The Last Love

The Last Love
BAB 37


__ADS_3

Pagi ini, Adel hanya menatap pada sebuah koper berwarna hitam yang saat ini masih terbuka karena pemiliknya cukup sibuk merapihkan pakaiannya yang kembali ditumpuk ke dalamnya. Beberapa berkas yang baru di bawa pulang kemarin, ikut di ke atas baju-baju yang lipatannya tak beraturan.


Sofia adalah pemilik koper tersebut, wanita itu tampak tergesa-gesa untuk merapihkan barang-barang bawaannya masuk ke dalam koper berukuran sedang itu. Tak ada yang bisa Adel lakukan selain berdiri sambil menggendong Noah memperhatikan yang dilakukan sahabat suaminya itu.


Kantung mata wanita itu sudah sedikit menghitam, meskipun wajahnya sudah dipoles makeup tipis namun tetap tak bisa menutupi raut kelelahannya.


Seharian kemarin, Sofia sudah pergi ke rumah sakit menjaga anaknya. Mertua Adel yang tiba di Bandung juga ikut menjenguknya hanya saja beberapa jam di sana dan kembali pulang sedangkan Sofia baru kembali ke rumah mereka pagi ini dan juga mengabari mereka bahwa dirinya akan segera pergi ke Singapura membawa anaknya yang bernama Melodi.


Dan karena itulah, dirinya seperti di buru-buru waktu setelah mendapat jadwal penerbangan hari ini juga, ia langsung merapihkan semua barang-barangnya yang berada di rumah Daniel.


“Nggak ada lagi yang ketinggalan?” tanya Daniel saat melihat Sofia menutup kopernya.


“Nggak ada, yang paling penting semua berkas dari rumah sakit udah di masukin.”


“Sekarang ke rumah sakit dulu?”


Sofia berdiri dan menyeret koper miliknya keluar kamar.


“Nggak usah, Niel. Gue langsung naik taksi ke rumah sakit dan langsung berangkat sama yang lain.”


Sofia tersenyum menatap Adel dan Daniel bergantian. Ada rasa sedikit tenang karena ia akhirnya bisa membawa putrinya untuk melalukan pengobatan di Singapura, tempat tinggalnya saat ini. Tapi hatinya masih terus berdebar tiap kali melihat anaknya itu, ia selalu berharap akan kesembuhan total anaknya.


“Makasih banyak udah kasih izin tinggal di sini beberapa hari sampai urusan gue kelar.” Sofia memeluk Adel dan menyalami Daniel.


“Mbak juga jaga kesehatan di sana, Melodi pasti akan lekas membaik setelah sampai sana.” Kata Adel.


Sofia mengangguk tersenyum, ia juga selalu berharap dan berdo'a untuk kepulihan anak satu-satunya itu.


“Kamu sama Regar baik-baik di sana, bagaimana pun kalian tetap orang tua Melodi jadi tentang masalah kalian di masalalu saat ini tidak penting.” Kata mertua Adel.


Ya, mantan suami dari Sofia bernama Regar. Dan pria itu juga akan ikut ke Singapura dan tinggal di sana sementara waktu untuk menemani. Untungnya, Regar juga belum kembali menikah dan ia tidak punya halangan untuk tinggalkan negara asalnya dan menemani pengobatan Melodi karena Sofia juga hanya tinggal seorang diri di Singapura.


“Makasih banyak untuk semuanya, aku pasti kabarin tentang Melodi.” Sofia melepas pelukannya dari Ibu Daniel dan kini berjalan keluar menyeret kopernya masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan sebelumya.


Adel menatap Sofia yang sudah pergi dengan taxi, ia tak bisa bayangkan bagaimana keadaan Sofia saat ini. Kemarin Daniel sempat bercerita jika wanita itu hanya tinggal di Singapura sendirian, sejak lama ia sudah ditinggalkan keluarganya dan pada saat pernikahannya gagal ia pun menetap di Singapura sampai saat ini.


“Masuk ke dalam, kita juga harus siap-siap.” Daniel mengelus punggung Adel.


“Harus siap-siap, ke mana?”


“Hari ini kita pulang ke Jakarta.” Daniel mengambil Noah dalam gendongan Adel.


