
Di medan pertarungan.
Lima pengawal Gaby berjuang mati-matian. Berkali-kali Jamie, Stuart, Bonnie dan yang lainnya jatuh. Tubuh mereka sudah penuh dengan luka. Namun, mereka selalu bangkit lagi setelah istirahat sebentar.
Bahu membahu mereka bertarung sambil menjaga nyawa rekan-rekannya.
Jamie baru saja menepi, setelah lolos dari incaran pedang Watson. Dilihatnya Elliot yang sudah terjepit akibat didesak Watson yang seakan punya seribu nyawa.
Jamie segera melompat dan memukul tengkuk Watson untuk menggagalkan pedangnya menyentuh kulit leher Elliot.
Watson menggeram murka. Sejak tadi dia tak bisa menyentuh satu orang juga dari kelima highlander itu. Mereka bertarung secara berkesinambungan. Bergantian, sambil memberi waktu pada yang lain untuk mengambil istirahat sejenak. Sementara dirinya terus didesak tanpa diberi kesempatan bernapas sama sekali.
Dikerahkannya tenaga yang selama ini disimpannya. Tenaga yang didapatnya setelah membunuh ratusan orang pelindung highlander sepanjang hidupnya.
"Uaaaghhhh ...!" teriaknya sambil melentingkah tubuh dan melompat marah. Dia berhasil meloloskan diri dari kepungan lima orang itu.
Napasnya terengah-engah karena terus didera dan dikerubuti. Tubuhnya bahkan sudah penuh dengan luka sobek di sana-sini. Meski tidak mematikan, namun darah yang banyak keluar berhasil melemahkan tenaganya.
Lima orang pelindung Gaby, terbengong sejenak saat Watson tiba-tiba lenyap dari depan mata mereka.
"Aku di sini. Aku tak akan pergi sebelum membunuh kalian semua!" teriak Watson kalap.
"Bagaimana rasanya setelah bertemu dengan lawan yang kekuatannya seimbang, Watson?" tanya Elliot sinis. Pria itu meludahkan darah dari mulutnya ke tanah.
"Aku akan membunuh dan mencabik-cabikmu, Bonnie!"
Watson murka mendengar ejekan pria tampan itu. Dia sangat tersinggug karena terus disebut sebagai orang yang tidak bertanding dengan adil dan hanya memilih lawan-lawan kecil serta sendirian, hanya agar bisa menaikkan kekuatannya.
"Berhenti! Turunkan pedang kalian!" teriakan dari pengeras suara mengagetkan keenam orang yang sudah bersiap untuk kembali bertarung.
Watson yang sudah sangat emosi dan dendam pada para highlander dan juga aparat keamanan yang menahannya kemarin malam, Kali ini tak mau membuang waktu lagi. Dia segera berbalik dan mengayunkan pedangnya ke arah para petugas di belakangnya.
Namun dia salah perhitungan kali ini. Yang menunggunya bukanlah polisi seperti sebelumnya. Di sana para tentara sudah siap menembaknya dengan senjata berat. Dan begitu melihatnya melompat dengan gerakan melawan, maka tembakan tak henti menyambut tubuhnya yang sedang melayang di udara.
Jamie dan kawan-kawannya mengambil kesempatan dan melarikan diri lagi dari sana secepat kilat. Mereka terbang ke arah hutan tanpa meninggalkan jejak. Desingan peluru yang beterbangan di belakang tak mereka pedulikan. Karena yakin peluru tidak dapat membunuh mereka.
"Ke mana kita?" tanya Duncan yang berlari di belakang Jamie.
"Aku melihat Oliver membawa Nyonya ke arah sana!"
Mereka berlompatan seperti kijang dari satu tumpuan ke tumpuan lain di hutan itu. Hanya dengan melompat, mereka bisa memperbesar jarak dengan para aparat maupun Watson.
"Aku melihat seseorang di sana!" tunjuk Elliot. Mereka bergegas menuju tempat itu.
"Tuan Martin!" seru Stuart prihatin. Pria itu pingsan di tengah hutan. Jika mereka tidak melewatinya, maka tidak akan ada yang tahu keberadaannya. Padahal dia sedang sangat membutuhkan bantuan medis.
__ADS_1
"Dia pingsan!" Kata Duncan.
"Biar kubawa!" Angus mengangkat tubuh Martin dan meletakkan di punggung. Kelima orang itu kembali melanjutkan pelarian ke dalam hutan.
"Nyonya! Itu Nyonya dan Tuan Oliver!" tunjuk Duncan gembira.
"Kalian sudah kembali ... syukurlah. Apakah Warson sudah tewas?" tanya Gaby penuh harap.
"Kukira tidak demikian, Nyonya," bantah Oliver. Dia tak ada melihat gelegar petir dan kilatan dahsyat yang biasa jadi pertanda tewasnya seorang pelindung Highlander. Itu adalah pertanda berpindahnya kekuatan dari yang tewas kepada pembunuhnya.
Jamie menggeleng. "Aparat keamanan kembali ikut campur. Dia melawan dan ditembaki. Saat itulah kami mengambil kesempatan untuk kabur, diantara kepulan asap dan peluru yang mendesing," jelas Jamie.
