
"Apakah aku benar?" desak Gaby. "Beberapa orang di sini menebak seperti itu. Padahal mereka tak mengenalku sama sekali!" jelas Gaby.
"Itu hanya bentuk keramahan penduduk setempat!" bantah mommy.
"Beberapa negara akan melakukan hal berbeda untuk membuat betah para turis. Tujuannya hanya agar terlihat ramah dan membuat orang datang lagi ke sana suatu hari!" Mommy memberikan argumen yang masuk akal.
Gaby tak mungkin mendesak mommy untuk mengakui sesuatu yang tak ada, bukan? Tapi yang dirasakannya dari Tuan Scott dan Stuart, bukanlah sebuah keramahan belaka. Namun bagaimana menjelaskan hal seperti ini pada mommy?
"Jika ada yang disembunyikan untuk alasan yang menurut mommy bagus, kukira sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan kebenarannya. Aku sudah dewasa, Mom," bujuk Gaby.
"Selamat liburan. Berhati-hatilah di sana." Mommy menutup pembicaraan mereka.
Gaby terpaku menatap ponselnya yang kini menyala terang. Dia tahu mommy bukan orang yang mudah untuk diajak bicara hal-hal seperti ini. Tapi dia percaya, lika mommy menyembunyikan sesuatu darinya, itu pasti karena alasan yang dipercayainya tepat untuk Gaby.
"Ya sudahlah, lupakan saja. Lebih baik gunakan waktu untuk mengetik," gumamnya.
*
*
Gaby terbangun karena hari sangat dingin. Dia menaikkan suhu penghangat, kemudian melihat jendela. Hujan rintik-rintik sudah menyapa di pagi buta.
Baru saja dia hendak kembali ke tempat tidur, samar dilihatnya seseorang berteduh di bawah pohon di seberang jalan. Entah kenapa, Gaby merasa sedikit merinding. Dia merasa kalau pria itu sedang mengawasinya.
Tubuhnya mundur tanpa sadar, menjauh dari jendela. Tiba-tiba udara di ruangan jadi terasa lebih dingin. Padahal dia telah menaikkan pengatur suhunya tadi. Namun Gaby enggan untuk turun dan memeriksa. Sedikit rasa takut merayapi hatinya.
"Cepatlah pagi. Aku harus menemui Tuan Scott dan meminta penjelasan bagus darinya!" gumam Gaby sambil menahan gigil di tubuhnya.
Hingga langit terang, Gaby terus meringkuk di bawah selimut. Sambil memejamkan mata, dicobanya memikirkan semua kejadian. Hal ini bermula dari dia kehujanan dan menghilang beberapa waktu, menurut Emily.
"Siapa yang menculikku? Kenapa dia memilihku? Apa benar karena aku berdarah Scotland? Bukankah kota ini penuh dengan orang Scottish? Kenapa dia menyasarku yang tak tahu apa-apa? Apakah ada rahasia yang disimpan dalam oleh penduduk setempat?"
Berbagai dugaan berkecamuk di hatinya. Dan dia sudah tak bisa mengabaikan serta pura-pura tak terjadi sesuatu. Menurut Gaby, jika ini terus dibiarkan, mungkin akan berbahaya baginya.
__ADS_1
Terngiang olehnya ucapan Tuan Scott hari itu. Bahkan jika dia kembali ke Amerika pun, penculik itu tetap bisa mengejarnya. Gaby ingin segala kerumitan itu selesai di sini saja. Dia ingin hidup dengan tenang lagi di rumahnya bersama Martin.
Saat dirasanya udara sudah lebih hangat, dengan cepat dia bangun dan membersihkan diri. Sarapan di bawah, kemudian pergi ke toko buku di ujung jalan itu.
*
*
"Selamat pagi Gaby, sapa Emily hangat. Tangannya masih menggenggam seteko kopi yang mengeluarkan asap harum dari mulut kecilnya. Emily baru menuangkan kopi di cangkir, yang mungkin pesanan Tuan Edward, satu-satunya pengunjung di sana, pagi ini.
"Pagi, Emily, Tuan Edward," sapa Gaby sambil mencari meja yang diinginkannya. Kali ini dia tak ingin duduk depan jendela kaca besar lagi. Dia tak ingin diamati oleh orang tak dikenal seperti tadi malam.
"Aku mau kopi hangat itu dan sarapan apapun yang kau punya," ujar Gaby cepat.
"Tampaknya musim dingin akan segera datang. Bukankah begitu Tuan Edward?" tanya Gaby.
