The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
69. Perjalanan Martin


__ADS_3

Keberuntungan berpihak pada Martin. Setelah memasukkan lamaran pekerjaan ke dua tempat di kota kecil itu, akhirnya dimendapatkan pekerjaan dari sebuah lab medis di satu-satunya rumah sakit yang ada di sana.


Menghabiskan waktu seminggu bolak-balik ke kota asal untuk menyelesaikan beberapa urusan dan mengemas pakaian serta keperluan pribadinya. Dia bekerja sama dengan agen penyewaan rumah untuk mengrus penyewaan rumah mereka. Kemudian meluncur pergi menuju kota kecil yang tak jauh dari desa pertanian, di mana Gaby tinggal.


Dia sudah mendapatkan flat kecil untuk ditempati. T butuh space luas, karena hanya ada dia sendiri di sana. MArtin masih berpikir dia mungkin bisa sesekali datang ke rumah pedesaan milik Gaby di tepi hutan, pada akhir pekan.


"Aku tahu, sikapmu ini hanya karena rasa bersalahmu padaku. Tapi aku telah memasfkanmu. Kuharap, suatu saat kau bisa melihat cintaku yang tulus ini." Martin bergumam sendiri


Mobilnya meluncur kencang membelah jalan menuju luar kota. Suara musik menemani kesendiriannya. Pergi dengan mobil jauh lebih lama ketimbang menaiki kereta. Tapi dia membutuhkan mobil itu untuk mobilitasnya di kota.


Senja sudah turun. Martin memutuskan mencari penginapan untuk beristirahat. Dia baru setengah perjalanan. Dan masih ada waktu sehari lagi, sebelum dia harus mulai pekerjaan baru di kota kecil itu.


Martin menemukan tempat yang diinginkannya lalu berbelok ke rest area. Penginapan itu berada di sebelah tempat pengisian bahan bakar. Setelah mengisi bensin mobilnya hingga penuh, Martin mengemudi ke penginapan sederhana.


Setelah mendapatkan kamar yang diinginkan, dia memutuskan untuk mengisi perut lebih dulu di kafe yang masih berada di area yang sama. Banyak mobil diparkir di halaman luas penginapan dan kafe itu.


Butuh waktu baginya untuk mendapatkan kursi kosong. Pelayan membawanya duduk di sebuah me yang satu bangkunya sudah ditempati seorang pengunjung lainnya.


Meskipun enggan, Martin yag merasa terlanjur masuk, akhirnya menyerah dan duduk di sana. Kemudian dia memesan makanannya. Ingin sekali dia membwa pesanannya ke kamar hotel untuk dinikmati dengan santai. Tapi kafe itu tak melayani pesanan take away.


Seorang pria paruh baya dengan jambang keabuan, duduk diam dan makan tanpa tergaggu di depannya. Martin mengeluarkan ponsel untuk sepenuhnya mengabaikan pria di depannya. Dia tak ingin mengganggu pria yang sedang makan itu dengan basa-basi tak perlu.


Lima belas menit yang membosankan, menunggu hidangannya disajikan. Dan pria di depannya sudah selesai makan serta mendorong piringnya ke tengah meja.


"Kau pasti orang baru. Berhati-hatilah di sini. Apa kau menginap?" tanya pria itu tanpa basa-basi.

__ADS_1


Martin mengangguk dengan enggan. Pria itu juga mengangguk mengerti, setelah melihat jejak lelah di wajah Martin.


"Selah masuk ke kamarmu, kunci, dan jangan pernah keluar, meskipun kau mendengar hal-hal aneh. Jangan ikut campur urusan orang lain. Sayangi nyawamu. Kau mengerti?" pria itu menasehati.


Meskipun sedikit heran, tapi Martin tetap mengangguk. "Terima kasih informasinya."


"Aku melihat kau adalah orang baik-baik. Jadi, menjauhlah dari masalah. Tak perlu juga bersikap sok baik pada orang yang tidak kau kenal!"


Pria itu berdiri dan meninggalkan uang pembayar makanannya di meja. Tapi dia berbalik ke arah Martin sebelum pergi.


"Just stay away, okey?" ulangnya.


