The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
91. Kecelakaan di Jalan Tol


__ADS_3

Suara rem mencicit nyaring di tengah jalan tol pagi itu, mengejutkan semua pengendara. Mobil antik itu hampir saja terguling saat direm mendadak, untuk menghindari seseorang yang berdiri di tengah jalan tanpa rasa takut.


Gaby menjerit saat mobil mereka meluncur deras keluar dari jalan. Dengan putus asa, dipeluknya Baby Keane dengan erat ke dada.


Oliver berusaha keras dengan sihirnya, melindungi mobil mereka agar tidak sampai terhempas sangat kencang di tanah.


Jamie melepaskan setir yang dipegangnya dan memeluk Gaby, untuk melindungi wanita itu dari apapun yang mungkin datang menerjang!


Martin yang menyetir mobilnya cukup dekat dengan mobil Jamie, lebih terkejut lagi. Mobilnya benar-benar lepas kendali setelah dia membanting setir ke kanan. Lalu berguling-guling keluar dari pembatas tol. Mobil itu terhempas setelah jungkir balik hingga lima kali. Kemudian berhenti cukup jauh dari jalan.


Beberapa mobil lain juga ada yang keluar dari jalur, saat mengerem mendadak dan menghindari mobil di depan yang seketika memperlambat kecepatan. Beberapa mobil bertabrakan beruntun di jam sibuk pagi itu.


Setelah beberapa saat yang menakutkan itu, tempat itu menjadi sangat sunyi. Hanya ada kepulan asap putih membubung naik dari mobil-mobil yang kini rusak parah di jalan maupun tepi hutan.


Orang yang menjadi penyebab semua itu, tak peduli. Dia melangkah menuju mobil antik Jamie. Bunyi mata pedang yang diseret di aspal, mengilukan. Namun, dia bergeming. Seringai jahat terukir jelas di wajahnya.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Oliver. Kepalanya berkunang-kunang. Akan tetapi, tiga teman satu mobilnya tak ada yang bergerak. Mereka sepertinya sedang pingsan akibat benturan ketika mobil bergulingan di tanah berumput.


Suara tangis bayi, memecah kesunyian. Oliver berusaha melepaskan diri dari tubuh Angus yang pingsan dan menimpanya.


"Tuan Mac Kay, bangun! Kekhawatiranmu benar adanya. Musuh besar kita sedang berjalan ke mari!" Oliver terus memanggil Jamie, untuk menyadarkannya.


Plak!


Oliver menampar pipi Anggus untuk menyadarkannya. Namun, hanya terdengar lenguhan dari bibir pria itu, tanpa membuka mata.


Suara tangis Baby Keane menjadi petunjuk bagi Watson. Seringai puas dan kesombongan tak ditutupinya.


"Kalian pikir bisa lari dariku, huh!" ejeknya sambil terus berjalan. Mobil yang dikendarai Jamie tinggal seratus meter lagi jaraknya. Dia ingin segera mengakhiri semua pengejaran dan membunuh bayi itu sebelum polisi ikut campur!


"Demi Tuhan. Kalian harus segera sadar!" teriak Oliver tak sabar. Dia sangat kesulitan melepaskan pelukan Jamie pada Gaby yang sangat kuat.


"Kau menyakiti Tuan Muda Keane, Jamie!" ditamparnya wajah Jamie sangat keras.

__ADS_1


"Ah! Apa? Ada apa?" Dengan tergagap dan bingung, Jamie mengusap pipinya yang terasa panas.


"Kau menamparku?" tanyanya emosi setelah menyadari asal muasal rasa panas itu. Tapi pelototan Oliver membuatnya menyadari keadaan gawat yang sedang terjadi.


"Watson! Dia yang berdiri di tengah jalan tol!" dilepaskannya Gaby dari pelukannya.


"Kau bawa Nyonya menjauh dan lindungi. Biar kuhadapi orang tak punya otak itu!" geram Jamie.


"Baik!" Oliver berusaha membuka pintu untuk keluar dari samping kiri. Dia harus berputar untuk membuka pintu Gaby yang berada di sebelah kanan.


Jamie keluar dengan tubuh terhuyung. Kepalanya mengeluarkan darah. Entah terbentur apa, ia tak tahu. Dilihatnya Watson yang sedang berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal lima puluh meter lagi.


Tanpa mengindahkan rasa sakit yang mendera, diputarinya depan mobil mobil dan membantu Oliver membawa Gaby yang pingsan, menjauh dari sana.


"Pergi!" perintahnya pada Oliver. Kemudian cepat berjongkok dan mengambil pedang panjangnya dari bawah jok mobil. Secepat itu juga dia berbalik dan menyambut Watson.