Ekspresi terkejut sudah tampak jelas dari Adel, kapan Daniel pernah bilang kalau mereka akan kembali ke Jakarta ya? Padahal mereka belum pernah ada pembicaraan untuk kembali ke Ibu kota tersebut.


“Mas, kok bilangnya ngedadak sih?”


Daniel berjalan masuk ke kamar membawa anaknya yang sudah tertawa mendapat ciuman dari Daniel. Dibelakangnya, Adel mengikutinya dengan pertanyaan yang ia lontarkan karena kebingungan.

__ADS_1


“Papah ulang tahun dan Mamah sama Kak Kirana mau ngadain makan malam.” Singkat Daniel yang kini sibuk mengajak anaknya bermain.


Ulang tahun mertuanya? Kenapa Daniel tidak bilang sebelumnya, bahkan ia tak punya hadiah yang akan ia berikan untuk mertuanya itu.


“Mas, kenapa bilangnya dadakan. Adel belum beli hadiah buat Papah.”


“Saya aja baru tahu tadi malam.”


Adel menghela nafasnya dengan jawaban singkat dari suaminya. Memang pria begitu ya, ulang tahun diri sendiri saja sering lupa apalagi Papahnya?


“Berapa hari kita di sana?” Adel menurunkan koper.


“Saya izin cuti seminggu.”


Adel menoleh mendengar jawaban suaminya, “Emang boleh ya cuti lama?”


Daniel menghela nafas mendengar banyak pertanyaan dari Adel yang terus dilontarkan padanya. Begini nih suami-suami kalau nggak kasib kejelasan ke istrinya, jadilah ditumpuki banyak pertanyaan.


“Saya bukan izin cuti bekerja tapi izin cuti tidak masuk ke kantor dan tetap bekerja di luar seperti sebelum-sebelumnya.”


Adel ber-oh panjang sambil menganggukan kepalanya. Beberapa menit ia baru membuka kopernya kini ia kembali menatap Daniel dan sudah membuka mulutnya hendak kembali berbicara. Dan Daniel yang melihatnya dengan cepat berbicara sebelum pertanyaan istrinya itu di lontarkan.


“Tanggal ulang tahun Papah sudah saya lingkari di kalender.” kata Daniel seolah tahu apa yang akan ditanyakan istrinya.


Adel kembali menutup mulutnya yang belum sempat berbicara lagi, ia kemudian berjalan ke arah meja di samping tempat tidur mereka dan mengambil kalender di sana dan melihat tanggal yang sudah dilingkari oleh Daniel yang katanya adalah tanggal ulang tahun dari Papah mertuanya.


Adel sedikit terheran, ulang tahun Papah mertuanya itu sama dengan hari lahirnya juga. Sebuah kebetulan bukan? Ahh, tapi ia tidak yakin jika Daniel tahu ulang tahunnya, lagi pula Adel tak terlalu suka perayaan dan tiup lilin.


Adel sudah bersiap kembali bertanya pada Daniel, dan tentunya pria itu juga sudah siap siaga menjawab sebelum ia mengeluarkan suara.


“Kita berangkat jam 4 supaya tidak terlalu malam sampai sana.”


lagi-lagi Daniel sudah lebih dulu berbicara sebelum ia menjawab dan membuat mulut Adel kembali membungkam.


“Kenapa sih tahu aja yang mau Adel tanyain?”


“Ya mungkin kita sudah sehati.” Jawab Daniel singkat.


“Oh sehati, ya?” Adel mengangguk-anggukan kepalanya.


Helaan nafas dari Adel sudah terdengar, ia tak punya pertanyaan lagi yang akan ditanyakan pada suaminya itu dan saat ini ia memilih memasukan semua pakaiannya yang akan dibawanya. Sebenarnya pakaiannya dan Daniel hanya di bawa sedikit karena baju-baju suaminya masih banyak di rumah orang tuanya dan baju Adel juga masih banyak di rumahnya.


Adel dan Daniel kemungkinan menginap sekitar dua hari di rumah Daniel dan sisanya akan tinggal di rumah orang tua Adel. Sejak mereka pindah ke Bandung sampai melahirkan, ini kali pertama mereka pulang ke Jakarta lagi.


“Kemeja coklat jang--,” ucapan Daniel terpotong saat Adel sudah mengangkat baju yang maksud suaminya itu tanpa menoleh.


