The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
31. Culloden Battle Field


__ADS_3

Sepanjang jalan itu tak ada guide yang menceritakan tentang sejarah Scotland karena itu adalah perjalanan liburan para staf kafe. Jadi, jika ada sesuatu yang menarik perhatan, Gaby langsung menanyakannya pada Tuan Scott. Dan pria itu menceritakannya dengan senang hati. Lancar dan detail.


Dan mengingat usia Tuan Scott, Gaby cuma bisa mempercayai kata-katanya. Dotambah lagi tak seorangpun yang membantah ucapannya. Mereka bahkan seperti ikut mendengarkan dengan seksama.


"Ternyata dia sangat dihormati di kota ini," batin Gaby.


Kafe membagikan brunch pada penumpang bis. Gaby merasa dia bodoh karena membeli persediaan makanan, padahal dia berangkat bersama rombongan kafe yang harusnya punya cukup makanan.


"Kau tidak memakannya?" tanya Tuan Scott yang melihat Gaby menyimpan makanan setelah melihat isinya.


"Aku tadi membeli persediaan makanan pada Emily. Itu adalah sandwich yang menggunakan saus, sementara ini makanan kering. Kurasa akan lebih baik menyimpan makanan ini dan menghabiskan yang disiapkan Emily lebih dulu," jelas Gaby.


"Berapa banyak yang kau bawa?" tanya Tuan Scott.


"Dua," jawab Gaby.


Kalau begitu, simpan ini juga dan kita makan yang dibuatkan Emily." Tuan Scott menyerahkan kotak makanannya pada Gaby untuk disimpan di tas wanita itu.


"Seberapa jauh lagi Kota Inverness? tanya Gaby sambil menikmati makanannya.


"Sekitar satu jam lagi. Jika kau lelah, lebih baik beristirahat sebentar," saran Tuan Scott.


'Dan melewatkan pemandangan indah di luar? Itu suatu kebodohan!" tolak Gaby.


Tuan Scott tidak membalas. Dia mulai mengerti temperamen wanita itu.


Setengah jam berikutnya, Tuan Duncan berdiri menghadap ke belakang bus.


"Setengah jam lagi, kita akan sampai di Culloden Moor. Ingat, waktu di sana hanya satu jam. Setelah itu kita lanjut ke kota Inverness. Makan siang, lalu cek in hotel. Setelah itu waktu bebas. Silakan menikmati wisata kota ataupun mengunjungi kastil Inverness. Beok pagi setelah sarapan kita langsung cek out dan melakukan perjalanan ke Loch Ness," jelasnya.


Para peserta bersorak gembira. Meski merasa sedikit kecewa karena ini bukan perjalanan wisata namun liburan bagi pekerja. Gaby bersyukur bisa pergi bersama dengan rombongan itu. Atau dia mungkin juga tidak akan sampai ke Inverness. Jadi dia hanya perlu ikut bersenang-senang dengan rombongan ini serta menikmati spot-spot cantik yang mereka kunjungi.


Bus memasuki area padang berumput liar yang tinggi dan sangat luas. Kemudian berhenti di tempat perhentian bus.

__ADS_1


Orang-orang berseru dengan semangat. "Akhirnya sampai juga ...."


"Di mana ini? tanya Gaby pada Tuan Scott.


"Culloden Battle Field," jawab pria itu tanpa menoleh. Matanya menatap nanar hamparan tanah terbuka di luar jendela mobil.


Gaby menyadari sesuatu. "Apa kau tak ingin ke sini?" tanyanya. "Kau tak perlu turun jika tak suka. Aku akan melihat-lihat sebentar dan kembali." Gaby memberi solusi.


"Tidak. Aku ingin menyapa kawan lama," ujar Tuan Scott. Dia kemudian berdiri dan menyusul para penumpang lain yang sudah turun lebih dulu.


Gaby meraih tasnya dan ikut turun. Dijajarinya langkah kaki pria itu yaang berjalan dengan tergesa-gesa. Dia berjalan seperti sudah tau mau ke mana.


"Oh Gaby, usianya ratusana tahun. Tentu saja dia tahu tentang tempat ini. Atau, bisa jadi dia adalah saksi sejarah brutalnya pertempuran di tanah itu." batinnya.


Gaby tak sempat memotret dan melihat rumah batu tua yang menurut informasi di internet yang dibacanya malam tadi adalah saksi bisu pertumpahan darah ribuan orang akibat perang saudara terhebat dalam sejarah Inggris.


