The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
30. Aku Pasangannya


__ADS_3

Gaby sangat bersemangat dengan liburannya ke Inverness. Kota cantik di bagian utara Scotland yang penuh sejarah. Dia telah menyiapkan pakaian tebal untuk melindungi diri dari udara dingin bumi utara.


Pukul tujuh pagi dia sudah turun dan masuk ke toko Emily untuk sarapan. Tas ransel ukuran sedang diletakkannya di bangku kosong sebelahnya.


"Pagi, Dear. Apa kau akan pergi lagi?" sapa Emily ramah.


'Hemm, ya. Aku mendapatkan hadiah undian ketiga yang dibuat kafe di ujung jalan itu," senyum Gaby.


"Apa hadiahnya hingga kau sangat bersemangat seperti ini?" tanya Emily sambil memasukkan satu loyang roti ke dalam oven.


"Jalan-jalan ke Inverness," sahut Gaby dengan wajah berseri-seri.


Emily mengangguk dan tersenyum senang. "Apa kau ingin sarapan dulu sebelum pergi?" tanyanya.


"Ya. Aku tak ingin kelaparan selama di jalan," jawabnya.


"Ya, perjalanan ke sana antara tiga hingga empat jam dengan bus," angguk Emily.


"Aku mau sarapan lengkap." ujar Gaby. "Dan segelas jus jeruk, kalau bisa," tambahnya lagi.


"Akan kubuatkan," jawab Emily cepat.


Gaby membuka tablet dan mulai mengetik sesuatu di situ. Dia mendapatkan beberapa ide dan sedang mencatatnya. Kemudian mulai mencari tahu tentang kota tujuan


"Ini sarapanmu."


Emily meletakkan satu piring penuh makanan. Ada dua lembar roti bakar, telur mata sapi, tumis kacang merah dan tomat, serta beberapa iris bacon goreng mentega.


"Ini terlihat lezat," ujar Gaby gembira. "Terima kasih, Emily."


Gaby meneguk sedikit jus jeruknya sebelum mulai sarapan. Dia sampai memejamkan mata saat menikmati kelezatan tumis kacang merah dan tomat buatan Emily.


"Apa kau ingin dibuatkan bekal juga?" tanya Emily lagi.


"Hu-um!" Gaby mengangguk mengiyakan. Mulutnya sedang penuh hingga tak bisa menjawab.


"Buatkan dua bungkus lamb sandwich untukku," jawab Gaby setelah berhasil menelan makanan di dalam mulutnya.


"Akan ku buatkan," angguk Emily. Wanita paruh baya itu kembali sibuk dengan pekerjaannya di pantri. Dia tidak terburu-buru. Karena Gaby juga masih menikmati sarapannya.


Pukul delapan Gaby siap untuk berangkat. Dia membayar semua pesanan makanannya.


"Kau pergi sendiri?" tanya Emily.


"Tidak. Aku pergi bersama rombongan pemenang lainnya," jawab Gaby menenangkan wanita itu.


"Bagus kalau begitu. Kau tidak akan tersesat jika bersama dengan rombongan wisata. Aku merasa tenang," ujar Emily.


"Oke, aku berangkat sekarang," pamit Gaby.


"Selamat liburan!" seru Emily. Gaby melambai dari pintu toko. Dengan langkah ringan dia berjalan menuju kafe di ujung jalan.

__ADS_1


Gaby melaporkan kedatangannya pada waitres yang berada di depan kafe.


Masih satu jam lagi dari waktu berangkat. Jadi lebih baik duduk dulu di dalam," sarannya.


Gaby menolak, dan lebih memilih duduk di bangku yang ada di teras depan toko. Cuaca sedang bagus, sayang jika dilewatkan di dalam ruangan. Jadi dia duduk di sana dengan tas ransel diletakkan di samping. dikeluarkannya kamera dari tas dan mulai merekam pohon-pohon yang bergerak lembut ditiup angin dan menggugurkan daun-daunnya.


Dilihatnya beberapa orang sudah datang. tempat itu mulai ramai. Ponselnya bergetar, Ada pesan masuk dari Martin. "Kau jadi pergi?" tanya pria itu.


"Ya, ini sedang menunggu waktu berangkat," jawab Gaby.


"Selamat liburan, dan berhati-hatilah," balas Martin lagi.


"Ya," balas Gaby lagi.


"I love you!"


Gaby tak sempat membaca pesan Martin lagi karena namanya dipanggil oleh pihak penyelenggara. Mereka sedang mengabsensi peserta yang datang.


"Ya, aku di sini," sahut Gaby sambil berdiri.


"Anda sendirian? Pasangan anda di mana?" tanya seorang pria berkaca mata.


"Aku di sini. Aku pasangannya." Sebuah suara menjawab dari belakang Gaby. Wanita muda itu terkejut dan menoleh ke belakang. Sangat ingin tahu siapa yang nekad ingin menjadi pasangannya di perjalanan ini.


