The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
57. Keluar dari Rumah


__ADS_3

Martin menunggu Gaby merasa lebih baik, setelah mendapatkan sedikit tidur yang nyenyak dan nyaman.


Setelah bangun, yang dirasakan wanita itu adalah lapar. Maka dia langsung menuju dapur untuk melihat apa yang bisa dimakan.


"Anda ingin dibuatkan apa, Maam," tanya Jamie.


"Apa saja, Tuan Mac Kay. Sepertinya aku sudah kelaparan selama seminggu. Rasanya lemas sekali," keluh Gaby.


"Sebaiknya anda memeriksakan diri ke dokter, Maam," saran Jamie sambil membuatkan roti lapis untuk Gaby.


"Aku harus bereskan urusanku dengan Martin lebih dulu, baru memikirkan dokter."


"Di mana dia?" tanya GAby yang tak melihat suaminya di rumah.


"Barusan keluar. Saya tidak tahu dia pergi ke mana," jawab Jamie.


Gaby mengangguk untuk jawaban Jamie dan juga untuk roti lapis yang disodorkan ke hadapannya. "Terima kasih, Tuan Mac Kay," ujar Gaby.


"Jangan berterima kasih, Maam. Saya sudah dibayar oleh Scott." Jamie menegaskan bahwa apa yang dilakukannya hanya sekedar tugas yang diemban.


"Kenapa kau mau menerima tugas yang diberikannya, Tuan Mac Kay? Bukankah ini berarti jadi tugas seumur hidup?" tanya Gaby ingin tahu.


"Aku pernah berhutang nyawa padanya, Maam. Dalam pertarungan hidup dan mati dengan sesama guardian, aku nyaris mati. Tapi Scott menolongku dan membunuh orang itu. Jadi, sekarang nyawaku adalah miliknya. Dia sangat bisa membunuhku juga saat itu. Tapi dia justru membantuku." Tuan Mac Kay menjelaskan hubungan antar dirinya dan Tuan Scott.


"Siapa Tuan Scott" Suara Martin mengejutkan kedua orang yang sedang berbincang di dapur. Hingga Gaby tersedak roti. Jamie dengan cepat membuka kulkas dan menuangkan segelas susu untuk wanita itu.


"Pelan-pelan, Maam. Jika masih inngin, akan saya buatkan lagi," tawar Jamie.


Gaby menggeleng dan meminum susunya dengan cepat. Martin yang pertanyaannya seperti mengambang di udara, menoleh pada Gaby. Wajahnya jelas minta penjelasan yang dapat memuaskannya.


"Tuan Scott orang yang menjagaku di sana. Dia tak dapat ikut ke sini, jadi meminta Tuan Mac Kay untuk menggantikannya," jawab Gaby.

__ADS_1


Dan Martin tidaklah bodoh, untuk merasakan bahwa ada yang tersembunyi dari penjelasan Gaby tadi. Terutama karena melihat Jamie tak berekspresi apa-apa, seakan pura-pura tak mendengar apapun yang dikatakan oleh istrinya.


"Tolonglah, kau jelaskan dengan benar. Aku merasa ada hal lain selain itu. Dan kenapa kau sakit? Apa penyakitmu? Apa Tuan Scott itu doktermu? Kenapa kau tak mengatakan apapun selama beberapa waktu ini, bahwa kau sedang sakit? Kenapa tidak segera pulang saja? Kita bisa memeriksakan dirimu di dokter sini. Atau jika kau butuh spesialis, aku akan tanyakan pada atasanku!"


Martin meluahkan segala rasa penasaran yang dipendamnya sejak Gaby tiba dan bertingkah aneh.


"Aku sudah mengetahui kondisiku. Tak perlu ke dokter sebelum jadwal periksa kembal," kata Gaby.


"Kau sakit apa? Katakanlah. Jangan membuatku penasaran dan takut," kata Martin dengan suara memelas. Rasa penasaran membuat dia merasa lelah secara emosional.


Gaby menghela napas. Tak tega juga jika terus berahasia pada pria itu. "Kau yakin kau siap mendengarnya?" tanya Gaby. Matanya menatap tepat ke mata Martin, untuk melihat kesungguhan pria itu. Pria sederhana yang tak bisa menutupi emosinya.


"Kau sangat mengenalku, bukan? Apa yang berubah, Sayang? Kau membuatku takut."