"Kalau begitu, dia pasti akan mengejar kita lagi," Kata Oliver.
"Siapa yang kau dukung itu, Angus?" tanya pria tua itu.
"Kami menemukan Tuan Martin pingsan di tengah hutan saat hendak ke sini." Jamie yang memberi penjelasan.
"Martin?" Gaby terkejut. Angus menurunkan tubuh Martin dari punggungnya. Pria itu terlalu banyak kehilangan darah. Kepalanya terluka dan masih terus mengeluarkan darah.
"Martin, apa kau mendengarku?" Gaby menepuk-nepuk pipi Martin dengan khawatir.
"Dia dalam kondisi bahaya. Apa kalian tahu cara pertolongan pertama?" Gaby berusaha tetap tenang.
"Aku punya obat serba guna. Entah apakah berguna untuknya atau tidak," ujar Oliver.
"Ini obat racikan spesial. Aku menyebutnya sebagai obat penyambung nyawa," kata Oliver bangga.
"Obat macam apa itu?" sinis Stuart.
Tapi Gaby tampaknya berpikiran praktis. "Apa itu tidak beracun?" tanya Gaby,
"Ini obat, Nyonya, Bukan racun!" tegas Oliver sambil menunjukkan obat asing yang berwarna hijau kekuningan sebesar kuku kelingkingnya.
"Kau yakin itu bisa mempertahankan nyawanya?" Gaby ingin kepastian.
"Selama dia tidak ditakdirkan mati sekarang, maka obat ini bisa diberikan!" Oliver berkata dengan sangat yakin.
"Berikan padanya. Hanya itu yang kita bisa, saat ini. Nanti setelah kita bisa menemukan tempat aman dan dokter yang bagus, dia bisa kita bawa ke rumah sakit untuk perawatan."
Gaby sudah memutuskan, maka yang lain tidak membantah sama sekali. Oliver segera membuka mulut Martin dan memasukkan obat aneh di tangannya itu.
"Mereka ada di sana!"
"Berhenti di tempat!
__ADS_1
Gaby dan yang lainnya terkejut melihat para tentara merangsek maju ke arah mereka. Kemudian membuat. posisi mengepung. "Bagaimana sekarang, Nyonya," tanya Stuart pada Gaby.
Dalam kebingungannya Gaby teringat akan hutan gelap di belakangnya. "Kita masuk lebih dalam ke hutan itu!" perintah Gaby.
"Nyonya---"
"Apa Anda kira aku akan membiarkan mereka ditangkap polisi begitu saja?" mata Gaby menatap Oliver tajam.
"Baik, Nyonya." Angguk Oliver mengerti.
"Ayo cepat! Lindungi Nyonya dan Tuan Muda Keane!" Jamie memberi aba-aba pada anggota tim lain untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Biar kubawa Tuan Martin. Duncan menawarkan diri. Tanpa menunggu persetujuan siapapun, dia sudah berjongkok dan berusaha memindahkan tubuh Martin ke punggung.
Jamie membantu Duncan dan segera berlalri menyusul teman mereka lainnya yang sudah berlarian di depan, sambil melindungi Gaby.
Di belakang, para tentara yang melihat kelompok yang mereka incar berlari main jauh ke dalam hutan, segera melepaskan tembakan sengit.
"Aahh ...!" Duncan yang membawa tubuh Martin, jatuh tersungkur ke tanah. Betisnya terkena peluru. Meski itu tidak mematikan, tapi berhasil membuat langkahnya terhenti.
"Martin!" Teriak Gaby khawatir. Dia mengira Martinlah yang terkena tembakan.
"Saya akan melindungi Tuan Martin, Ma'am. Anda terus saja!" teriak Jamie Mac Kay.
"Saya akan membantu Jamie. Kalian majulah terus dan lindungi Nyonya!" Tanpa menunggu persetujuan Gaby, Stuart sudah berlari ke arah Jamie dan Duncan yang berlindung di balik batang pohon yang rubuh.
"Aahhh!" teriakan nyaring Stuart terdengar. Dia juga terkena peluru di pahanya. Namun, masih terus berlari ke arah Jamie dan Duncan.
"Kau gila!" kritik Jamie.
"Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Mac Kay," balas Stuart. Dilihatnya Martin yang masih belum sadarkan diri di sebelah Duncan. Pria itu sedang mengikat betisnya agar luka tembak tadi berhenti mengeluarkan darah.
"Kukira, aku tak perlu bertanya tentang situasi di sini," celetuk Stuart ringan. Dia merobek bagian bawah kaju kaosnya untuk mengikat pahanya yang juga terkena tembakan.
"Sudah?" Jamie menanyakan kesiapan kedua temannya yang tertembak.
"Kami akan membopong Tuan Martin dan kau menghalau setiap peluru yang terbang!" ide Stuart.
"Aku bukan Bonnie!" kesal Jamie.
Stuart dan Duncan haya tersenyum penuh arti. Kuhitung hingga tiga!" ujar Stuart.
"Satu ...."
"Dua ...."
__ADS_1
"Tiga!"
******