
Perlahan kelopak mata Galang tertutup rapat, karena embusan angin di dekat jendela membuatnya sangat mengantuk. Anggita yang gugup karena Galang berada di belakangnya tidak berkutik, dan tidak berani bergerak sedikitpun. Namun ia berusaha tetap tenang, dengan sesekali mengajak adik maupun kedua orang tua Alan berbincang.
Sesekali ia mendengar suara dengkuran atau suara decit kursi yang Galang duduki saat pria itu memperbaiki posisi duduknya. Semakin lama suasana di mobil semakin hening, Anggita pun memberanikan diri menatap sekelilingnya, melihat semua orang sudah terlelap memejamkan mata, termasuk kekasihnya.
Dengan gerakan kepala kaku, perlahan ia memberanikan diri melihat Galang. Pria itu tampak semakin tampan dalam balutan hoddie over size yang resletingnya hanya terkait setengah, memperlihatkan kaos putih polos yang ia kenakan. Kepala hoddie itu ia gunakan untuk menutupi separuh kepalanya, hingga Anggita sulit untuk melihat batang hidung Galang yang mancung.
“Kamu capek banget ya?” tanya Anggita, walaupun tahu jika Galang tidak akan menjawab pertanyaannya.
Akhirnya Anggita mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula, menghadap ke depan sembari memperhatikan jalanan lewat jendela. Suasana sunyi di mobil membuat rasa kantuk pun lambat laun menyerang dirinya.
Kelopak mata Anggita perlahan tertutup. Ia mulai memasuki memasuki alam mimpi bersama yang lain.
Galang melepaskan tudung kepala hoddie yang menghalangi penglihatannya. Menatap rambut Anggita yang menyelinap ke belakang kursi, dan terombang-ambing oleh sapuan angin.
Tiba-tiba mobil yang mereka naiki sedikit terguncang, membuat Galang dengan refleks menjulurkan tangannya, menahan kepala Anggita agar tidak terbentur jendela mobil. Ia lalu menatap Alan yang seakan tidak terganggu sedikitpun oleh guncangan barusan.
Dokter Melinda menoleh ke arah belakang, mendapati Galang yang tengah mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Apa perlu saya periksa dia sekarang?” tanya dokter muda itu dengan pelan.
Galang memberi isyarat agar dokter Melinda melihat Ana sekarang, tanpa mengubah posisinya. Membiarkan wanita itu tahu apa ia lakukan sekarang.
“Dia masih tidur,” beo dokter Melinda.
Mengetahui adiknya masih terlelap, Galang pun meminta dokter Melinda memeriksa keadaan Ana saat mereka berhenti di rest area.
Anggita mengusel-usel kepalanya, mencari posisi ternyaman dalam keadaan setengah sadar, dan posisi itu adalah semakin menempelkan kepalanya pada telapak tangan besar Galang yang terasa empuk dan harum, membuat tidurnya semakin nyenyak.
Tanpa sadar seutas senyum terbit di bibir Galang, saat merasakan gerakan kepala Anggita pada tangannya, tanpa takut jika wanita itu terbangun.
‘Kenapa di sini ada Galang?’ tanya Anggita dalam hati, saat ia masih dalam keadaan setengah sadar. Namun, aroma parfum Galang membuat ia semakin tenang, dan yakin jika dirinya hanya sedang mimpi karena sebelum terlelap, kepalanya masih dipenuhi oleh pria itu.
***
“Kak, ayo bangun,” panggil Jihan menepuk pelan lengan Anggita. Membuat wanita itu perlahan membuka matanya.
Melihat Anggita yang terbangun dan sedang menoleh ke arah Jihan, Galang langsung menarik tangannya dan kembali menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
__ADS_1
“Ada apa, Sayang?” tanya Anggita dengan suara sedikit serak.
Suara yang begitu imut dan lucu menurut Galang. Bagaimanapun ia bersikap dingin, tetap saja ia tidak dapat marah pada wanita itu.
“Mobilnya udah berhenti, Kak. Ayo kita turun,” ajak Jihan yang bangun lebih dulu sebelum yang lain.
“Iya ya? Kakak tadi ketiduran,” jujur Anggita mengusap wajahnya dan menatap sekitar dari dalam mobil.
“Jihan kebelet pipis, Kak. Ayo kita turun,” desak Jihan.
