
Pria brewok yang tinggal di tengah hutan itu, merasakan getaran berkesinambungan di tanah yang sedang dipijaknya.
"Apakah akan ada gempa?" gumamnya heran. Puluhan tahun dia tinggal di situ, belum pernah mengalami goncanan gempa sama sekali.
Tangannya bergerak cepat menyelesaikan ikatan tali pada orang asing yang baru saja menerobos masuk ke tanah pribadinya.
"Jika kau seorang pemburu, di sini tak boleh berburu!"
Sesaat berikutnya dia ragu. "Tidak! Pakaianmu terlalu rapi untuk jadi seorang pemburu. Terlalu bersih!" Pria itu mengendus bau tawanannya.
"Kau berbau alcohol medis dan obat-obatan. Hah! Mau menyangkal bahwa kau ingin mencuri penelitianku? Sekarang tinggallah di situ selamanya!" dengus orang itu sebelum meninggalkan tubuh yang lemah tak berdaya di lantai kayu.
Pria brewok pergi ke sudut dekat tangga yang mengarah ke loteng. Ditariknya lantai dan menyandarkannya pada tangga kayu. Kemudian menapaki tangga spiral untuk turun ke bagian bawah rumahnya yang terlihat sederhana dari luar.
Dikeluarkannya rangkaian kunci berukuran besar dari saku celana. Dia memilih anak kunci yang tepat untuk membuka pintu besi di depannya. Sebuah kunci besar dari stainles dimasukkan ke dalam lubang kunci. Kemudian besi bulat yang menempel di pintu diputarnya beberapa kali ke kanan, baru ke kiri dan ke kanan lagi.
Bunyi klik mekanik yang terdengar jelas, membuatnya tersenyum. "Otakku masih berfungsi degan bagus untuk mengingat kode kuci pintu ini," katanya dengan nada bangga.
Pintu dibuka lebar. Saklar lampu ditekan. Seketika ruangan yang tadinya gelap gulita, menjadi terang benderang.
Pria itu duduk di kursi besar usang yang merupakan kursi satu-satunya di situ. Tangannya bergerak lincah, menyalakan berbagai mesin yang ada di ruangan itu. Tak lama layar-layar televisi model tabung itu menyala dan menampilkan banyak gambar hitam putih.
Pria itu memperhatikan semua gambar yang tampak di layar. Getaran kuat kembali dirasakannya dari tanah yang diinjak.
"Gejala apa ini?" gumamnya risau.
Sebuah radio transistor dinyalakan untuk mendengarkan berita cuaca dan meteorologi. Suara kresek yang berisik, menyambut pendengarannya sebelum mendapatkan chanel yang diinginkannya.
Sudah satu jam berlalu tapi tak ada berita yang berkaitan dengan gempa ataupun tanah longsor, yang mungkin bisa mengakibatkan getaran tanah yang sangat kuat dan tak henti-henti.
"Ini bisa berbahaya! Apa saja pekerjaan para ilmuwan itu sekarang? Hal sepenting ini kenapa bisa tidak tahu dan tidak memperingatkan penduduk sekitar bukit ini?" geramnya marah.
__ADS_1
"Apakah getaran ini berasal dari hutan gelap di depan sana?" duganya setelah mengamati bahwa semua pos pemantauannya tidak memberikan hasil apapun. Hanya ada satu bagian hutan yang tak bisa dimasukinya untuk memasang menara pengawas.
"Apa yang terjadi didalam sana?" matanya nyalang melihat layar yang hanya menampilkan pepohonan semata.
"Tak biasanya kalian tak bersahabat seperti ini. Apakah mulai ada yang berani menebang kayu di hutan itu?" katanya nyinyir.
Akan tetapi, pria itu hanya bisa menduga-duga saja. Dia sendiri tak punya cukup keberanian untuk menerobos masuk hutan aneh yang selalu membuat bulu romanya berdiri jika berada dalam jarak lima puluh meter!
Matanya tiba-tiba melebar, seakan sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaan tadi. Dia berdiri dan keluar dari ruangan peluh layar tivi.
"Kau pasti ada hubungannya dengan getaran yang sedang terjadi!" katanya sambil menaiki tangga menuju ke lantai satu rumahnya. Kakinya melangkah ke wastafel dan menampung segelas air.
Dengan segelas air di tagan, dia kembali ke arah Steve. Tanpa basa-basi, disiramkannya air itu ke wajah Steve. Dokter muda itu gelagapan, sebab sedikit air masuk ke dalam hidung dan mengganggu jalan napasnya.
