
"Jika kau ingin tahu, masuk saja!"
Seseorang mengejutkannya. Gaby menoleh dan kemudian terkejut. Itu pria yang dilihatnya di seberang jalan subuh tadi! Tanpa sadar, tubuhnya mundur dan menjauh.
"Selamat datang di toko kami. Ada yang bisa saya bantu?" Penjaga menyapa dari atas tangga, melihat Gaby berada di tangga terbawah.
Gaby menoleh padanya dan segera berseru. "Ya, aku butuh beberapa buku," katanya cepat. Dia ingin menghindari orang tadi yang membuat tubuhnya merasakan hawa dingin saat di dekatnya.
"Silakan, Miss." Penjaga itu mempersilakan Gaby masuk. Gaby segera menaiki anak tangga. Dan sebelum melewati pintu, dilihatnya ke belakang. Orang tadi sudah hilang entah ke mana.
"Anda butuh buku yang seperti apa?" Pertanyaan penjaga itu menyadarkan Gaby.
"Oh, kurasa aku harus bertemu Tuan Scott. Apakah dia ada?" tanya Gaby akhirnya.
"Tadi Tuan Scott sedang menerima tamu, Miss. Anda bisa menunggu sebentar di sini. Saya akan katakan jika ada yang mencari. Boleh tahu nama Anda?" tanyanya sesopan mungkin.
"Katakan saja Gaby mencarinya," sahut Gaby.
Wanita muda itu pergi ke bagian yang ditunjukkan oleh penjaga toko. Di sudut itu rak buku memenuhi dinding. Namun ada meja di mana orang bisa membaca koleksi khusus yang ada di situ. Buku-buku tua yang waktu itu dilihatnya. Tidak untuk dijual, tapi hanya bisa dibaca di tempat.
Penjaga toko tadi telah pergi entah ke mana. Gaby melihat-lihat buku yang ada di situ. Dia bahkan menemukan buku bahasa Gaelik. Bahasa penduduk asli Scotland jaman dulu. Itu buku yang sangat langka. Dia mengambil buku itu dan duduk untuk mempelajarinya.
Sekitar sepuluh menit yang tak disadari Gaby, Tuan Scott muncul.
"Maaf, jika kau menungguku terlalu lama," ujarnya dengan ekspresi menyesal.
"Tidak ... aku bahkan tidak menyadari waktu yang berlalu saat membaca beberapa koleksi langka ini." Gaby menunjukkan tiga buku yang terbuka di atas meja.
"Apa kau mau menulis tentang sejarah Scotland?" tanya pria itu dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Aku sangat tertarik tentang itu. Tapi tak kan cukup waktu untuk meriset semuanya. Tanah ini punya sejarah panjang dan misterius. Menulis sejarah adalah hal besar. Terlalu besar untukku!" ujar Gaby jujur.
__ADS_1
Tuan Scott tertawa kecil mendengarnya. Tawanya empuk dan menyenangkan. Gaby menjadi sedikit rileks sekarang.
"Katakanlah tujuan sebenarnya," Tuan Scott duduk di kursi seberang meja Gaby.
Wanita itu menelan ludah melihat pesonanya. "Bahkan duduknya sangat sangat elegan," pikirnya. "Dia mungkin salah satu keturunan bangsawan Scotland!" batin Gaby.
"Saya rasa anda sebaiknya duduk," saran Tuan Scott yang melihat wanita itu terdiam mematung.
"Ah ... ini pemberian Emily," Gaby menyerahkan kotak yang dibawanya untuk menyiasati kecanggungan.
"Apakah ini seperti dugaanku?" ujarnya sambil membuka kotak kue itu. Senyumnya yang mekar mendapati isi kotak itu, membuatnya terlihat lebih tampan di mata Gaby.
"Apa kau sudah pernah mencoba shortbread buatan Emily? Rasanya sangat enak. Tapi akan lebih enak jika dinikmati dengan teh dekat perapian,"
Tuan Scott tidak bertanya, tapi lebih mirip sebuah pemberitahuan. Gaby tak bisa menduga apa yang dipikirkan pria itu setelah melihat isi kotak yang diserahkannya, Dilihatnya Tuan Scott berdiri dan berjalan menuju rak yang lebih jauh. Ditariknya tangga untuk menjangkau satu buku.
