
Dengan menaiki tangga demi tangga yang tinggi, akhirnya mereka sampai di kompleks kastil Urquhart. Meskipun di sana sini tinggal puing, tapi kastil itu tampak terawat rapi. Mereka berkeliling dan mengunjungi satu demi satu site yang ada di situ.
"Danaunya terlihat indah dari sini," ujar Gaby dari salah satu site yang berada di ketinggian bukit.
"Kau bisa melihat dengan lebih baik dari sana."tunjuk Tuan Scott ke arah satu site lain yang bangunannya lebih tinggi.
Gaby mengikuti langkah Tuan Scot menapaki jalan yang sudah dibuat dengan jelas oleh badan konservasi. Ternyata, meskipun tempat itu sudah tak memungkinkan untuk ditempati, pemerintah setempat membuatkan tangga dan fasilitas yang aman untuk bisa mencapai atap bangunan.
"Luar biasa!" puji Gaby. Sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah hamparan danau yang luas dan membiru.
"Kau tak ingin mengambil foto atau video?" tanya Tuan Scott.
"Ah, tentu saja." Gaby sampai lupa dengan kamera yang menggantung di lehernya. Kemudian dia sibuk memotret dan membuat beberapa rekaman.
"Tempat ini memasng tempat terbaik untuk mendapatkan foto danau yang bagus!" ujar Gaby lagi. Tuan Scott tersenyum dari tempatnya. Dia memandang jauh ke tengah danau.
"Kalian juga di sini, ternyata," sapa seseorang.
Gaby menoleh, kemudian tersenyum dan mengangguk pada Tuan Duncan dan seorang wanita yang bersamanya.
"Yah, tempat yang sangat bagus. Terima kasih sudah membawaku ke sini, Tuan Duncan," kata Gaby.
"Oh, ini pilihan tempat yang dipilih oleh sebagian besar staf. Aku hanya mengikuti masukan mereka. Pada dasarnya mereka ingin bermain di air dingin, sebelum suhu membeku." Tuan Duncan terkekeh.
"Kesempatan terakhir berenang di danau, sebelum musim dingin tiba." timpal Tuan Scott.
Ponsel Gaby berbunyi. itu panggilan masuk dari Martin. Gaby segera mengangkatnya. "empat ini luar biasa, Martin," ujar Gaby cepat. Diperlihatkannya melalui video call latar belakang danau yang indah itu.
"Aku senang kau menikmati perjalananmu. Memang sebaiknya kau mengambil perjalanan wisata dengan rombongan, agar lebih aman.
"Kurasa kau benar." Angguk Gaby menyetujui.
"Baiklah. Jangan lupakan baju hangatmu. Dan selamat menikmati. Aku punya banyak pekerjaan sekarang!" pamit Martin.
"Oke," sahut Gaby. Sambungan telepon itu kembali terputus.
Gaby melihat Tuan Scott sedang berbincang dengan Tuan Duncan di ujung lain menara. Dia kemudian kembali menikmati semilir angin sejuk yang berhembus dari utara.
__ADS_1
"Hai, Gaby. Kami sudah merasa dingin di sini. Kami turun lebih dulu!" Tuan Duncan pamit untuk turun. Gaby mengangguk.
Tuan Scott menghampiri Gaby. "Apa kau belum puas melihat tempat ini?" tanyanya.
"Danau ini tak kan pernah bosan untuk dikagumi," jawab Gaby tulus.
"Kalau begitu, mari kita lihat dari sisi lain. Kurasa masih sekitar dua jam lagi waktu diberikan Tuan Duncan." Tuan Scott melirik jam tangannya.
"Kau mengetahui tempat menarik lainnya?" tanya Gaby tertarik.
"Hanya tempat yang diketahui oleh para petualang dan penjelajah alam liar," jawab Tuan Scott.
"Oke. Itu pasti menyenangkan. Ayo kalau begitu!" ajak Gaby.
Tuan Scott membawa jalan keluar dari kompleks kastil. Berjalan menjauh. Lumayan jauh hingga akhirnya melintasi tempat yang tidak memiliki tanda jalan yang bisa dilalui. Tuan Scott melintasi rumput liar yang tinggi. Menaiki sebuah bukit kecil. kemudian menuruninya lagi.
"Mari kubantu."
Gaby menerima uluran tangan pria itu. Jalanan itu memang menurun dan curam. Mereka masih terus menuruni bukit dan menjadi lebih dekat ke permukaan danau.
"Coba kau lihat di sana!" pria itu menunjuk ke satu tempat. Gaby mengikuti arah jari pria itu dan mulutnya terbuka. Hanya decakan kagum yang terdengar dari mulutnya.
