The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
14. Berdarah Scotland


__ADS_3

Dokter tua itu mengawasi Gaby sambil menyipitkan mata. "Kau benar, dia pasti bertemu hantu yang menyerupai salah satu dari kita!" ujarnya santai dan kembali mengalihkan perhatiannya pada papan catur.


Emily bertindak cepat. Dia membimbing Gaby duduk, menyodorkan secangkir teh hangat untuk mengembalikan kesadarannya.


"Aku bertemu denganmu di taman, Tuan Thompson!" ujar Gaby setengah berteriak.


Dokter pensiunan itu terkejut. "Aku kalah bermain catur tiga set di sini. Bagaimana aku bisa ke taman jika belum membalas kekalahan ini?" jelasnya.


"Tuan Thompson ada di sini sejak aku membuka toko!" tambah Emily, meyakinkan Gaby.


Gaby terhenyak. "Apa yang terjadi di sini sebenarnya? Apa aku berhalusinasi?" lirihnya kebingungan.


Tiga orang disitu juga sama bingungnya. "Aku akan bertanya pada Tuan Scott!" ujar Emily cepat, Dia segera meraih gagang telepon di meja kasir.


"Tuan Scott lagi? Kenapa segala sesuatu selalu kalian kaitkan dengannya? Apa dia cenayang? Paranormal yang bisa melihat orang tak kasat mata?"


Nada suara Gaby yang ketus menandakan dia tak senang jika segala sesuatu yang terjadi padanya, selalu dikaitkan dengan pria itu.


Emily yang sedang memencet tombol angka telepon, menghentikan kegiatannya. "Lalu kau mau bagaimana?" tanyanya.


"Sedari awal kau sudah ditolong Tuan Scott. Lalu kenapa kau terlihat tak suka padanya?" tanya Tuan Edward heran.


Gaby bingung mau menjelaskan seperti apa.


"Biar kutanya. Menurut Tuan Scott, kalian sudah bertemu sebelum kau kehujanan itu. Apakah saat itu kau juga tidak suka padanya?" tanya Dokter Thompson.


Gaby terdiam. Dia berusaha mengingat pagi hari saat bertemu Tuan Scott di toko buku. Rasanya dia tidak membenci pria itu, justru merasa hampir terpukau padanya. Lalu kenapa sekarang rasanya dia sangat antipati mendengar nama pria itu disebut? "Bagaimana mungkin aku bisa tiba-tiba membenci seseorang yang tidak pernah berbuat salah padaku?" gumamnya bingung.


"Hanya ada satu penjelasan! Penculikmu itu telah menanamkan kebencian di hatimu terhadap Tuan Scott!" duga Tuan Edward.


"Untuk apa dia melakukan hal itu? Aku toh bukan orang sini dan hanya mengenalnya sekilas saja?" Gaby terheran-heran.


"Hanya Tuan Scott yang bisa menjelaskannya!" Emily menjawab. Wanita itu mengangkat kepalanya ke pintu masuk. "Dan dia sudah ada di sini sekarang!" tambahnya lagi.


Tiga orang di situ melihat ke pintu kaca. Tuan Scott sedang menapaki halaman berbatu di depan toko.


"Bagaimana dia bisa segera ada di sini seperti hantu?" celetuk Gaby.


"Hush! Jaga ucapanmu! Atau kau tak bisa ditolong lagi!" Tuan Thompson mengingatkan dengan keras. Gaby terhenyak mendengarnya. Tangannya segera menutup mulutnya yang terlompat bicara.


"Selamat sore!" suara Tuan Scott terdengar seiring dentang bel pintu.


"Selamat sore, Tuan Scott," Emily membalas sapaannya dengan nada riang.


"Apa aku mengganggu perbincangan kalian?" tanyanya.


"Tidak, Tuan Scott. Aku sudah bosan kalah tiga set dengannya. Sebaiknya mengumpulkan energi agar tidak emosi." Tuan Thompson mendorong papan catur itu ke pinggir meja.

__ADS_1


"Emily, berikan aku secangkir teh madu lagi," pintanya.


"Kau sudah terlalu banyak minum teh, Tuan Thompson," Emily mengingatkan.


"Baiklah, tambahkan makanan ringan, agar perutku tidak hanya diisi air!" pintanya lagi.


"Baiklah." Emily menyahuti.


"Kau ingin apa, Tuan Scott?" tanyanya ramah.


"Buatkan aku teh madu juga," ujarnya singkat. Kemudian perhatiannya dialihkan pada Gaby.


"Apa kau mengalami sesuatu hari ini?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Bukankah saat itu kau berjanji akan mencari bros mutiaraku yang hilang?" Gaby balik bertanya.


Tuan Edward dan Tuan Thompson terkejut mendengar ucapannya yang kasar.


"Oh, jadi itu salahku sekarang? Aku sudah bertemu lagi dengannya dan meminta dia mengembalikan bros mutiara itu. Tapi memang tak ada di sana. Ku rasa kau kehilangan yang lainnya, hingga dia terus mengganggumu!" jawab Tuan Scott.


