
Di kamar hotel, Gaby berbaring sambil meringkuk. Jamie menyelimutinya dan membiarkan wanita muda itu mencerna pembicaraan dengan Farah satu jam yang lalu.
Dia menjaga hati Gaby yang sedang rapuh itu dengan hati-hati. Wanita itu sedang butuh dukungan, bukan tekanan untuk mengambil keputusan sesuai keinginan orang lain.
Dua jam berlalu. Dalam keremangan kamar, Jamie bisa mendengar isakan samar dari tempat tidur lain di kamar itu.
Dia menggeliat dan bangun dari tidurnya, kemudian duduk bersandar di dinding. Dia hanya mengamati punggung Nyonya mudanya bergetar perlahan karena menangis sesenggukan.
Satu jam berlalu, kamar itu kembali sunyi. Jamie merasa lega melihat Gaby akhirnya dapat tertidur juga. Namun Jamie masih ingin memastikan bahwa wanita muda itu benar-benar tidur nyenyak. Jadi dia masih tetap duduk diam di tempatnya sambil memejamkan mata.
"Pagi, Tuan Mac Kay," sapa Gaby.
Jamie membuka matanya dan terkejut melihat ruangan kamar mereka sudah terang. tirai tebal sudah disingkapkan dan sinar matahari menyelinap di sela-sela untaian renda benang tipis yang menghiasi jendela kaca besar. Mata Gaby yang bengkak karena menangis malam tadi, terlihat nyata, meskipun dia mencoba menutupinya dengan menarik sudut bibir membentuk senyuman.
"Anda sudah bangun lebih dulu, Maam. Sebentar saya pesankan sarapan anda," Jamie segera bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
"Ambil waktumu, Tuan Mac Kay. Saya sudah memesankan sarapan untuk kita," kata Gaby.
"Baik, Maam." Jamie menyahut sebelum menutup pintu kamar mandi.
Mereka sarapan bersama setelah pesanan diantar ke kamar. "Tuan Mac Kay, saya sudah membuat keputusan. Akan mengikutimu ke tempat yang sudah kalian pilih. Sekarang ini, saya tak punya hak lagi atas tubuhku. Ada anak ini yang lebih berhak dan harus diutamakan." Gaby memulai pembicaraan.
"Saya akan menyiapkan perjalanan kita, Maam. Kapan anda ingin pergi?" tanya Jamie.
"Siang ini kita check out dan segera pergi!" jawab Gaby. Jamie mengangguk setuju.
"Bagaimana dengan suami anda, Maam?" tanya Jamie.
__ADS_1
"Bisakah anda memaniku menemuinya setelah kita sarapan?" tanya Gaby.
"Tentu saja!" Jamie mengangguk.
Satu jam berikutnya, Jamie mengantar Gaby turun ke lobby untuk bertemu dengan Martin di coffee shop.
"Sayang ...." Martin langsung berdiri dari kursinya saat melihat Gaby berjalan diiringi oleh Jamie yang seperti raksasa mengawal putri kecil.
Gaby duduk di kursi yang ditarik oleh Martin. "Kau ingin kupesankan kopi, atau sesuatu? tawar Martin.
Gaby menggeleng. "Kami baru saja sarapan."
Martin mengangguk mengerti. "Matamu bengkak. Jangan bebani pikiranmu. Maafkan sikap kasarku kemarin yang membuatmu takut. Aku tak akan melakukannya lagi. Kembalilah padaku. Farah sudah mengatakan semuanya. Aku memaafkanmu. Itu bukan salahmu. Ijinkan aku membesarkannya bersamamu. Aku bisa mengadopsinya, jika kau tidak percaya padaku. Dia bisa jadi putra kita. Bukankah semuanya sempurna?"
"Maafkan aku. Tapi keputusanku berbeda. Aku ingin anak ini aman dan menjauhkanmu dari masalah. Aku harus mempertimbangkan hal-hal lain ketimbang diriku sendiri." ujar Gaby.
"Tolong urus surat perceraian kita. Aku akan pergi siang ini ke satu tempat yang menurutku aman untuk putraku." Gaby mengatakan keputusan yang sudah dipikirkannya satu malaman.
"Sayang, aku akan memberimu waktu untuk memikirkan semuanya. Nanti kita bicarakan lagi. Pergilah tenangkan dirimu. Kita bisa bicarakan lagi nanti. Aku tak akan menceraikanmu hanya karena masalah sepele seperti ini!" tegas Martin. Pria itu bergerak mendekati Gaby dan mencium keningnya.
"Aku harus ke tempat kerja, sekarang. Jangan lupa memberi kabar, ya!" ujarnya dengan wajah sedih yang tak ditutupi.
Gaby meliat punggung Martin hingga menghilang di balik tiang besar di ujung lobby hotel.
"Mari kita bereskan barang-barang, Tuan Mac Kay!" ajak Gaby.
Jamie mengikutinya kembali ke kamar untuk mengemas kembali tas pakaian dan koper yang terbuka.
__ADS_1
Jam sepuluh pagi, sebuah taxi mengantar mereka menuju stasiun kereta menuju ke kota lain. Gaby duduk dengan tenang di jok belakang mobil.
"Kereta kita berangkat pukul satu, Maam. Kurasa sebaiknya anda makan siang dulu di sini, agar tidak lapar selama perjalanan." Jamie menunjukkan kertas tiket di tangannya.
"Kita akan sampai, dua jam kemudian? Lumayan jauh juga," komentar Gaby.
"Setelah itu kita harus bertukar kendaraan lagi, Maam. Dan baru tiba nanti malam jam tujuh seperempat!" jelas Jamie.
"Itu terasa melelahkan," keluh Gaby.
"Makanya anda harus bersantai. Jangan banyak memikirkan hal-hal yang bisa membuat anda merasa stress," nasehat Jamie.
"Baiklah ... baiklah ...." Gaby menyerah berdebat tentang tempat yang belum pernah dikunjunginya itu. Dia mengikuti Jamie yang tengah mencari tempat untuk makan dan beristirahat sambil menunggu kereta mereka tiba.
Selama menunggu, bahkan selama perjalanan kereta yang panjang, Jamie tetap tak bersedia bicara tentang tempat yang akan mereka kunjungi.
"Anda akan melihatnya nanti, Maam!" ujarnya memberi harapan. Gaby bersungut sebal karena Jamie suka berteka-teki.
Mereka menaiki kereta sesuai jadwal. "Kau memilihkan gerbong yang sangat nyaman untukku, Tuan Mac Kay," puji Gaby.
"Kuharap anda senang dan dapat menikmati perjalanan dengan tenang."
Gaby bersyukur karena Tuan Mac Kay cukup pengertian. Dia akhirnya bisa menikmati pemandangan alam yang berlari ke belakang.
"Pemandangan yang indah!" Gaby melontarkan pujian.
Jamie mengangguk setuju.
__ADS_1