"Kau?" mata Gaby membulat tak percaya.


"Apa kau mengharapkan orang lain yang menemanimu ke sana?" tanya pria itu balik.


"Kau percaya diri sekali!" dengus Gaby tak suka. Sebuah bus besar berhenti di depan kafe.


"Apa kau tidak membaca dengan teliti kertas undiannya?" tanya salah satu peserta yang ikut.


"Kurasa aku melewatkan detailnya. Jadi sebenarnya apa yang ditulis di undian itu?" tanya Gaby lagi.


"Acara jalan-jalan ini adalah untuk memperingati lima tahun kafe ini berdiri. Jadi mereka mengundi tiga pengunjung dan pasangannya sebagai hadiah, dan ikut dengan para staf kafe berlibur sehari di Inverness." jelas orang itu.


"Oh, baiklah. Aku memang melewatkan informasi itu. Terima kasih," ucap Gaby. Orang itu mengangguk sebagai balasan.


Kemudian persiapan untuk berangkat dimulai. Barang-barang dimuat ke dalam bus. Makanan dan minuman ringan disiapkan untuk di jalan. Kemudian para peserta naik dan mendapatkan tanda pita biru di tangan untuk menandai mereka.


"Haruskah kau duduk di sini?" tanya Gaby. Dia merasa risih duduk bersebelahan dengan pria itu.


"Setiap pemenang undian duduk berpasangan," jawab pria itu enteng. Dengan cuek dia mengawasi orang-orang yang mengantri untuk naik.


"Aku ingin duduk dekat jendela," protes Gaby.


"Baiklah, Nyonya. Kau boleh duduk di dekat jendela dan memotret sepuasmu," senyumnya sambil berdiri.


Gaby keluar lebih dulu dari kursinya, agar pria itu bisa keluar dan bertukar tempat.


"Ah ... Tuan Scott. Tak sangka anda ikut dalam perjalanan ini." seorang pria paruh baya menyapa.

__ADS_1


"Apa kabar Duncan?" sapa Tuan Scott.


"Seperti halnya pria tua, Tuan Scott. Kita butuh liburan sesekali." pria itu terkekeh.


"Apakah ini pasangan anda?" tanyanya saat melihat Gaby.


"Oh, kenalkan ... ini Gaby. Dia menyewa flat di sekitar sini dan memenangkan undian. Dan aku memaksa menjadi pasangannya untuk bisa ikut liburan gratis."


Pria itu tertawa mendengar penjelasan Tuan Scott. "Anda bisa ikut tanpa harus dengan undian. Jika aku tahu anda ingin ke sana, aku akan kirimkan undangan khusus untukmu," ujar pria itu setelah tawanya usai.


"Bagaimana jika kau pindah duduk di depan bersamaku?" tawarnya lagi.


"Tidak perlu." Tuan Scott menolak dan melambaikan tangannya.


"Tentu saja bersama dengana pasanganmu," desaknya lagi.


Tuan Scott menoleh pada Gaby. "Apa kau mau pindah duduk ke kursi paling depan?" tanyanya.


"Anda bisa memotret dengan puas," rayu pria paruh baya itu membujuk Gaby.


"Jika tak mengganggu yang lain, tentu aku bersedia," jawab Gaby.


"Biar kuatur." pria itu pergi ke depan dan berbicara dengan panitia perjalanan.


"Siapa dia?" tanya Gaby ingin tahu.


"Pemilik kafe itu," jawab Tuan Scott.


"Oh, pantas saja." Gaby mengangguk mengerti.


Tak lama pria itu kembali. "Beres. Anda bisa pindah ke depan, Nyonya," ujarnya sopan.


"Terima kasih, Tuan," angguk Gaby senang.


Mereka berdua akhirnya pindah ke bangku paling depan. Tuan Scott duduk di bangku bagian pinggir agar Gaby tidak terganggu orang-orang lewat nantinya.


"Sebentar lagi kita berangkat. Selamat menikmati liburan anda berdua, Tuan Scott," ujar Tuan Duncan dari tempat duduk lain di belakang sopir.


Tuan Scott mengangguk. "Terima kasih, Duncan."


"Kau mengenalnya?" tanya Gaby.


Tuan Scott mengangguk. Dia sering ikut acara bedah buku di toko," jawabnya.


"Oohh ... pantas saja." Hanya kalimat itu yang bisa dikatakannya.


"Mohon perhatian sebentar," ujar Tuan Duncan. Para penumpang bis memperhatikannya. Setelah tak terdengar lagi suara dengung, dia mulai bicara.


"Perjalanan ini kita mulai. Dengan harapan kafe kita akan terus berjalan dan bertahan hingga bertahun-tahun lagi," harap Tuan Duncan.


"Terus berjalan hingga bertahun-tahun lagi," timpal yang lainnya bersemangat disertai tepukan tangan.

__ADS_1


Bis pun mulai bergerak.


*********


__ADS_2