
Hari sudah benar-benar gelap. Kotak makanannya sudah kosong. Dia bahkan sudah membersihkan kotak plastik itu dan menjadikannya tempat untuk menyimpan ponsel.
Dalam keremangan, dipandangnya ponsel itu sedih. Sekarang dia tau fungsi utama ponsel itu, untuk menghubungi orang lain. Tapi sekarang itu sudah tak berguna. Alat itu sama sekali sudah mati. bahkan tablet yang ada di dalam tas juga mati total. Bahkan kameranya juga jadi tak berguna sekarang. Dia menyayangkan foto-foto dan rekaman bagus yang tersimpan di sana. Semua lenyap karena terendam air.
Makin malam. cuaca makin dingin. Tubuhnya menggigil. Kemeja yang dipakainya mencetak dan melekat di tubuhnya. Kainnya yang basah, menambah dingin hembusan angin malam dari permukaan danau. Kabut yang magis mulai turun merayapi seluruh tempat itu.
Sambil menahan gemeretuk gigi karena gigil yang teramat sangat. Dia mendekati tubuh Tuan Scott. "Maafkan aku, Tuan Scott." lirihnya dalam gigil.
Dipeluknya tubuh pria yang tak bergerak itu. Tubuh itu juga terasa dingin. tapi Gaby tak ingin melepaskannya. Apapun yang terjadi pada Tuan Scott, itu adalah karena dirinya. Dan di tempat asing dan liar seperti ini, dia tak ingin kehilangan satu-satunya teman yang ada.
Entah berapa jam Gaby harus bergulat melawan hawa dingin tak tertahankan. Dia merasa yakin, jika tak segera mendapatkan pemanas udara, maka tubuhnya akan membeku kedinginan.
Antara sadar dan tidak, dalam gigil hebat, dilihatnya ceruk tempatnya berlindung dipenuhi kabut. Matanya terasa berat dan tubuhnya sudah tak kuasa lagi menahan siksaan dingin. Dia ingin menyerah.
Seperti dalam mimpi, Gaby melihat Martin mengulurkan tangan. Dengan segera dia menyambutnya. "Sayang, aku kedinginan," lirihnya nyaris tak terdengar.
"Aku akan membuatmu hangat," jawab Martin.
Gaby memejamkan matanya dengan sayu. Martin memeluknya memberi kehangatan. Dia merindukannya dan membiarkan pria itu memeluknya lebih lama serta menaburkan bunga cinta. Perlahan tubuhnya serasa terbang ke awan. Kemudian rasa dingin itu sirna. Tubuhnya menghangat. Bibirnya serta merta mengeluarkan kata tak jelas.
Setelah sekian lama didera rasa yang telah lama dirindukannya, Gaby merasa seperti ingin meledak.
"Aku tak tahan lagi," desisnya lirih. Dia menerima lebih banyak keindahan sebelum merasakan sebuah gunung meledakkan lahar di dalam dirinya.
Tubuhnya terkulai tak berdaya. Dan kehangatan itu mengalir hingga ke sendi-sendi seluruh tubuhnya, melegakan pikirannya yang semula kalut.
"Beristirahatlah, semua akan baik-baik saja."
Dalam mimpi samarnya, masih terdengar suara Martin berusaha menenangkannya. "Aku mempercayaimu," katanya sebelum kehilangan kesadaran. Matanya terpejam dalam kedamaian.
*
__ADS_1
*
Udara dingin yang membeku, menyapu seluruh danau yang berkabut. Hujan deras sejak sore hingga dini hari, meningkatkan volume danau. Ditambah kabut dan hembusan angin pegunungan. Dua manusia yang masih kedinginan dan tidak menyadari keadaan, masih berpelukan dan saling membagi kehangatan lagi dini hari itu.
Ketika hari benar-benar terang dan kabut mulai terangkat ke atas, suasana magis di danau itu perlahan menghilang. Gaby lebih dulu tersadar. Namun matanya terasa sangat berat dan enggan untuk dibuka. Tubuhnya terasa remuk redam. Tapi dia tak kedinginan lagi.
Seiring kesadaran yang muncul, barulah disadarinya bahwa ada beban berat yang menindihnya, melindunginya dari sergapan udara dingin. Dia berada dalam pelukan seseorang.
Perlahan matanya membuka dan melihat kebenaran yang terpampang di depan matanya. Tuan Scott memeluknya dan membagi kehangatan tubuh dengannya.
Di menit berikutnya, dia menyadari lagi hal mustahil yang akan dilakukannya saat sadar. Dia terkejut dan seketika mendorong tubuh itu menjauh.