"Ahh ...." Steve ingin menyeka wajah dan membersihkan air di hidung. Namun, kedua tangannya diikat ke belakang punggung.
Berdiri di depannya pria brewok yang tadi memukulnya dengan balok kayu. Dia juga merasakan sakit yang luar biasa di bagian dahi.
"Kau memukulku di kepala? Apa kau tahu betapa berharga pengetahuan yang ada di kepalaku ini!" bentak Steve marah.
Steve menjaga jarak aman dari jangkauan pria itu. Kemudian dia merasakan getaran di lantai. Seperti suara deru kuda berlari. Konsiten dan teratur. Matanya dipejamkan, untuk mencari suara gelegar petir yang seharusnya ada, jika getaran itu adalah akibat pertarungan para highlander. Dia yakin, bahwa arah yang ditujunya sudah benar. Teman-temannya di sana sedang bertarung menjaga Gaby.
Dibukanya mata, setelah yakin dengan apa yang terjadi. "Apa maumu sebenarnya! Aku masih punya urusan penting lain dan tidak ada hubungannya denganmu, Pak Tua!"
Steve menemukan kepercayaan dirinya kembali. Dia harus segera menemukan Gaby, Martin dan ayahnya, selama para highlander itu masih saling bertarung satu sama lain.
"Kulihat kau mengetahui tentang getaran di tanah ini. Apakah itu hasil penelitianmu yang mengalami kegagalan?" selidik pria brewok itu.
"Penelitian apa? Aku seorang dokter medis! Apa kau tidak mendengar ada kecelakaan beruntun di jalan tol sebelah sana!" bentak Steve gondok.
"Siapa yang mau kau tipu, heh!" pria brewok itu tertawa sinis.
__ADS_1
"Kau gila! Banyak nyawa yang menunggu aku datang ke sana!" teriak Steve makin kesal. Dia seperti bicara pada batu.
"Kalau kau tak percaya, ayo tunjukkan jalan menuju hutan di sisi jalan tol itu. Kau bisa buktikan apakah aku berbohong atau tidak!"
Steve menemukan ide. Lebih baik mengajak pria gila itu, dari pada dia terhambat untuk menolong teman-temannya.
"Kau kira aku percaya pada pria sok pintar sepertimu? Lalu diperjalanan kau akan membunuhku dan mengambil semua hasil penelitianku selama puluhan tahun ini!" tolak pria brewok itu.
"Kau terlalu lama terkurung di sini, dan kebanyakan menonton filem teori konspirasi!" ejek Steve sebal.
"Lepaskan aku! Ada ayahku yang terluka di sana!" mohon Steve akhirnya.
"Apa yang kau inginkan? Akan kuberikan kartu atmku jika perlu!" bujuk Steve lagi.
"Hah! Typical pemuda kaya dan sombong! Kau kira bisa menyuapku? Kau sangat keliru!" Pria brewok itu bergeming.
Steve ingin berdebat lagi, tapi getaran yang dirasakannya makin kuat. Dia tampak sangat khawatir.
"Kau yang memintaku berbuat kasar, Pak Tua!"
Steve berjongkok di lantai, dengan tangan masih terikat ke atas.
"Selamat tinggal!" teriaknya sambil melompat tinggi dan menjebol atap genteng pria brewok itu.
Pemilik rumah di hutan itu sangat terkejut. Dia melihat dengan matanya sendiri bagaimana pria muda berpakaian bersih itu melompat kencang hingga genteng rumahnya berhamburan. Kemudian bayangan kemeja putihnya tampak mengecil di langit.
"Apa dia manusia?" Bagaimana dia bisa melompat setinggi itu?" desisnya tak percaya.
Pria itu berlari keluar rumah, untuk mencari jejak Steve di langit. Yang dilihatnya hanyalah garis kecil putih seperti mata spidol yang bergerak dari tengah ke kiri. "Apa dia juga bisa terbang?"
Pria brewok itu terduduk di tanah lembab. Teringat dengan sikap kasar yang dilakukan sebelumnya. "Beruntung dia sedang sibuk mencari ayahnya, jika tidak, dia mungkin akan membunuhku!" gumamnya ngeri.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, barulah pria brewok itu ingat sesuatu. "Tadi katanya ada kecelakaan di jalan tol?" Pria itu bergegas masuk ke rumah yang sangat berantakan akibat atap jebol. Dicarinya saluran radio untuk mengetahui berita terbaru.
********