
"Tunggu, Stuart. Ampuni dia jika menyerah," saran Jamie.
Stuart tertegun. Tubuh Mac Donnel sudah jatuh berdebum di depannya. Aksi akhir yang sangat ditunggunya jadi terlewat. Membunuh pria yang sudah jatuh, tidak terlihat keren baginya.
"Bagaimana Mac Donnel?" tanya Stuart. Dia sudah menyingkirkan pedang musuhnya sejauh mungkin.
"Aku tak sudi menyerah dan menjadi budak siapapun!" teriak Mac Donnel keras kepala.
Stuart tak punya pilihan. Dia harus menghormati harga diri yang ingin dipertahankan pria itu. Pedangnya digenggam dengan kedua tangan di depan dada. Kemudian diacungkan keatas. Kakinya sedikit menekuk, untuk membuat lompatan.
Jamie tak bisa lagi mencegah jatuhnya korban dari kebusukan Watson. Jadi dilihatnya saja Stuart yang melayang dengan pedang terhunus ke atas tubuh Mac Donnel yang sudah kehilangan tenaga.
Tak lama semuanya selesai, ditandai dengan naiknya kilatan petir dari tubuh Mac Donnel yang menyambar Stuart dan membuat tubuhnya bergetar hebat.
Di kejauhan, Oliver tersenyum tipis. Tapi dia masih tetap duduk santai sambil bersandar di batang pohon.
Setelah memakamkan kedua orang korban pertarungan itu di hutan, Jamie mengajak ketiga orang itu bergabung dengan Oliver.
"Ke marilah. Aku sudah siapkan sedikit makanan untuk kalian!" sapa Oliver ramah.
"Kau bukan Hinghlander Pelindung!" Bonnie bisa segera mengetahui hal itu.
"Aku tidak bilang seperti itu. Aku hanya teman mereka," tunjuk Oliver ke arah Jamie dan Stuart.
"Ayo duduk dan makan saja. Dia sudah menyiapkannya dengan susah payah." Jamie menghentikan apapun yang akan diucapkan Bonnie.
Angus tak banyak bicara. Dia hanya ikut menikmati burung bakar yang disodorkan Oliver.
"Kurasa kau lebih baik bersama dengan Bonnie," saran Jamie pada Stuart.
"Ya. Setelah pertarungan ini, kekuatan kami setara empat orang!" angguk Stuart setuju.
"Apa maksud kalian?" tanya Bonnie tak mengerti arah pembicaraan.
"Aku ingin melanjutkan perjalanan. Kau mau ikut?" tanya Stuart dengan bahasa lebih sederhana.
"Tentu saja. Seperti masa lalu!" angguk Bonnie senang.
"Lalu bagaimana dengannya?" tunjuk Bonnie ke arah Angus.
"Dia menyerah pada Jamie. Kau kan tahu artinya," sela Stuart.
"Oh, baiklah. Kau juga bisa bersenang-senang dengannya!" kata Bonnie pada Angus yang tak digubris sama sekali.
__ADS_1
Sebelum mereka berpisah, Oliver menyerahkan sesuatu ke tangan Stuart. "Agar aku bisa lebih mudah menemukanmu!" ujarnya.
"Oh, baiklah." Stuart tersenyum tipis menerima pemberian alat sihir Oliver.
Hatinya menjadi hangat, karena ternyata Oliver dan Jamie tidak sepenuhnya menjauhkan dirinya dari mereka. Kedatangan mereka yang tiba-tiba sebelumnya, sudah menjadi bukti bahwa Oliver dan Jamie memang mengkhawatirkannya.
Jamie, Angus dan Oliver pergi meninggalkan tepat itu dengan mobil. Mereka harus kembali ke rumah secepatnya.
"Apa semua baik-baik saja di sana?" tanya Jamie pada Martin di ponsel.
"Aman!" sahut Martin.
"Kami sedang dalam perjalanan kembali. Jangan tinggalkan rumah hingga aku kembali!" pesan Jamie.
"Oke!" jawab Martin.
Penggilan telepon itu kembali terputus. Jamie berkonsentrasi menyetir pulang.
*
*
Satu bulan berlalu. Beberapa kali mereka melakukan pertarungan melawan para highlander pelindung yang datang.
Angus bahkan sudah punya teman baru bernama Duncan Wallace yang sebelumnya juga dikalahkan oleh Jamie dan menyerah. Mereka berdua menjaga di luar kota, untuk mencegat orang-orang Scottland itu mendekati kediaman.
