The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
7. Scott


__ADS_3

"Ah ... maksudku, ini buku-buku langka. Umumnya akan jadi koleksi terbatas di perpustakaan, atau jadi benda yang sangat berharga bagi sebuah musium." jelas Gaby.


Pria itu hanya tersenyum. Namaku Scott. Kau pasti orang baru di kota ini. Jadi kau boleh melihat-lihat atau membacanya, jika suka," tawarnya ramah.


"Kau tahu aku orang baru. Apa kau tak takut kalau aku membawanya pulang?" tanya Gaby heran.


Pria itu tertawa ringan. Tawanya begitu ringan, hampir seperti irama nyanyian alam yang terbawa angin. "Kau boleh mencobanya kalau penasaran, hahaa ...."


Gaby sedikit terpesona mendengarnya. Tapi dia cepat-cepat mengalihkan perhatian pada deretan rak yang dipenuhi buku hingga batas plafon.


"Aku ingin melihat-lihat dulu," dia menjelaskan tanpa diminta.


"Silakan. Jika kau bersedia, nanti sore akan ada diskusi tentang novel yang baru diluncurkan. Penulisnya berkenan untuk memberikan tanda tangan untuk pembeli di sini, dan juga buku gratis bagi yang mengikuti diskusi," pria itu memberikan penawaran yang mengejutkan Gaby.


"Apakah seperti itu cara yang dilakukan oleh penulis agar lebih dikenal dan memiliki pembaca setia?" pikirnya.

__ADS_1


"Jam berapa acaranya?" tanya Gaby tertarik. Dia bukan tertarik pada novel baru yang belum dibacanya itu, tapi ingin tahu bagaimana jalannya diskusi berbalut promosi di toko buku ini.


"Pukul lima sore, Jangan khawatir ketinggalan waktu teh sore Anda, kami akan menyediakan teh lezat di sini."


Pria menjawab pertanyaan Gaby dengan sangat lancar. Tanda toko ini sudah sangat sering melakukan diskusi semacam itu.


"Oke. Semoga aku bisa menyempatkan datang pada jam segitu. Karena aku belum berkeliling kota cantik ini."


Gaby memberi sedikit alasan agar dia tak terkesan mengharapkan buku gratis ataupun teh sore khas Inggris yang ditawarkan tadi.


"Tentu. Silakan nikmati waktu liburan Anda," ujarnya sopan, mengakhiri basa-basi antara penjual dan calon pelanggannya.


Tangan Gaby meraih buku tentang sejarah Skotlandia. Buku itu sedikit berbeda dengan yang dibelinya di toko bandara, yang lebih terfokus pada promosi wisata. Dibuku ini, dijelaskan sedikit tentang sejarah kerajaan Skotland, tentang para pahlawannya, tentang bahasa asli yang sudah punah, juga nama-nama klan penduduk asli tanah ini.


Gaby membaca nama-nama klan tersebut, kemudian ingat sesuatu. "Hebat, dia ternyata bagian dari klan asli Skotland," batin Gaby.

__ADS_1


Diliriknya pria pemilik toko yang sedang berbincang dengan seorang pria di dekat rak buku lain.


Rasanya cukup pagi ini. Dia ingin melihat suasana di luar dulu, agar bisa kembali jam lima untuk mengikuti diskusi buku baru.


Gaby meletakkan buku yang dipegangnya kembali ke rak. Tampaknya buku itu memang boleh dibaca. Karena ada beberapa buku yang tadi dibeli plastik pembungkus, jadi tentu tak bisa dibuka dan dibaca sebelum beli.


Gaby keluar dari toko. Dipintu keluar, pelayan berujar ramah dan tersenyum. "Have a nice day!"


"Terima kasih." Gaby balas tersenyum, kemudian keluar dan menapaki dua undakan tangga di depan pintu masuk.


Gaby mengambil jalan berbelok, dan melewati toko ponsel di sebelah, Matanya sudah berbinar- binar melihat bangunan-bangunan cantik di sepanjang jalan itu. Bangunan khas abad pertengahan yang masih terawat baik dan kini berubah jadi pusat bisnis.


Gadis itu berjalan makin jauh, mengikuti kakinya melangkah. Kameranya tak henti-henti mengambil gambar di spot-spot bagus dan iconik.


Kaki yang lelah dan perut lapar, menghentikan petualangannya siang itu. Dia mencari cafe untuk beristirahat sejenak.

__ADS_1



*******


__ADS_2