
Pagi-pagi sekali, Martin sudah keluar dari penginapan yang ditempatinya semalam. Dia nyaris tak tidur, untuk mengawasi dan menguping perbincangan di sekitarnya. Tak ada hal aneh apapun yang didengarnya tadi malam. Itu sebabnya dia bergegas pergi pagi hari dengan perasaan lega.
Dalam dua jam, Martin sampai di depan rumah sakit tempat dia harus bekerja. Dia mendapat sambutan dari kepala divisi, kemudian diantarkan ke ruang kerjanya. Sebuah laboratorium milik rumah sakit tersebut.
Diambilnya ponsel dan mengabarkan pada Jamie bahwa dia tak menemukan hal aneh sepanjang perjalanannya dari kota sebelumnya.
"Bagus! Tetaplah hati-hati!" balas Jamie setengah jam kemudian.
Martin ingin menanyakan kabar Gaby, tapi membatalkannya.Pekerjaan barunya harus segara dimulai. Bagaimana pun juga, dia harus menunjukkan bahwa dia memang layak untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Dia harus bekerja dengan profesional. Apapun masalah pribadi, jangan sampai mengganggu konsentrasinya saat bekerja.
*
*
Seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Ya!" sahut Martin.
"Sudah waktunya makan siang. Mari saya tunjukkan letak kafetaria rumah sakit ini." Seorang dengan jas lab yang sama menawarkan kebaikan.
"Oh, baiklah. Saya juga sudah merasa lapar." Martin berdiri dan membawa rekannya itu keluar, lalu mengunci pintu ruangannya.
"Saya Bob." Rekan barunya itu mengulurkan tangan. Martin menyambutnya hangat. "Senang mengenalmu, Bob. Panggil aku Martin."
Keduanya melangkah santai menuju kafetaria. Beberapa petugas rumah sakit lain juga berjalan ke arah yang sama. Dia akan mengikuti Bob berbelok ke dalam kafetaria, saat matanya tertumbuk pada seseorang yang sedang berjalan di lorong di depannya.
Pra itu seperti pria tua yang mengingatkannya untuk berhati-hati malam itu di kafe dekat pengisian bahan bakar dan sebuah penginapan. Pria tua itu tampak sedang berbincang serius dengan seorang pria berjas putih lainnya
"Hei, apa kau tak ingin masuk?" Bob menggamit lengan Martin yang terhenti di depan pintu kafetaria.
"Oh ... Ya, tentu." Martin segera mengikuti Bob masuk dan mengantri untuk mengambil makanan.
Lima belas menit adalah waktu yang sangat panjang bagi Martin yang merasa kehilangan jejak pria tua tadi. "Sedang apa dia di sini? Apakah dia salah satu staf atau petugas medis di sini?" pikir Martin.
"Ayo duduk di sana!" tunjuk Bob. Martin mengikuti arah tangan Bob. Dia bisa melihat di bagian tengah masih ada dua bangku kosong. Martin mengangguk mengiyakan.
"Ternyata saat jam makan, tempat ini bisa sangat penuh, ya." ujar Martin.
"Yups. Jika terlambat sedikit, maka kita tak bisa mendapatkan tempat duduk dan terpaksa menunggu sesi kedua.
__ADS_1
"Sesi kedua?" tanya Martin tak mengerti. Bob mengangguk.
"Ya! Setelah semua tempat duduk terisi, pintu masuk kafetaria akan ditutup dengan tulisan "PENUH". Maka yang ingin makan harus mengantri di lorong," jelas Bob tersenyum.
Martin melihat ke pintu masuk yang tadi dilewatinya. Benar saja. Seorang petugas sudah memasang plang di tengah-tengah pintu dengan tulisan menghadap ke luar.
"Permisi, bolehkan kami ikut duduk di sini," ujar Bob pada dua pria yang sudah lebih dulu menempati meja.
"Tentu!" jawab pria berjas putih ramah.
Martin terkejut melihat kedua orang tersebut. Itu adalah pria yang berjalan dan berbincang dengan pria tua tadi. Pria itu sedang menunduk dan menulis sesuatu di meja. Piring makanannya di dorong ke tengah meja.