Tuan Scott memandangnya bingung. "Kau sudah baik-baik saja?" tanya Tuan Scott lembut. Mata itu terlihat sayu dan penuh kasih.
Gaby terkejut melihatnya. dengan cepat diambilnya semua pakaian yang berserakan dan menutupnya ke dada. "Berbalik!" perintahnya tegas.
Tuan Scott berbalik dengan patuh, membiarkan dirinya mengenakan pakaian lagi. Dia tak mengomentari apapun.
"Yang kutahu, saat aku terbangun, kau terus merintih kedinginan dan memelukku. Maka aku membagi kehangatan denganmu. Tapi tidak menyadari bagaimana bisa sampai sejauh itu. Maafkan aku," ujar Tuan Scott. Sekarang pria itu sudah berbalik dan melihat Gaby sedang memeriksa keadaan luar danau.
"Jangan sebutkan lagi hal itu!" sergah Gaby dengan wajah memerah. Entah apapun yang terjadi tadi malam, dia ingin menghapusnya dan menganggap itu tak pernah ada.
"Rapikan pakaianmu. Kita harus mencari jalan keluar dari sini!" ujar wanita itu tegas.
"Baik!" Tuan Scott berdiri dengan polosnya di depan Gaby. Wanita itu membuang muka dan wajahnya kembali memerah. Diberinya pria itu kesempatan untuk merapikan diri setelah perang entah apa yang mereka mainkan tadi malam.
Gaby menggelengkan kepalanya berulang kali. "Keteledoranku yang menyebabkan ini terjadi. Dia tak sadar, akupun tak menyadarinya. "Itu bukanlah salah kami," batinnya menenangkan diri.
"Apakah punggungmu tidak sakit lagi, Tuan Scott?' tanya Gaby, masih sambil memunggunginya.
"Mungkin akan menimbulkan bekas. Tapi tak apa-apa," jawabnya.
__ADS_1
"Aku sudah selesai. Bagaimana dengan semua peralatanmu ini?" tunjuknya ke ujung ceruk di mana tas, ponsel dan kamera tergeletak.
Gaby berbalik dan merapikan tasnya. Meskipun benda-benda itu tak bisa lagi digunakan, tapi ada baiknya untuk membawanya pulang.
"Kemarin sore aku sudah mencoba naik, tapi tak melihat satu rumah pun di sekitar sini," lapor Gaby.
Perut Tuan Scott berbunyi keras. Gaby terdiam dia kembali duduk di permukaan batu. "Duduklah," panggilnya pada pria itu.
Tuan Scott duduk dengan patuh. Matanya tak bisa lepas dari melihat wanita itu. Itu mata penuh cinta. Gaby menghela napas panjang sebelum membuka kembali tas dan mengeluarkan kotak makan terakhir milik Tuan Scott.
"Kau ingat ini? Kotak makanan yang diberikan Tuan Duncan di bus. Tadi malam ini belum basi. Mari kita lihat, apakah itu masih bisa dimakan pagi ini." Gaby membuka kotak dan menyobek kertas alu foil untuk melihat isinya.
"Menurutku ini masih bagus!" Disodorkannya kepingan roti dan daging panggang ke depan Tuan Scott. Pria itu mengendus sebentar, kemudian mengangguk setuju.
"Kau makanlah," ujarnya. "Aku tak apa-apa," tambahnya lagi.
"ini jatah makanmu," tolak Gaby.
"Sekarang aku memberikannya padamu. Makanlah. Kau lebih membutuhkannya dari pada aku," ujarnya datar. Kemudian pria itu berbalik dan keluar.
"Jangan meninggalkan aku di sini!" teriak Gaby panik.
Kepala Tuan Scott menunduk untuk melihat ke dalam ceruk. "Aku hanya ingin pipis. Apa kau mau ikut?" tanyanya sambil tersenyum.
"Tidak perlu. Lanjutkanlah urusanmu!" ujar Gaby cemberut.
Gaby membagi dua makanan yang dipegangnya. Dia memakan setengah untuk sekedar mengisi perut. Setengah bagian lagi untuk pria itu.
Sementara menunggu Tuan Scott kembali, Gaby kembali merapikan tasnya. Mantel yang menjadi alas tidur mereka berdua masih sangat basah. Dan menyadari bahwa mantel itu adalah saksi atas apa yang terjadi, membuatnya tak ingin membawanya kembali.
"Lupakan dan biarkan itu semua tertinggal di sini," gumamnya.
__ADS_1
********