
Makan malam mereka hening dan sunyi. Martin mencari akal untuk mencairkan suasana kaku di antara mereka bertiga.
"Masakanmu lezat, Tuan Mac Kay," ujarnya membuka percakapan.
"Hasil dari pengalaman hidup ratusan tahun, Tuan Martin." Jamie menimpali. Nyonyanya tak pernah sediam itu saat mereka berdua.
"Oh ... Jadi, berapa tepatnya usiamu, kalau aku boleh tahu?" tanya Martin, terlihat tertarik dengan topik itu.
"Baru seratus dua puluh tahun," jawab Jamie.
"Baru? Hahaha ...."
Martin terkekeh geli mendengar Kata 'baru' diterapkan untuk usia sepanjang itu.
Jamie hanya menanggapi dengan senyuman. Dia terus mengiris daging, mengoleskan pada saus dan menyuapkannya ke dalam mulut.
Sementara itu, Gaby sama sekali tak tertarik untuk ikut serta dalam pembicaraan. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Tangannya bergerak otomatis mengiris gading steak dan menyuapkannya ke mulut.
Selesai makan, Gaby langsung berdiri dan beranjak ke kamar. Dia tak menyapa siapapun diantara kedua pria itu.
"Gaby!"
Suara panggilan Martin berhasil membawa kesadarannya kembali. Langkah kakinya berhenti dan menoleh ke meja makan, di mana dua pria masih duduk dan menikmati sedikit anggur.
"Kau memanggilku?" tanyanya. Matanya jelas mengarah pada Martin.
"Ya. Aku mau bilang, besok aku akan mencari pekerjaan di kota dekat sini. Jadi kita bisa tinggal bersama lagi seperti dulu." Wajah Martin cerah saat mengatakan rencananya.
"Kau sebaiknya pulang. Di sini tidak aman untukmu!" Gaby bersuara dingin. Dia hendak melanjutkan lagi langkahnya. Tapi terhenti.
__ADS_1
Kepalanya menoleh ke arah Martin. Memandang suaminya dengan serius. "Hubungan kita sudah berakhir. Tolong, tanda tangani berkas perceraian yang kuajukan!"
Matanya masih memandang Martin yang menatapnya tak percaya. "Aku baru menyadari sesuatu. Kurasa ... kurasa aku mencintainya, Martin. Dengan perasaan seperti itu, aku tak mungkin bisa meneruskan pernikahan kita."
Kata-kata Gaby yang terjeda itu seperti memberi udara segar bagi dada Martin yang terasa sesak.
"Dia sudah tiada! Tak bisakah kita memulai lagi hubungan ini dari awal?" Martin sudah membuang harga dirinya dengan mengatakan permohonan seperti itu.
Gaby menunduk. "Maafkan aku, harus mengatakannya. Ini kesalahanku sepenuhnya."
Wanita hamil itu kini berbalik ke arah dua pria yang duduk di meja makan. "Sekarang, cintaku hanya untuk anak ini. Aku tak punya ruang untuk mencintai siapapun lagi."
Martin terhenyak. Dia tak menyangka Gaby akan tetap menolak, meskipun dia sudah memohon begitu rupa. Kepalanya menunduk, tak tahu harus berkata apa lagi. Dia sudah ditolak mentah-mentah.
Melihat suasana yang memburuk, Jamie mengambil inisiatif untuk mengganti topik pembicaraan.
Gaby mengangguk ke arah Jamie, penuh rasa terima kasih. Pengawalnya itu sudah menyelamatkan dia dan Martin dari kecanggungan dan keributan besar.
"Baik, Tuan Mac Kay. Aku akan pergi beristirahat lebih awal." Gaby langsung membalikkan badannya dan meninggalkan ruang makan.
Setelah hening sesaat, Jamie Mac Kay berkata, "Di rumah ini, ada dua tempat yang bisa anda pilih untuk beristirahat. Ada sofa yang hangat, atau loteng dengan kasur. Tapi suhu masih sangat dingin di sini. Tanpa penghangat di atas, anda bisa terserang penyakit. Jadi saya sarankan anda tidur di sofa besar di ruang tivi. Tempat itu dekat dengan perapian. Anda akan baik-baik saja jika tidur di sana."
Jamie Mac Kay memberi Martin pilihan untuk dipikirkan. Trik Jamie ternyata berhasil mengalihkan perhatian Martin. Sekarang dia jadi memikirkan pilihan tempat untuk beristirahat.
"Tak apa, aku di sofa saja," jawab Martin cepat.
"Baik. Selamat beristirahat, Tuan Martin."
Kata-kata Jamie adalah pertanda bahwa acara makan malam itu telah sepenuhnya usai. Jamie bahkan sudah mengangkati piring-piring kotor ke pantry untuk dibersihkan.
__ADS_1
"Selamat malam, Jamie." Martin tak punya pilihan selain segera berdiri dari kursi setelah menyesap habis sisa anggur di gelas.
"Malam, Tuan Martin," balas Jamie sopan.
*
*
Selesai membersihkan dapur dan meja, Jamie pergi ke kamarnya dan mengambil bantal serta selimut cadangan untuk Martin. Dibawanya ke ruang tivi.
"Apakah ada acara menarik?" tanya Jamie ketika dilihatnya televisi masih menyala.
"Aku tidak tahu. Aku hanya mengganti-ganti channel saat bosan." Martin terus saja menekan tombol pada remote control.
"Ini bantal dan selimut anda. Selamat malam!" Jamie meletakkan bawaannya di samping Martin.
"Terima kasih."
Martin terdiam membisu setelah Jamie menghilang. Televisi yang menyala sama sekali tak menarik hatinya. Dipegangnya dada dengan tangan kiri.
Pria itu merasa hatinya berdarah dan terluka parah. Luka yang tak mungkin untuk disambung lagi. Semua sudah usai. Cinta sepihak ini tak mungkin diteruskan lagi.
Dia ingin sekali membenci Gaby. Namun hati kecilnya menolak bekerja sama. Istrinya itu terlihat semakin cantik dan mempesona dalam keadaan hamil. Kecantikan yang tak dapat diraihnya lagi.
Betapa dia ingin marah, tapi tak mampu. Cinta yang begitu dalam itu harus berakhir. Dia sungguh tak rela. Dipejamkannya mata untuk menenangkan nyeri di hati. Namun bayangan Gaby terus mengikuti.
Dalam serbuan kantuk dan kelelahan jiwa yang amat sangat, pria itu akhirnya terlelap dalam gelisah.
*******
__ADS_1