Dalam satu bulan ke depan, Gaby sudah akan melahirkan. Steve makin sering datang memeriksa. Biasanya dua minggu sekali, Sekarang dia datang tiap minggu ke sana bersama Martin. Dia senang saat mengetahui bawa Martin ternyata adalah suami Gaby.
Lewat ponsel, Jamie menghubungi semua anggota tim. Mereka harus membuat rencana yang matang untuk menjaga Gaby yang sudah hamil tua.
"Watson belum muncul. Aku yakin, dia akan datang tak lama lagi. Coba katakan rencana kalian untuk menghadapinya," ujar Jamie dalam rapat virtual.
"Yah, seperti biasa saja. Jika dia melewatiku, aku akan mencegatnya di sini dengan nyawaku," sahut Angus.
"Ya. Seperti itu!" Duncan menimpali. Mereka sangat percaya diri, bahwa sekarang kekuatan mereka sudah seimbang dengan Watson yang punya nama besar sebagai penjagal para highlander pelindung.
"Jangan gegabah. Dia sudah membunuh banyak diantara kita!" tegur Jamie.
"Jamie ada benarnya. Menurutku, jika dia melewati salah satu dari kita, maka yang lain harus memberi tahukan. Jadi kita bisa menghadapinya bersama-sama," saran Stuart.
"Kau ingin mengeroyoknya?" tanya Angus heran. Tak yakin jika Stuart memiliki ide seperti itu.
"Kurasa maksud Stuart bukan mengeroyok. Kita bisa hadapi dia bergantian." Bonnie menimpali.
__ADS_1
"Hahahaa ...." Duncan tertawa.
"Kau mau menunggu satu persatu dari kita mati secara bergantian di tangannya?"
"Dia hanya akan makin kuat jika seperti itu." Angus menggeleng.
"Kita akan menemukan caranya!" sahut Stuart optimis.
"Aku akan mencari cara lain. Jadi seperti saran tadi, siapapun yang dilewatinya, harus memberi tahukan pada yang lain, untuk kita hadapi bersama-sama," Jamie menengahi.
"Baik!" jawab yang lainnya setuju.
*
*
Makin dekat hari kelahiran Gaby, Martin makin sulit diusir. Dia selalu kembali saat senja setelah pulang kerja. Kekhawatiran terlihat jelas di matanya. Kadang ada pula rasa sedih di hatinya melihat Gaby bersedia berjalan-jalan di halaman bersama dokter Steve, tapi menolak jika dia yang akan menemani.
Tapi Martin tak peduli.Jika Gaby tidak berada di basement dan merasakan ketidak nyamanan dalam duduknya, maka Martun dengan cepat menyodorkan bantal atau apapun yang diinginkan istrinya.
Meskipun jengkel, tapi Gaby sudah menyerah mengusir pria keras kepala itu dari rumahnya. Terutama karena memang kadang Jamie pergi dan menitipkannya dalam penjagaan Martin.
Akhir musim panas Agustus itu, memang sangatlah panas. Namun semilir angin yang berhembus, menandakan musim gugur akan segera tiba.
Jamie sudah menambahkan pendingin udara di basement agar Gaby bisa beristirahat lebih nyaman.
"Dia datang!" Jamie terkejut mendapatkan pesan dari Duncan.
"Aku akan kabarkan pada Stuart. Bertahanlah hingga kami tiba!" perintahnya.
"Baik!"
Dengan wajah menggelap, Jamie menghubungi Stuart dan menyampaikan kabar yang didapatnya.
"Tapi Nyonya sekarang sedang dalam pemeriksaan Dokter Steve. Dia merasakan ketidak nyamanan sejak tadi malam," kata Jamie mengatakan situasinya.
"Aku dan Bonnie akan mendukung Duncan dan Angus. Kau jaga Nyonya. Mungkin waktunya sudah tiba!" Stuart memutuskan dengan cepat.
"Oke. Berhati-hatilah!" pesan Jamie.
Di rumah itu, Martin yang paling gelisah. Dia ingin berada di dekat Gaby dan mendampinginya melahirkan. Tapi Gaby menolak dan mengusirnya dengan marah. Akhirnya pria itu hanya bisa mondar-mandir seperti setrika panas di ruang tamu.
Oliver juga senewen melihat sikap Martin. "Duduklah. Kau membuatku sakit kepala!" tegurnya.
__ADS_1
Di basement, Dokter Steve dibantu Jamie mencoba memandu Gaby yang ternyata memang sudah akan melahirkan.
*********