The Last Love

The Last Love
Bukan Perempuan Baik


__ADS_3

“Makasih ya,” ucap Anggita sebelum mereka tiba di rumah.


“Nggak usah makasih. Anggap aja sebagai balasan karena kamu udah penuhi syarat kemarin,” jawab Galang seraya membuka pintu mobilnya dan memasuki rumah lebih dulu.


Anggita terus menatap Galang yang semakin jauh dari pandangannya. Rasa bersalah itu terus menghantuinya, dan semakin membuatnya sakit mengetahui cerita tentang pria itu tanpa dirinya.


“Aku harap suatu saat kamu akan nemuin perempuan yang lebih baik dari aku Galang,” lirih Anggita mengusap wajahnya dan kembali memasang topeng.


Topeng yang selalu ia perlihatkan di depan orang banyak untuk menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak ingin di hari bahagia Ana dan Kevin wajahnya terlihat bersedih.


***


Setelah melalui hari yang cukup panjang, akhirnya tibalah hari pernikahan Ana dan Kevin yang sudah sangat mereka nantikan.


“Selamat ya Ana, Kevin. Akhirnya kalian sudah sah resmi menjadi suami istri,” kata Anggita mendekap Ana dengan lembut, dan menyalami tangan Kevin.


“Makasih untuk semua dukungan kakak dalam hubungan kami berdua,” jawab Kevin.


Ia tidak tahu, bagaimana jika Anggita tidak menasihatinya panjang lebar di dalam bilik kamarnya. Mungkin hari bahagia tersebut tidak akan pernah terwujud dan ia tidak akan dapat melihat senyum bahagia di wajah Ana—perempuan yang sangat ia cinta.


Usai memberi selamat pada Ana dan Kevin, mereka pun melakukan foto bersama sebelum Anggita dan Jihan turun dari panggung pelaminan.


Lalu gadis itu mengedarkan pandangan mencari Citra dan Farah yang kata Galang turut ia undang, hingga netranya menangkap dua orang perempuan yang celingukan menoleh ke sana ke mari.


“Nah! Itu mereka!” ucap Anggita melambaikan tangannya saat Citra dan Farah menoleh ke arahnya.


“Ayo, Sayang. Itu ada Mbak Farah sama Mbak Citra,” ujar Anggita mengenggam tangan Jihan dan berjalan bersama menemui Citra dan Farah.


“Jihan! Anggita!” panggil Farah dan Citra begitu senang akhirnya dapat kembali melihat Jihan, setelah gadis kecil itu dinyatakan hilang, tepat saat Anggita menunggu Galang di rumah sakit.


“Mbak Farah? Mbak Citra?”


“Iya, Sayang. Masa kamu lupa sama kami berdua,” jawab Farah mendekap Jihan yang jauh lebih tinggi dari terakhir kali mereka bertemu.


“Tolong jangan bahas tentang kejadian dulu itu ya, Mbak,” pinta Anggita sebelum keduanya menanyakan hal-hal yang kemungkinan dapat membangkitkan trauma Jihan.


“Eh, Galang mana? Kok nggak kelihatan?” tanya Citra saat Anggita tidak muncul bersama bos mereka.

__ADS_1


“Mungkin lagi nyambut tamu yang lain,” jawab Anggita asal.


“Sayang, aku nyariin kamu dari tadi.”


Tiba-tiba Alan muncul dari belakang Anggita. Membuat Citra dan Farah terkejut mendengar panggilan pria itu pada Anggita.


“Sayang?” beo Farah dengan kelopak mata melebar ke arah Anggita.


Anggita yang tidak siap untuk memperkenalkan Alan pada sahabatnya, langsung mengajak Alan menjauh dari Citra dan Farah.


Gadis itu bahkan mengirim pesan singkat pada mereka berdua, bahwa ia berjanji akan menjelaskan semuanya setelah acara pernikahan tersebut selesai.


“Apa kata Anggita?” tanya Citra melirik ponsel Farah.


“Dia bilang nanti dia kasih tahu kita. Apa jangan-jangan dia pacar Anggita? Terus dia pergi sama Galang kemarin?” tanya Farah dilanda kebingungan.


“Nanti kita introgasi dia,” ucap Citra. Kemudian mengajak Farah untuk menikmati acara tersebut.


