The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
58. Dilema


__ADS_3

Bagaimana pun, karena persoalan dengan Martin, Gaby tetap saja merasa gelisah saat beristirahat di hotel.


Jamie tak bisa membantu lebih jauh urusan mereka. Sekarang dia tahu alasan kenapa Gaby tidak tetap tinggal di Scotland.


Malam hari, Tuan Scott menelepon, seakan mengetahui apa yang dialami wanitanya.


"Sebaiknya kau membuat keputusan. Dengan begitu, aku bisa membantumu," ujar Tuan Scott.


"Itu bukan hal yang mudah untuk dibicarakan dengannya!" Gaby sangat kesal mendengar saran Tuan Scott. Bukan karena itu saran yang salah, tapi karena dia juga punya pemikiran yang sama!


Namun, mengingat kebaikan Martin selama ini, dan juga karena suaminya itu tak punya kesalahan sama sekali, rasanya akan sangat tak adil jika dia langsung meminta berpisah darinya.


Hatinya sangat sakit, memikirkan apa yang dirasakan Martin sekarang. Air matanya mengalir diam-diam.


"Aku akan mengirimkan biaya hidupmu mulai sekarang!" ujar pria di ujung telepon.


"Aku tahu kau sangat kaya. Tapi tolong sesekali tunjukkan sedikit empati. Martin sama sekali tak bersalah. Tapi harus menanggung pengkhianatan sebesar ini!" Gaby berkata kasar dan mematikan sambungan telepon mereka.


Tak butuh waktu lama hingga sebuah panggilan telepon kembali menggema di dalam kamarnya. Gaby meraih ponsel di meja dengan tak sabar.


"Aku tak mau mendengar suaramu sekarang!" teriak Gaby emosional.


"Gaby! Ada apa denganmu?" sebuah suara terdengar di ujung telepon. Gaby terkejut. Air mukanya berubah. Itu suara Farah, bukan Tuan Scott.


Gaby menghela napas sebelum menjawab. "Maaf, kukira orang lain yang sedang meneleponku!" ujar Gaby jujur.


"Apakah pria itu yang meneleponmu tadi?" tanya Farah tajam.


"Aku belum ingin mengatakan apapun tentang itu," sahut Gaby malas. "Aku sedang tidak enak badan dan ingin istirahat." Gaby memutuskan panggilan telepon mereka.


Gaby menyadari, Martin pasti sudah menceritakan masalah mereka pada Farah, sahabatnya. Itu terasa makin menyulitkan posisinya. Dengan lesu dimatikannya ponsel dan meletakkan di atas meja. Dia tak ingin diganggu suara-suara telepon sekarang ini. Dia sangat butuh tidur yang cukup untuk memulihkan kondisinya yang kelelahan berat.


Di tempat tidur sebelahnya, Jamie menjaganya tanpa bertanya apapun. Termasuk tidak bertanya kenapa Gaby memutuskan sambungan telepon dan Tuan Scott tadi. Dia sangat bisa memahami dilema yang tengah dihadapi wanita muda itu.


Hamil adalah sesuatu. Namun, hamil bukan dengan suaminya adalah sesuatu yang lain lagi. Ditambah dengan dugaan bahwa Tuan Scott kemungkinan akan tewas dalam pertarungan dengan Watson. Maka dia harus membuat keputusan yang sangat sulit. Dan harus menjalani kehidupan yang jauh lebih sulit lagi setelah itu.

__ADS_1


Setelah melihat Gaby tidur pulas, Jamie baru bisa ikut istirahat. Dibaringkannya tubuhnya di tempat tidur lain di kamar itu.


Pelan-pelan dibacanya semua pesan masuk dari Tuan Scott. Termasuk pengiriman uang untuk penunjang kehidupan mereka berdua untuk satu bulan ke depan.


"Uang sebanyak ini, bisa dipakai untuk menyewa flat untuk kami berdua. Rumah akan terasa jauh lebih nyaman bagi seorang wanita hamil, ketimbang hotel," batin Jamie.


"Biar kubicarakan dengannya besok!" Jamie membuat keputusan sebelum berangkat tidur.


Keesokan pagi. Gaby bangun dengan lesu. Mata Jamie yang jeli, dapat melihat bahwa wanita hamil itu tidak sedang baik-baik saja.


"Bagaimana kalau saya antar anda ke dokter kandungan?" tawar Jamie.


"Aku hanya sedang banyak pikiran," tolak Gaby.


"Bagaimana kalau kita mencari tempat tinggal baru? Sebuah apartemen kecil yang bisa membuat anda merasa nyaman tinggal di dalamnya!" Jamie kembali menawarkan sebuah ide untuk Gabriela.


