
Masa berkabung dicukupkan Gaby selama seminggu saja. Dia menyiapkan hatinya, lebih menguatkannya lagi. Gaby harus tegar, demi calon putra mereka.
"Aku akan menjaga putra kita dengan baik. Dia akan membalaskan kematianmu saat dia dewasa nanti," sumpah Gaby sambil memandang foto Tuan Scott.
Air matanya sudah kering. Dia tak mau berlarut-larut bersedih yang mungkin dapat mempengaruhi calon bayinya.
"Saya sudah siapkan sarapan, Maam." Jamie menyapa Gabie yang keluar dari kamarnya.
Gaby berjalan menuju pantry dan mengambil sarapannya. Kemudian piring dan gelas dia bawa ke beranda dan menikmati sarapannya di bawah siraman cahaya matahari yang hangat.
Halaman sudah dipenuhi salju tebal. Udara yg dingin diabaikannya. Dinikmatinya sarapannya dalam kesunyian.
Jamie memasangkan selimut hangat di punggung Gaby, lalu meninggalkannya sendiri.
"Saya akan mengurus domba-domba kita, Maam. Jangan berlama-lama di luar. Tak baik untuk kehamilan anda," pesan Jamie saat menuruni tangga beranda.
"Terima kasih, Tuan Mac Kay." Gaby mengangguk.
*****
"Bagaimana dengan buku yang kukirimkan minggu lalu? Apa kau menyukainya?" tanya Gaby pada Farah.
"Buku yang bagus. Redaksi sedang membahasnya. Jika semua urusan administrasi selesai, maka aku akan mengirimkan surat kontraknya ke alamatmu. Dapatkah kau berikan alamatmu yang baru padaku?"
Gaby menghela napas. Permintaan Farah adalah hal yang wajar sebagai editornya. Namun Farah juga teman baik Martin. Pria itu bisa mendapatkan alamatnya dari Farah.
Martin masih terus menolak permohonan perceraian yang diajukannya lewat pengacara.
"Gaby ... apa kau masih di sana?"
Panggilan Farah menyadarkan lamunan Gaby. "Ya. Baik, akan kukirimkan alamatku padamu. Terima kasih, Farah." Gaby memutuskan panggilan telepon mereka.
Dengan cepat jemarinya mengetikkan alamat mereka sekarang. Dia tak boleh terganggu dengan segala hal tentang Martin. Keputusan sudah dibuat, dan tak ada jalan untuk kembali.
Kehamilan Gaby memasuki bulan ke lima. Musim semi sudah menjelang. Tubuhnya membesar. Hari-hari dilaluinya dengan gembira.
"Tuan Mac Kay, kurasa kita harus ke kota dan mulai mempersiapkan tanah pertanian. Aku ingin menanam beberapa macam sayur, di tempat yang sudah disiapkan Tuan Scott."
__ADS_1
"Baik, Maam. Kita bisa ke kota sekarang. Lebih awal pergi, lebih awal kita kembali," saran Jamie.
"Ayo!" ajak Gaby. Dia berdiri dan beranjak ke kamar.
"Jangan lupakan scarf anda, Maam. Hari masih sangat dingin di luar." Jamie mengingatkan.
"Mari kita berangkat, Tuan Mac Kay." Gaby telah memakai scarf rajut tebal di leher, menutupi coat panjangnya yang hangat.
"Topi anda, Maam." Jamie menyodorkan topi pada Gaby.
"Kau membuatku terlihat semakin bulat, Tuan Mac Kay." Gaby terkekeh geli. Tapi dia tetap mengenakan topi yang diberikan Jamie.
Keduanya berkendara di jalanan yang basah karena mencairnya salju di mana-mana. Jamie membawa mobil antik itu dengan hati-hati. Tak boleh terjadi sesuatu apapun pada Nyonya Mudanya.
Mereka berhenti di toko pertanian. Jamie mengambil apapun yang ditunjuk dan diinginkan Gaby. Dia bahkan menyarankan beberapa belanja tambahan untuk melengkapi kebutuhan pertanian mereka.
"Saya rasa, lebih baik kita sekalian mampir berbelanja kebutuhan rumah, jika anda setuju, Maam." Jamie meminta pertimbangan Gaby.
"Oke!" Gaby mengangguk setuju. Dia masuk mobil dan membiarkan Jamie mengurus apa-apa yang tadi dibelinya di toko pertanian.
"Kau semakin cantik dari terakhir kali kulihat. Apakah kehamilan membuatmu sangat bahagia?" gumamnya.
Pria itu memutar mobil dan mengikuti mobil Gaby dari jarak yang cukup, untuk menghindari kecurigaan Jamie yang selalu waspada.
Dia tetap menunggu dengan sabar ketika Gaby kembali turun di depan toko serba ada bersama Jamie.
Tak sampai satu jam, Gaby sudah kembali dan Jamie mendorong trolley belanja ke dekat mobil mereka untuk memuat isinya. Sementara Gaby sudah duduk di mobil untuk mengistirahatkan kakinya yang mulai gampang lelah.
