
Galang terperanjat dan langsung memutar tubuhnya ke belakang. Tanpa sengaja punggungnya pun membentur pintu saat melihat seorang gadis berdiri tepat di hadapannya.
“I—iya. Kenapa? Kamu belum tidur?” tanya Galang cepat.
Baru saja Anggita membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Galang, pria itu lebih dulu mengubah pertanyaannya. “Maksud aku, kamu baru bangun?”
“Iya, baru aja selesai sholat,” jujurnya.
“Ya udah, kalo gitu aku mau ke kamar dulu,” pamit Galang hendak berlalu melewati Anggita. Ia tidak kuat melihat kecantikan Anggita yang semakin bertambah dalam balutan mukenah putih, dengan wajah yang begitu cerah.
“Galang, tunggu sebentar!” cegah Anggita.
Ia langsung mempercepat jalannya, dan mensejajarkan langkah mereka.
“Makasih untuk bantuannya,” ujar Anggita tulus.
“Aku yang makasih sama kamu, karena kamu nggak jauhin mereka seperti aku, dan nggak perlakukan mereka seperti yang kamu lakukan ke aku,” jawab Galang tanpa menoleh ke arah Anggita.
“Nanti jam sembilan mobil yang akan nganter kita sampe,” lanjut Galang sebelum benar-benar menjaga jarak dengan Anggita.
Gadis itu termanggu. Tidak menyangka jika Galang akan berkata seperti itu padanya.
“Apa kamu sekarang mulai benci sama aku?” tanya Anggita begitu lirih.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan yang masih tertutup mukenah.
Galang yang baru tiba dalam bilik tidurnya, mengembuskan napas panjang. Ia menyesal telah mengucapkan kata-kata sekasar itu. Sedikitpun dia tidak bermaksud untuk menyakiti hati Anggita. Namun, situasi sekarang yang membuat mereka harus kembali berjauhan, membuat suasana hatinya menjadi kacau dan berantakan. Ditambah tubuhnya sudah sangat lelah dan kurang tidur.
Saat tiba di rumah pun, ia tidak memiliki waktu untuk mengistirahatkan matanya barang sejenak, karena pria itu langsung menunaikan ibadah dan bersiap untuk keberangkatan mereka pagi ini.
“Kak! Aku boleh masuk?” panggil Ana memanggil Galang dari balik pintu.
“Masuk aja, nggak dikunci!” sahut Galang.
Mendengar izin dari sang kakak, Ana pun membuka pintu, dan berjalan mendekati Galang yang kini tengah berbicara dibalik telepon.
“Ada apa adik kesayangan kakak?” tanya Galang menarik pelan kedua pipi chubby Ana.
“Iih! Sakit tau,” protes Ana mengusap pipinya yang terasa panas.
__ADS_1
“Kakak nggak sarapan? Yang lain udah pada nunggu di bawah,” ajaknya.
“Kamu sama yang lain duluan aja,” tolak Galang.
Namun, bukan Ana jika menurut begitu saja. Ia terus mendesak Galang agar ikut turun dengannya.
“Nanti kalo aku sama Kevin udah punya rumah sendiri, aku nggak bisa maksa Kakak lagi. Jadi, Kakak bisa bebas mau makan kapan aja,” ucap Ana terselip rasa sedih dibalik kata-katanya.
“Memangnya kapan kalian mau punya rumah sendiri? Kamu harus tinggal dulu sama kakak, sampai kakak pastiin dia sudah cukup mapan, dan bisa penuhi semua kebutuhan kamu. Itu sudah jadi syarat dan kesepakatan sebelum kalian menikah, ingat itu,” tegas Galang.
Ana mengerucutkan bibir sebal. “Aku nggak lupa kok,” jawabnya sewot.
“Lha, terus itu apa kalo nggak lupa?” tanya Galang. Kedua alisnya terangkat ke atas. Menunggu jawaban sang adik.
“Ya bisa aja satu atau dua tahun lagi. Tapi, tetep aja nanti Ana nggak bisa kayak gini lagi,” jujur Ana.
“Kok adik kakak jadi cengeng sih. Mana Ana si anak pemberani yang hatinya sekuat baja itu, hmm?” goda Galang berusaha untuk menghibur Ana.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ana mencubit perut Galang yang berbalut baju kaos ketat dengan kuat, hingga pria itu menjerit.
“Ampun! Ampun!” pintanya.
“Lagian Kakak sih. Orang serius malah diajak bercanda. Emang aku nangis sekali aja langsung jadi cewek cengeng gitu?” cecar Ana dengan raut muka kesal.
