The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
40. Kenangan Masa Kecil


__ADS_3

Seharian mereka tak bisa ke mana-mana. Hujan deras turun mengguyur bumi, setelah cuaca mendung yang lama. Nenek membuka buku tua besar yang dimilikinya dan membaca di tengah rumah yang diterangi oleh lilin dari lemak binatang. Gaby dan Tuan Scott tak diijinkan mendekati tempat wanita tua itu duduk membaca.


Sebelum hari makin gelap, Tuan Scott berinisiatif membuatkan makan malam untuk mereka bertiga. Gaby yang merasa tak enak duduk berpangku tangan, ikut membantu.


Nenek tua itu sesekali melirik dan mengamati sepasang Guardian dan Aine yang berbincang sambil masak dekat perapian. Dahinya sedikit mengerut dan pandangan tak suka terpancar di matanya ke arah Gaby. Namun tak lama kemudian dia menggeleng dan menghembuskan napas panjang.


"Mow, makanan sudah matang. Sebaiknya makan dulu," ujar Tuan Scott.


Nenek tua itu mengangguk, melipat buku, dan menaruhnya kembali di rak tinggi dengan melambaikan tangannya. Tuan Scott mengangkat mangkuk makanan dan piring tembikar yang mereka punya untuk digunakan makan malam. Gaby ikut membantu. Kemudian mereka duduk bertiga mengelilingi meja.


Nenek Tuan Scott mengangkat sendok pertama dan mulai mengambil makanan, kemudian membaginya pada semua orang secara adil. Dan adil menurutnya adalah memberi bagian terbanyak untuk cucunya.


Mereka makan tanpa suara. Setelah selesai, nenek berdiri dan mengambil dua botol minuman. Satu botol dituang berdua untuk Tuan Scott dan Gaby. Satu botol yang tinggal setengah, dituang untuk dirinya sendiri. Diangkatnya cangkir ke depan wajahnya.


"Mari bersulang untuk merayakan kembalinya cucuku. Semoga berumur panjang dan punya banyak keturunan!" ujarnya, lalu menghabiskan isi cangkirnya dalam sekali tegukan.


Melihat Tuan Scott dan Gaby belum meminum minuman mereka, matanya menatap lekat. Kau tak mau doaku lagi?" tanyanya tajam.


"Ayo minum. Ini Scott Uisge," ¹) ujar Tuan Scott. Dia meminumnya dengan sekali teguk pula. Gaby mengikuti. Tak lama, keduanya terbatuk-batuk.


"Mow, rasanya sangat buruk!" protes Tuan Scott,


"Hanya ini yang aku punya," jawab neneknya tak peduli. Wanita itu kembali mengambil botol lain dan menuang ke gelasnya sendiri. Dia ingin menuang ke gelas Gaby, tapi wanita itu menolak. Dia kapok meminum minuman entah apa yang sangat disukai oleh nenek Tuan Scott.


"Aku akan membereskan kamar ayahmu, untuk kalian tempati," ujarnya sambil berdiri, setelah menghabiskan minuman dari cangkir keduanya.


Tuan Scott tidak mencegah neneknya melakukan itu. Bagaimanapun, Gaby memang butuh istirahat. Dilihatnya wanita tua itu menaiki tangga kayu menuju loteng yang dulu pernah menjadi kamar ayahnya saat masih muda.

__ADS_1


"Kalian bisa beristirahat. Aku akan menyelesai membaca buku itu. Jika tidak bertemu, maka aku harus bertanya pada yang lain," ujarnya.


Tuan Scott mengantar Gaby naik ke loteng rumah. Hanya ada satu kamar di situ. Dilengkapi tempat tidur tua dan penutup yang tak kalah usang.


"Mungkin bukan penginapan mewah seperti yang kau mau. Tapi kau bisa tidur dengan aman dan hangat di sini."


Kata-kata Tuan Scott seperti penghiburan dan bujukan di telinga Gaby. "Tak apa. Sudah bagus kita punya tempat berteduh. Bukankah berada di rumah keluarga akan jauh lebih aman ketimbang di alam liar?" timpal Gaby tenang.


"Kau juga harus beristirahat. Mungkin kita akan harus menempuh jalan jauh untuk bisa kembali," sarannya.


"Aku akan menemanimu di sini," angguk Tuan Scott. Gaby membagi satu selimut untuk Tuan Scott agar bisa jadi alas tidurnya di lantai kayu. Keduanya beristirahat.