“Ayo kakak antar,” ujar Galang lebih dulu bangkit dari tempat duduknya.
“Ya udah, Kakak jangan ke mana-mana ya. Tungguin Jihan di sini,” pesan Jihan sebelum pergi bersama Galang keluar dari mobil.
Anggita memperhatikan mereka dari jendela mobil, saat Galang mengulurkan tangannya pada Jihan. Membantu adiknya turun, dan menuntun Jihan memasuki kawasan rest area tersebut.
Kemudian di susul oleh Ana, Kevin, Alan, dokter Melinda, lalu kedua orang tua Alan yang bangun.
“Bagaimana tidurnya Nona Anaya?” tanya dokter Melinda pada Ana.
“Lumayan nyenyak, Dok,” jawab Ana jujur.
“Nggak ada, Dok. Cuma agak mual aja,” tutur Ana setelah merasakan tubuhnya sendiri.
Dokter Melinda kemudian memeriksa keadaan Ana, saat orang tua Alan dan Alan turun dari mobil, sedang Kevin dan Anggita menemani wanita itu.
“Apa semuanya baik-baik saja, Dok?” tanya Anggita saat dokter Melinda menyimpan peralatannya.
“Iya, semua baik-baik saja, yang terpenting asupan Nona Ana tetap terjaga. Ayo kita turun,” ajaknya pada Ana dan Anggita.
Anggita melepas genggaman tangan Ana saat wanita itu hendak merangkulnya pergi.
“Kamu duluan saja, saya masih menunggu Jihan di toilet,” tolak Anggita mengulas senyum hangatnya.
“Oh, ya udah, kalo gitu nanti Kakak nyusul ke dalam ya,” jawab Ana sebelum pergi bersama Kevin dan dokter Melinda.
Saat ia sendirian di dekat mobil pikiran Anggita kembali berkelena pada lengan hoddie yang masih dapat ia lihat lewat ekor matanya.
__ADS_1
‘Warnanya sama dengan hoddie yang dipakai Cakra,’ gumam Anggita. Ia semakin yakin saat melihat Jihan dan Galang berjalan ke arahnya.
“Apa jangan-jangan tadi aku bukan mimpi? Tapi nggak mungkin. Orang dari pagi aja dia nggak anggap aku ada,” bantah Anggita lagi, tidak ingin berharap lebih pada pria yang berjalan mendekatinya.
“Ayo masuk. Yang lain pasti sudah pesan makanan,” ajak Galang berkata seolah tidak terjadi sesuatu pada mereka.
Jihan mengangguk cepat, dan langsung menggandeng tangan Anggita agar ikut bersamanya.
Sesampainya di meja makan, terlihat semua orang begitu sumringah, karena tempat makan yang mereka datangi membuat mata menjadi segar, serta AC yang tidak terlalu dingin membuat mereka semakin nyaman.
“Anggita, kamu mau pesan apa?” tanya Alan saat kekasihnya tiba.
“Samain aja sama yang lain,” jawab Anggita cepat.
“Kalau Jihan mau pesan apa?” tanya Ana menatap Jihan yang berdiri di sampingnya.
“Sama kayak kak Anggita aja, Kak,” jawab Jihan menyengir lebar.
Ana terkekeh geli, karena mereka berdua sama saja.
“Ayo dong pilih. Masa sama semua, kan biar bisa cicip-cicipan,” bujuk Ana memperlihatkan buku resep yang ada di tangannya, meminta Jihan memilih makanan sesuai yang ia inginkan.
Akhirnya Jihan pun memberanikan diri menunjuk beberapa menu dessert yang begitu menggugah seleranya.
“Nah, gitu dong,” ucap Ana dengan riang.
Setelah semua makanan dipesan, mereka pun menunggu sembari berbincang-bincang ringan.
Topik pertama yang mereka bahas tidak jauh dari keadaan Ana dan kandungannya, membuat wanita itu menjadi risih.
“Kakak iih, kayak nggak ada topik lain aja,” protes Ana dengan raut muka sebal.
“Memangnya kenapa? Mau pergi jalan kaki aja?” balas Galang semakin membuat Ana menekuk wajahnya.
“Itu artinya semua orang menyayangi kamu, Ana,” ujar bu Ratih menasihati menantunya.
“Iya, Bu. Tapi Kak Galang itu berlebihan banget,” jujur Ana.
__ADS_1
***