The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
Bab 79. Bergabungnya Penyihir Alba


__ADS_3

"Musnahkan kain itu dan ikut denganku!" ajak Jamie.


Oliver segera memusnahkan kain yang menyimpan jejak Gaby. Tak ada seorang pun Pelindung Highlander yang boleh menemukan, bahkan meski hanya sisanya. Kain itu terbakar dan berubah menjadi debu yang beterbangan dan hilang di udara.


Mobil Jamie segera meluncur. "Jadi memang kau yang menyembunyikannya?" selidik Oliver.


Jamie hanya diam tak menjawab. Matanya menatap jalanan dengan serius. Seperti sedang merangkai kata untuk menjelaskan pada penyihir itu.


"Sang Dewi adalah nyonyaku. Aku hanya melayaninya. Dia juga yang meminta kami untuk berdamai denganmu. Kalau tidak, aku tak sudi melepaskan empat juta dollarku darimu!" ujar Jamie ketus.


"Nyonyamu? Bukan wanitamu?" tegas Oliver. Jamie menggeleng dan tetap menatap lurus jalanan.


Kemudian dia membelokkan mobilnya ke arah lain, dan berhenti. Dia menatap tajam Oliver yang duduk di sebelah.


"Kutegaskan satu hal padamu. Jika ingin menjadi bagian dari tim, maka kau harus bersumpah menjadi orangnya. Pelayannya yang bersedia dan siap untuk melindunginya dengan nyawamu! Apa kau bersedia?"


Mata Jamie melihat menembus manik hijau mata Oliver. Menunggu jawaban pasti pria di depannya yang sedang menimbang-nimbang ucapan Jamie.


"Apa aku bisa bertemu dengannya dulu?" tawar Oliver.


Jamie menggeleng tegas. " Bahkan Stuart tak pernah lagi bertemu dengannya." Jamie menolak ide Oliver untuk bertemu Gaby.


"Kalau begitu, bagaimana aku bisa percaya bahwa dia bersamamu?" Pria tua itu bersikeras.


"Jika kau tak percaya, maka kami tak membutuhkanmu!" Jamie meraih sarung pedangnya, siap untuk mengeluarkan isinya.


"Jangan lupa surat perjanjian yang kau tanda tangani. Jika kau tak bisa menjadi bagian dari tim, maka nyawamu dan nyawa putramu tak berharga bagi kami."


"Jangan begitu. Aku hanya bertanya saja," ujar Oliver cepat. "Dan jangan pernah mengganggu putraku!" Matanya mengancam Jamie.

__ADS_1


"Pak Tua, kau sendiri yang setuju menjadikan dia jaminan pembenasanmu!" Jamie berkata lagi. Dingin dan menusuk.


Oliver merasa terjebak dan menyesal menyeret Steve ke dalam masalah."Baik! Aku bersedia menjadi pelayannya, bahkan tanpa melihat. Hanya mempercayaimu saja. Jadi jangan ganggu kehidupan putraku yang damai. Cukup diriku saja yang ikut serta dalam tim dan mengadu nyawa melindungi Nyonya!"


Oliver mengangkat tangannya saat mengucapkan kalimat itu. Tampaknya dia sudah mengangkat sumpah setia. Tapi Jamie masih belum puas dengan itu. "Jika kau berkhianat?" kejarnya.


"Jika aku berkhianat, maka jiwaku akan menjadi tawanan nyonya selamanya!" tambah Oliver.


Jamie menggeleng. "Kami tak mengerti praktek sihir, Sir. Jadi jangan bermain kata. Katakan dengan tegas, bagaimana caranya jiwamu bisa menjadi tawanan nyonya? Dan apa manfaatnya bagi kami?"


"Aku harus membuat sihir perlindungan di sekitar tempat persembunyiannya. Dan jiwaku yang akan menjaganya. Itulah tugas terakhirku. Jadi, lepaskan putraku. Dia bahkan menolak menjadi penerusku. Dia tak tahu apa-apa!" Oliver tak lupa menyisipkan bujukan untuk melepas Steve.


"Itu bukan terserah padaku. Akan kutanyakan pada nyonya, nanti." Akhirnya Jamie melunak.


"Terima kasih," sambut Oliver dengan wajah berseri. Apakah kita harus membuat perlindungan itu sekarang?" tanyanya.


"Bukankah lebih cepat akan lebih baik?" Jamie balik bertanya.