"Bagaimana kau bisa mengetahui tempat ini?" tanya Gaby asal. Dia masih Asik merekam tempat itu hingga ke tengah danau yang penuh misteri.
"Jika kau sudah selesai, sebaiknya kita segera kembali. Langit tampaknya tak bersahabat," ujar Tuan Scott.
"Sayang sekali. Aku masih ingin menikmati tempat ini. Tempat yang masih asli dan bebas dari campur tangan manusia untuk merubah keindahannya menjadi keindahan dengan standar mereka," gerutu Gaby.
Tuan Scott tertawa mendengar gerutuan wanita itu. "Kau menyukai Scotland?" tanyanya.
"Ya!" jawab Gaby serius.
"Sejak kapan kau menyukai tanah ini?" tanya pria itu.
"Entahlah. Rasanya sudah sejak aku sekolah dan memperlajari negara-negara. Tempat ini seperti memukauku. Meski sudah sangat lama ingin ke sini, tapi baru kali ini aku bisa sampai di tanah impianku!" Gaby mengatakan semua itu dengan lancarnya. Dan senyuman tak lekang dari bibirnya.
"Tak pernahkah kau bertanya-tanya dalam hatimu. Dari semua negara di dunia, kenapa tanah ini yang memanggilmu?" tanya Tuan Scott lagi. Gaby menggeleng.
__ADS_1
"Menurutku, para dewa memanggilmu pulang!" Tuan Scott mengulurkan tangannya untuk menjangkau Gaby agar dapat naik lebih mudah.
Gaby terdiam mendengarnya. "Apakah seperti itu?" pikirnya dalam hati.
Diulurkannya tangan untuk meraih tangan pria itu. Mereka harus kembali mendaki bukir terjal agar bisa kembali ke jalan utama.
Namun sebuah batu yang menjadi pijakannya terlepas dari tempatnya. Tangannya meraih kehampaan dan tubuhnya melayang ke belakang.
"Gaby!" seru Tuan Scott. Pria itu mencondogkan tubuhnya ke depan agar bisa meraih tubuh Gaby yang menjauh dari jangkauannya.
Tapi dia tak berhasil. Tubuh wanita itu sudah sepenuh tak bisa dikendalikannya. Dan siap untuk jatuh ke tebing danau yang penuh batuan kasar.
"Aaaaahhhh ...."
Suara teriakan Gaby menyadarkan Tuan Scott, bahwa wanita itu tak mungkin lagi dijangkau oleh tangannya. Jika dibiarkan, gadis itu akan terhempas ke tebing berbatu dan jatuh ke danau yang dalam dan dingin. Bayangan itu berkelebat di matanya. Dengan cepat dia melompat ke bawah, mengejar tubuh melayang Gaby.
"Aku mendapatkanmu, Jangan khawatir," ujar Tuan Scott saat berhasil memeluk Gaby dan melindungi kepala wanita itu dalam rengkuhan tangannya.
Tapi kemudian punggungTuan Scott membentur batu dengan kerasnya. Kepalanya langsung terkulai menunduk ke arah Gaby. Akibat benturan itu, mereka langsung melayang ke tepian danau tanpa harus bergulingan di tebing yang curam.
"Aaahhhh ...."
Jeritan Gaby membahana sebelum tubuh keduanya jatuh tercebur ke air danau yang dalam dan dingin.
Hanya Gaby yang menyadari bahwa mereka sudah jauh ke danau. Sementara Tuan Scott yang pingsan, tak mengetahui apapun. Tubuhnya meluncur tenggelam dengan tetap merengkuh Gaby. itu membuat keduanya jatuh makin dalam.
Gaby berusaha keras lepas dari pelukan pria itu agar bisa naik ke permukaan. Bukan hal mudah melepaskan pelukan yang seperti terkunci itu. Tapi dengan usaha keras, dia akhirnya berhasil melepaskan diri.
Dengan usaha keras. dia berenang naik ke permukaan agar mendapatkan udara segar.
"Hah ... hah ...." Gaby terengah-engah di permukaan danau. Dia berusaha keras menenangkan diri. Dan segera teringat pada Tuan Scott yang masih berada di bawah sana.
Wanita itu kembali menyelam untuk mencari. Dia menemukan bayangan pria itu nun jauh di bawah dan akan terus meluncur turun.
Tak ada waktu untuk mencari pertolongan, karena mereka berada jauh dari manapun. Gaby akhirnya mengambil napas panjang di permukaan dan turun menyelam ke air danau yang mulai keruh.
Pria itu terlalu jauh, dan Gaby merasa hampir kehabisan napas. Tapi pria itu yang tadi menyelamatkannya. Dia yang menggantikan Gaby dari membentur batu besar di tebing.
__ADS_1
"Aku harus mendapatkannya lagi!" tekad Gaby.
******