
"Oh, Jadi kalian adalah pembantu Sang Dewi? Bagaimana rasanya membunuh yang lain?" tanya Watson.
Dia tak mengira bahwa para highlander pelindung yang datang dari Scottland justru menjadi pelayan wanita yang diburunya.
"Kurasa, kau yang paling tahu rasanya membunuhi orang lain tanpa alasan jelas!" sahut Duncan pedas.
"Oh, lalu kau punya alasan mulia?" ejek Watson.
"Apa kau tahu? Jika Sang Dewi tidak dibunuh, maka putranya itu akan menjadi yang terkuat di antara kita. Lalu menjadi pembunuh nomor satu, dan menjadi Highlander Pelindung satu-satunya! Kau tak takut jika dia meminta nyawamu?" ujar Watson.
"Bullshit! Hentikan semua omong kosongmu. Kau hanya takut anak itu membalaskan dendam padamu atas kematian Tuan Scott Sutherland!" balas Angus sengit.
"Hahaa .... Andai pun dia lahir, perkiraanku dia masihlah seorang bayi. Bahkan jika dia sudah remaja, aku masih bukan tandingannya! Hanya dengan menjentikkan jari saja, dia akan menyusul ayahnya!" balas Watson sombong. Sedikit jengkel karena tak dapat mempengaruhi dua orang di depannya itu untuk bersama-sama memburu Sang Dewi.
"Sebaiknya kau kembali saja ke Scottland. Persiapkan dirimu untuk menerima pembalasannya secara jantan!" saran Duncan.
"Jangan terlalu percaya diri. Apa kau pikir dia tak akan membunuhmu?" Watson masih mencoba mempengaruhi Duncan.
"Seorang tuan yang baik tidak akan membunuh orang-orangnya! Dia membutuhkan kami untuk melatihnya menjadi seorang Highlander Pelindung yang tangguh dan siap untuk mencarimu!" balas Angus teguh.
Watson mengalihkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Suasana pinggir kota yang sepi dikelilingi hutan kecil, membuat instingnya makin tajam dan dapat menyadari bahwa ada highlander pelindung lain yang sedang menuju ke arah mereka.
Tiba-tiba dia tertawa mengejek, "Hahahaa .... Kalian memanggil teman-teman yang lain?"
Duncan dan Angus senang karena Stuart dan Elliot Kerr akan segera tiba.
"Pilihanmu hanya dua. Kembali ke Scottland dan tunggu dia datang mencarimu setelah dewasa. Atau, kau harus menghadapi kami semua!" tegas Angus.
"Kau mengatakannya dengan sangat bergaya. Hahahaa ...." Watson kembali tertawa mengejek Angus untuk memancing emosinya.
Akan tetapi, Angus bergeming. Dia tetap tenang dan menatap Watson dengan pandangan menusuk tajam.
__ADS_1
"Pengaruhmu tak berlaku bagi kami." Duncan berkata sinis.
"Jangan buang waktu kami yang berharga. Segeralah buat keputusan!" desaknya tak sabar.
"Kusarankan kalian menghadapiku bersama-sama. Aku tak ingin disebut sebagai orang yang tidak adil oleh generasi penerus kita," ujar Watson congkak.
"Oh ya, satu lagi. Ucapkan salam perpisahan pada orang-orang yang kalian cintai, agar tak mati penasaran!" ejeknya lagi diiringi tawa keras.
Wajah Duncan sudah mulai memerah. Melihat temannya terpancing emosi, Angus meminta Duncan untuk menunggu kedatangan Stuart serta Elliot.
Meskipun kesal, Duncan mematuhi perintah Duncan. Dia berjalan menjauhi dua orang itu dan menghubungi Jamie.
"Dia memancing emosiku! Bagaimana dengan Nyonya?"
Lama menunggu balasan Jamie yang tak kunjung datang, Duncan akhirnya melihat mobil Stuart mendekat. "Semoga tim ini mampu menahan pria sombong itu. Setidaknya bisa memberi cukup waktu bagi Nyonya untuk melahirkan dengan aman," harapnya dalam hati.
"Bagaimana?" Elliot bertanya pada Duncan, begitu dia turun dari mobil.
"Dia? Orang yang amat sangat arogan. Membuatku ingin muntah mendengar omong kosongnya!" kesal Duncan.
"Mari kita ke sana," ajak Stuart.
Tiga orang itu berjalan mendekati Watson dan Angus yang berhadapan dengan pandangan yang saling menilai.
"Demi nama baikmu. Kusarankan kau kembali ke Scottland dan menunggu anak itu dewasa. Kemudian, lakukan pertandingan ulang. Jika kau memang sehebat yang kau katakan, kau tak akan mengejar wanita lemah dan sedang hamil!" sindir Stuart pedas.
"Aku lebih suka membersihkan rumput sebelum dia membesar, ketimbang membiarkannya tumbuh liar dan mengotori halamanku!" jawab Watson ngotot.
"Kalau begitu, kami tak punya pilihan selain menyingkirkanmu!"
Ucapan Stuart adalah aba-aba bagi ketiga temannya. Mereka melingkari Watson dengan pedang terhunus.
__ADS_1
"Kalian sudah siap mengantar nyawa? Ayo!" Watson senang melihat keempat orang itu akhirnya akan memulai pertarungan. Dia sudah bosan menghabiskan waktu berbasa-basi.
"Belum tahu siapa yang akan mengantar nyawa!" dengus Elliot muak.
"Apa kau tak takut ketampananmu itu berakhir, Bonnie?" ledek Watson memancing kemarahan Eliot.
Dan itu berhasil. Elliot langsung meradang dan melompat ke arah Watson sambil menebaskan pedangnya.
"Jangan pernah memanggilku Bonnie!" teriaknya murka.
Pertarungan akhirnya resmi dimulai. Angus yang berada di sisi berlawanan, mengganggu konsentrasi Watson saat dia ingin membalas menebaskan pedang ke arah Elliot. Stuart dan Duncan juga bergantian menyerang Watson dari sisi lain.
Keempat orang itu bergerak bergantian dan menyerang secara simultan. Mendesak Watson dan menahannya jangan sampai mendapat kesempatan menyerang salah seorang di antara mereka.
Akibat kerja sama yang kompak dari keempat orang itu, Watson tak mendapat satu kali pun kesempatan untuk mengayunkan pedang dengan benar. Dia dipaksa untuk menangkis setiap serangan yang dilakukan secara bergantian oleh empat musuhnya itu.
*
*
Oliver yang mulai cemas, ketularan senewen dan berputar-putar mengikuti Martin. Dia dapat merasakan ketegangan yang sedang dihadapi empat anggota tim mereka. Selain itu, dia juga merasakan kecemasan yang dirasakan Martin.
"Apa yang harus kulakukan untuk membantu mereka?" gumamnya terus menerus.
"Kau tak perlu turun membantu. DI bawah sana akan makin sempit jika kau ikut turun juga," cegah Martin.
"Apa?" tanya Oliver bingung, tak tahu arah pembicaraan pria itu.
"Hah ... Kau yang bicara, kau juga yang bertanya!" kesal Martin.
"Oh .... Aku sedang cemas dengan empat Highlander Pelindung yang sedang bertarung itu." Oliver menggelengkan kepalanya. Firasatnya mengatakan kalau Watson memang sangat hebat. Bahkan meskipun harus menghadapi empat lawan sekaligus, dia belum tentu akan kalah!
__ADS_1
********