"Apa kau berkelakuan baik dan mendapatkan keringanan hukuman, Watson?" ejek Jamie. Dia yakin, Watson pasti sudah membuat kekacauan besar di tempat penahanannya, agar bisa kabur. Pedangnya sudah siap untuk menghalau pria besar dan kasar di depannya.


Dia tahu jelas. Bahwa kekuatannya sendiri jauh di bawah Watson. Ibarat semut menghadapi gajah. Namun, dia harus menghadapinya dengan teguh. Tak pernah ada kata takut dan mundur dalam kamus seorang highlander.


"Kau hanya menyerahkan nyawa secara gratis, Tuan Mac Kay!"


Watson berdiri sejarak dua meter dari Jamie. Dilihatnya dengan sudut mata, Oliver yang mendukung Gaby dengan terhuyung-huyung ke arah hutan.Senyum sinisnya muncul.


"Kau tidak takut melepaskan wanita itu ke tangan seorang penyihir?" sebelah alis Watson terangkat, ingin menilai kekuatan Jamie.


"Bukan urusanmu!" Jamie melompat cepat ke arah Watson sambil menebaskan pedang dengan sekuat tenaga.


Watson melompat menghindar. Tapi posisi mereka yang sangat dekat, membuatnya tak bisa menghindar dengan sempurna. Mata pedang Watson mengiris punggung lengan kanannya.


"Kalau bertarung, fokuslah! Aku tak mau dikira menang melawan anak kecil!" Jamie memanas-manasi pria itu agar emosi. Berharap dengan emosi memuncak, gerakannya jadi kacau.


"Aku tidak akan menolak siapapun yang menantangku!" kata Watson. Matanya menyorot dengan beringas pada Jamie.

__ADS_1


Jamie sudah kembali berdiri teguh di depan Watson. "Kau sangat pintar memutar balik fakta, Watson. Kami hanya mempertahankan diri dari kejaranmu! Bahkan seekor kelinci menolak jadi mangsa dan tetap berlari dari pemburu!"


"Cih! Tak perlu berbasa-basi. Mari kita selesaikan!" Watson mulai serius. Dia tahu, Jamie akan mengerahkan seluruh kemampuannya saat ini.


Tak butuh waktu lama, tempat sunyi itu seketika dipenuhi suara gelegar petir dan sambaran kilat akibat benturan dua pedang yang sedang saling berlaga.


Di antara mobil-mobil yang berhenti di jalan tol. Seorang pria menghubungi aparat keamanan.


"Ada kecelakaan di jalan tol. Banyak mobil terguling di tepi hutan. Tolong bawa ambulans!" ujarnya.


"Satu lagi. Sepertinya, saya melihat kilatan dan gelegar petir, seperti yang ada di acara televisi kemarin. Mungkin butuh tentara untuk mengamankan pertarungan dahsyat di sana!" lapornya lagi.


Beberapa orang mulai saling berkumpul dan menyelamatkan yang bisa diselamatkan.


Di mobil pinggir hutan, yang pertama sadar adalah Elliot. Dia meringis merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Tapi itu hanya sebentar saja. Kesadarannya pulih saat mendengar gelegar petir dan sambaran kilat yang sangat familiar. Itu pertarungan para pelindug highlander.


"Hei! Cepat bangun! Kurasa Jamie sedang bertarung dengan Watson!"


Eliot mengguncang tubuh tiga temannya, kemudian juga menyadarkan Martin yang tertelungkup du atas setir.


Elliot berhasil keluar dari mobil dan meraih pedangnya. "Kalau kalian tidak segera bangun, kami Mati!" teriaknya sambil berlari kencang ke tempat Jamie.


Seorang wanita dan pria yang berlari ke arah mereka, terkejut dan mundur saat melihat Elliot berlari seperti orang gila ke medan pertempuran yang mengerikan sambil mengacungkan pedang besarnya.


"Dia keluar dari mobil yang terguling. Apakah musuhnya adalah pria yang tertangkap kemarin? Apa mereka orang jahat?" lirih wanita itu takut, saat mendekati mobil Martin.


"Orang baik tidak akan menyebabkan kecelakaan bagi banyak orang!" timpal si pria.


"Ayo kita lihat, apakah yang di mobil itu masih sadar atau sudah tewas?" ajak si pria.


"Tuan! Apa kalian baik-baik saja?" panggil si wanita saat melihat tiga orang tergeletak di mobil daam keadaan penuh luka dan darah memercik di mana-mana.


********

__ADS_1


__ADS_2