“Sampai kapan pun, kamu tetap adik kesayangan kakak. Malah kakak yang sedih, kalau waktu itu sudah tiba,” jujur Galang.
“Sedih kenapa?” tanya Ana. Suaranya berubah sedikit serak karena menangis.
“Karena kamu nggak bersandar sama kakak lagi. Sudah ada orang lain yang jadi sandaran kamu, tempat kamu curahin semua isi hati kamu,” terang Galang, membuat Ana semakin sedih.
Semula ia berpikir jika Galang hanya berniat untuk mengekang dirinya saja. Namun, setelah mendengar pengakuan kakaknya itu, ia sadar jika dia telah salah menilai sikap dan keputusan Galang.
“Makasih, Kak. Aku sayang banget sama Kakak,” ucap Ana mendekap Galang dengan erat.
‘Aku harap, sebelum aku sama Kevinpunya rumah sendiri, kakak udah nemuin pasangan hidup kakak, walaupun aku berharap orang itu Kak Anggita,’ batin Ana.
Suasana haru di antara mereka buyar, saat suara cacing dalam perut Galang terdengar jelas.
“Nah! Ayo turun. Itu alaram Kakak udah bunyi,” ajak Ana menarik paksa Galang, hingga mereka keluar dari kamar.
__ADS_1
Sesampainya di meja makan, terlihat semua orang sudah berkumpul. Termasuk Anggita dan Jihan. Anggita menoleh ke arah Galang yang langsung membuang muka, membuat rasa bersalah itu semakin dalam ia rasa.
“Maaf, menunggu lama. Ayo silakan dicicipi Om, Tante makannya,” ujar Galang mempersilakan.
Sesekali Anggita menatap Galang yang seolah tidak melihat keberadaannya di sini. Sekuat mungkin ia menekan perasaannya, dan bersikap seperti biasa.
“Ayo, Kakak makan yang banyak. Tadi cacingnya udah demo. Pasti kemarin kakak nggak makan malam, ‘kan?” tebak Ana mengambil lebih banyak nasi untuk kakaknya.
Mendengar penuturan Ana, Anggita memperlambat kunyahannya.
‘Apa dia seperti ini saat sedang gila kerja. Tapi kenapa?’ batin Anggita.
Usai sarapan, mobil yang akan mengantar mereka kembali ke rumah mereka telah tiba di depan. Satu per satu tas dan koper mulai dimasukkan ke dalam mobil. Saat Alan berjalan masuk mengambil barang bawaan mereka yang lain, Anggita mendekat ke arah Galang yang berdiri di belakang mobil.
“Kamu kenapa maksa untuk pulang bareng, kalau memang kamu lagi sibuk?” tanya gadis itu.
Galang melirik Anggita lewat ekor matanya, dan berdeham pelan.
“Barang-barang kamu sudah semua? Kamu bisa masuk ke mobil sekarang. Kalau kamu mabuk perjalanan, kamu bisa ambil bangku bagian depan,” tuturnya mengabaikan pertanyaan Anggita yang diajukan padanya.
Anggita meneguk salivanya berkali-kali. Menengadahkan kepala, dan mengusap ujung matanya.
“Ayo, Sayang. Kak Alan udah keluar belum?” ucap Anggita berjalan ke sisi samping mobil, tempat Jihan berdiri.
“Pak. Tunggu sebentar ya,” kata Ana pada supir yang akan menyetir mobil.
Ia berjalan ke arah Galang, dan mengajak kakaknya masuk sebentar.
“Ayo, Kak. Ada barang aku yang ketinggalan,” desak Ana terus memaksa Galang agar ikut ke dalam rumah.
“Barang apa yang ketinggalan? Biar pelayan aja yang ambilin,” jawab Galang.
“Cuma kakak yang bisa ambil,” sahut Ana ketus.
“Kakak habis ribut sama Kak Anggita? Kenapa? Aku dari tadi merhatiin kalian berdua lho. Kalian berdua lagi ada masalah? Kakak tahu nggak! Aku telepon Kakak tadi malam itu, karena Kak Anggita nungguin Kakak di ruang tamu, dia nggak mau masuk kamar sebelum Kakak pulang. Karena itu aku tanya Kakak pulang kerja jam berapa, biar dia bisa istirahat,” papar Ana dengan jelas.
“Kamu kenapa nggak langsung ngomong, Ana?” ucap Galang tidak tahu jika gadis yang sejak pagi tadi ia abaikan, telah menunggunya sejak semalam.
“Karena dia nggak mau Kakak tahu. Dia juga nggak mau ganggu Kakak,” jawab Ana singkat.
__ADS_1
“Kalian beneran lagi ada masalah?”
***