The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
10. Flu Berat


__ADS_3

"Aduh, kepalaku sakit banget," terdengar keluhan dari bibir Gaby. Tak lama dia berbangkis beberapa kali.


"apa aku kena flu?" gumamnya lirih. Dian bahkan merasa berat untuk membuka matanya. Suara kicau burung terdengar dari luar.


Perlahan ingatannya kembali. "Oh iya, aku kehujanan!" serunya dan refleks melompat, yang membuatnya jadi jatuh terguling ke lantai. "Aduuhh ...," keluhnya.


Matanya terbuka lebar. Untuk kemudian terkejut melihat keadaan sekitar. "Ini kamarku!" lirihnya kebingungan.


Gaby bangkit dari lantai dan duduk di tempat tidur. Alas tidurnya terasa lembab. Diperhatikannya piyama yang menutupi badannya. "Siapa yang membawaku pulang dan menggantikan pakaianku yang basah?" gumamnya.


"Apakah Emily? Dia kah yang menjemput dan membawaku pulang tadi malam?" batinnya.


Lalu terdengar ketukan di pintu. "Gaby, apakah kau sudah bangun?"


Gaby menoleh ke pintu. Itu suara Emily yang sedang membuka kunci pintu. Tak lama wanita itu datang sambil membawa nampan berisi teko dan sepiring toast juga mangkuk keju.


"Syukurlah kau sudah bangun. Aku khawatir harus memanggil dokter untuk datang, jika kau tak bangun juga," celotehnya. Kemudian baki sarapan itu diletakkan di meja dekat laptop.


"Emily, terima kasih sudah menjemputku pulang. Maaf, sudah merepotkanmu," ujar Gaby dengan mata menyesal.


"Tidak! Bukan aku yang membawamu pulang. Aku dan Tuan Edward pergi ke tempat yang kau sebutkan. Kami berputar-putar di sekitar situ, tapi kau tak ada. Kau pergi ke mana? Bukankah sudah kukatakan untuk menunggu?" Rentetan keluhan Emily seperti omelan seorang kerabat yang khawatir.


"Aku tidak ingat apapun. Rasanya aku terus menunggumu di situ. Lalu siapa yang membawaku pulang?" tanya Gaby bingung.


"Tuan Scott! Pemilik toko Buku di ujung jalan sana!" ujar Emily. Ekspresinya tak bisa diduga saat menyebutkan nama orang itu.


"Apa kau bertemu seseorang dan dibawanya pergi?" selidik Emily.


"Aku tak ingat," jawab Gaby, setelah mencoba mengingat sebentar.


"Lalu apa penjelasannya kalau begitu? Kami datang dan kau tak ada!" Emily melontarkan pertanyaan yang Gaby tak bisa menjawabnya.


"Lalu bagaimana Tuan Scott bisa mencariku?" tanya Gaby ingin tahu.


"Tentu saja dariku!" sahut Emily. Meski dia bicara lembut, tapi ada sedikit nada tak senang yang tertangkap di telinga Gaby.


"Apakah dia bukan orang baik?" tebak Gaby.


"Hush! Jangan ucapanmu, Nona!" Emily mendelik padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku merasa mendengar nada tak senang saat kau menyebut namanya. Kukira---"


"Jangan sebut lagi namanya! Kecuali kau sedang dalam suasana hati yang baik!" Emily memperingatkan dengan keras. Jari telunjuknya mengacung ke udara.


"Tuan Scott bilang, agar kau memeriksa barang-barangmu. Apakah ada yang hilang. Dia akan mencarinya nanti!"


"Oh, apakah dia juga berprofesi sebagai detektif swasta?" tanya Gaby asal. Dia merasa bosan mendengar nama orang itu disebut oleh Emily dengan penghormatan.


"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Emily mengalihkan topik pembicaraan.


"Sakit kepala. Dan aku bersin beberapa kali. Kukira aku akan segera kena flu!" keluh Gaby.


"Aku membawakan teh bunga untukmu. Minum dan sarapanlah selagi hangat. Dan sebaiknya kau segera mandi air hangat,"anjur Emily.


"Terima kasih, Emily," sahut Gaby tulus.


"Aku akan turun untuk membuka toko. Kau sebaiknya beristirahat sebentar. Jika Tuan Thompson datang, aku akan memintanya untuk memeriksamu. Dia seorang dokter pensiunan yang kerap datang ke toko untuk ngobrol dengan Tuan Edward." Emily melangkah ke pintu.


"Aku menyesal sudah merepotkanmu," sesal Gaby.


