
"Tak perlu berbasa-basi. Apa kalian juga ingin mencari Sang Dewi?" tanya Mac Donnel.
"Tidak! Aku sedang berlibur dan menikmati alam, di sini!" jawab Stuart. "Apa kalian datang karena informasi yang disebarkan Watson?" tanyanya balik.
"Kau sungguh tidak tertarik pada Sang Dewi?" tanya Drummond tak percaya.
Stuart menggeleng. Dia menambahkan api agar perapian bisa menyala lebih terang.
"Dia sudah pernah bertemu dengan Sang Dewi saat di Glasgow!"
Stuart terkejut Bonnie mengatakan hal itu pada tiga orang di depannya.
"Untuk apa kau mengatakan hal itu?" bisik Stuart tak senang. Dia tahu orang-orang itu tidak akan puas hanya dengan jawaban seperti itu.
"Aku hanya mengatakan apa yang kau katakan!" Bonnie mengedikkan bahu. Tak mengerti kenapa Stuart tak senang.
"Hah ...." Stuart menyerah. Bonnie memang punya kelebihan di wajah. Namun, tidak otaknya.
"Apakah dia wanita yang sangat cantik?" Kali ini Angus Kennedy yang bertanya. Peia itu kelihatannya tertarik dengan informasi Bonnie
"Hemm ...." Stuart memejamkan matanya seolah sedang mengingat Gaby. Tapi kemudian dia menggeleng,
"Dia tidak cantik?" Drummond bertanya dengan cepat saat melihat gelengan kepala Stuart.
"Aku tidak bilang begitu. Cantik itu relatif. Hanya saja, bukan type wanita yang akan kukejar hingga mengadu nyawa!" jelas Stuart terus terang.
Kemudain suara tawa meledak di malam yang pekat itu. "Hahaaa ...."
"Siapa yang tak mengetahui kisah cintamu yang tragis itu. Kurasa kau sudah kena kutukannya, hingga tak bisa jatuh cinta lagi!" Mac Donnel menimpali.
Kembali suara tawa memecah keheningan malam.
"Kalau kalian memang bukan ingin mencari Sang Dewi, maka kami tak perlu menantang kalian bertarung." Angus menjelaskan.
"Kalian hendak mencarinya?" selidik Stuart.
"Untuk apa kami datang ke negri jauh ini jika bukan dengan tujuan itu?" timpal Drummond.
"Lalu kalian akan saling bertarung dengan yang lain, hingga tinggal salah satu dari kalian." Stuart memberikan prediksinya.
Angus Kennedy mengangguk membenarkan.
Stuart menggeleng dan melanjutkan penjelasannya. "Setelah itu, Watson akan menantang yang tersisa. Dan akhirnya dialah yang mendapatkan Sang Dewi dan menjadi Highlander Pelindung satu-satunya di tanah Scotland!" ketus Stuart. Dia berusaha mempengaruhi orang-orang yang datang itu.
__ADS_1
Empat orang lain di situ terdiam mendengarnya. Penjelasa Stuart ada benarnya. "Dia mengadu domba kita?" ulang Elliot.
"Iya, Bonnie. Dia yang akan mengambil keuntungan dari situasi ini." Stuart mengangguk meyakinkan.
"Kurasa kau benar. Kabar yang kudapat, dia masih berada di Isle of Skye." Drommond menambahkan.
"Kurasa, dia sedang tertawa sambil minum beer di sana, melihat kebodohan kalian!" ejek Stuart.
"Hati-hati dengan kata-katamu Tuan Grant!" Angus menatap tajam. Kilatan cahaya kayu yang terbakar, terpantul di matanya yang kelabu.
Stuart diam. Dia tak ingin bertarung malam ini. Jika bisa membuat mereka kembali ke Scotland tanpa pertumpahan darah, bukankah itu lebih baik.
"Aku lapar. Apa kalian punya makanan?" Tiba-tiba Mac Donnel mengalihkan pembicaraan.
"Aku hanya punya sedikit bekal." Stuart mengeluarkan bungkusan daging dari dalam tasnya. Diserahkannya semua itu pada ketiga orang yang baru datang.
"Bagaimana dengan sarapan kita besok pagi?" protes Elliot.
"Bukankah di hutan banyak makanan. Kenapa kita tidak berburu saja besok pagi?" saran Stuart.
"Kau memang seorang Highlander sejati! Kita akan berburu bersama besok pagi!" Drummond setuju.
Bonnie tak bisa lagi protes melihat bekal daging yang disimpan Stuart dipotong habis oleh ketiga orang itu tanpa membaginya untuk mereka berdua.