Pria itu kembali mengikuti mobil yang dikemudikan Jamie. Makin ke pinggir kota dan melewati desa pertanian, pria itu makin memperjauh jaraknya dari mobil Gaby. Dia tak ingin disalah pahami oleh kedua orang itu.
Hingga sampai pada satu persimpangan, Dia kehilangan jejak keduanya. Dia tak tau mau memilih jalan yang mana. Mobil itu menepi. Dibukanya lagi catatan yang dimilikinya dan petunjuk yang didapat sebelumnya.
"Moga-moga benar," batinnya. Mobil itu kembali bergerak dan kali ini dia berbelok ke arah kanan. Dengan perlahan, sambil menikmati suasana, dia menyetir. Tanah pertanian yang masih basah setelah cairnya salju, sudah mulai diolah oleh para petani.
Suara mesin traktor besar terdengar dari tengah ladang pertanian yang tanahnya sedang digemburkan. Aroma tanah basah yang dibalik, sangat khas dan menenangkan.
"Tempat yang sangat tepat untuk menenangkan diri," gumam pria itu. Dia memandang hamparan tanah pertanian kosong dan sangat luas di sepanjang jalan.
__ADS_1
"Menurut beberapa orang yang kutanya, tempatnya dekat ke pinggir hutan. Aku belum melihat tepi hutan sepanjang jalan ini. Apakah dia memang sengaja mencari tempat yang sangat terpencil?"
"Benarkah cerita yang dikatakannya pada Farah waktu itu bahwa dia dikejar-kejar oleh para highlander?" gumamnya sembari terus memperhatikan jalan.
"Seharusnya aku tak pernah mengijinkannya pergi liburan ke Scottland," sesalnya dalam hati.
Satu jam berkendara melewati tanah pertanian, pria itu akhirnya melihat barisan pohon di kejauhan. "Batas hutan!" lirihnya dengan hati lega. Dia sudah khawatir salah mengambil arah.
Diperhatikannya jalanan untuk menemukan persimpangan menuju kediaman Gaby yang jauh tersembunyi.
Setengah jam kemudian dia baru menemukan jalan yang dimaksud dalam alamat yang diberikan oleh Farah. Dibawanya mobil itu berbelok ke kiri, menyusuri jalan kecil yang bukan merupakan jalan umum.
Perlahan-lahan dia melintas sambil melihat ke kiri dan kanan. Mencari nomor rumah yang harusnya mudah dilihat. Mobilnya makin jauh melintasi jalan kecil dan sudah melewati beberapa kediaman lain. Tapi dia belum menemukan nomer rumah Gaby.
Di depannya ada aliran sungai kecil yang tidak diberi jembatan. Jalan kecil tepi hutan tampaknya berhenti sampai di sana. Meskipun dapat dilihatnya di seberang aliran air itu seperti sebuah jalan, namun hatinya meragu. Apakah membawa mobilnya terus maju, atau kembali saja.
Seorang petani muncul dari seberang aliran air itu dengan motornya yang sudah dimodifikasi untuk membawa beberapa peralatan pertanian di bagian belakang. Pria itu memundurkan mobil, agar kendaraan dari seberang bisa lewat di sampingnya.
"Hallo Tuan, Saya ingin menanyakan alamat ini." Pria itu menunjukkan alamat yang berikan Farah.
"Anda mencari siapa?" tanya orang itu setelah membaca alamat yang tertera di kertas yang disodorkan padanya.
"Gaby dan Jamie Mac Kay," jawab pria itu cepat, untuk menghapus kecurigaan. Orang-orang di pedesaan biasanya lebih protektif pada lingkungannya.
"Betul di jalan ini. Anda masuk saja terus. Rumah Tuan Mac Kay yang paling ujung," jawab orang itu. Kemudian dia berlalu.
Pria itu lega karena dia tak salah mengambil jalan. "Sepertinya kediaman itu sengaja dibuat di tempat yang tak terduga," gumamnya.
"Untuk menghindari pengejar?" pikirnya lagi. Sekarang dia ikut khawatir. Jika Gaby memilih tinggal terpencil, itu artinya keselamatan dirinya dan calon bayinya benar-benar dalam ancaman. Pria itu melihat cermin di mobil dan mengamati bagian belakang mobil, khawatir jika ada yang membuntutinya ke tempat Gaby.
Mobil itu terus berjalan dan melewati satu rumah peternakan domba. Pemandangan di tempat itu tak kalah indah. Tanah lapang yang masih basah kehitaman, dipenuhi domba putih yang berlarian dengan riang.
Ada barisan pohon apel di sisi kiri yang membatasi area pertanian dengan peternakan itu.
"Tempat yang sangat tepat untuk bersembunyi sekaligus membesarkan seorang anak," gumamnya. Hingga kemudian matanya tertumbuk pada kotak surat dengan angka yang sejak tadi dicari-carinya. Mobil itu berhenti.
******
__ADS_1