The Last Love

The Last Love
Terciduk Calon Ibu Mertua


__ADS_3

Ritme detak jantung Alan begitu normal. Jauh berbeda dengan jantung Anggita yang seakan ingin melompat dari tempatnya.


“Kalian ngapain?”


Reflek Anggita langsung mendorong Alan dan bergerak menjauh.


“Maaf, saya nggak sengaja,” ucap Anggita seraya merapikan pakaiannya.


Bu Ratih bergegas menghampiri putra dan pembantunya. Menanyakan langsung apa yang terjadi, sampai mereka berpelukan seperti itu.


“Tadi Anggita hampir jatuh, Bu. Jadi langsung aku tolongin,” jawab Alan kemudian melirik wadah penyiram bunga yang masih berada di dalam kolam.


Bu Ratih hanya menggeleng pelan, setelah mengetahui apa yang terjadi pada keduanya.


“Kamu nggak papa, Anggita?” tanya beliau menatap Anggita dari ujung rambut hingga kaki.


“Nggak papa, Bu,” jawab Anggita masih gugup, dan takut jika majikannya akan marah.


“Itu kaki kamu sepertinya lecet. Biar Alan obatin ya,” ujar bu Ratih menatap mata kaki Anggita yang terluka. Kemungkinan tergores oleh bebatuan yang ada di pinggir kolam.


“Ha? Nggak usah, Bu. Cuma luka kecil. Saya bisa obatin sendiri, permisi Bu,” pamit Anggita segera berlalu dari hadapan bu Ratih dan Alan.


Ia terus berjalan menuju kamar di belakang, yang biasa ia gunakan untuk beristirahat sejenak jika kelelahan.


Anggita terus memegangi jantungnya yang berdebar kencang. “Kenapa aku jadi deg-degan gini?” lirih Anggita berusaha untuk mengatur napasnya yang memburu, dan menenangkan hatinya.


Kemudian ia melirik kakinya yang terluka, barulah kini ia merasakan perih pada kakinya.


“Untung cuma luka sedikit,” ujar Anggita langsung mengobati lukanya, dan menutup lukanya menggunakan plester yang ia miliki.


Usai mengobati lukanya dan hendak kembali keluar, Anggita dikejutkan oleh Alan yang sudah berdiri di samping kamarnya.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Anggita dengan mata melebar.


“Gimana lukanya? Mau aku obatin?” tawar Alan tanpa menjawab pertanyaan Anggita lebih dulu.


Gadis itu langsung menggeleng. “Udah aku obatin,” jawab Anggita singkat.

__ADS_1


“Euum, gimana sama yang tadi?” tanya Alan saat mereka berjalan beriringan.


“Maaf, saya belum bisa jawab sekarang,” lontar Anggita berusaha untuk menghindar dari Alan.


Melihat reaksi Anggita, Alan tidak lagi mengikuti langkah wanita itu. Takut jika Anggita tidak nyaman, dan yang lebih mengerikan jika sampai gadis itu memilih untuk berhenti bekerja, karena ia terus mengejar dirinya.


Setelah yakin Alan tidak lagi mengejar dirinya, Anggita pun memutuskan untuk segera pulang. Ia tidak dapat berlama-lama di sini, jika terus dikejar jawaban yang ia sendiri masih ragu.


Namun, sejauh apa pun ia menghindar tetap saja ia harus memberi jawaban pada Alan, karena tidak mungkin baginya untuk menggantung perasaan seseorang yang menaruh hati padanya.


“Kalo kamu nggak nyaman sama pernyataan cinta aku kemarin, anggap aja itu semua cuma mimpi,” kata Alan satu waktu saat Anggita terus menghindar darinya.


Namun, kata-kata itulah yang berhasil membuat Anggita membulatkan tekadnya. Hingga tibalah saat dimana Anggita memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya di depan kedua orang tua Alan.


“Maaf sebelumnya Bu, Pak, Alan,” mula Anggita menatap ketiga pemilik rumah tempat ia bekerja.


“Saya tahu jika semuanya menunggu jawaban saya atas pernyataan Alan beberapa hari lalu,” ujarnya menatap Alan yang juga menoleh ke arahnya.


Laki-laki tampak siap untuk mendengar jawabannya. Berhari-hari Anggita mencoba untuk menyusun kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaan Alan serta orang tuanya. Ia harap setelah ini semuanya akan kembali seperti semula.


“Saya ingin mengatakan jika saya menerima cinta Alan. Tapi, saya juga butuh kejelasan dan kepastian jika hubungan saya dan Alan nanti memiliki tujuan untuk menikah,” ungkap Anggita.


“Alan baru selesai kuliah, saya ingin dia membahagiakan Ibu dan Bapak,” jujur Anggita berusaha untuk tetap tegar.


Alan beruntung karena orang tuanya masih lengkap. Tidak seperti dirinya yang sudah menjadi yatim piatu, dan harus banting tulang untuk bertahan hidup, dan membiayai kebutuhan adiknya.


