The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
93. Hutan dan Sihir Gelap


__ADS_3

Steve yang terhuyung akibat pukulan di kepala, segera berbalik. Dilihatnya seorang pria penuh brewok dan berpakaian lusuh serta tua, memegang sepotong kayu. Kayu itu masih diacungkan ke arah Steve, siap untuk menghajarnya kembali.


"Apa yang kau lakukan!" hardik Steve marah.


"Siapa kau! Mau apa kau masuk ke propertiku!" Orang asing itu kembali bertanya.


Steve mulai mengerti kenapa dia mendapat pukulan tanpa peringatan. Dilihatnya sekeliling tempat dia berdiri. Hanya ada pohon dan pohon beraneka ragam. Bahkan dengan jarak lebih rapat dari hutan lain yang tadi dlewatinya.


"Ini ... propertimu?" tanyanya tak percaya. "Apa ini bukan bagian dari hutan dan milik negara?"


"Aku tak perlu menjelaskan tentang itu!" hardik pria yang penuh brewok itu jengkel. "Kau yang harus menjelaskan, untuk apa kau ke sini! Apa kau ingin mencuri hasil penelitianku?" tuduhnya sengit.


"Mencuri? Penelitian apa? Aku tidak seperti itu," Steve membantah tapi pria itu kembali mengayunkan kayu di tangannya ke arah Steve. Dokter itu mengelak dan mundur. Sayang kakinya tersandung akar sebatang pohon yang mencuat ke atas. Tubuhnya kemudian jatuh telentang ke belakang. Sebelum menyadari keadaan, pukulan di kepala memuat Steve pingsan.


*


*****


"Ugh ...."


Suara lenguhan Gaby, membuat Oliver menghentikan langkahnya. Dibaringkannya tubuh Gaby di tanah penuh lumut basah.


"Nyonya, apa kau sudah sadar?" tanya Oliver. Dia menggendong Baby Keane yang sudah lelah menangis dan hanya sesenggukan sambil memejamkan mata dengan jari masuk ke mulut. Sesekali wajah mungil dan tampan itu cemberut dan seperti akan menangis lagi. Namun, isapan pada jempol kembali membuatnya nyaman.


Perlahan Gaby membuka mata dan mengingat kejadian terakhir yang dilihatnya sebelum pingsan. "Bayiku!" teriaknya panik saat menyadari bayi itu tak ada dalam pelukannya.


"Tuan Muda ada bersama saya, Nyonya." Oliver menunjukkan Baby Keane pada Gaby.


Gaby segera merebut dan memeluk bayinya dengan erat seakan takut berpisah. "Bayiku selamat, Syukurlah," desisnya lirih sembari menciumi bayi yang tersenyum dengan senangnya.


Suara gelegar pertarungan terdengar hingga ke tempat itu, Dan Gaby mengetahui bahwa bahaya sudah sangat dekat dengan mereka.


"Mau ke mana kita?" tanya Gaby pada Oliver.


"Menyingkir sejauh mungkin dari arena pertempuran, Nyonya. Itu perintah Jamie saat menyerahkan Anda dalam pengawasan saya," jelas Oliver.

__ADS_1


"Mereka sedang bertarung di sana ...."


Oliver dapat memahami apa yang ingin dikatakan Gaby. Wanita itu prihatin dengan para highlander yang sedang bertarung hidup mati demi dirinya dan Baby Keane. Itu mengusik rasa bersalahnya.


"Itu memang tugas seorang pengawal, Nyonya. Mereka mengetahui resiko itu saat memutuskan menjadi bagian dalam tim pengawalan Anda. Dan mereka adalah highlander sejati yang selalu setia pada tuannya," bujuk Oliver.


Gaby menggeleng sedih. "Mereka orang-orang yang baik," lirihnya. dirasakannya sebuah ketidak adilan terjadi di sana. Orang-orang baik yang harus bertarung bersama melawan satu pelindung highlander terkuat.


"Memang sudah begitu jalannya dunia, Nyonya. Kebaikan melawan kejahatan, agar dunia bisa berjalan seimbang," jelas Oliver.


"Kenapa Watson jadi sejahat dan sekejam itu?"


Oliver tak dapat menjawab pertanyaan Gaby. Yang diketahuinya, dalam diri tiap orang selalu ada sisi iblisnya. Pribadi masing-masinglah yang akan menentukan sisi malaikat ataukah sisi iblisnya yang akan menguasai.


"Nyonya, sebaiknya Anda menyusui Tuan Muda sambil beristirahat sebentar. Setelah itu kita harus melanjutkan perjalanan.


"Mau ke mana kita?" tanya Gaby sambil menyusui Baby Keane.