Dia bisa merasakan suhu yang lebih rendah dari biasa, hingga harus mengenakan sarung tangan untuk menyembunyikan jari-jarinya yang dingin. Uap napasnya bahkan sampai terihat nyata saat dia bicara. Mengepul seperti cerobong kereta uap.
"Sayang sekali, pada hal aku ingin mengunjungi dataran tinggi dalam beberapa hari ini. Kupikir, sebelum salju turun, aku masih akan bisa menikmati keindahannya," ucap Gaby sedikit kecewa.
"Kau ingin ke mana?" Emily menuangkan kopi ke cangkir Gaby, agar dia bisa segera merasa hangat, sementara sarapannya disiapkan.
"Inverness. Bukankah itu kota yang cantik?" jawab Gaby.
"Ya, sangat cantik!" angguk Emily setuju.
"Sebaiknya kau kembali ke sini di musim semi. Kau bisa menjelajahi seluruh highland dan akan jatuh cinta pada tanah ini. Cantik yang memukau dan misterius!" Tuan Edward menambahkan.
"Aku ingat pergi ke pulau Skye. Cantik sekali." Emily tersenyum sambil melihat entah ke mana. Tampaknya dia tengah membayangkan keindahan pulau itu.
"Apa rencanamu hari ini?" tanya Emily yang melihat Gaby memakan dengan cepat sarapannya.
"Mungkin ke toko buku Tuan Scott. Kuharap dia bisa sedikit memberi referensi untuk isi bukuku," sahut Gaby.
__ADS_1
"Kau mencari orang yang tepat. Jika kau ingin tahu cerita tentang Scotland, tanyalah padanya. Dia lebih tahu detail penting, bahkan ketimbang seorang ahli sejarah di musium!" Tuan Edward memuji. Lagi-lagi memuji pria itu.
"Ahh tidak! orang-orang ini seperti mendewakannya. Aneh sekali!"
gerutu Gaby dalam hati.
"Baiklah, sebaiknya aku segera ke sana, agar bisa kembali saat makan siang dan langsung mengerjakan tugasku!" Gaby bangkit dan membayar makannya.
"Ini sedikit kue kesukaan Tuan Scott. Tolong berikan padanya!" Emily menyerahkan satu kotak kertas cokelat bertali, untuk dijinjing. itu harusnya takkan menyulitkan untuk dibawa. Tapi Gaby merasa enggan.
"Katakan ini dariku," tambah Emily cepat. Dia bisa melihat keengganan Gaby. Tangannya makin dekat diulurkan pada wanita muda itu, mendesaknya menerima.
"Baiklah," Gaby akhirnya menerima kotak bingkisan itu.
"Aku jalan, Tuan Edward. Jangan terlalu banyak makan manisan!" serunya sambil membuka pintu dan berlalu dari sana.
Tuan Erward yang sedang menyuapkan biskuit ke mulut, jadi terdiam menatap kuenya. "Apa ini termasuk manisan?" gumamnya.
Emily terkekeh. "Itu biskuit, Tuan Edward," katanya menenangkan.
Sejurus kemudian senyum lebarnya terkembang, melihat biskuit itu dimasukkan dengan cepat ke oleh Tuan Edward ke dalam mulut. Seakan takut itu akan tiba-tiba berubah jadi manisan yang tak boleh dimakannya.
Gaby melangkah dengan santai. Dia tak ingin mengesankan sedang buru-buru ingin bertemu pria itu. Dia juga tak ingin datang kepagian hingga harus menunggu lama di sana. Bagaimanapun ... menurutnya, akan terkesan tidak baik jika dia terlihat terlalu membutuhkan pria itu.
Tapi, toko itu memang tak terlalu jauh. Dalam lima belas menit, Gaby sudah bisa melihat toko bunga yang ramai pengunjung pagi itu.
Dia melihat ke kiri dan kanan sebelum menyeberang ke sana. Langkahnya sedikit meragu setelah mencapai toko bunga. Apakah menemui pria itu adalah langkah yang tepat? tapi kakinya terus melangkah seakan ditarik ke sana. Dia berhenti di depan toko dan melihat ke dalam. Penjaga yang waktu itu sedang melayani pengunjung lain.
"Jika kau ingin tahu, masuk saja!"
Seseorang mengejutkannya. Gaby menoleh dan kemudian terkejut. Itu pria yang dilihatnya di seberang jalan subuh tadi! Tanpa sadar, tubuhnya mundur dan menjauh.
********
__ADS_1