Lambat laun suasana hutan kembali hening. Kelima orang itu sudah tertidur kelelahan. Tapi Stuart tetap waspada. Dia tak percaya begitu saja bahwa keempat orang yang bersamanya itu benar-benar akan meninggalkan perburuan Gaby.
Jika memang harus, maka dia akan bertarung melawan mereka semua yang masih ingin memburu Gaby. Menghalangi siapapun yang datang untuk mengganggu Gaby, adalah tugasnya.
*
*****
Malam itu, Oliver melakukan ritual memasang tabir pelindung dengan mantera-mantera sihir di sekitar kediaman Gaby. Dia membuatnya berlapis-lapis, karena yang tinggal di area itu bukan hanya Gaby dan Jamie. Ada juga tetangga peternak lain di sekitar mereka.
Sebuah tirai dengan beragam simbol menjadi satu, melindungi tempat itu. Jangkauannya jauh lebih luas dari yang sebelumnya.
Jamie hanya memandang ke langit. Melihat cahaya kuning keemasan bergerak teratur. Oliver duduk di tangga beranda paling atas, sedang mengangkat tangan dan mengucapkan banyak kata yang tak dimengerti Jamie.
Semua ritual itu selesai setelah lewat tengah malam. Keduanya beristirahat. Jamie masuk ke dalam rumah, sementara Oliver menjaga di beranda
Beberapa kali matanya membuka dan menajamkan pandang untuk melihat sekitar. Tapi hingga pagi hari, tak ada apapun yang terjadi.
"Aku akan pergi ke arah sana. Kurasa, temanmu sedang mengalami kesulitan sekarang!"
__ADS_1
"Teman? Siapa?" tanya Jamie heran.
"Kau yang harus mengatakannya, Tuan Mac Kay. Kau sendiri yang tahu siapa teman-teman satu timmu!" ketus Oliver.
Jamie terdiam. "Apakah Martin?" Jamie mengamati arah yang ditunjukkan Oliver. Itu bukan arah ke kota.
"Stuart?" gumamnya.
"Ayo cepat!" Oliver melompati anak tangga dan bergegas naik ke dalam mobil, menunggu Jamie mengantarnya.
"Aku tak bisa meninggalkan Nyonya sendirian!" tolak Jamie tegas.
"Stuart tahu apa yang dihadapinya dan mengetahui resikonya juga!" tambahnya lagi.
"Tidak jika dia dikeroyok beberapa orang!" teriak Oliver.
Mata Jamie terbuka lebar. Itu hal yang tidak diduganya. Biasanya para Pelindung itu akan bertarung satu lawan satu. Bagaimana bisa Stuart dikeroyok? Tapi dia segera melompat ke mobil setelah meraih pedang di dekat pintu. "Ayo!"
Sambil meluncur di jalan, Jamie menghubungi Martin. "Kau harus ke sini dan jaga Nyonya!" perintahnya.
Ponsel dimatikan setelah mendapat jawaban iya dari Martin.
"Itu temanmu yang lain?" selidk Oliver ingin tahu.
"Kau tak perlu tahu!" hardik Jamie kesal. Ini di luar perkiraannya. Meninggalkan Gaby hanya dalam pengawasan Martin, tetap sangat mencemaskan hatinya.
"Belok ke sana!" Oliver memandu Jamie mengemudikan arah mobilnya. Mereka sudah berada di perbatasan kota lain.
"Ini terlalu jauh. Sebenarnya di mana dia!" tanya Jamie tak sabar.
"Tak jauh lagi," jawab Oliver sambil memejamkan mata. Dahinya mengerut dalam.
"Apa yang terjadi padanya!" tanya Jamie kasar, saat melihat kerutan dan wajah muram pria tua itu.
"Kemudikan mobil ini dengan benar! Cepatlah sedikit!"
Setelah Oliver usai bicara, Jamie akhirnya bisa merasakan kehadiran Highlander pelindung lain di sekitarnya. Itu artinya Stuart tidak jauh lagi. Sekarang dia hanya mengikuti panduan insting menuju ke sana.
Dari kejauhan terdengar gelegar petir serta kilat yang saling menyambar di dalam hutan. Setelah mobil berhenti, Jamie segera melompat turun. Oliver benar, dia dapat merasakan kehadiran Stuart dan orang-orang lain di sana. Seperti terbang dia berlari melewati batang-batang pohon ke tengah hutan.
"Wah ... ternyata ada yang ingin bergabung dalam kesenangan ini."
Jamie dapat melihat rambut Elliot Kerr sedang dijambak oleh Drummond dan Stuart bertarung mati-matian melawan Angus dan Mac Donnel.
__ADS_1
********