The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
100. Tommy


__ADS_3

"Jangan!" teriak Gaby.


Bruk!


Sebuah kepalan tangan melayang dan memukul kepala pria brewok itu hingga membuatnya jatuh ke lantai.


"Seorang pria tinggi dan berbadan tegap penuh luka, menatapnya tajam, seakan siap menerkam.


"Beraninya kau!" teriak pria brewok itu marah. Dia langsung bangkit dari jatuhnya dan berjongkok. Kemudian menarik pistol dari pinggang. Diarahkannya senjata itu pada Duncan yang berdiri menjulang.


"Kami hanya menumpang istirahat, tidak mengganggumu. Kenapa kau ingin mengganggu kami!" tanya Duncan tajam.


"Kau bukan orang Amerika!" Kalimat itu yang terucap dari bibir pria brewok setelah mendengar kata-kata yang diucapkan Duncan.


"Kalian pasti imigran illegal!" tuduh pria itu lagi.


"Kurasa kau sedikit tidak waras!" celetuk Gaby dari belakang. Pria brewok itu sedikit melupakan Gaby yang duduk dekat perapian.


"Aku orang Amerika!" tegas Gaby. "Mereka pengawalku!" jelasnya tanpa diminta.


"Oh ...." Pria brewok itu kehabisan kata yang bisa digunakan untuk menuduh dua tamu tak diundang itu. Namun, pistolnya tetap diarahkan pada Duncan dengan kewaspadaan tinggi.


"Aku tak punya makanan!" ujar pria itu selanjutnya. "Jadi sebaiknya kalian segera pergi setelah beristirahat!" tambahnya dengan suara ketus.


"Dan kau ...." pistolnya yang mengarah pada Duncan digerakkan, untuk menunjuknya. "Kau jangan macam-macam. Aku tak takut untuk menembakmu!" ancamnya.


Duncan berjalan ke arah Gaby dan melewatinya. Membuat pria brewok itu bergeser dari tempatnya berdiri, mengikuti arah Duncan berpindah sambil tetap mengacungkan pistol.


Baby Keane menangis mendengar keributan dan suara keras pria itu. Gaby membujuknya dengan terus menyusui. Tapi dia memang lapar. Air susunya seperti tidak dapat memuaskan bayi mungil itu lagi.


"Kau membawa bayi? Bayi siapa yang kalian culik?" Pria brewok itu kembali membuat keributan tak jelas.


"Diam!" bentak Duncan dengan pandangan tajam menusuk. "Kurasa kau harus segera memeriksakan otakmu, Pak Tua. Ucapanmu selalu kacau!" tegur Duncan kesal.


"Apakah di sini tidak ada air?" tanya Gaby membuyarkan perang mulut dan tanding tatapan tajam antara Duncan dan Pria brewok itu.


"Tak ada!" jawab pria itu tanpa berkedip.

__ADS_1


"Sebentar saya ambilkan, Nyonya." Duncan mendelik pada pria itu. Jelas dia sangat jengkel pada si tuan rumah.


"Semua yang ada di rumah ini, milikku! Tidak ada apapun untuk kalian!" teriak orang itu meradang, saat melihat Dunca mengetahui di mana dia menyimpan air minum.


"Hidupmu jadi sempit karena begitu pelit. Pantas saja kau dikucilkan dan tinggal sendirian di tengah hutan!" ejek Duncan sinis.


"Ini air minum Anda, Nyonya." Duncan menyodorkan cangkir berisi air pada Gaby. Gaby meminum air yang disodorkan Duncan. Perutnya terasa sedikit nyaman sekarang.


"Terima kasih untuk airnya," kata Gaby ke arah pria brewok itu.


"Huh! Pengawalmu bermulut pedas, Nyonya!" ujar pria itu bersungut-sungut.


"Tolong ijinkan kami beristirahat sebentar. Kami tidak akan mengganggu Anda, Tuan," kata Gaby dengan suara tenang.


"Kalian sudah masuk dan tak bisa diusir. Memangnya aku bisa apa!" gerutu pemilik rumah itu lagi.


Gaby tersenyum mendengarnya. "Saya Gaby. Anda siapa?" tanya Gaby setelah memperkenalkan diri.


"Saya Tommy, Nyonya." Pria itu membalas Gaby dengan sopan pula. Namun, sudut matanya tetap mengawasi apa yang sedang dilakukan Duncan.


