
Usai makan malam, Anggita tidak langsung kembali ke kamarnya. Karena Galang tidak berada di dekatnya, ia memutuskan untuk mengelilingi halaman rumah Galang, seraya menikmati pemandangan langit malam.
Hingga tanpa sengaja Galang menangkap sosok Anggita dari balkon kamarnya. Melihat gadis itu hanya sendirian, Galang pun berlari turun untuk menemuinya.
“Kamu ngapain?” tanya Galang dengan tenang, padahal napasnya memburu karena berlari secepat mungkin agar Anggita tidak menghilang.
Anggita langsung menoleh, terkejut mendengar suara bariton Galang yang mengagetkannya.
“Kenapa? Memangnya nggak boleh?” tanya Anggita balik.
“Ya nggak papa. Cuma harus ada yang temenin biar kamu nggak nyasar,” jawab Galang terus berjalan mengikis jarak di antara mereka.
Ia kemudian menatap balkon kamarnya sendiri.
“Kebayang nggak kalo ada orang yang nekad turun dari atas sana?” tanya Galang.
Semula Anggita ingin mengabaikan pertanyaan pria di sampingnya. Namun, melihat jarak balkon yang Galang tunjuk sampai ke tanah tempat mereka berada, Anggita hanya menggeleng pelan.
“Sama. Awalnya aku nggak pernah kepikiran untuk terjun dari sana. Tapi karena aku udah janji bakal muncul di hadapan gadis yang aku suka, aku nekad turun dari sana cuma modal kain,” terang Galang mengingat bagaimana ia begitu berani, hanya agar dapat bertemu dengan Anggita.
“Siapa?” tanya Anggita singkat.
“Orangnya? Kamu penasaran ya?” goda Galang sengaja menjahili mantan kekasihnya.
Anggita menekuk wajahnya, saat Galang menanggapi pertanyaannya dengan candaan, membuat ia jadi malas dan enggan untuk bertanya lebih banyak.
“Dua kali. Dua-duanya untuk ketemu sama orang yang berarti dalam hidup aku,” ucap Galang dengan serius.
“Maaf karena aku belum bisa jadi laki-laki yang baik saat kita berhubungan dulu. Aku nggak bisa ngelundungi kamu, dan cuma buat kamu dan Jihan dalam bahaya,” ujar Galang menatap Anggita dengan tatapan bersalah.
“Aku udah nggak inget itu semua,” jawab Anggita hendak berbalik masuk.
Pembahasan tentang masa lalu, sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya, apa lagi harus berlama-lama berdekatan dengan Galang, bisa-bisa cinta yang sudah lama ia kubur kembali muncul ke permukaan.
“Aku cinta sama kamu Anggita! Bahkan rasa itu terus tumbuh dan berkembang!” teriak Galang berharap Anggita mendengar suaranya.
Ana yang saat itu baru menutup tirai kamar, langsung ia sampirkan kembali saat mendengar keributan di halaman rumah.
__ADS_1
“Kak Anggita kenapa?” tanya gadis itu saat melihat Anggita berjalan dengan cepat memasuki rumah.
“Kakak kenapa?” tanyanya menghentikan langkah Anggita yang hendak memasuki kamar.
“Nggak papa. Saya ke kamar dulu,” pamit Anggita hendak melewati Ana.
Namun gadis itu berubah keras kepala, ia tetap menahan tubuh Anggita agar tidak menghilang dari pandangannya.
“Kak Galang buat Kakak marah?” terka Ana.
“Nggak kok. Nggak ada apa-apa Ana, beneran,” jawab Anggita berusaha untuk meyakinkan perempuan di hadapannya.
“Apa nggak ada kesempatan kedua untuk kak Galang memperbaiki semuanya, Kak?” tanya Ana menghentikan langkah Anggita.
Gadis itu hanya diam, dan berjalan masuk ke kamarnya.
Pada anak tangga menuju lantai dua, Galang menatap adiknya yang terdiam di depan pintu kamarnya.
Dilihat dari tatapannya, Galang seolah ingin mengetahui bagaimana keadaan Anggita. Ana hanya mengedikkan bahu dan menggeleng pelan, membuat bahu pria itu merosot, karena perbincangan mereka menuai hasil yang buruk, dan kemungkinan dapat memperburuk hubungan mereka berdua.
