The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
41. Pertarungan


__ADS_3

Tuan Scott keluar rumah. Tanah sangat becek kasena diguyur hujan terlalu lama. Dia melangkah menjauhi rumah menuju tepian tebing. Memandang lembah hijau di bawahnya. Seluas mata memandang, adalah keindahan yang tak dapat dilukiskan.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Gaby kasar.


Tuan Scott berbalik. "Aku minta maaf. Aku sungguh tidak tau apa yang terjadi!" Tuan Scott berusaha meyakinkan Gaby bahwa apa yang dikatakannya benar. Tapi wanita itu tak mempercayainya. Wajah marahnya menunjukkan hal itu.


Gaby melangkah kembali ke rumah, kemudian naik ke loteng. Dia mengambili semua barang miliknya kemudian turun ke bawah dan langsung keluar.


Tuan Scott yang masih di pinggir tebing, terheran-heran melihatnya berjalan ke arah kedatangan mereka kemarin.


"Kau mau ke mana?" Tuan Scott mengejar Gaby yang berjalan tergesa.


Wanita muda itu tak peduli. Dia tak menoleh sama sekali. Dia hanya ingin pergi dari sana. Menjauh dari Tuan Scott. Kemudian dia menemukan bekas jalan yang sedikit dikeraskan. Dia berbelok ke arah sana.


"Kau mau ke mana? Jangan pergi ke sana, bahaya!" teriak Tuan Scott yang masih lari mengejar.


Gaby mempercepat langkahnya untuk memperbesar jarak antara dirinya dan Tuan Scott. Kakinya setengah berlari saat melihat dinding batu bangunan lain di ujung pandangannya.


"Stop! Jangan ke sana! Bahaya!"Tuan Scott kembali memperingatkan.


Dua orang itu saling berkejaran. Gaby baru berhenti saat melihat seseorang berdiri di ujung jalan berbatu yang sudah dipenuhi rumput.


Tuan Scott mempercepat larinya saat merasakan sesuatu. Dia sudah mulai mendekati Gaby, saat wanita itu ditarik dengan kasar oleh pria tinggi besar yang mengenakan kilt. Gaby dipanggul di bahu dengan mudahnya.


Suara jeritan Gaby menimbulkan kemarahan di hatinya.


"Lepaskan! Dia wanitaku!" teriak Tuan Scott.


"Dia sendiri yang berlari padaku. Mungkin dia sudah bosan denganmu!" ejek orang itu dalam bahasa Scott,


Tuan Scott Scott meletakkan tangan di pinggang, bermaksud ingin mengambil pisau besarnya. Dalam tradisi mereka, perselisihan wanita hanya bisa diselesaikan dengan bertarung. Tapi dia lupa bahwa sejak nenek mengambil pisau dan pedang, kedua benda itu belum dikembalikan padanya.


"Sial!" umpatnya.


"Hei, raksasa. Mari kita bertarung!" tantang Tuan Scott. Dia meraih batang kayu bekas pagar yang patah di pinggir. Kemudian berancang-ancang.

__ADS_1


"Gaby, Kembalilah ke rumah nenek! Ambil pedang atau pisauku!" perintah Tuan Scott.


"Kau pikir sepotong kayu bisa menghentikanku?" ejeknya. Dia berjalan pergi sambil memanggul Gaby di pundak. Wanita muda itu bergerak-gerak ingin melepaskan diri.


"Lepaskan!"


Teriakannya seperti angin lalu. Pukulan tangan Gaby seperti sebuah sentuhan di punggung pria raksasa itu. Dia terkekeh-kekeh di sepanjang jalan.


Tuan Scott tak tinggal diam. Dia berlari mengejar, kemudian melompat dan memukulkan kayu yang dipegangnya sekuat tenaga ke pinggang pria yang membawa Gaby.


Hal itu berhasil menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memandang Tuan Scott dengan pandangan marah.


"Kau sangat ingin dipukuli, Nak?" tanyanya. wajahnya masam sekarang.


"Kembalikan dia padaku, maka kita tak punya urusan apa pun lagi," bujuk Tuan Scott.


"Kau sangat percaya diri," ejek raksasa itu,


"Kau mengambilnya, jadi aku harus mempertahankannya. Ayo!" Tuan Scott tak lagi berbasa-basi. Kakinya sudah membentuk kuda-kuda. Batang kayu yang diambilnya tadi, dipegang dengan mantap di tangan kanan.


"Jika kau memang cari mati, baiklah. Ayo!" Pria itu menurunkan Gaby dan diletakkan di belakangnya.