"Kau mungkin ingin membaca buku ini," ujarnya sambil menyerahkan buku itu kepada Gaby yang menerima dengan bingung.
"Mari ke lantai atas. Akan kujelaskan pertanyaan yang memenuhi kepalamu!" Pria itu langsung melangkah meninggalkan Gaby.
Tak ada pilihan baginya selain mengikuti pria itu. Mereka melewati rak buku lain dan bertemu penjaga itu lagi.
"Jika ada yang mencari, katakan aku ada tamu!" pesan Tuan Scott sambil lalu.
"Baik!" Penjaga toko itu mengangguk, seperti hal itu terbiasa terjadi. Lalu dia kembali ke pekerjaannya menyusun buku-buku pada raknya.
Di dinding belakang toko, ada tangga kayu untuk naik ke lantai dua. Lantai berjendela kaca besar yang dapat dilihat Gaby dari trotoar depan toko.
Sampai di atas, matanya melebar tak percaya. Ada lebih banyak buku lagi di atas sini. Dan melihat sampulnya, Gaby tahu itu buku-buku yang pasti sama tuanya dengan koleksi khusus di bawah tadi.
Kakinya melangkah tanpa sadar dan mulai membaca beberapa judul buku yang ada di rak di dekatnya. "Ya Tuhan, apakah dia mencuri koleksi museum?" Gaby tak bisa mengendalikan pikiran itu setelah melihat koleksi yang ada di situ.
__ADS_1
Sementara Tuan Scott sedang menyiapkan cangkir teh. Teko air panas diangkatnya dari perapian kayu dan dituangkan pada teko teh di atas meja tamu. Suara derak kayu dimakan api menghidupkan suasana hangat yang hommy di ruangan itu. Gaby merasakan kenyamanan yang ditawarkan suasana ruang tamu Tuan Scott.
"Tehnya sudah siap!" ujarnya mengalihkan perhatian Gaby dari buku-buku.
Wanita itu berpaling dan melihat bahwa short bread yang tadi dikatakannya sudah diletakkan di atas piring porselen kecil berpinggir emas. Dua set cangkir dengan motif serupa diletakkan di meja. Tuan Scott menuangkan teh dengan terampil, seperti sebuah jamuan minum teh khas Inggris.
"Kau bisa tambahkan madu atau susu jika suka." tawarnya sambil mendorong pitcher susu kecil dan mangkuk madu ke dekat kedua cangkir itu.
Gaby mendekat dan duduk di sofa yang ada. Di depan perapian itu hanya ada satu sofa dua seat dengan penutup kain. Satu kursi baca nyaman dengan sandaran tinggi dan penopang tangan di kedua sisinya, yang telah diduduki Tuan Scott. Dan satu lagi kursi goyang usang di dekat jendela.
"Apa dia suka mengawasi orang lewat dari sana?" pikirnya penasaran.
"Apakah ada yang mengikutimu lagi?" tanya Tuan Scott tiba-tiba.
Gaby terkejut mendengarnya. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Gaby.
"Aku melihatmu takut pada seseorang di depan toko tadi," jawabnya jujur. Begitu jujur, hingga tak peduli jika Gaby akan berpikiran salah tentang itu.
"Jadi kau suka mengamati para pengunjung tokomu, heh?" ujar Gaby sinis.
"Kurasa bukan itu tujuanmu ke sini! Berkata tajam dan cenderung ingin menyakiti orang lain, apakah itu sifat aslimu?" Tuan Scott mencelanya dengan telak.
Gaby diam. Dia sendiri heran, bagaimana mulutnya bisa sangat sinis dan tajam terhadap pria di depannya ini.
"Maaf," ujarnya lirih. Tapi itu adalah pengakuan bahwa penilaian Tuan Scott sepenuhnya benar.
"Tadi subuh aku melihat seorang pria berdiri di seberang jalan depan toko Emily. Dan orang yang menegurku di depan toko bukumu adalah orang yang sama! Apa kau mengenalnya?" Gaby akhirnya bisa memusatkan pikirannya pada masalah itu.
"Aku tidak kenal dia. Tapi tau bahwa dia sejenis dengan Watson!" kata Tuan Scott.
"Sejenis?" Gaby heran dengan ungkapan itu. Pria itu manggut-manggut.
__ADS_1
*********