Martin mengangguk sekali lagi. Dia juga tak berniat mengakrabka diri dengan orang lain di situ. Dia hanya ingin tidur dan pergi esok pagi.


Pesanannya datang. Pelayan mengangkat piring kotor pria tadi dan mengambil uangnya tanpa bicara. Sepertinya pria tadi pelanggan di situ, hingga bisa hapal harga pesanannya.


"Sial! Aku salah pilih tempat berhenti. Seharusnya aku bisa menyadari, bagaimana bisa kafe yang jauh dari mana-mana, bisa begini ramai. Paling hanya beberapa pengemudi yang benar-benar ingin istirahat dan mampir di rest area ini. Yang lainnya?"


Pikiran Martin jadi tidak tenang setelah peringatan yang dikatakan pria tadi. Makannya selesai dengan cepat. Dia tak terlalu ambil pusing anggapan orang yang melihatnya makan seperti orang yang kelaparan.


Dengan cepat dia bangkit dan menuju ke meja kasir, lalu membayar makan malam dan sebotol bir dingin yang akan dibawanya ke kamar.


Martin keluar dan berlalu dari sana. Dia melihat dua mobil sangat bagus, berbelok masuk ke penginapan. Kakinya terus melangkah. Membuka mobil sebentar dan mengambil tas ransel yang tadi ditinggalkannya. Kemudian mengunci kembali mobil setelah menambahkan pengaman pada setir.


Langkahnya panjang-panjang memasuki lobby penginapan. Tiga orang sedang berdiri di depan resepsionis untuk memesan kamar. Martin menunjukkan kunci yang tadi sudah didapatnya, lalu menaiki tangga yang ada di samping meja resepsionis.

__ADS_1


Kamarnya ada di lantai tiga. Tak da lift di sini. Jadi dia harus menaiki tangga ke atas. Kamar-kamar berderet di sisi kiri dan kanan tangga. Pintu-pintunya dibuat menghadap parkiran. Jadi dia dapat melihat suasana yang makin malam justru makin ramai.


Setelah menemukan nomor kamar yang sesuai, Martin masuk dan langsung menguncinya. Dia juga memasang pengait pintu sebagai pengaman tambahan. Tas ransel diturunkan dan diambilnya baju bersih dari sana. Kemudian pergi mandi untuk menyegarkan diri. DIa ingin segera beristirahat, agar bisa pergi pagi-pagi sekali.


Seperti yang diharapkannya. Tidurnya nyenyak tanpa gangguan berarti. Hingga tiba-tiba didengarnya keributan di luar kamar. Rasa ingin tahu, membuatnya refleks membuka selimut untuk melihat.


Namun tiba-tiba pesan pria berjambang kelabu, mendengung di kepalanya. Kakinya yang semula bergerak hendak turun, terhenti. Ditariknya lagi selimut pelan-pelan dan memejamkan mata, seakan takut ketahuan bahwa dia telah bagkit, tadi.


Jika di waktu lalu, Martin pasti akan menganggap konyol dan kekanakan sikap seperti itu. Mana mungkin orang di luar bisa mengetahui dia tadi bangkit atau tidak dari tempat tidur! Namun, sejak apa yang menimpa Gaby, maka batas antara dongeng dan kenyataan jadi semakin samar.


Meskipun dicobanya untuk kembali tidur, tapi matanya yang sudah terlanjur terbuka tadi, tak mau bekerja sama untuk tidur lagi. Telinganya malah berusaha mendengarkan dengan seksama suara-suara samar dari luar.


"Kau yakin tentang informasi itu?" kata seseorang di luar.


"Seratus persen!" jaab suara satunya.


"Akhirnya dia mati juga, heh!" Kita harus cari wanitanya!" timpal suara lain.


Kemudian suara langkah kaki makin jauh dan suara-suara mereka makin samar.


Di balik selimut, di dalam kegelapan kamarnya, wajah Martin pucat pasi.


"Apakah mereka adalah para hinghlander? Apa mereka ke sini setelah mendapat kabar Tuan Scott tewas? Mereka mengejar Gaby?"


Semua pikiran itu memenuhi kepala Martin. Hatinya sangat takut. Takut dengan nasib Gaby ke depannya.

__ADS_1


******


__ADS_2