
Tiga hari berlalu dalam ketenangan di rumah mungil tepi hutan. Pagi itu Jamie baru saja keluar dari rumah, setelah selesai sarapan. Perasaannya kuat bahwa ada pelindung lain dalam area beberapa kilometer dari tempat tinggalnya.
Kewaspadaannya meningkat. Dengan cepat Jamie Mac Kay kembali ke dalam rumah dan menutupi jejak langkahnya menuju basement.
Diperhatikannya seluruh rumah dengan seksama. Memperhatikan detail yang mungkin terlewat. Kemudian diambilnya pedang panjang dan menyandangnya di punggung. Dia keluar dan berdiri di beranda, memperhatikan suasana di sekitar. Perasaan tadi menjadi semakin kuat.
"Dia sudah makin dekat. Siapa yang bisa tiba-tiba mendekat ke sini?" pikirnya heran.
Jamie terus berjalan, mengikuti bimbingan perasaannya. Dia yakin pelindung itu juga telah merasakan kehadirannya dan sedang mendekat.
Langkahnya telah melewati aliran air dan deretan pohon apel. Jamie masih terus melangkah. Dia ingin mencegat orang itu sejauh mungkin dari rumah.
Sebelum Jamie mencapai jalan raya, sebuah taksi berjalan hati-hati memasuki jalanan yang hanya diperkeras dengan bebatuan. Mata Jamie dapat melihat penumpang taksi itu menunjuk-nunjuk dirinya. Hal itu membuat tangannya otomatis memegang gagang pedang yang tersembul di pundaknya.
Taksi berhenti tepat di depannya. "Hai. Tuan Mac Kay. Apa kau sudah melupakanku?" sapa pria di taksi gembira, sambil menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.
"Tuan Grant?" ujar Jamie heran. "Apa kau juga menjadi bagian mereka?" Mata Jamie menatap pria itu tajam, tanpa rasa bersahabat.
"Kau salah sangka. Aku datang untuk menunaikan pesan terakhir Tuan Scott Sutherland!" bantahnya. Pria itu turun dari taksi dan mengeluarkan dua kotak kulit panjang dari mobil. Taksi mundur perlahan meninggalkan dua pria aneh di pinggir hutan.
"Tuan Scott tidak ada mengatakan apapun tentang sesuatu yang ditujukan padamu. Aku masih bicara dengannya di malam terakhir hidupnya!" Jamie bersikeras. Dia dengan teguh, berdiri di tengah jalan masuk itu, menghalangi Stuart Grant.
Dengan menghela napas, Stuart menurunkan dua kotak yang dibawanya ke tanah lembab. Kemudian menggunakan sebelah tangan, menjangkau bagian dalam mantelnya. Kemudian mengeluarkan selembar amplop bersampul coklat tebal.
Jamie menerima amplop yang diulurkan oleh Stuart. Dilihatnya simbol yang biasa dipakai oleh Tuan Scott saat mengirim pesan. Hanya beberapa orang kepercayaannya saja yang mengetahui detail tersebut.
Tanpa ragu dikeluarkannya kertas surat dari amplop yang sudah dibuka tersebut. Sebuah pesan ditulis tangan oleh Tuan Scott.
"Tuan Grant, kuharap kerelaan anda membantu Tuan Mac Kay menjaga Gaby dan putraku. Serahkan pedangku pada Gaby. Itu adalah warisan untuk putra kami. Berikan dia nama Evander Sutherland. Aku mengharapkan dia menjadi pria kuat sesuai namanya. Ikuti petunjuk yang kuberikan, untuk menemukan mereka!"
__ADS_1
Kemudian Jamie melihat peta kasar yang dicoretkan Tuan Scott pada lebaran kertas itu. Petunjuknya hanya sampai di desa terdekat.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Jamie. Nada suaranya masih tidak bersahabat.
"Mengikuti firasat. Sampai kemudian aku merasakan kehadiranmu! Jadi aku yakin bahwa arahku benar!" senyum Stuart tersungging.
"Apa kau juga memberikan denah ini pada para pelindung lain? Ada beberapa dari mereka yang kudengar telah mendekati kota ini!" Jamie menatap tajam. Dia masih belum mempercayai Pria di depannya.
"Aku justru menghindari mereka. Kau kira mudah bagiku untuk mencapai kota terpencil ini? Hah!" ujarnya mulai kesal.
Jamie mencibir melihat tingkah Stuart. Hal itu membuat Pria itu menggeleng pasrah. "Kau bisa lihat, apakah pedang ini milik Tuan Scott atau tidak." Stuart Grant tak kehilangan akal untuk meyakinkannya.