"Baik!" Jamie bersedia memberi penyihir itu waktu untuk berpamitan. Mereka memang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Gaby.


"Besok pagi kau kujemput. Tapi, berikan dulu aku satu benda yang mungkin bisa menguatkan perlindungan nyonya," pinta Jamie.


Oliver membaca mantera pada satu benda yang entah apa. Jamie sama sekali tak mengetahui apa yang ada di dalam bungkusan kain kecil dan kusam itu.


"Kau sudah sampai!"


"Baik, terima kasih. Letakkan ini di jalan masuk menuju ke tempat nyonya. Maka tempat itu tak akan terlihat oleh para pelindung lain, meskipun mereka melewatinya!"


Jamie menerima bungkusan kain yang sudah dimanterai Oliver di sepanjang jalan tadi. "Kau yakin?" Alis Jamie terangkat melihat benda kecil di tangannya. Tak masuk akal kalau itu lebih ampuh dari bilah pedang tajamnya.

__ADS_1


"Mantera itu bisa bertahan hingga satu bulan. Percayalah. Bukankah aku sudah bersumpah? Jika aku melanggarnya, maka jiwaku yang akan melindungi tempat perlindungannya!" tegas penyihir itu lagi.


"Oke!" ujar Jamie akhirnya. "Sampai jumpa besok!"


Oliver memandang mobil antik itu pergi dan menghilang dari pandangan. Dia melangkah menuju kediaman Steve dan meminta putanya segera pulang, setelah tugasnya di rumah sakit selesai.


*


*


"Ayah mempercayai mereka?" tanya Steve.


"Ya! Pria itu membawa jejak Sang Dewi dan mengatakan bahwa dia adalah pelayannya. Dan ada dua orang highlander lain yang menetap di kota ini. Termasuk salah seorang di rumah sakit yang akan mengawasimu. Jadi, tetaplah berhati-hati. Aku merasa Higlander Pelindung yang di rumah sakit itu, adalah yang berilmu tinggi. Hingga aku tak bisa menyadari keberadaanny." Oliver Stout menjelaskan.


"Tapi, jika ayah benar-benar harus bertarung dengan para highlander Pelindung itu, bukankah artinya itu pertarungan hdup dan mati?" putranya memandangnya dengan serius.


"Aku sudah terlalu tua. Kau juga. Selama ribuan tahun ini, aku bertanya-tanya apa tujuan Dewa memberiku umur sepanjang ini. Jika dengan menjadi pelayan Sang Dewi aku bisa pergi, maka aku sangat menginginkannya!" ujarnya yakin.


Steve hanya bisa diam. Dia sendiri dapat merasakan apa yang dirasakan ayahnya. Bereka sudah hidup sangat lama. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Steve adalah putra Oliver dari istrinya yang terakhir. Ayahnya telah menikah sebanyak tiga puluh kali selama hidupnya. Dan dia harus merasakan kepedihan kehilangan istri dan anak-anaknya, berkali-kali.


Steve juga merasakan hal yang sama. Itu sebabnya dia dapat memahami perasaan ayahnya. "Ijinkan aku membantu kalian. Jika dengan cara ini kita bisa menyusul orang-orang yang kita kasihi, maka aku sangat rela!" katanya.


Ayahnya menggeleng. "Tidak. Semua keturunanmu sudah meninggal. Sebaiknya kau menikah sekali lagi dan miliki keturunan sebagai penerus nama keluarga Stout, agar tak punah!" cegah Oliver.


"Aku tak ingin menurunkan kutukan ini pada putraku!" bantah Steve.


"Kukira tidak. Jika kau memang ingin ikut menjadi pelayan Sang Dewi, maka kau harus bisa menjadi bagian dalam tim pelindungnya dengan kemampuan khusus. Sementara kau bahkan menolak untuk mempelajari sihir!"


"Apa ayah lupa, saat mengatakan bahwa Sang Dewi sedang berbadan dua? Bukankah artinya aku bisa membantunya melahirkan putra penerus yang akan menjadi Highlander Pelindung paling perkasa di antara yang lainnya."

__ADS_1


Mata Oliver berbinar. "Kau benar sekali. Aku akan mengatakan hal ini pada Jamie, nanti. Pria itu tersenyum senang. Putranya ternyata memang sangat berguna.


"Ternyata semuanya sudah diatur oleh Dewa." Senyumnya.


__ADS_2