
Di sebelah kotak surat, ada jalan setapak yang bisa dilalui mobil. mobil itu berbelok ke sana dan menyusuri jalan yang masih diteduhi pepohonan rimbun di kiri dan kanannya.
Sekira seratus meter dari kotak surat tadi, pria itu bisa melihat rumah kayu setengah batu yang sederhana. Dan mobil yang membawa Gaby tadi, terparkir di depannya.
Tanpa ragu lagi, dia melajukan mobil dan berhenti tepat di sebelah mobil antik yang masih sangat bagus itu.
Dengan hati mantap, pria itu turun dan menjejakkan kakinya di tanah basah yang sebagiannya masih ditutupi sisa salju. Beranda kayu di depan rumah itu sunyi.
Kakinya diayunkan menapaki stepping stone ke arah tangga. Tiba-tiba tubuhnya ditarik ke belakang dan berputar, Gerakan itu sangat cepat, hingga dia tak sempat menghindar.
"Mau apa kau ke sini!"
"Tenang, Tuan Mac Kay. Aku hanya ingin bertemu dengan istriku. Sudah beberapa bulan dia tak memberi kabar. Bukankah wajar jika aku khawatir."
"Jangan berdebat denganku. Jika Nyonya tidak memberi kabar padamu, bukankah itu tanda yang sudah sangat jelas?" bantah Jamie.
"Selama dia masih istriku, aku punya hak untuk menemuinya!" ujar Martin.
"Kau menjadikan itu alasan untuk bisa datang ke sini!" bentak Jamie berani.
"Ya! Dan aku tak akan pernah menceraikannya!" Martin ikut menaikkan nada suaranya.
"Biarkan dia masuk, Tuan Mac Kay."
Suara Gaby terdengar dari depan pintu. Jamie segera melepaskan cekalan tangannya pada jaket Martin. Dia membiarkan pria itu berjalan ke beranda. Tapi matanya menatap tajam pria itu, kemudian mengikutinya masuk ke rumah.
"Kau pasti lelah, karena berkendara begitu jauh. Gaby bisa melihat hal itu, karena Martin mengendarai mobil mereka melintasi tiga kota, hingga ke tempatnya.
"Apa kau akan menawarkanku untuk menginap di sini?" Martin melihat berkeliling ruang tamu yang sekaligus juga sebagai ruang tivi. Api di perapian kayu masih terus menyala.
"Rumah yang nyaman," pujinya jujur.
" Hari ini kau bisa beristirahat di sini. Besok tolong tanda tangani berkas perceraian yang ada pada pengacaraku. Lalu pergilah. Itu lebih baik untukmu!" Gaby berkata dengan nada dingin.
"Sayang, kita bisa tetap bersama. Mari besarkan anak ini bersama dalam keluarga yang utuh. Seorang anak akan lebih stabil emosinya jika mendapat cinta dari ayah dan ibunya," bujuk Martin.
Gaby bergeming. Dia tak bereaksi sama sekali dengan tawaran Martin.
"Ijinkan aku menjadi ayah pengganti untuknya." Mata Martin menatap penuh harap.
__ADS_1
"Aku membuat keputusan bukan tanpa pertimbangan, Martin. Aku juga memikirkan keselamatanmu! Ini yang terbaik untuk kita."
Gaby berdiri dari duduknya dan menoleh pada Jamie. "Tuan Mac Kay, kurasa aku ingin beristirahat sekarang. Dapatkah anda yang menyiapkan makan malam untuk kita, nanti?" tanya Gaby.
"Yes, Maam." Jamie Mac Kay menyahut dengan cepat. Gaby langsung melangkah ke kamarnya dan menutup pintu.
Martin terpaku. Harapannya untuk bisa bicara Dan membujuk Gaby, pupus sudah. Dia duduk terhenyak di sofa besar.
"Anda bisa tidur di situ malam ini. Tapi besok, anda sudah harus pergi." Jamie pergi ke dapur.
Martin mengikuti Jamie ke dapur.
"Bagaimana kabar pria itu sekarang? Apakah dia masih akan menemui Gaby?" tanya Martin penasaran.
"Tuan Scott Sutherland sudah tewas dengan terhormat!" jawab Jamie.
"Kalau begitu, kenapa Gaby tak mau kembali padaku? Aku juga mencintainya dan sudah memafkan apa yang terjadi." Martin berkata dengan bingung.
"Seperti yang tadi Nyonya katakan. Itu semua demi keselamatan anda, Tuan Martin. Nyonya telah membuat keputusan yang paling tepat."
"Tidak! Soal keselamatanku, biar kuurus sendiri!" sergah Martin keras kepala.
"Bahkan Tuan Scott saja tewas dan tak mampu mempertahankan diri! Bagaimana Anda bisa melindungi Gaby, kalau melindungi diri sendiri saja, tidak mampu!"