Ana bergegas menghampiri kakaknya dan bertanya apa yang terjadi di antara mereka berdua.
“Beneran? Nggak mungkin kalo cuma minta maaf kak Anggita semarah itu, Kak,” tukasnya terus menatap Galang penuh selidik.
“Kakak bilang kalo kakak masih cinta sama dia,” jujur Galang.
Ana memutar bola matanya kesal. Tidak habis pikir kenapa kakaknya bisa senekad itu, padahal sudah tahu jika Anggita memiliki kekasih.
“Memangnya salah kalau kakak ungkapin perasaan kakak ke dia?” tanya Galang merasa tidak bersalah.
“Nggak. Cuma waktunya yang nggak tepat,” balas gadis itu dengan ketus.
“Kakak ke kamar aja sana! Biar aku yang bicara sama Kak Anggita,” usir Ana agar kakaknya tidak semakin membuat suasana hati Anggita memburuk.
Setelah berbicara dengan kakaknya, gadis itu berjalan menuju pintu kamar yang tempati oleh Anggita.
“Kak, aku bisa bicara sebentar nggak sama Kakak?” izin Ana seraya mengetuk pintu di hadapannya.
__ADS_1
Anggita mengusap air matanya, dan berusaha untuk menghilangkan jejak air mata di wajahnya sebelum membuka pintu.
“Ada apa, Ana?” tanya Anggita.
“Boleh aku masuk?”
“Boleh kok,” jawab Anggita karena ini merupakan rumah Ana dan Galang.
“Kak Galang pasti buat Kakak kesel ya?” tanya gadis itu dengan tatapan bersalah telah menganggu ketenangan hati Anggita.
“Nggak kok. Saya baik-baik aja,” elak Anggita tetap memaksakan senyum.
“Maaf kalo aku terkesan mencampuri hubungan masa lalu kalian. Tapi, Kak Galang bener-bener baru tahu apa aja yang dilakuin sama almarhum orang tua kami ke kakak, Jihan, dan Kak Denis. Karena itu Kak Galang berusaha menebus semua rasa bersalah dia, dan berusaha untuk perjuangin lagi cinta dia sama Kakak,” terang Ana.
“Aku tahu ini salah. Aku tahu kalau Kakak udah punya pacar dan mau nikah. Tapi, aku harap Kakak coba tanya hati Kakak. Karena aku cuma mau yang terbaik untuk perempuan sebaik Kak Anggita,” jujur Ana.
Ia tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang akan Anggita pilih, karena Galang dan Alan sama-sama baik, dan yang terpenting Anggita juga mencintai mereka, dan mereka dapat membuat Anggita bahagia.
“Dia beneran tahu semuanya?” tanya Anggita dengan pelan.
Ana mengangguk cepat, dan menceritakan semua yang telah Galang ceritakan padanya.
“Jadi kecelakaan itu?”
“Iya, Kak. Kak Galang kabur dari rumah untuk nolongin kak Denis, tapi waktu dia sadar dia nggak lihat kalian berdua, dan ternyata Kakak sama kak Denis juga dilarang untuk ketemu sama dia,” jawab Ana.
Ia begitu sedih karena orang tuanya begitu kejam, tetapi semua sudah berlalu, dan orang tuanya telah tiada.
“Maafin orang tuaku yang udah misahin kalian berdua. Setela Kak Anggita pergi, Kak Galang nggak pernah deket sama siapa pun. Sampai akhirnya aku tahu, seistimewa apa perempuan yang berhasil luluhin hati dia,” ungkap Ana terus menatap Anggita.
Melihat Ana yang menangis, Anggita pun langsung mendekapnya, dan menenangkannya.
“Udah, kamu jangan pikirin soal ini ya. Saya nggak mau kamu sakit, dan bahaya untuk kesehatan janin kamu. Sekarang kamu fokus sama persiapan pernikahan kamu dan Kevin aja ya,” bujuk Anggita agar Ana tidak stress karena memikirkan hubungannya dengan Galang.
Cukup lama ia menenangkan Ana, hingga tangis wanita itu reda.
“Pokoknya siapa pun yang Kakak pilih, aku harap Kakak bahagia,” pesan Ana setelah melerai dekapan mereka.
__ADS_1
***