitu bahagia. Rasa rindu akan sosok Galang yang hangat dan penuh perhatian, membuat Jihan berharap suatu saat mereka akan kembali bertemu.
Ia pun tidak berani menanyakan hal tersebut pada Anggita, karena sudah pasti kakaknya hanya mengatakan jika laki-laki itu sibuk, dan segala macam alasan lain yang akan ia berikan.
“Kakak,” panggil Jihan berbalik menatap Anggita.
__ADS_1
Anggita langsung menoleh ke arah Jihan dan mendekati adiknya.
“Iya, Sayang? Ada apa? Kok adik kakak belum tidur juga?” tanya Anggita.
“Emmm … kalo ayah sama ibu masih ada, kita akan kayak keluarga majikan kakak itu nggak?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Jihan.
“Kamu rindu ayah sama ibu ya?”
Jihan mengangguk cepat. Setiap saat ia merindukan kedua orang tuanya yang sudah lama tiada. Ia hanya dapat mengenali wajah kedua orang tuanya, album foto kecil yang Anggita simpan. Bahkan beberapa foto mereka sudah tidak terlihat dengan jelas.
“Sini kakak peluk,” ucap Anggita merentangkan tangan kanannya, dan tangan kirinya ia jadikan sebagai bantal untuk Jihan.
“Kalau kamu rindu sama ayah dan ibu, kita bacain doa untuk mereka. Kakak harap suatu saat kita bisa kumpul sama-sama lagi,” ujar Anggita yang juga merindukan kedua orang tuanya. Bahkan gadis itu diam-diam menangis, terharu sekaligus sedih melihat orang-orang yang keluarganya masih lengkap dan utuh.
***
Keesokan hari, mereka kembali disibukkan oleh rutinitas seperti biasa. Sebelum subuh, Anggita sudah bangun menyiapkan sarapan serta bekal untuk Jihan. Segala pekerjaan rumah ia bereskan lebih dulu, sebelum pergi bekerja.
“Maaf, Bu. Bahan masakan di dapur udah banyak yang habis. Jadi saya harus pergi belanja dulu,” ujar Anggita pada bu Ratih.
Anggita tidak dapat melihat punggung laki-laki itu, hanya suaranya saja yang sesekali terdengar.
“Udah, nggak papa. Bilang aja sama dia kalo saya yang nyuruh,” desak bu Ratih mendorong pelan Anggita agar menghampiri Alan.
Anggita berdeham sejenak, guna mengalihkan perhatian Alan dari layar monitor di hadapannya.
“Bentar-bentar lima menit lagi,” pinta Alan masih fokus pada game yang tengah ia mainkan.
Anggita mengangguk pelan, gadis itu kemudian mengalihkan pandangan menatap jam dinding yang berada di tengah tembok tepat di hadapan Alan.
‘Oke, lima menit,’ batin Anggita tetap berdiri di tempatnya hingga lima menit akhirnya berlalu.
“Maaf,” ucap Anggita.
__ADS_1
“Lima menit lagi,” pinta Alan untuk kesekian kali, hingga setengah jam ia berdiri di samping karpet berbulu yang Alan tutupi.
“Lho, Anggita. Kok kamu belum pergi?” tanya bu Ratih yang baru kembali dari taman belakang rumah.
Gadis itu hanya tersenyum kaku, dan menoleh ke arah Alan.
“Yes! Menang!” sorak Alan kegirangan, hingga akhirnya ia terpaku melihat dua perempuan berdiri di sampingnya.
“Kamu ini! Ibu nyuruh kamu untuk antar Anggita ke pasar, malah asyik aja main PS,” oceh bu Ratih berkacak pinggang dengan sorot mata tajam.
“Ha? Kapan? Kamu ngapain berdiri di situ?”
“Tadi saya mau ngomong, kamu jawabnya lima menit lagi,” jujur Anggita karena belum menyampaikan tujuannya.
“Udah cepat antar dia, nanti keburu siang,” desak bu Ratih menarik paksa Alan dari duduknya.
“Eh eh! Tapi Alan nggak ingat jalannya, Bu,” jawab Alan berusaha tetap menahan bobot tubuhnya, hingga berakhir karpet yang ia duduki terseret dengan tubuhnya.
“Anggita tahu jalannya. Jangan buat ibu darah tinggi ya,” ancam bu Ratih dengan sorot mata membunuh.
“I—iya, Bu. Tapi Alan ganti baju dulu. Masa keluar pake baju begini,” ucap Alan menatap baju kaos oblong serta celana pendek yang ia gunakan.
“Cepat! Jangan lama-lama!” teriak bu Ratih karena Alan sudah lebih dulu berlari menuju kamarnya.
Bu Ratih menunggu putranya sampai keluar dari kamar, dan memastikan putranya itu mengantar Anggita.
“Alan pergi dulu, Bu,” pamitnya.
“Saya juga permisi dulu, Bu. Bahan belanjaannya tadi juga sudah saya catat semua, jadi nanti nggak terlalu lama di pasarnya,” jelas Anggita.
“Bagus-bagus, nggak salah ibu mempekerjakan kamu di sini. Kamu itu membantu banget,” puji bu Ratih membuat Alan semakin penasaran apa yang Anggita punya sampai ibunya sangat membanggakan pembantunya tersebut.
Baru saja Anggita duduk di dalam mobil. Alan sudah lebih dulu melayangkan pertanyaan sarkas dan sadis pada dirinya.
__ADS_1
***