
Dokter Steve melihat kotak kaca tempat obat, yang dipegangnya. Akhirnya diambilnya satu pil.
"Ini untuk Anda, Nyonya. Mungkin ini bisa segera mengembalikan tenaga Anda yang terkuras kemarin." Diserahkannya satu pil itu ke tangan Gaby.
"Kupikir, memang sebaiknya begitu. Karena kita harus segera pergi dari sini, sebelum Watson benar-benar lepas dari kepungan tentara." Duncan menyetujui tindakan Steve.
"Baik. Terima kasih." Gaby meminum pilnya tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Duncan mengambilkan air minum, agar pil itu mudah ditelan.
"Lalu bagaimana sekarang?" Gaby benar-benar sudah duduk tegak sekarang. Dia hanya tidur sekitar satu jam saja malam ini. Meski mengantuk, tapi keselamatan lebih penting.
"Saya bisa mengantar sebagian ke bandara," sahut dokter Steve cepat. "Atau, bergantian saja. Sebab, mobil itu tak akan muat jika diisi semua orang," tambahnya lagi.
"Mereka bagaimana?" Mata Gaby mengarah pada empat orang yang belum sadarkan diri.
"Saya akan menemani Anda ke bandara dan mencari tiket. Biar Duncan menjaga mereka di sini, sampai Dokter Steve menjemput." usul Stuart.
"Bawa serta ayahku dengan nyonya," tambah Steve. Stuart mengangguk.
"Oke. Aku akan menunggu di sini." Duncan setuju.
"Semoga mereka bertiga bisa sadar lebih cepat," harapnya.
"Baik. Ayolah." Gaby mempersiapkan Baby Keane untuk berangkat dini hari itu.
Gaby sudah merasa jengkel, karena terus dikejar seperti buruan. Hanya karena ingat bahwa dirinya dan Baby Keane sangat lemah, makanya dia setuju untuk terus sembunyi dan melarikan diri.
"Pak tua. Jika kau ingin mencari penjahat, maka carilah berita. Pria yang ditahan pihak militer itulah penjahatnya. Dia ingin membunuh Nyonya serta Tuan Muda kami!"
Stuart melihat ke arah pria brewok itu dan membungkuk sedikit. "Terima kasih untuk kebaikan anda menerima kami beristirahat."
__ADS_1
Tommy sudah duduk di lantai. Dia mengangguk pada Stuart dan melihat tiga orang tamunya pergi sambil membopong tubuh salah seorang yang pingsan.
Kemudian dilihatnya Duncan yang duduk tenang menyandar tembok, di sebelah tiga temannya yang masih terbaring. Pria garang itu memejamkan mata, seolah tak peduli apapun. Seakan semua hal yang terjadi, sudah biasa dihadapinya.
Tommy tak tahu saja, bahwa Duncan masih sangat waspada, meskipun terlihat sedang tidur sambil duduk. Beruntung bagi Tommy, tidak mulai mencari gara-gara lagi sepanjang malam.
*
***
"Ahh ...." Terdengar suara keluhan Oliver dari kursi di sebelah Steve.
"Ayah sudah sadar?" tanya Steve sambil terus menyetir.
Mata Oliver terbuka perlahan. Dilihatnya Steve sedang menyetir dalam gelapnya malam. "Mau ke mana kita?" tanyanya heran.
"Mau ke bandara. Apa Ayah bisa mengingat kejadian sebelum pingsan?" tanya Steve khawatir.
"Jangan terlalu berisik. Nyonya sedang istirahat," tegur Stuart.
Oliver melihat ke jok belakang. Ada Stuart dan Gaby serta Baby Keane.
"Bagaimana dengan Jamie dan yang lainnya?" tanyanya heran. Jamie dan yang lain tidak ada bersama mereka.
"Masih di rumah tua do hutan itu." Steve menyahuti. "Mobilku tak akan muat diisi oleh empat orang lagi!"
"Oh. Jadi nanti kau akan menjemput mereka lagi." Oliver mengerti sekarang.
Steve mengangguk. "Bagaimana kondisi ayah sekarang? Oh ya. Ini sisa obat yang kubuat. Ayah simpan saja."
__ADS_1
Oliver menerima kotak obat dari putranya. "Kau dikaruniai otak yang cemerlang dan ingatan kuat." pujinya.
Diciumnya bau pil dari ramuan yang dulu diajarkannya itu. "Ini hasil yang bagus. Jika kau tekuni resep pembuatan obat yang kuberikan, kau bisa jadi tabib terkenal, tanpa perlu bekerja di rumah sakit!" dengus Oliver tak senang.
"Ayah ... pembahasan tentang itu sudah lama selesai. Aku suka dengan pekerjaanku." Steve menegur Oliver yang terus saja mengungkit kisah lama.
"Yaahh ... setidaknya, cari murid yang bisa menurunkan ilmu meracik obat. Jadi, tidak sia-sia keahlian ibumu. Dia adalah tabib ternama di masanya." Oliver tampak merenung. Mengingat istri terakhirnya yang sudah meninggal lebih dulu.
Steve diam saja. Dia sendiri juga tak mengerti, kenapa tidak tertarik untuk melanjutkan keahlian sihir Oliver. Ataupun, kemampuan ibunya yang dulu adalah tabib terkenal.
"Ibu tak pernah melarangku jadi dokter!" kenang Steve.
"Itu karena dia mencintaimu. Meskipun sedih, dia tak mengatakannya." Oliver menambahkan. Matanya menatap lurus jalan yang terlihat makin terang.
"Kita hampir sampai bandara," cetus Stuart.
Tak lama, mobil berhenti. Para penumpangnya turun. Saya kembali, Nyonya," pamit Steve.
"Tunggu!" cegah Gaby.
"Bagaimana keadaan Martin?" tanya Gaby akhirnya.
"Dia dioperasi malam ini. Tulang rusuknya patah dan sedikit melukai hati. Setelah selesai mengantar semua orang, saya akan menjenguknya di rumah sakit. Tak ada satu dokter pun yang menghubungi saya lagi. Itu artinya kondisinya tidak mengkhawatirkan!" Steve menenangkan Gaby dengan informasi tambahan itu.
"Baik. Terima kasih untuk bantuan Anda, Dokter Steve." Gaby mengulas senyum pada dokter di depannya.
Steve pergi, dan Oliver mencari tiket pesawat untuk penerbangan pukul lima pagi. Mereka harus menunggu yang lain berkumpul, baru pergi.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Semoga para tentara itu masih bisa menahan Watson sampai pagi nanti.
__ADS_1
******