Tuan Scott berhenti di sebuah monumen batu yang disusun silindris. Diletakkannya tangannya tanpa bicara di sana. Gaby bisa melihat pria itu memejamkan mata dengan kedua alis bertaut.



Tuan Scott sudah selesai dengan perenungannya di situ. Dia beranjak pergi. Gaby kembali mengikutinya. Mereka menyusuri jalan kecil yang dibangun. Kemudian melihat baru- batu monumen yang bertuliskan nama berbagai klan.


"Apakah mereka adalah orang-orang yang gugur di sini?" tanya Gaby.


"Ya." tuan scott kembali menerawang. tapi kemudia di satu tempat kosong dia terjatuh dan berlutut. Kepalanya menunduk dalam. Meski angin meniup kencang rambut dan mantelnya, tapi sekilas tadi Gaby dapat melihat tubuh pria itu berguncang. Tanpa sadar, Gaby ikut berjongkok dan memeluk punggungnya.


"Apa kau terluka di sini?" tanyanya lirih.


"Aku harap aku tewas di sini, hari itu bersama yang lainnya. Tapi aku bangun lagi," ujarnya datar.


Gaby melihat pria itu menegakkan tubuh dan menoleh pada Gaby yang masih memeluk pungungnya.


"Kau tak mengenal bagaimana aku yang dulu. Kasar, pemarah dan berdarah panas. Bagiku, perang adalah waktunya menunjukkan kebesaran para highlander pada orang-orang Inggris itu." matanya yang kelabu sebentar memandang Gaby sendu. Tapi tak lama kembali berubah datar.

__ADS_1


"Tetapi, setelah melihat hamparan mayat di tempat ini, hatiku tiba-tiba menangis. Saat itu, kupikir aku bersedih karena aku ditinggalkan oleh seluruh anggota klan. Tapi makin lama aku mengerti, tangisku saat itu adalah tangis yang menyesali kebodohan. Karena di manapun juga, perang pasti akan memakan korban. Kebetulan kamilah yang menderita kekalahan saat itu."


Suaranya terdengar getir saat Tuan Scott membuang pandang ke seluruh tempat itu. Gaby tak bisa memberi komentar apapun mendengar kisah ungkapan hati pria itu. Dia hanya menyadari bahwa pria ini pastilah pria lembut pada awalnya, sebelum dia terpilih menjadi guardian bagi klannya.


"Jika seluruh anggota klanmu tewas di sini, berarti hanya kau yang tersisa?"


Gaby menambahkan dalam hatinya. "Dan kau tidak bisa punya keturunan. Makan klanmu habis sampai dirimu saja."


"Masih ada para wanita dan bayi-bayi lelaki yang ditinggal di kediaman." Tuan Scott berdiri dan membantu Gaby untuk bangun dari jongkoknya.


"Kau kembali ke klanmu?" tanya Gaby.


"Tidak! Jika aku kembali, itu akan membahayakan mereka. Karena pemerintah Inggris melakukan pembersihan atas orang-orang yang mereka curigai sebagai bagian dari para pasukan. Aku bersembunyi dan hidup di alam liar selama beberapa waktu."


"Mari kutemani kau melihat-lihat tempat ini," ujar Tuan Scott mengalihkan pembicaraan.


"Kalian di sini rupanya," sapa seseorang. Tuan Scott dan Gaby menoleh ke arah samping, di mana jalan kecil berada.


"Kami melihat-lihat," jawab Tuan Scott. Keduanya menuju jalanan di mana Tuan Duncan berdiri di sana bersama beberapa orang lainnya.


"Waktu kita di sini tinggal dua puluh lima menit lagi." Tuan Duncan mengingatkan sebelum melanjutkan perjalanannya.


"Ayo kubawa kau melihat rumah di sana tadi," tawar Tuan Scott. Gaby mengangguk. Dia mengikuti saja pria itu membimbing tangannya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa tidak punya keinginan untuk melepaskan genggaman tangan pria itu.


Gaby melihat rumah batu satu-satunya yang berada di tanah kosong dan luas itu. Tapi dia tak ingin berjalan lebih dekat lagi. Aku tak mau terlalu dekat ke sana," ujarnya.


Tuan Scott hanya mengamati wanita itu sebentar, sebelum dia mengangguk mengerti. Jadi mereka hanya melihat dari kejauhan.


"Jika sudah selesai memotret, baiknya kita kembali ke bus," ajak Tuan Scott.


"Kau benar. Sebaiknya kita kembali ke bis," angguk Gaby setuju. Masih dengan bergandengan tangan. dua anak manusia itu kembali ke tempat bus di parkir.


**********

__ADS_1


__ADS_2