"Perasaan saya mengatakan kita akan aman jika melewati batas hutan lebat itu." tunjuk Oliver ke dalam hutan.


Gaby tak boleh terbawa perasaan dan menggagalkan upaya keras penyelamatan para pengawalnya itu. Dia harus memastikan dirinya jauh dari jangkauan Watson.


Pikirannya berkecamuk. "Bagaimana dengan Martin?" gumamnya khawatir. Suaminya itu hanyalah orang biasa seperti dirinya. Dia mungkin mengalami luka parah di mobilnya sana.


"Tim medis pasti akan menyelamatkannya, Nyonya. Dan ada Steve di rumah sakit yang akan mengabarkan keadaannya pada kita nanti." jawab Oliver menenangkan Gaby.


"Kau benar." Gaby mengangguk setuju dengan pendapat Oliver. Dia tak perlu mengkhawatirkan Martin, karena pasti ada banyak pengemudi yang terluka dan pria itu juga akan dibawa ke rumah sakit terdekat bersama yang lain.


"Mari kita lanjutkan perjalanan!" Gaby sudah selesai dengan lima menitnya. Digunakannya gendongan untuk membawa Baby Keane agar dia bisa lebih mudah berjalan.


"Mari!" Oliver berdiri.


"Kau terluka, Tuan Oliver."


"Itu tidak akan membunuhku, Nyonya. Ayo. Kita harus bergegas!"

__ADS_1


Oliver menarik tangan Gaby untuk memulai perjalanan mereka. Batas hutan lebat itu sepertinya tidak jauh lagi. Mereka hanya perlu melewati tempat itu agar selamat.


"Kenapa hutan itu terlihat sangat gelap. Tuan Oliver?" tanya Gaby meragu. Makin dekat mereka ke sana, kegelapan yang menyelimuti tempat itu makin terasa tidak nyaman baginya.


Oliver ikut merasa bimbang sekarang. Tadi feeling nya mengatakan dengan jelas bahwa itu tempat teraman yang akan menghapus jejak mereka dan mengelabui Watson.


Sekarang, dia mengerti kenapa bisa seperti itu. Bukan karena tempat itu sudah jauh dari jangkauan Watson. Namun, ternyata hutan itu dipenuhi sihir gelap yang tak dimengertinya. Bahkan meskipun dia adalah seorang penyihir terkenal dari masa lampau, sesuatu di depan itu telah melampaui kemampuannya.


"Itu sihir yang sangat kuat, Nyonya," jelas Oliver. Kedua orang itu berdiri sejarak sepuluh meter dari batas hutan yang diselubungi sihir itu.


"Bisakah kau melawannya dan membawa kita keluar, nanti?" tanya Gaby. Baru kali ini dilihatnya penyihir tua Alba itu berhenti melangkah menghadapi sihir lain.


"Kekuatannya melampauiku, Nyonya." Oliver berkata dengan jujur.


Gaby terdiam. Oliver tak perlu mengatakan lebih dari itu, dia sudah faham. Mereka mungkin akan terjebak di dalam sana selamanya.


"Mungkinkah kita akan terjebak di dalam sana selamanya, Tuan Oliver?" tanya Gaby mengira-ngira.


"Apa nyonya tak keberatan?"


Pertanyaan Oliver adalah jawaban dari pertanyaannya tadi. Gaby membalikkan tubuhnya, Melihat kilatan petir dan gelegarnya yang tampak jelas dari atas pepohonan hutan di belakang.


"Aku tidak tahu, Tuan Oliver. Tidakkah sebaiknya kita menunggu saja di sini?" Gaby minta pria itu juga ikut mempertimbangkan kemungkinan terbaik bagi mereka.


"Kita bisa menunggu para pengawal Anda datang mencari ke sini. Jika mereka yang menang, maka kita tak perlu masuk ke batas hutan itu." Oliver memberikan pilihan.


"Berarti, jika Watson yang datang, maka ...."


Gaby tak melanjutkan ucapannya. Dia duduk di atas lumut basah yang menutupi batang pohon tumbang. Matanya sayu dan sedih melihat ke arah mereka tadi datang.


Oliver memahami kesedihan yang dirasakan Gaby. "Saya akan memeriksa di sekitar sini dulu, Nyonya. Mungkin ada jalan memutar lain bagi kita selain menembus batas sihir itu."


"Pergilah. Dan segeralah kembali saat Anda tidak lagi mendengar deru pertempuran. Kita mungkin harus segera memasuki tempat itu!" Gaby memberi Oliver ijin.


"Anda jangan ke mana-mana!" pesan Oliver sebelum melangkah pergi. Ibu muda itu mengangguk.

__ADS_1


********


__ADS_2