Martin duduk tepat di depan pria tua itu. Dia ingin menyapa. Tapi takut menganggu konsentrasi pria itu saat menulis, Jadi dia memilih diam saja dan tersenyum pada pria berjas putih di depan Bob.
Mereka berdua menikmati makan siang dengan tenang. Tak ingin mengganggu dua pria yang sepertinya sedang berdiskusi sangat serius.
Tak lama.
"Apa kita saling mengenal? Rasanya wajah anda tidak asing." Pria tua itu akhirnya selesai dengan urusannya dan mulai melihat sekitar.
Martin tesenyum. "Kita bertemu dua malam lalu di sebuah kafe dekat tempat pengisian bahan bakar. Anda memberi saya nasehat malam itu. Terima kasih."
"Ternyata kau bekerja di sini juga seperti putraku," ujarnya. Dengan kebanggaan khas seorang ayah, dia langsung memperkenalkan putranya.
"Ini putraku," ditepuknya pria muda yang duduk di sebelahnya dengan mata hangat.
Martin dan Bob mengangguk pada pria itu dan dibalas dengan senyuman.
"Dia seorang spesialis Obgyn di sini," ujarnya bangga.
Pria itu meletakkan sendok dan mengulurkan tangannya ke arah Bob lebih dulu. "Steve!" ujarnya. "Bob," balas Bob.
"Martin." Martin memperkenalkan dirinya lebih dulu, karena tadi Steve sudah menyebutkan namanya pada Bob.
"Kalian dari Lab?" Steve membaca label nama yang ditempelkan pada dada kiri Bob.
"Ya!" Bob menyahut cepat.
__ADS_1
"Anda juga?" tanyanya pada Martin.
"Ya!" jawab Martin sambil mengangguk.
Pria tua tadi tidak mempedulikan perkenalan mereka. Dia makan dengan asik dan selesai lebih dulu. Kemudian matanya mengamati sekitarnya sambil menunggu putranya selesai makan.
"Kami pergi lebih dulu." Dokter muda itu menyelesaikan makannya dengan cepat, seakan takut ditinggalkan oleh ayahnya.
Martin dan Bob mengangguk. Melihat dengan ekor mata, bagaimana keduanya bergegas keluar dari ruang makan yang sangat luas itu.
"Kenapa mereka sangat terburu-buru," celetuk Martin.
"Mungkin ada pasien yang akan partus!" sahut Bob santai.
Martin terdiam. "Kau benar. Ini rumah sakit." Martin tertawa sumbang. Dia lupa bahwa dia tak lagi bekerja di laboratorium penelitian besar. Tetapi hanya Lab sebuah rumah sakit kecil, di kota kecil.
Martin sudah melupakan perkenalan tadi dan kembali ke rutinitas pekerjaannya. Dia merasa semua baik-baik saja. Tak ada yang akan mencari Gaby melalui dirinya.
*
*
"Kau ingat pesan ayah. Jika melihat wanita dengan ciri-ciri itu langsung kabarkan padaku. Jangan sampai terlambat!"
"Ya." Dokter muda itu mengangguk dan melambaikan tangan pada ayahnya yang sedang membawa mobil keluar dari halaman rumah sakit.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, dibacanya kertas dengan tulisan model lama yang ditarik miring di atas kertas.
"Ciri-ciri yang sangat absurd," komentarnya sambil menggelengkan kepala. Lalu kertas itu dilipat dan disimpan di dalam saku jas.
"Aine? Akankah jelmaan dewi itu akan menggunakan nama yang sama?" gumamnya sambil menggeleng.
Tapi pesan ayahnya sangat jelas. "Kau akan mengenalinya, saat melihatnya. Seperti apapun wujudnya sekarang, kau akan mengenalinya!"
Dokter muda itu menghela napas panjang. "Untuk dewi ini kah dia diberi umur panjang?" pikirnya.
Belum pernah dia melihat ayahnya begitu bersemangat seperti saat ini. Hanya berdasarkan mimpi yang didapatnya minggu lalu. Ayahnya melewati batas negara-negara. Dari Amerika Selatan, hingga ke tempatnya yang berada di belahan utara Amerika.
__ADS_1
Dengan heran kemarin dia bertanya bagaimana ayahnya bisa yakin dewi itu tak jauh dari kota ini. "Feeling," jawab ayahnya dengan raut wajah serius.
********