Beberapa menit kemudian, Daniel kembali berbicara. “Celana yang dibawa--,” Daniel belum sempat melanjutkan ucapannya pada Adel karena wanita itu sudah mengangkat celana yang ia maksud dan tentu itu sudah benar.

__ADS_1


“Kamu tahu apa yang mau saya katakan.”


Adel tidak menoleh dan masih sibuk melipat rapih pakaiannya. Ia juga sudah berdiri mengambil beberapa pakaiannya dari Noah yang akan memenuhi isi koper itu.


Sambil memasukan pakaian yang berhasil dilipatnya, Adel menoleh sebentar melihat Noah yang berbaring di kasur sedangkan Daniel sedang memainkan mainannya. Ya, setidaknya disaat ia sibuk dadakan menyiapkan barang ada yang menjaga Noah dan anak itu juga tidak rewel.


Selesai dengan urusan koper. Kini Adel menyiapkan makeup-nya yang akan dibawa, tentu saja ia tak boleh sampai kelupaan dengan makeup nya apalagi kedatangan mereka untuk merayakan ulang tahun Papah mertuanya itu, jadi ia harus bisa tampil baik di hadapannya.


Tak lupa segala kebutuhan Noah seperti tisu kering, tisu basah, popok, botol susu dan lainnya sudah ia masukan ke dalam tas kecil milik anaknya, mainan kecil yang sering dipegangnya sebelum tidur pun sudah Adel masukan karena takut kelupaan nanti.


Saat dirinya masih sibuk dengan urusan lain, sekarang Daniel duduk dan memanggilnya.


“Del, Noah.” Kata Daniel.


Satu popok sudah Adel pada Daniel yang diterima pria itu dengan tatapan bingung. Sedangkan Adel tak mengucapkan apapun karena dirinya masih mencari di mana letak minyak telon milik Noah yang tadi pagi sudah ia gunakan.


“Noah, udah pup, Del.” Kata Daniel.


“Ya, pakai tissu basah, Mas lap nya.” Adel sudah berjongkok mencari minyak telon yang tiba-tiba saja menghilang.


“Saya nggak bisa.”


Adel kembali berdiri menggarukkan kepalanya karena tidak menemukan minyak telon anaknya itu.


“Katanya sehati, masa nggak bisa gitu aja,” kata Adel yang meledek suaminya.


Daniel menggendong Noah dengan cepat dan langsung memberikan pada Adel.


“Kamu cari apa? Biar saya carikan barangnya dan kamu yang gantiin popok, Noah.”


“Katanya sehati, masa nggak tahu apa yang mau Adel cari.” Goda Adel yang kini sudah membaringkan Noah di kasur dan bersiap gantikan popoknya.


Ada rasa menyesal saat Daniel mengatakan kata “Sehati” pada istrinya tadi. Padahal tadi ia hanya menggoda Adel dan tak tahu jika semua yang ia katakan itu memang benar sesuai pertanyaan yang ingin ditanyakan istrinya itu.


“Saya beneran nggak tahu kamu cari apa. Kali ini kita belum sehati,” Kata Daniel menatap Adel dengan wajah pasrah.


Adel mengulum senyum melihat wajah suaminya kali ini.


“Adel cari minyak telon nggak ketemu, tadi pagi udah di pakai, Noah.”


“Oke, saya carikan sekarang.”


Daniel sekarang mencari barang yang dikatakan Adel. Ia pun sampai ikut berjongkok-jongkok mencari minyak telon milik anaknya yang hilang dan akhirnya memukannya menyelip di ujung kasur.


“Ini yang salah bundanya, simpan sembarangan.”


“Salah Ayahnya tadi ngajak Noah ke kasur jadi minyak telonnya gelinding ke ujung kasur.” Kata Adel tak mau disalahkan.

__ADS_1


“Noah juga salah diam aja waktu kita bingung cariin barangnya.” Kata Daniel yang naik ke ranjang dan mencium pipi anaknya.


Adel tertawa mendengar perkataan Daniel, hari ini suaminya tampak berbeda karena terlihat lebih manis dari biasanya. Mereka bertiga akhirnya menghabiskan waktu bermain bersama di kasur hingga Noah ikut tertawa bersama mereka.


__ADS_2