
"Aku tak mengira kalau sekarang aturan pertarungan para highlander pelindung berubah." Jamie mengeluarkan pedang panjangnya.
"Rasanya menyenangkan untuk bermain keroyokan seperti anak kecil, bukan?" ejeknya, Kakinya melangkah makin dekat dengan arena pertarungan itu.
Beberapa pohon bertumbangan dan rumput sekitar sudah hangus terbakar di sana sini, bahkan di dahan, daun-daunnya sudah menghitam dan siap untuk luruh ke bumi saat diterpa angin.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jamie pada Stuart.
"Senang melihatmu muncul, Tuan Mac Kay. Kuharap kau bisa ikut serta dalam permainan para highlander!" ajak Stuart.
"Hemm ... Terlihat menarik. Baik, aku ingin ikut serta dalam keramaian ini. Tapi tidak dengan pertarungan anak kecil begini. Mari kita gunakan aturan lama."
Usai berkata begitu, Jamie sudah mengangkat pedang dan menghadapi Angus. "Aku lawanmu!" tantangnya,
Pertarungan sengit kembali dimulai. Di sisi lain, Elliot Kerr mendapat kesempatan bernapas saat Jamie datang tadi. Rambutnya yang panjang berkibar, lepas dari pegangan Drummond. Sekarang dia mengikatnya dan siap menghadapi pria kasar itu.
"Kau harus membayar sikap kekanakanmu itu!" dengusnya marah. Tangannya mengacungkan pedang peraknya yang berkilat tajam.
"Kau akan menyesal sudah menantangku, pria pesolek!" teriak Drummond emosi. Dia langsung melompat seperti terbang ke arah pria yang ketampanannya membuat iri hampir semua highlander pelindung.
Dari kejauhan, Oliver melihat pertarungan dengan khawatir. Meskipun ketiganya kini bertarung dengan adil satu lawan satu, namun seingatnya, pertarungan seperti ini bukanlah pertarungan pendek. Mereka telah terobsesi menyelesaikan masalah dengan pedang hingga salah satu mati.
"Ah, kenapa rasa lapar muncul di saat seperti ini? Oliver melihat ke sekitarnya. Dia tak punya bekal makanan apapun.
Setelah yakin tak ada orang yang mengetahui keberadaannya, Oliver membaca beberapa mantera. Tiba-tiba seekor burung jatuh dari atas, tepat di hadapannya. Senyumnya merekah. Dengan menjetikkan jari, muncullah api yang digunakannya untuk membakar kayu-kayu yang terserak.
Satu jam berlalu. Pertarungan makin bertambah seru. Oliver menontonnya sambil sesekali menggigit daging burung yang dipanggang seadanya.
"Kau burung yang sudah sangat tua. Dagingmu keras!" nyinyirnya sambil terus mengunyah.
*
*
__ADS_1
Dua jam kemudian.
Jamie sudah mendapatkan banyak luka di sekujur tubuhnya. Darah mengalir seperti anak air. Begitupun lawannya Angus Kennedy yang tak bisa disebut beruntung. Berkali-kali dia dipermainkan oleh Jamie.
Jamie bisa saja memenangkan pertarungan lebih cepat jika mau. Tapi dia tak punya niat membunuh siapapun. Jika mereka bisa diajak bekerja sama dalam tim yang melindungi Gaby, bukankah itu lebih baik!
"Aku akan mengampunimu jika kau menyerah kalah!" bujuk Jamie sekali lagi.
"Aku tak sudi menjadi pelayanmu!" teriak Angus murka. Dengan sempoyongan, diangkatnya kembali pedang berat dan besar miliknya. Diayunkan pada Jamie yang menangkis dengan sigap.
"Keras kepala! Sekarang ini kau juga menjadi budak orang lain, tanpa kau menyadarinya!" balas Jamie. Keduanya kembali bertarung.
Tiba-tiba kilatan petir disertai gelegarnya, naik ke langit. Oliver yang bersandar di batang pohon sambil memejamkan mata, langsung duduk dengan tegak.
"Siapa yang mati?" gumamnya. Matanya dapat melihat bayangan seseorang sedang diselubungi oleh kilatan cahaya disertai sambaran petir di sekelilingnya.
Empat orang lain terpaksa menghentikan pertarungan dan menjauh dari sambaran petir yang berbahaya. Pertarungan terpaksa dihentikan sementara.
Bonnie yang jatuh terduduk setelah menerima begitu banyak sambaran petir tadi, masih menjawab di antara deru napasnya yang kacau. "Aye!" ¹)
Empat orang lain dapat melihat tubuh Drummond yang sudah kehilangan nyawa, tergeletak di tanah dengan pedang Bonnie menancap dijantungnya.