"Apa Tuan Scott yang menyarankan hal itu padamu?" selidik Gaby.


"Mata anda sangat jeli, Maam." Jamie tidak menutupi kesimpulan yang dibuat oleh wanita itu.


"Maksud Tuan Scott sebenarnya baik. Hanya saja anda sedang mengalami banyak persoalan di satu waktu. Semua minta untuk diseriusi dan dicarikan solusinya. segera. Itu membuat anda tertekan."


Penilaian Jamie sangat akurat. Gaby menyadari bahwa sejak kemarin, Jamie telah sangat sabar melihat dia tak mampu mengelola emosi. Dia harus berkepala dingin menghadapi persoalan yang ada di depan matanya.


"Baiklah. Mari kita periksa ke dokter kandungan." Gaby akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran yang diajukan Jamie


Jamie mengangguk senang. Dia menyiapkan sarapan dengan memesan ke restoran hotel, untuk mereka berdua.


Di dokter kandungan.


Gaby yang selalu menuruti perintah dokter sebelumnya, hari itu merasa cukup lega, karena kehamilannya ternyata tidak mengalami masalah apa pun. Mereka hanya perlu memastikan bahwa Gabriela tetap menjalani semua anjuran dokter. Terutama, tidak boleh stress, sebab itu bisa berdampak buruk untuk kehamilannya.


"Baik, Dokter. Saya akan ikuti saran anda." Gaby mengangguk dan menebus vitamin di apotik.


Setelah itu Jamie mengajak Gaby untuk mencari apartemen kecil yang cukup untuk mereka tempati.

__ADS_1


"Atau, anda bisa ikut tinggal di tempat yang sebenarnya dianjurkan oleh Tuan Scott sejak awal," kata Jamie.


"Di mana itu?" tanya Gaby ingin tahu.


Kira-kira tiga kota dari sini, jaraknya." Jamie mengatakan jarak yang terbentang antara kota tempat tinggal Gaby dengan tempat yang sudah disiapkan Tuan Scott.


"Apa menurutmu kita akan hidup dengan aman di sana?" tanya Gaby ingin tahu.


"Saya akan memastikan anda aman dari gangguan. TApi tentang kenyamanan, itu hanya akan timbul dari diri anda sendiri. Terutama jika anda merasa tenang dan bahagia."


Gaby diam mendengarkan kata-kata Jamie. Semua yang diucapkannya memang benar adanya. Dia tak bisa membantah sebuah penilaian yang jujur dan benar seperti itu.


"Apa kau punya foto rumahnya?" tanya Gaby.


"Tidak ada. Tempat itu hanya ada dalam ingatan kami dan tak akan pernah ditulis, digambar atau apapun, untuk menghindar dari hal yang tak diinginkan." jawab Jamie.


"Banyak sekali rahasia yang kalian simpan!" gerutu Gaby.


"Makin kita tua, sangat lumrah punya banyak hal yang tersimpan rapi di dalam sekat di pikiran kita. Ada yang bisa kita ceritakan, ada pula yang pantang untuk diceritakan, demi alasan keamanan!" beber Jamie.


"Baiklah ... baiklah. Sekarang berilah penilaian yang jujur. Apakah hidupku akan jauh lebih nyaman jika pindah ke sana?" desak Gaby.


"Jika anda tidak lagi terikat dengan Martin, maka saya akan membawa anda ke sana, ketimbang tetap tinggal di kota ini yang membuat anda merasa sesak untuk bernapas!"


"Kau sangat benar. Biarkan kupikirkan malam ini. Aku sudah ingin semua kegelisahan ini berakhir besok!" tegas Gaby.


"Baiklah, Maam. Saya akan mengikuti apa yang anda putuskan. Jika ingin tetap di sini karena anda berat menjauh dari Martin, Maka saya akan membantu anda mencari flat baru. Jika anda ingin kembali padanya, maka saya tetap akan mengikuti dan menjaga anda!"


"Terima kasih, Tuan Mac Kay. Kehadiran anda sangat berarti buat saya di saat seperti ini," kata Gaby jujur.


"Ijinkan saya menjelaskan hubungan kita yang sebenarnya, Maam. Sejujurnya, saya adalah milik Tuan Scott. Dan karena mimpi anda, maka dia memindahkan kepemilikannya atas saya, pada anda. Jadi saya adalah milik anda sekarang!" jelas Jamie.


"Baik. Aku mengerti." Gaby mengangguk. "Sekarang kita kembali ke hotel. Saya akan memikirkan semuanya malam ini."


"Baik, Maam." Jamie mengangguk.

__ADS_1


******


__ADS_2