Tak lama kemudian, Stuart kembali. "Saya menemukan ini di hutan, Nyonya." Pria itu mengangkat sesuatu di tangannya.


Wajah Tommy yang terkejut terlihat sangat jelas. Dia sungguh tak mengira bahwa ada pengawal Gaby yang lain di luar rumah dan sedang berburu.


"Oh. Apa kau pemilik rumah ini? Jika kau begitu pelitnya, maka kau tak akan mendapat bagian dari ini!" balas Stuart ketus.


"Binatang apa itu?" tanya Gaby, Dia tak bisa menebak binatang apa yang dibawa Stuart. Binatang itu sudah dibersihkan dan ditusuk dengan kayu, siap untuk dipanggang.


"Rusa kecil, Nyonya. Saya bawa bagian paha ke atas saja. Yang lain, bagian binatang hutan lainnya," jawab Stuart.


"Rru-sa?" Mata Tommy membulat. Apakah kulitnya coklat?" tanya pria itu dengan tampang nestapa.


"Bukankah rusa memang berkulit cokelat?" Duncan yang menjawab.


"Dia temanku. Kau memotong temanku!" Sinar mata Tommy antara sedih dan marah. Dia jadi terlihat sangat horor.


"Kau ... berteman dengan rusa?" Duncan menatap pria itu dengan ekspresi aneh.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang bisa jadi temanku di hutan ini!" bentaknya marah.


Baby Keane kembali menangis karena terkejut. "Tak bisakah kau bicara dengan nada biasa saja?" Stuart tak bisa menahan diri lagi dengan pria itu.


"Kau tak perlu ikut makan kalau begitu! Duncan, ikat dan bawa dia ke ruangan lain. Berisik sekali!" perintah Stuart.


"Oke!" Duncan berdiri dan mencari-cari tali untuk mengikat Tommy.


"Jangan macam-macam! Atau kutembak!" Tommy kembali mengacungkan pistol ke arah Duncan.


"Kau hanya bisa mengancam, Pak Tua!" Duncan akhirnya kesal juga. Di tendangnya tangan Tommy dengan cepat, sebelum sempat meletuskan peluru. Pria itu tertelentang di lantai, dengan tangan sakit.


"Satu hal yang harus kau ingat. Jika tak punya nyali untuk menembak orang, jangan pernah mengacungkan pistol!" Duncan menyeretnya ke ruangan lain yang ada di sana.


Rumah itu kembali tenang, setelah teriakan parau Tommy di ruangan itu diabaikan beberapa lama.


Di luar, langit mulai senja. Harum daging panggang mulai menguar dan membuat perut terasa sangat lapar.


"Jangan lupa membagi Tommy. Dia juga pasti sangat lapar," saran Gaby saat Stuart memberinya piring berisi irisan daging panggang.


"Baik, Nyonya," sahut Stuart.


"Kuharap, Martin baik-baik saja. Apakah kalian membawa ponsel?" tanya Gaby.


Stuart dan Duncan meraba saku masing-masing, lalu menggeleng. "Entah jatuh di mana," gumam Duncan.


"Lalu, bagaimana kita menghubungi Dokter Steve?" Gaby menggelengkan kepala. Tak seorang pun dari mereka yang ingat hal itu.


"Semoga dia datang besok pagi, Nyonya. Tuan Oliver butuh obatnya. Dan hanya Dokter Steve yang mengetahui ramuannya." Stuart menimpali.


"Kuharap Martin baik-baik saja," lirih Gaby.


Duncan dan Stuart hanya mengangguk setuju. Keduanya tak tahu harus menimpali seperti apa. Keadaan sedang sangat sulit untuk Gaby. Baru sehari melahirkan, sudah harus melarikan diri. Namun, itu pun tidak berjalan mulus.


"Setelah makan, sebaiknya Anda beristirahat, Nyonya. Anda terlihat sangat letih. Maafkan kami yang tidak dapat melindungi Anda dengan baik," Stuart terlihat sangat menyesal. Pria tangguh itu menunduk dalam.


"Tidak! Kalian sudah melakukan yang terbaik dan berkorban untukku. Aku merasa sangat beruntung mengenal kalian semua. Terima kasih untuk semua usaha kalian selama ini," ujar Gaby tulus.

__ADS_1


Lalu pandangannya mengarah pada empat orang yang sedang tergeletak di lantai.


"Bagaimana dengan mereka?" tanyanya.


__ADS_2