“Nah, itu bos kita,” tunjuk Citra pada Galang yang tengah berbincang dengan kedua mempelai.


***


“Kakak mau nyambut rekan kerja yang datang,” ucap Galang saat adiknya bertanya apakah kakaknya sudah makan atau belum.


Setelah memastikan adiknya turun dengan selamat, Galang mulai berjalan ke arah beberapa orang kepercayaan serta beberapa orang yang memiliki bagian penting di kantornya. Hingga akhirnya ekor matanya menatap Citra dan Farah yang terus menatapnya.


Melihat Galang yang tidak lagi dikerumuni oleh para tamu undangan, barulah Citra dan Farah beranjak menghampiri bosnya.


“Maaf, Galang. Boleh kami bertanya tentang kamu dan Anggita?” ucap Citra mulai bersikap sebagai seorang kakak.


Galang pun mengizinkan mereka untuk bertanya padanya.


“Oh, pria dengan jas abu-abu?” tanya Galang memastikan.


“Iya. Kamu tahu sama dia?” tanya Farah.


“Dia pacar Anggita, Mbak. Ceritanya panjang, tapi saya harap Mbak Citra sama Mbak Farah jangan ajak Anggita ngobrol, karena dia nggak mau kalau ada yang tahu tentang masa lalu dia. Terutama orang-orang seperti kita,” jelas Galang berharap dua perempuan di depannya dapat diajak bekerja sama.

__ADS_1


“Besok atau lusa saya akan minta Anggita untuk menjelaskan semuanya sendiri. Saya nggak mau dia mendapat masalah lagi karena hal ini,” pesan Galang.


“Oke. Kita juga nggak mau dia kenapa-kenapa. Padahal kami pikir kemarin kalian udah sama-sama lagi,” ungkap Citra turut iba dengan hubungan Galang dan Anggita.


Bahkan saat mereka begitu senang karena Galang membawa Anggita ke hadapan mereka, mereka berdua kembali di hadapkan dengan fakta lain yang begitu pahit.


***


Acara pernikahan Ana dan Kevin berakhir tepat sebelum maghrib, agar saat malam kedua mempelai dapat istirahat di kamar Ana yang sudah didekorasi menjadi kamar pengantin.


“Ahh, akhirnya selesai juga,” Ana memijat pundaknya yang terasa sangat pegal.


“Nak, lebih baik sekarang kamu istirahat ya,” ujar bu Ratih tidak tega melihat Ana yang kelelahan.


“Iya, Tante. Eh, maksud Ana Ibu,” jawab Ana karena belum terbiasa memanggil bu Ratih dengan sebutan ibu.


“Kevin, ajak istri kamu ke kamarnya,” suruh pak Galih langsung diangguki oleh Kevin.


Pemuda yang masih remaja itu berjalan mendekati istrinya, dan menuntun Ana menaiki anak tangga setelah berpamitan pada semua orang yang ada di ruang keluarga.


Galang terus menatap adiknya yang berjalan menuju kamar. Dulu dialah yang merengkuh pundak lemah itu, dan mengenggam tangan kecil yang kini sudah diambil alih oleh Kevin—suaminya.


“Ada apa Nak Galang?” tanya bu Ratih saat Galang tidak kunjung mengalihkan pandangannya.


“Hm? Nggak papa, Tante,” jawab Galang memaksakan senyumnya.


“Pasti kamu ngerasa berat ya lihat sekarang sudah ada laki-laki lain yang menjaga dan menemani adik kamu?” terka pak Galih memahami isi hati Galang sekarang.


Galang hanya mengangguk pelan.


“Walaupun sekarang dia sudah menikah, saya tetap menganggap dia sebagai adik kecil saya,” jujur Galang mengingat bagaimana manja dan cerianya Ana.


“Kami juga tidak menyangka kalau Kevinlah yang lebih dulu menikah dari Alan,” sahut bu Ratih menatap putra sulungnya.


“Padahal mereka sudah siap untuk menikah dalam waktu dekat,” lanjut beliau.


Bukan menatap Alan, tatapan Galang justru tertuju pada Anggita yang hanya diam, dan tersenyum tipis.

__ADS_1


“Bagaimana kalau saya saja yang membiayai pernikahan kalian berdua?” tawar Galang dengan senyum terkembang lebar.


***


__ADS_2