"Tak masalah. tapi, jangan lupa untuk berterima kasih pada Tuan Scott nanti," pesannya sebelum menutup pintu.


Dia duduk di depan sarapan yang sudah tidak panas lagi. Meskipun begitu, dia memakannya dengan lahap. Tiga keping toast bread diolesi krim keju yang lembut dan teh hangat di teko, itu memang sarapan sempurna di pagi cerah. Sarapan itu ditutup dengan meminum obat flu yang dibawanya dari rumah.


"Aku mau mandi air hangat dulu, biar tubuh kembali nyaman. Lalu membongkar bed sheet dan selimut yang lembab. Mengantarnya ke loundry untuk diambil nanti."


Gaby membuat beberapa rencana untuk kegiatan ringannya hari itu, sebelum istirahat hingga flu-nya sembuh.


Gaby baru saja selesai mengganti pebutup tempat tidurnya, ketika pintu kamarnya kembali diketuk.


Dia berjalan ke sana dan membuka pintu, untuk melihat siapa yang datang. "Ya?" ujarnya.


"Hai, Gaby. Emily bilang kau kehujanan dan sekarang mungkin sedang flu. Dia ingin aku memeriksamu sebentar." Seorang pria yang waktu itu pernah dilihat Gaby di halaman toko Emily.


"Oh, Anda Tuan Thompson? Eh, Dokter Thompson?" sapa Gaby dengan ekspresi yang dibuat seceria mungkin, Dia merasa tidak butuh dokter lagi, setelah minum obat flu tadi.


"Tak perlu berpura-pura di depanku. Hidungmu yang memerah menunjukkan kau sedang flu berat!" Sela dokter tua itu ketus.


"Anda bukan cuma dokter, tapi juga seorang yang bisa membaca pikiran!" Gaby menyerah berpura-pura, dan mempersilakan dokter itu masuk.

__ADS_1


"Aku sedang membereskan kamar." Gaby menunjukkan alasan dia enggan mengundang dokter itu masuk. Kamarnya berantakan, dengan kain bed sheet berserakan di lantai.


"Duduk saja di kursi itu!" perintah dokter tua itu. Gaby mengikuti perintahnya dengan patuh. Mungkin ini adalah bentuk keramahan yang ingin ditunjukkan Emily sebagai tuan rumah.


Dokter Thompson memeriksa selama beberapa saat, lalu memberinya resep. "Kau bisa menebus obat ini di Pharmacy di sebelah sana!" Dokter itu menunjukkan arah toko pharmacy.


"Terima kasih, Dok. Kalau aku boleh tahu, di sebelah manakah toko loundry terdekat di sini?" tanyanya.


"Dokter itu memperhatikan kain-kain yang berserakan. Akhirnya dia menunjukkan arah loundry yang terdekat.


"Terima-kasih, Dok. Aku akan menebus resep obatnya nanti," angguk Gaby.


Dokter itu mengerti, dan segera bangkit untuk pergi.


"Semohga kau cepat sembuh dan bisa jalan-jalan lagi,"ujarnya sambil tersenyum.


"Ya, aku akan segera sehat lagi. Lihat saja!" ujarnya percaya diri. Dokter itu terkekeh kecil.


*


Dalam waktu satu jam, Gaby sudah siap untuk membawa kain cuciannya, sekalian menebus obat Dokter Thompson.


"Kau mau pergi?" tanya Tuan Edward.


Kali ini dia dan Dokter Thompson sedang bermain catur di teras toko. Keduanya menoleh, saat melihat Gaby muncul dengan tas plastik besar, berisi kain-kain kotor.


"Ya. Aku perlu untuk menebus resep obat yang diberikan Dokter Thompson, sekalian mengantarkan cucian ke loundry," sahut Ana.


"Oh, itu takkan jauh. keluar ke arah sana. Kemudian berbelok ke kanan. Kau akan menemukan toko loundry lebih dulu, sebelum pharmacy," jelas Tuan Edward.


"Terima kasih, Tuan Edward, Dokter Thompson," sapa Gaby sambil melangkah ringan.


"Menurutmu dia diculik kemarin petang?" bisik Dokter Thompson pada Tuan Edward.


"Menurutmu apa lagi penjelasannya? Dan dia tak ingat sudah dibawa ke mana oleh penculiknya. Lita tak tau apa yang terjadi sebenarnya," Balas Tuan Edward.


"Beruntung Tuan Scott segera menemukannya!" timpal Dokter Thompson. Tuan Edward mengangguk


********

__ADS_1


__ADS_2