“Melihat Alan bahagia dengan wanita yang dia cinta, itu juga membuat kami semua bahagia, Nak,” ujar bu Ratih dengan senyum hangat terukir di wajahnya.


Anggita mengangguk pelan. Ia yakin jika setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka. Begitu pula dengan bu Ratih dan pak Galih.


“Tapi, saya juga ingin memiliki pendamping yang berjuang untuk saya. Bukan memanfaatkan harta orang tuanya,” ucap Anggita.


Akhirnya kata-kata itu berhasil meluncur dari bibirnya. Ia hanya menunggu bagaimana tanggapan kedua orang tua Alan. Mereka sudah pasti akan berusaha untuk mewujudkan keinginan putra mereka.


“Bapak ngerti maksud kamu, Nak. Bapak juga setuju dengan kata-kata kamu. Bapak sangat paham. Kamu tidak ingin putra kami hanya berpangku tangan pada orang tuanya. Takut jika kami sudah tidak ada, dia hilang arah, dan tidak tahu harus melakukan apa,” ujar pak Galih menatap Anggita.


Anggita mengangguk. Membenarkan perkataan pak Galih.

__ADS_1


Ia ingin memiliki pasangan yang pekerja keras, dan jikalau nanti ia menikah, itu semua hasil kerja keras pasangannya, bukan modal dari orang tua. Setidaknya itu salah satu bentuk perjuangan laki-laki yang benar-benar mencintai dan memperjuangkan dirinya.


“Benar toh, Buk? Anak kita itu harus mandiri, dia harus berusaha sendiri. Bapak juga dulu waktu mau menikahi ibu kamu ini, bapak cari uang sendiri,” lanjut pak Galih meminta persetujuan istrinya.


Bu Ratih mengangguk. Ia masih mengingat bagaimana suaminya kerja keras untuk meminang dan memenuhi kebutuhannya, sampai perekonomian mereka membaik, dan dapat hidup enak seperti sekarang.


“Iya. Ibu juga nggak mau anak laki-laki ibu manja. Jadi gimana, Nak? Kamu mau serius dengan hubungan kamu dan Anggita?” tanya bu Ratih pada Alan setelah mendengar pernyataan Anggita.


“Mau, Bu. Tapi aku berharap Anggita juga akan bersadar, dan aku akan kerja keras untuk halalin kamu,” jawab Alan dengan semangat yang membara.


Seutas senyum terbit di wajah Anggita. Akhirnya ungkapan ia tentang laki-laki yang ia inginkan mendapat respon baik. Kini, pikiran buruk itu terhempas begitu saja, membuat bahunya sedikit lebih ringan.


“Oh iya, ibu lupa kalo ada undangan hari ini. Ayo, Pak antar ibu,” ajak bu Ratih mengerlingkan mata pada suaminya.


“Undangan apa, Bu?” tanya pak Galih merasa jika mereka tidak menerima undangan apa pun.


“Itu lho, Pak. Masa bapak lupa. Ayo cepat,” desak bu Ratih menarik tangan suaminya agar menjauh dari ruang tamu. Membiarkan Anggita dan Alan bicara empat mata.


“Kenapa, Bu?” tanya pak Galih melepaskan rangkulan tangan bu Ratih.


“Bapak ini kayak nggak tahu anak muda aja. Biarin mereka bicara berdua,” jawab bu Ratih karena suaminya tidak memahami kode yang ia beri.


“Oalah. Bapak kira apa,” sahut pak Galih memutar bola matanya.


Kini, hanya tinggal Anggita dan Alan saja di ruang tamu. Pria itu terus menatap Anggita yang menunduk.


“Jadi, sekarang kamu udah nerima cinta aku?” tanya Alan memastikan.


Anggita mengangguk pelan. Dalam hati kecilnya, ia berharap ini awal kisah cintanya yang baik. Setelah cukup lama ia terus bertanya pada hatinya sendiri. Ia pun tidak tahu sampai kapan harus memendam perasaan cinta yang tidak ada ujungnya pada Galang. Bahkan dirinya tidak tahu lagi bagaimana kehidupan laki-laki itu.


Hanya doa terbaik yang ia panjatkan dalam setiap sujudnya. Walaupun ia berpikir jika Galang membenci, atau bahkan kini sudah melupakan dirinya.


“Jadi, sekarang kita pacaran?”


“Iya, Alan. Saya udah jelasin tadi, masa kamu nggak ngerti,” lirih Anggita gemas karena terus ditanyai oleh laki-laki di hadapannya.


“Kalo gitu, kamu tunggu aku dua atau tiga tahun ya. Aku akan kerja untuk halalin kamu dengan hasil keringat aku sendiri,” tegas Alan dengan mata berbinar. Bibirnya terus melengkung indah, karena masih tidak percaya jika cintanya berbalas.

__ADS_1


***


__ADS_2