Martin memeluk punggung Gaby dari belakang, sementara istrinya masih duduk di kursi depan pantri. Jamie jadi merasa kikuk melihat sikap mesra yang ditunjukkan Martin pada Gaby.


"Saya akan tunggu di luar, Maam," pamit Jamie. Gaby mengangguk. Ditunggunya hingga pria itu hilang ke ruang tengah.


"Apa?" Matanya menyiratkan ketidak mengertian. "Kau apa?" tanyanya memastikan.


"Aku hamil!" Gaby menjawab dengan suara jelas. Martin tak mungkin salah dengar.


"Apa? Eh, maksudku, benarkah?" wajahnya berubah senang. Dipeluknya lagi istrinya dengan perasaan gembira


"Kenapa tak kau katakan sejak awal? Sejak kapan kau tahu sedang hamil? Apa bayi kita itu mengganggu liburanmu di sana?" Martin tidak menyembunyikan kegembiraannya.


"Ini bukan bayimu!" kata Gaby terus terang. Keterus terangan yang terasa sangat kejam bagi Martin yang sedang bahagia.


"Apa maksudmu bukan bayi kita?" Tangan Martin yang sedang diulurkan untuk kembali memeluk Gaby, terhenti dan melayang di udara.


"Kurasa kau harus memeriksakan telingamu ke dokter THT. Kau terus saja memintaku mengulang-ulang perkataanku." Gaby mendengus.

__ADS_1


"Apamaksud perkataanmu tadi?" Martin mengguncang kedua pundak Gaby. Ekspresinya marah dan dipenuhi emosi. Jamie segera masuk dan mencekal pergelangan tangan pria itu. Matanya menatap tajam ke arah Martin.


"Jangan melakukan hal bodoh. Saya bisa mematahkan tanganmu kalau berani menyakitinya! Terutama kalau kau sampai menyakiti calon bayinya!" ancamnya.


"Ini urusan keluarga! Pergi Kau!" usir Martin emosi.


"Jika saya pergi, maka Nyonya Gaby juga akan ikut pergi!" tegas Jamie.


"Mari kita pergi saja," Gaby berlalu dari dapur.


Jamie mengangguk. Dilepaskannya tangan Martin dan menyusul Gaby ke kamar.


"Apa maksudmu pergi? Kau bahkan belum menjelaskan siapa ayah anak itu. BUkankah aku punya hak untuk mengetahui siapa yang menghamili istriku?" teriak Martin dengan suara parau. Mulutnya terasa pahit saat mengucapkan kata-kata itu. Hatinya getir. Sungguh tak bisa dipercaya oleh nalarnya.


Gaby kembali keluar dengan koper yang mereka bawa dari Scotland dan belum sempat dibongkar. Jamie membantu membawa yang lainnya


"Biar kulihat taksi di luar," tawar Jamie. Gaby menggeleng. Sesampai di pintu, Gaby berbalik dan menoleh pada Martin. "Ayah bayi ini, Tuan Scott. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana ceritanya bisa seperti ini. Tapi, yah ... inilah hasilnya. Dan aku harus menerima. Aku harus menjaga bayi ini. Seperti juga Tuan Mac Kay yang mendapatkan tugas yang sama." Gaby berbalik dan menyusul Jamie yang menunggu di luar pintu.


"Apa maksudnya itu?" pikir Martin kebingungan. Ekspresi Gaby yang datar juga membuatnya bingung membuat penilaian. Apakah Gaby mencintai pria itu, atau istrinya mengalami hal yang lebih buruk dari jatuh cinta lagi.


"Apa dia dipaksa?" pertanyaan itu mengejutkan dirinya sendiri. Rasa takut merasuk ke hatinya. "Gaby! Gaby!" teriaknya sambil mengejar ke luar rumah.


Tapi halaman rumah yang kecil itu sudah kosong. Martin berlari ke pinggir jalan. Dia tak menemukan jejak Gaby dan Jamie. "Gaby! Gaby!" teriaknya seperti orang gila.


Sementara itu, sekeluarnya dari halaman rumah, sebuah taxi melintas, yang langsung disetop oleh Jamie. Dibantunya Gaby masuk. "Pergi ke mana kita, Maam?" tanyanya dengan lembut.


Gaby menyebutkan nama satu hotel pada supir taxi, yang segera meluncur ke tempat yang diminta penumpangnya.


"Kita beristirahat di sini saja, sementara. Aku akan mencari flat baru untuk kita," ujar Gaby di kamar hotel. Jamie mengangguk.


*******

__ADS_1


__ADS_2