"Apa kalian ingin melanjutkan pertarungan?" Stuart sudah mengangkat pedangnya lagi. Melihat kemenangan Bonnie dan kehadiran Jamie, rasa optimis menghinggapi dirinya dan yakin dapat mengalahkan Mac Donnel.
"Biar aku yang menghadapinya!"
Bonnie kembali berdiri. Dia terlihat sangat segar dan seluruh luka di tubuhnya sudah menghilang, akibat perpindahan kemampuan Drummond yang diterimanya lewat sambaran petir tadi. Sekarang dia menjadi lebih kuat dua kali lipat dari sebelumnya.
Mac Donnel mundur selangkah. Dengan kemampuan berlipat seperti itu, maka Bonnie bukan lagi tandingannya.
"Hei, jangan lari kau! Aku juga mau mendapatkan kekuatanmu! Siapa tadi yang merasa sangat hebat dan menyeroyokku seperti pengecut!" Teriak Stuart tak senang melihat musuhnya hendak lari dari gelanggang.
"Diam di tempatmu, Bonnie!" Jamie ikut memperingatkan pria yang sedang merasakan euforia kemenangan itu. Dirinya dan Stuart harus mengalahkan lawan masing-masing dengan adil.
__ADS_1
"Mari kita lanjutkan!" Jamie kembali bersiap menghadapi Angus.
Tiba-tiba pedang pria itu dijatuhkan ke tanah dan tubuhnya berlutut. Jamie menyepak jauh pedang itu agar tak mudah dijangkau lagi oleh Angus. Dia masih tetap waspada. Tak yakin bahwa pria itu tak akan berlaku curang.
Mac Donnel terkejut melihat Angus yang jatuh terduduk di tanah. Tubuhnya yang dipenuhi luka di sana sini, membuatnya terlihat seperti monster merah yang teronggok di tanah kotor.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Mac Donnel tak percaya.
Dengan napas tersengal, Angus menjawab. "Stuart benar, kita yang bodoh mau diperalat Watson!"
Angus mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Drummond yang sudah tak bernyawa. Pria itu adalah teman lamanya. Mereka sering bertarung bersama dalam banyak perang, sejak resmi menjadi seorang highlander pelindung, karena klan mereka saling bersekutu dan bekerja sama.
"Aku akan menguburkan Drummond!" Angus tak peduli dengan protes Mac Donnel yang terkenal keras kepala.
Setelah menemukan kesungguhan di mata Angus, Jamie membiarkannya. Diambilnya pedang Angus dan duduk memperhatikan pria itu memeriksa tubuh Drummond.
"Bagaimana denganmu!" tanya Stuart tajam ke arah Mac Donnel. Pedangnya masih belum puas menyayat tubuh pria yang tadi mengeroyoknya bersama dengan Angus.
Dan seperti yang dapat diduga, pertarungan kembali berlanjut antara Stuart dan Mac Donnel yang tak sudi menyerah begitu saja. Pria itu masih merasa bahwa kemampuannya dan Stuart seimbang. Dia tak menyadari bahwa Stuart bukanlah pria yang lemah. Dia hanya terlalu cinta damai dan mengira semua bisa diselesaikan dengan bicara.
Bonnie tersenyum melihat gaya bertarung Stuart yang mulai berubah serius. Itulah Stuart yang sebenarnya. Ahli pedang kenamaan dari Glasgow. Sayangnya Mac Donnel tak mengetahui hal itu.
Dalam pertarungan kali ini, Mac Donnel benar-benar didesak dan tak diberi kesempatan membalas sedikitpun. Dia kerepotan menangkis mata pedang Stuart yang seperti punya mata. Pijar-pijar api disertai gelegar petir tercipta setiap kali mata pedang mereka bertemu.
Dalam satu jam, Mac Donnel belum sekalipun melakukan serangan balik pada Stuart. Tubuhnya mengalami banyak luka sayat dan tusukan. Bahkan dia dapat merasakan ginjal kirinya robek di dalam. Dan hal itu benar-benar melemahkannya.
Hingga satu ketika, kaki Mac Donnel berhasil dijegal oleh Stuart hingga tubuhnya limbung di udara ke arah musuhnya. Stuart siap melompat untuk menebas lawan tandingnya itu. Pedang sudah diacungkan tinggi dan kaki kirinya menekuk, siap menyambut kedatangan Mac Donnel.
*******
Keterangan:
¹) Aye \= yes, iya.
__ADS_1