The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
101. Tak Ada Yang Bisa Menahan Watson Kecuali ....


__ADS_3

"Mereka akan baik-baik saja, Nyonya. Anda tak perlu khawatir. Biarkan mereka tidur nyenyak malam ini. Besok pasti akan merasa sangat berenergi dan kelaparan." Duncan terkekeh dengan leluconnya sendiri.


Malam itu, Stuart menemukan kain selimut tua, untuk alas Gaby tidur di lantai.


Mereka beristirahat dengan tenang, setelah Tommy juga akhirnya tenang. Wajahnya sangat sedih saat mengunyah daging rusa panggang yang diberikan Stuart. Stuart merasa sangat prihatin dengan hal itu.


"Apakah dia sedikit tidak waras, makanya tinggal di hutan?" pikirnya.


*


***


Dokter Steve sampai di rumah sakit petang hari. Dia langsung membawa Martin ke ugd dan mengatakan bahwa dia menemukannya terpelanting jauh dari mobinya.


Semua orang sibuk memeriksa salah satu staf lab rumah sakit mereka itu. Sementara Steve segera pulang ke flat untuk mencari ramuan obat buat ayahnya.


Hingga pukul delapan malam, dia masih sibuk meramu obat seperti resep yang ada di ingatannya.


"Oh, syukurlah, pukulan pria brewok itu tidak merusak memory otakku!" batinnya lega.


Pukul sembilan, Steve mendapat panggilan telepon yang mengatakan kondisi Martin. Pria itu harus menjalani bedah untuk mengembalikan posisi tulang rusuknya yang patah dan sedikit melukai hati.


"Ya, lakukan yang terbaik. Jika jaminan kesehatannya tidak memadai, jadikan aku sebagai penanggung jawabnya!" Steve berpikir cepat.


"Baik, Dok!"


Panggilan telepon itu terputus. Steve tercenung. Dia sedang menimbang, apakah harus mengatakan kabar itu sekarang pada Gaby, atau tunggu hingga dia datang mengantar obat besok pagi.


"Pantas saja dia tak bangun-bangun dari pingsannya."


Flat itu mulai harum obat. "Berhasil!" serunya puas. Dilihatnya pil-pil yang tercipta di atas mangkuk pembuat obat tradisional yang tadi harus dicari-carinya dulu.

__ADS_1


Steve mencobai satu pil untuk meyakini bahwa pil itu manjur. Tubuhnya merasa segar beberapa saat kemudian. Dengan tersenyum, semua pil itu segera dimasukkan dalam mangkuk kaca bersih dan langsung ditutup.


Dia ingin sekali mengantar obat itu langsung ke hutan. Tapi tubuhnya sangat lelah. Jadi diambilnya waktu untuk beristirahat sejenak dan mengisi perut, sambil menonton televisi.


"Apa!"


Sandwich yang sedang dinikmatinya terlompat keluar, saat melihat berita di televisi.


Watson kembali berhasil melarikan diri. Lokasi penahanannya di kompleks tentara, sudah berubah seperti medan perang. Steve menajamkan pendengaran, Dia dapat mendengar dentuman bom di kejauhan.


Dengan gerak cepat, Steve mengambil beberapa bahan makanan untuk Gaby dan temannya yang lain. Kemudian menyambar kotak obat dan memasukkannya ke dalam saku.


Suasana sunyi malam memudahkannya untuk memacu mobil dengan lebih cepat. Sungguh berbahaya, jika Watson kembali menemukan Gaby. Sementara para pengawalnya sudah kehabisan tenaga.


"Ayo, cepat!" Steve menyetir dengan tak sabar saat di depannya mengalami sedikit kemacetan, akibat mobil derek yang masih mondar-mandir menarik mobil yang ringsek dari jalan tol.


Setelah melewati tol dan masuk ke jalan kecil, Mobilnya kembali dikebut. Meskipun penerangan di jalan hutan itu tidak terlalu bagus, tapi beruntung Mobil Steve terawat dan dia masih hafal letak pohon dan posisi lubang di jalanan rusak itu.


Mengandalkan ingatan kuatnya, Steve dapat menemukan belokan jalan menuju ke rumah di tengah hutan itu.


Rumah di depan itu seperti bayangan gelap hantu di tengah hutan. Berdiri diam, sunyi, tanpa ada satu cahaya pun yang menyelinap keluar. Didorongnya pintu, tapi tertahan. Pikirannya berkecamuk. "Apakah Nyonya disandera?" batinnya khawatir.


"Duncan! Stuart! Nyonya!" panggilnya sambil menggedor pintu dengan khawatir.


Steve berhenti berteriak saat terdengar suara kunci pintu dibuka. Kemudian muncul wajah Stuart yang gusar dan tangis Baby Keane dari dalam rumah.


"Apakah perlu sampai berteriak membangunkan Tuan Muda?" tegur Stuart ketus.


"Oh, syukurlah kalian baik-baik saja. Kukira kalian ditawan oleh orang tua pemilik rumah ini!" jelas Steve.


"Itu dia!"

__ADS_1


Stuart menunjuk pada Tommy yang tidur melingkar di pojok ruangan. Tangannya diikat ke belakang. Steve terpaku melihatnya. Namun, kemudian ingat bahwa dua penjaga Gaby adalah para Highlander yang kekuatannya lebih dari dirinya.


"Aku membawa obat ayah. Dan kurasa, sebaiknya kalian juga ikut meminumnya, untuk mempercepat pemulihan," saran Steve. DIbagikannya satu pil pada Stuart dan satu lagi untuk Duncan. Kedua pria itu langsung menelan tanpa membantah.


Steve berjongkok di dekat ayahnya dan memasukkan sebuah pil ke dalam mulut pria itu. "Apakah ada air minum?" tanyanya.


Duncan berjalan dan mengambilkan secangkir air. Tommy tak bisa lagi protes agar para tamu tak diundang itu tidak meminum airnya. Dia sudah mendapat pelajaran bahwa orang-orang di depannya bukanlah orang biasa. Bahkan pria yang pagi tadi ditahannya juga bisa terbang.


"Berikan satu pil pada mereka." Steve memberikan tiga pil pada Stuart, agar diminumkan pada Jamie, Angus, dan Elliot.


"Bagaimana perasaanmu setelah minum pil itu?" tanya Steve pada Duncan.


"Lebih baik. Terima kasih," kata Duncan.


"Apakah aku tak boleh meminumnya?" tanya Gaby.


Steve termangu, tak tahu harus menjawab apa. "Pil ini belum pernah dicoba pada ibu yang sedang menyuui, Nyonya," jawab Steve jujur.


"Kukira, itu mungkin bagus untukku dan daya tahan bayiku. Tapi, jika memang tak mungkin, ya sudah."


Steve kembali ingat pada acara tivi malam itu.


"Watson kembali lepas dari penjara. Markas tentara seperti sebuah lapangan perang!" kata Steve.


"Apa!" Semua terpekik tak percaya.


"Tak ada yang bisa menahan dia, kecuali Baby Keane!" ujar Stuart yakin.


Semua mata memandang pada bayi kecil mungil berumur dua hari yang tidur pulas di lantai.


******

__ADS_1


Sequel Novel PARA PENYINTAS sudah hadir ya.. yuukk dikepoin petualangan serunya.



__ADS_2