Kata-kata Jamie bukanlah ejekan. Tapi menjelaskan sebuah kebenaran pahit yang harus diterima Martin.
"Apa ... apakah pria itu tewas untuk melindungi Gaby?"
"Tuan Scott menunaikan janjinya. Seorang Highlander tak akan lari dari sebuah tantangan. Terutama tantangan antar sesama pelindung. Dan pria yang dihadapinya, adalah pria yang sebelumnya menculik Nyonya---"
"Apa? Kapan Gaby diculik? Kenapa aku tidak tahu?!" Martin terkejut mendengar berita itu.
"Saya tidak tahu alasan Nyonya tak memberi tahu anda tentang hal itu. Tapi, demi menyelamatkan Nyonya lah, makanya Tuan Scott menyetujui perjanjian pertarungan hidup dan mati itu." Jamie mengedikkan bahunya. Kemudian melanjutkan aktifitasnya menyiapkan sajian makan malam mereka.
Martin terpaku. "Demi menyelamatkan Gaby, dia bersedia bertarung hidup dan mati ...."
"Kami juga menduga pria itu juga lah yang telah menyebarkan berita tentang keberadaan Nyonya. Beberapa pelindung lain akhirnya menguntit Nyonya ke mana pun dia pergi. Tanpa pengawalan Tuan Scott, belum tentu Nyonya bisa kembali ke sini!" Jamie menjelaskan panjang lebar, apa-apa yang tidak diceritakan Gaby pada Martin.
Pria itu tercenung diam. Dikiranya semua baik-baik saja. ak disangka, liburan yang dilalui istrinya ternyata bukanlah liburan yang manis dan menyenangkan.
__ADS_1
"Dan sekarang, kau bilang, demi keselamatanku, dia pergi menjauh ...."
Martin tak dapat meneruskan kalimatnya. tapi hatinya terasa hangat. Itu artinya Gaby memang mencintainya. Itu cukup baginya. Meski sikap yang ditunjukkan Gaby dingin, tapi itu hanya kamuflase.
"Aku akan memperjuangkan cintaku, Tuan Mac Kay!" Martin membulatkan tekadnya.
Jamie menoleh heran pada pria yang sedang tersenyum itu. "Apa yang ingin anda lakukan?"
"Seperti kataku tadi. Aku akan memperjuangkan cintaku, cintanya. Cinta kami!" ujar Martin tegas.
"ang saya maksud, caranya, Tuan Martin," sela Jamie.
"Aku akan mencari pekerjaan lain di kota ini. Pekerjaanku yang lalu, terlalu menyita waktu dan menuntut. Kami jadi kekurangan waktu untuk menikmati kebersamaan." Mata Martin menerawang. Sepertinya dia sudah punya beberapa rencana di otaknya yang pintar itu.
"Itu langkah besar, Tuan Martin." Jamie menimpali. "Bagaimana kalau Nyonya tetap menolak anda?" tanyanya menguji. "Tidakkah anda akan sangat menyesali keputusan ini?"
"Tidak! Aku memang harus memperjuangkannya lagi. Aku ingin keluargaku utuh lagi. Jika itu membutuhkan pengorbanan, maka aku akan berkorban!" tekad Martin.
Jamie tersenyum tipis sambil mengiris daging domba untuk dipanggang. "Jika datang seorang pelindung mengejar Nyonya, apa yang akan anda lakukan untuk melindunginya?" tanya Jamie ingin tahu.
"Aku akan memanggil polisi!" jawab Martin cepat.
Seketika dapur itu dipenuhi suara ledakan tawa Jamie Mac Kay.
"Hahahahaa .... Anda sangat lucu, Tuan Martin." Jamie masih terkekeh geli.
"Apanya yang lucu dari memanggil polisi?" tanya Martin heran.
Jamie meninggalkan Martin sendirian di dapur. Dia pergi menuju kamarnya yang ada di seberang kamar Gaby. Martin tak tahu harus apa, jadi dia menunggu.
Tak lama, Jamie keluar. Dia membawa sebilah pedang panjang yang ditutupi dengan sarungnya.
"Seorang pelindung hanya bisa tewas dengan pedang sesama pelindung. Tak ada gunanya polisi. Itu justru bisa membahayakan nyawa mereka!" ujar Jamie tegas.
Mata Martin membulat melihat pedang yang dipegang Jamie. "Apakah itu sungguhan?" Tunjuknya ke arah pedang itu.
"Apa kau ingin mencobanya? JIka kulepaskan sarungnya, dia akan meminta darah, Tuan Martin!" Satu tangan Jamie memegang gagang pedang, sementara yang satu lagi memegang sarung penutup pedang itu. Dia bersikap seakan ingin mengeluarkan pedang dan siap untuk bertarung.
Martin mundur menjauh sambil menggeleng.
__ADS_1
********