
Seperti rencana awal, Anggita kini sudah bersiap untuk pergi ke sekolah Jihan. Menunggu anak-anak di sekolah tersebut pulang, dan ia menggelar dagangannya di beberapa meter dari luar gerbang sekolah.
Baru saja ia selesai menata dagangannya, bel sekolah Jihan berbunyi sangat kuat. Bahkan ia juga dapat mendengarnya.
“Nah, itu mereka sudah pada keluar,” ujar Anggita sudah siap menjalankan tugasnya.
Satu per satu siswa berseragam putih biru mulai terlihat dari kejauhan.
Ada yang berjalan dengan santai, dan ada juga yang berlari tergesa-gesa. Seolah ada sesuatu yang sedang menunggu mereka.
“Kak! Kakak kakaknya kakak kelasku yang jualan donat ya?” tanya seorang gadis yang tadi berlari.
Anggita begitu senang ternyata dia mengejar dagangannya.
“Iya, benar. Kamu mau beli ya?” tanya Anggita tersenyum ramah.
“Iya, Kak. Aku beli sepuluh ya,” jawabnya cepat.
Anggita mempersilakan pembelinya untuk memilih sendiri bentuk dan rasa donat yang mereka mau.
Hanya beberapa menit, dagangannya sudah ramai oleh para pembeli yang sebagian besar merupakan murid dari sekolah tersebut.
“Biar Jihan bantuin ya, Kak,” kata Jihan melihat Anggita yang tampak kewalahan melayani para pembeli seorang diri.
“Nggak usah. Kamu duduk aja,” larang Anggita.
Namun, melihat para pembeli yang berdesak-desakan dan menghalangi separuh badan jalan. Jihan memutuskan untuk tetap membantu sang kakak.
Ia mengambilkan pesanan teman-temannya yang sudah lebih dulu ia catat. Sedang teman-temannya ia minta untuk menunggu di dekat gerbang sekolah, agar tidak ikut berdesak-desakan.
“Jihan anter ini dulu, Kak,” pamit Jihan berjalan menjauh dari Anggita.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam metalik melintas tepat di hadapan Anggita. Membuat beberapa pembeli terpaksa menjauh dari jalan sejenak.
Anggita tetap fokus mengambilkan pesanan para pembeli, hingga tidak sadar jika kini ia semakin menjadi pusat perhatian bukan karena dagangannya. Melainkan karena sosok tampan yang kini berjalan ke arahnya.
“Adek pesan rasa apa?” tanya seorang pria, langsung masuk ke dalam indera pendengaran Anggita.
“Apa aja, Kak,” jawab siswi SMP yang terpaku dengan ketampanan pria di hadapannya.
__ADS_1
Sontak Anggita langsung menoleh ke samping. Melihat Galang yang kini sibuk mengambilkan donat untuk pembeli yang lain.
“Aku tahu aku ganteng. Ayo, ambilin pesanan yang lain. Nanti mereka nunggu kelamaan,” ujar Galang tanpa menoleh ke arah Anggita.
Sejenak pikiran Anggita mendadak kosong, saat melihat kehadiran Galang yang tiba-tiba.
“Pak, saya tunggu di mobilnya,” ucap seorang wanita cantik pada Galang.
Di balik kerumunan para pembeli, Anggita masih dapat melihat, siapa wanita yang berteriak tersebut, dan langsung mendapat respon dari Galang.
“Nanti aku ceritain,” ujar Galang tidak ingin Anggita berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan wanita itu.
Karena suasana di sekitar mereka terlalu bising, akhirnya Anggita pun kembali fokus pada kerjaannya, hingga dagangannya habis tak tersisa.
“Aku bisa sendiri,” kata Anggita saat Galang hendak membantu dirinya berberes.
“Ya udah, kalo gitu aku bantu Jihan aja,” jawab Galang hendak membantu Jihan yang tengah membereskan wadah-wadah yang Anggita bawa.
“Jihan, kamu duduk aja,” ucap Anggita pada adiknya.
Melihat raut muka Anggita yang datar, Jihan pun sedikit takut, karena selama ini ia tidak pernah melihat ekspresi kakaknya yang seperti itu.