"Oke!" jawab Gaby. Kali ini, dia sudah mengetahui bahwa adalah sebuah kesalahan jika wanita berlari sendirian di tempat asing dan liar.


Tuan Scott mulai menyerang pria itu, untuk memberi Gaby kesempatan melarikan diri. Pria raksasa itu menyambut serangan Tuan Scott yang tidaklah main-main. Mereka mulai bertrung dengan sungguh-sungguh. Dalam satu kesempatan, Gaby berhasil melarikan diri dari pengawasan pria yang tadi menahannya.


"Hati-hati, Tuan Scott," teriaknya sambil berlari kencang.


"Panggil nenekku!" teriaknya.


"Ya!" balas Gaby dari kejauhan.


Pria besar itu sangat marah menyaksikan tawanannya lepas dari tangan. Tangannya melayang, memukul Tuan Scott dengan telak. Pria itu terlempar ke belakang. Tulang bahunya bergeser akibat pukulan dan kayu yang dipegangnya terlepas.


Pria raksasa itu tertawa mengejek. "Dengan kemampuan seperti itu, tak heran wanitamu kabur!" ejeknya.

__ADS_1


"Diam kau!" Tuan Scott memaksa menggeser kembali posisi lengannya. dan dia menjerit keras.


"Aaaaaaaaa!"


Wajahnya memerah penuh bintik keringat, di udara yang dingin. Tangannya sangat nyeri. Tapi pertarungan sudah dimulai. Maka ini harus dilanjutkan sampai selesai.


Diraihnya kayu yang jatuh dengan tangan kiri, Sementara tangan kanannya yang cedera menggantung dan bergoyang tiap kali tubuhnya bergerak. Nyeri yang tak tertahankan mendera seluruh inderanya.


"Mari kita lanjutkan!" ujar Tuan Scott. Dia tak terlalu khawatir, karena pria yang di depannya bukanlah seorang guardian. Dia hanya perlu menghadapinya dengan sungguh-sungguh dan membuatnya babak belur!


Mereka berdua kembali bertarung. Tuan Scott masih lumayan lincah dan bisa melompat untuk memukul bagian punggung pria tinggi besar itu.


"Aarghhh!" teriakan pria itu terdengar mengerikan.


Tuan Scott terus memukulinya tanpa ampun dan berhasil membuatnya sangat marah. Pra itu kembali menghadapi Tuan Scott dan mengabaikan rasa sakit yang dialaminya. Diaraihnya juga sepotong kayu lain yang tergeletak dekat runtuhan pagar. Sekarang keduanya punya senjata dan telah imbang, karena mengalami rasa sakit yang sama hebatnya.


Keduanya saling mengacungkan kayu yang dipegang, kemudian kembali bertarung lagi. Pukulan-pukulan pria besar itu sangat bertenaga. Ototnya yang besar jadi kelebihannya. Tuan Scott sudah berkali-kali kena hantaman batang kayu itu.


Pandangannya mulai berkunang-kunang. Kayu di tangannya bahkan sudah lepas entah kapan. Dia sudah siap menerima pukulan lain, saat suara marah neneknya terdengar dan pria besar itu terbang jauh entah mendarat di mana.


Kesadarannya hilang dan tubuhnya ambruk. Tapi seulas senyuman tipis terukir di bibirnya. "Dia kembali untukku. Syukurlah," batinnya.


"Wingnut!" seru wanita tua itu. tapi Tuan Scott sudah tak dapat mendengar suara panggilan neneknya. Dia sudah pingsan.


Tubuhnya melayang, dibawa kembali ke rumah nenek. Sementara itu, Gaby melihat keadaan pria itu dengan perasaan bersalah. "Dia kembali menyelamatkanku," batinnya.


Nenek memandang Gaby dengan tajam dan menyalahkan. DIa sangat kuatir melihat keadaan Tuan Scott, tapi nenek tua itu tak mengijinkannya melihat caranya mengobati. Gaby menunggu di loteng dan hanya mendengar teriakan demi teriakan Tuan Scott.


"Apa yang sudah kulakukan?" pikir Gaby.


"Tapi aku juga tak salah marah padanya karena mengambil kesempatan saat aku tertidur!" bantahnya sendiri.


"Bukankah dia sudah mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Dan mungkin saja sihir danau itu masih terus mengikuti kami berdua," gumamnya lagi.


"Mungkinkah hal yang seperti itu nyata di dunia? Adakah hal-hal mistis dan sihir di dunia ini?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Tak lama. teriakan Tuan Scott terhenti dari lantai bawah. Dia pingsan lagi setelah nenek memperbaiki posisi lengannya kembali seperti semula.


********


__ADS_2