Tiga orang di ruangan itu melihat ketegangan antara Gaby dan Tuan Scott.


"Apa kau ingin menambah tehmu, Gaby?" suara Emily memecahkan kebekuan diantara dua orang yang saling bertatapan dengan intens.


"Tidak!" Gaby menjawab cepat, bahkan tanpa mengalihkan pandangannya yang menusuk tajam ke arah Tuan Scott.


Gaby tersentak mendengar pertanyaan itu. Perlahan wajahnya yang tegang itu mengendur. Wanita muda itu menunduk bingung.


"Kau dipengaruhi orang itu," simpul Tuan Scott.


"Itu juga yang kami simpulkan, Tuan Scott. Tadi sore dia pikir bertemu denganku di taman. Padahal sejak siang aku di sini!" lapor Tuan Thompson.


Tuan Scott menyipitkan pandangannya pada Gaby yang terus menunduk.


"Sekarang dia meniru orang-orang yang kau kenal. Besok lusa, dia akan meniru Emily, Tuan Edward atau bahkan aku!" tegasnya.


"Hah ... bahaya sekali!" timpal Emily.


"Bisakah anda membantu Gaby, Tuan Scott?" tanya Emily.


"Sulit. Orang itu sangat kuat. Aku mungkin bukan lawannya. Dia sudah mengalahkan banyak diantara kami," jawab Tuan Scott.


"Bahkan meski kau pulang ke negaramu, dia masih bisa mencarimu ke sana!" tambahnya lagi.


"Apa?" Gaby sangat terkejut mendengar kesimpulan itu.


"Apa yang diinginkannya dariku? Apa Anda tak bisa mematahkan sihir apapun yang telah diberikannya padaku?" Gaby bertanya pada Tuan Scott.

__ADS_1


Tuan Scott menatap mata Gaby tajam, seakan sedang membaca ke dalam jiwanya. Dan itu membuat Gaby jengah dab tanpa sadar, menahan napas. Hingga Tuan Scott mengalihkan pandangan darinya, barulah dia bisa menarik napas lega.


Pria misterius yang menyebalkan itu meniup sedikit tehnya yang masih mengepulkan asap. Kemudian menyeruputnya sedikit dari pinggir cangkir.


"Apa kau berdarah Scotland?" tanyanya tak terduga.


"Hah? Apa?" tanya Gaby bingung


"Masuk akal!" timbrung Tuan Edward. Gaby menoleh kearahnya dengan bingung. Matanya bertanya-tanya.


"Tak mungkin dia memilih Gaby tanpa alasan! Bukankah begitu, Tuan Scott?" Doktor Thompson menambahi.


"Jadi Gaby, apakah kau berdarah Scotland? tanya Emily.


"Tidak!" tampik Gaby cepat.


"Tak mungkin!" bantah Tuan Scott.


"Kecuali kau diadopsi, hingga tidak mengetahui asal-usulmu!" tambah pria itu lagi.


"Tidak!" Gaby menggelengkan kepalanya dengan bingung. Gaby tahu dia diadopsi. Orang tuanya sudah menceritakan hal itu saat dia usia tujuh belas. Dia menggeleng karena tak percaya Tuan Scott bisa melihat kehidupannya hanya lewat matanya. Dia tak percaya hal seajaib itu.


"Coba tanyakan pada orang tuamu!" saran Tuan Edward.


"Apakah setelah mengetahui aku berdarah Scotland, Anda baru bisa menghilangkan sihir orang itu?" tanya Gaby ingin kepastian.


"Tidak ada hubungannya. Tapi itu menjelaskan kenapa dia sangat berminat terhadapmu!" jawabnya ringan.


"Hahahaa ... Jadi, sebenarnya tidak terlalu penting aku berdarah apa, Anda tetap takkan bisa mengalahkan sihir orang itu, bukan?" sindir Gaby pedas.


"Bisa! Tapi aku tak mau. Aku ...." Pria itu terdiam sejenak, seperti sedang mencari kata yang tepat untuk diucapkan, tanpa mengagetkan Gaby.


"Katakan saja!" tantang Gaby yang merasakan keraguan pria itu.


"Tidak! Itu hanya akan menyusahkanmu nanti!" Tuan Scott tetap menolak.


Tangannya dimasukkan ke saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak. Kotak itu diletakkan di meja Gaby kemudian dia kembali duduk di mejanya.


"Coba kenakan gelang itu. Mungkin bisa menjauhkannya darimu!" ujarnya setelah meneguk tehnya.


"Tapi, seperti kataku tadi, Dia lebih kuat dariku. Jadi, bisa saja itu tak berhasil!" imbuhnya.


"Aku pergi. Emily, tehmu lezat seperti biasanya!" pujinya. Dia meninggalkan uang untuk teh, di atas meja.


"Terima kasih, Tuan Scott," balas Emily dengan nada riang yang tidak dibuat-buat.


*******

__ADS_1


__ADS_2