Diserahkannya sebuah kotak pada Jamie yang dengan segera membuka kotak pembungkus dan menemukan sarung pedang milik Tuan Scott. Tanpa ragu, dikeluarkannya pedang itu dan melihat noda darah yang seperti tercetak pada bilahnya. Menciptakan pola beraneka rupa di sepanjang bilahnya. Sebuah logo klan Sutherland terpahat indah pada pangkal pedang.
Pedang itu lalu dimasukkan kembali ke tempatnya. "Bagaimana?" tanya Stuart Grant. Dia tak menemukan jawaban dari wajah datar yang ditunjukkan Jamie.
"Jika ingin membantu, sebaiknya kau tinggal di kota dan mengawasi sekitarnya. Jika melihat sesuatu, kabari aku!" Jamie bahkan tak ingin repot-repot mengajak Stuart mampir ke rumah. Dia tidak dapat mempercayai siapapun sekarang.
Stuart Grant berbalik, hendak kembali ke jalan raya. Tapi dia tak bergerak dari tempatnya. "Menurutmu, bagaimana caraku untuk bisa sampai di desa itu?" ujarnya lugu.
"Kau punya kaki!" dengus Jamie sebal. Dia selalu merasa Stuart adalah jenis pria pesolek dan manja yang lebih memilih membuka sebuah kafe ketimbang menjadi pelindung yang sebenarnya.
"Baiklah. Oh ya, berikan nomor ponselmu agar mudah kuhubungi!" stuart mengeluarkan ponselnya dan siap untuk mencatat.
Pria itu kemudian pergi setelah mencatat nomor ponsel Jamie. Dia melangkah dengan santai sambil menikmati suasana sekitarnya.
Jamie segera membalikkan badan dan berjalan cepat menuju rumah. Kemudian mengeluarkan mobil dan menyusul Stuart di jalan raya.
"Sepanjang jalan yang terdengar hanya suara tawa kecil Stuart Grant. Dia senang tak benar-benar harus jalan kaki hingga desa.
__ADS_1
"Tuan Scott benar ketika mengatakan bahwa kau lembut hati." Stuart terus saja bicara, meskipun Jamie tak menanggapi.
"Sekali lagi kau mengejekku, Aku akan menurunkanmu di sini!" ancam Jamie kesal.
"Siapa yang mengejekmu, Tuan Mac Kay? Aku sedang memuji. Penilaian Tuan Scott tidak pernah salah!" Stuart membela diri.
Sepanjang jalan Jamie cemberut. Dan lebih cemberut lagi, karena harus beberapa kali mencari penginapan untuk pria yang terlihat lebih cantik, dari pada tampan.
"Biar aku menginap di sini sementara, sambil mencari tempat tinggal sederhana." Stuart dapat melihat ketidak sabaran Jamie. Bagaimana pun, Pria itu harus berada lebih dekat dengan Gaby yang menjadi tanggung jawab mereka berdua.
Tadi Jamie telah menceritakan tentang Martin dan juga pria yang mengaku sebagai penyihir terakhir bangsa Alba.
"Ku kira, kau lebih baik bicara pada penyihir itu apa tujuan dia sebenarnya. Dengan begitu, kita bisa memilah mana musuh dan mana kawan," saran Stuart.
"Akan kupertimbangkan!" Jamie berpisah dengan Stuart dan segera kembali ke tempatnya. Hatinya sedikit lega karena sekarang dia punya dua sekutu. Dan bantuan Stuart memang sangat dibutuhkannya. Pria itu bisa menjadi pintu penghalang pertama, sebelum para pelindung lain menemukan Jamie dan Gaby.
"Aku akan bicarakan hal ini dengan Nyoya lebih dulu. Mungkin dia punya pertimbangan lain," batin Jamie.
Saat mengantarkan makan malam, Jamie mengatakan tentang pria penyihir dan kedatangan Stuart.
"Stuart? Rasanya aku pernah mengenal seseorang bernaa Stuart saat di Glasgow. Dia bekerja di sebuah kafe yang sangat bagus di sana." Gaby tersenyum mengingat pertemuannya dengan pria itu saat liburannya.
"Memang pria itu yang datang ke sini, Maam," jawab Jamie.
"Apakah dia juga salah satu dari kalian?" tanya Gaby tak percaya.
Jamie mengangguk. "Dia salah satu pemain pedang yang terbaik di antara kami. Dia juga sahabat Tuan Scott." jelas Jamie.
Mulut Gaby terbuka. Dia tak menduga hal itu. Pantas saja pria itu mengamati gelangnya dengan seksama. Ternyata pria itu bisa mengenali gelang yang khas dari Tuan Scott.
__ADS_1
*******