“Aku bantu bawa pulang ya,” tawar Galang hendak berjalan membukakan pintu mobilnya.
“Nggak usah. Makasih,” tolak Anggita berjalan melewati Galang begitu saja.
“Ayo, kita pulang. Kamu kuat nggak kalo kita jalan kaki? Atau mau Jihan aja yang naik sepeda, biar kakak bawa barang-barangnya sambil jalan?” tanya Anggita pada Jihan yang kini berdiri di hadapannya.
“Kita jalan aja, Kak. Jihan masih kuat, kok,” jawab Jihan pelan.
Ia tidak ingin membuat Anggita semakin kesal. Ditambah ia juga tahu jika hari ini kakaknya sudah sangat lelah.
“Bareng aku aja. Sepeda kamu bisa ditaroh di atas. Nggak papa, kok,” ujar Galang masih terus berusaha.
“Aku udah bilang nggak! Kamu pahamkan maksud penolakan aku?” tanya Anggita dengan tatapan tajam pada Galang.
“Paham! Artinya aku harus berusaha lebih keras lagi,” jawab Galang cepat.
Anggita memutar bola matanya. Ia tidak tahu bagaimana jalan pikiran Galang sekarang hingga pria itu terus saja mempermainkan dirinya, dan tidak takut jika ia akan marah.
__ADS_1
“Terserah kamu!” balas Anggita membuang muka, lalu mengajak Jihan untuk pergi bersamanya.
“Kamu urus aja perempuan yang tadi kamu ajak ke sini. Perempuan yang tadi nunggu kamu di mobil,” kata Anggita sebelum berlalu meninggalkan Galang.
Anggita yang kesal membuat wajah gadis itu semakin terlihat cantik dan menggemaskan.
Bahkan Galang pun kini tahu jika Anggita tidak menyadari jika wanita yang tadi datang bersamanya, telah pergi bersama orang suruhannya.
Jihan pun terlihat tidak ingin membantu dirinya, membuat Galang sedikit heran serta penasaran dengan anak kecil yang selama ini selalu membantu dirinya untuk dekat bersama Anggita.
‘Mungkin kali ini aku harus mundur dulu untuk mengejar dan menggapai kamu Anggita,’ batin Galang terus menatap Anggita dan Jihan yang semakin jauh dari pandangannya.
Namun, ia terus mengikuti dan mengawasi Anggita dari kejauhan. Takut terjadi hal buruk pada dua perempuan yang ia sayangi.
Sepanjang perjalanan pulang menuju kontrakan, Anggita hanya diam dan sesekali bertanya pada adiknya, apakah ia ingin istirahat sejenak atau terus berjalan.
“Jihan kuat kok, Kak jalan sampe rumah,” kata Jihan dengan senyum lebar. Berharap Anggita tidak akan cemberut lagi saat melihat dirinya.
Dan usahanyapun membuahkan hasil. Sang kakak kini tersenyum padanya. Jihan memutuskan untuk tidak bertanya perihal kakaknya yang menolak bantuan dari Galang. Padahal sangat jelas jika pria itu ingin membantu mereka, agar lebih cepat sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, Anggita langsung menyuruh Jihan untuk membersihkan diri, makan, lalu istirahat.
“Ini semua biar kakak aja yang nyuci,” kata Anggita saat Jihan melirik peralatan dapur yang kotor.
“Iya, Kak,” jawab Jihan langsung menurut.
***
Malam hari, Galang berusaha untuk menghubungi Jihan. Ingin bertanya langsung kenapa ia memilih untuk diam.
Jihan nggak pernah lihat wajah Kak Anggita sedingin itu, Kak, jawab Jihan lewat pesan teks.
Akhirnya Galang pun paham jika saat itu Jihan takut. Sama seperti dirinya yang juga terkejut melihat respon Anggita yang sangat dingin padanya.
Ia langsung meminta maaf pada Jihan, dan meminta gadis itu untuk langsung istirahat.
Semula ia berpikir jika Anggita akan bersikap seperti saat pertemuan mereka di pasar kala itu. Namun, ternyata tidak. Anggita terlihat benar-benar bosan dengan kehadiran dirinya.
“Aku harus gimana sekarang? Apa aku harus minta bantuan Ana?”
__ADS_1
***