"Bagaimana jika nenekku tak menemukan jalan kembali ke masa kita?" tanya Tuan Scott.


Gaby terdiam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan itu. "Aku mau kita bisa kembali. Tidak ada kata 'jika tak bisa', Tuan Scott!" tegasnya.


Sementara itu, di lantai bawah, nenek tua itu melakukan ritual sihir dengan peralatannya, setelah menutup buku yang dibacanya sejak sore tadi.


Di tengah malam gelap, dalam rintik hujan yang tersisa, seberkas cahaya kemerahan redup, terpancar dari jendela loteng sebuah rumah batu di daerah terpencil.


Di jendela bawah, lilin yang terbuat dari lemak hewan, bergoyang-goyang ditiup angin yang berhasil menerobos masuk melalui celah jendela. Angin utara yang membekukan menjelang masuknya musim dingin.


Seorang wanita tua setengah terpejam, merapal mantra. Api lilin bergoyang, meliuk ke kanan dan kiri, seirama pendaran cahaya dari jendela di loteng.


*


*

__ADS_1


Udara pagi yang dingin, mengundang rasa malas untuk bangun dari tempat tidur yang hangat. Namun perlahan kesadaran menghampiri. Gaby merasakan beban berat menindih tubuhnya. Matanya terbuka. Kemudian membelalak lebar.


"Apa yang sebenarnya terjadi? pikirnya. Dia dan Tuan Scott kembali berpelukan dalam keadaan polos.


"Turun!" sentak Gaby kasar. Tuan Scot membuka matanya karena terkejut. Dan lebih terkejut lagi saat menyadari posisi mereka berdua. Dia segera berdiri gelapan.


"Kau mengambil keuntungan dariku, Tuan Scott. Aku tak suka itu!" mata Gaby menatap tajam ke arah pria itu.


"Aku tidak---" Ucapannya tak diselesaikannya. Tuan Scott sedikit bingung. Dia yakin tidak minum wiskey yang diberikan neneknya sampai mabuk. Wiskey itu terlalu tak enak untuk bisa membuatnya menambah gelas kedua. Dia menggelengkan kepala.


"Biar kutanyakan pada nenek. Apakah mungkin sihir dari danau itu masih terus mengikuti kita," kata Tuan Scott sambil merapikan pakaiannya.


"Jangan pakai banyak alasan sihir dari danau, Tuan Scott!" Gaby masih tak bergerak dari tempat tidur. Wajahnya memerah dan menatap marah pada pria itu. Kedua tangannya menutupkan selimut ke tubuhnya.


Tuan Scott tak menggubris kemarahan Gaby. Dia turun dengan cepat ke lantai bawah. Baru saja dia ingin memanggil wanita tua itu, tapi dibatalkannya, saat melihatnya tebaring di bangku kayu panjang, dengan buku terbuka diletakkan di dada.


Rasa iba, membuat dia mengambil selimut untuk menyelimuti wanita tua itu. Kemudian duduk di bangku dan memperhatikan. "Apakah selama ini dia duduk sendiriran seperti ini? Alangkah kesepiannya," pikir Tuan Scott sedih.


Dia ingat, saat pertama kali datang ke rumah ini. Neneknya juga hampir setua ini. Saat itu usianya baru lima tahun dan kakeknya masih hidup. mereka berdua begitu menyayanginya dan menjulukinya Wingnut, karena telinganya terlihat besar, sementara tubuhnya kurus.


Kedua kali datang ke sini, adalah saat berita neneknya dibakar oleh orang-orang yang memiliki agama baru yang dibawa oleh orang-orang Romawi. Dia masih bisa melihat pandangan cinta dan sayang di mata tua itu. Tak merasa takut sedikitpun, meski telah diikat pada tiang yang dikelilingi tumpukan kayu.


Tuan Scott ingat, dia menjerit-jerit keras dan memanggil neneknya. Dia masih bisa melihat gerak bibir wanita tua itu, mengatakan dia sangat menyayangi Scott. Dan senyum itu tak dapat dilupakannya. Seperti peritiwa itu baru saja terjadi kemarin.


"Sedang apa kau di sini!" tegur Gaby. Dia masih tampak marah. Tuan Scott mengangkat jari di bibir, meminta wanita itu tidak membuat keributan.


"Mari kita bicara di luar. Nenek sedang tidur!" ajak Tuan Scott. Gaby mendengus sebal.

__ADS_1


*********


__ADS_2