
Tak lama membaringkan diri, Gaby tertidur. Dalam tidurnya dia seperti diajak ke suatu tempat asing. Dia melihat Tuan Scott atau seseorang yang seperti pria itu. Dia sedang menanami kebun dengan bersemangat. Badannya yang tegap dibiarkan terbuka ditimpa cahaya matahari. Sementara kilt menutupi kakinya yang kotor berlumpur.
Gaby ingin memanggil pria itu, saat mendengar suara yang sangat dikenalnya, memanggil pria itu dengan nada mesra. Dia menoleh ke arah datangnya suara. Dan seketika terkejut. Itu adalah dirinya, dalam versi lain dan berpakaian yang sepenuhnya berbeda.
Gaby bisa melihat kedua orang itu berciuman. Wanita di depannya berbicara sebentar pada Tuan Scott. Suara dan pandangannya penuh cinta dan perhatian. Dan pria itu tersenyum dengan kasih sayang yang bisa dia tunjukkan lewat mata dan senyumnya.
Gaby bisa melihat bahwa kedua orang itu saling mengasihi. Sepasang manusia itu bergerak meninggalkan ladang yang baru saja ditanami. Tuan Scott memeluk pundak wanitanya sepanjang perjalanan mereka.
Tiba-tiba Gaby berpindah ke dekat sebuah pondok batu mungil. Beberapa bunga Iris kuning membatasi halaman mereka dengan padang rumput yang dipagari tumpukan batu setinggi lutut. Di sana beberapa ekor Coo yang merupakan sapi Scottland berbulu tebal dan panjang, sedang asik merumput.
Kemudian dilihatnya Tuan Scott datang bersama dirinya yang lain. Mereka menuju rumah batu mungil itu sambil berbincang dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Gaby.
Wanita muda itu masuk ke rumah. Sementara Tuan Scott mencuci muka, tangan dan kakinya lebih dulu, sebelum menyusul masuk ke rumah.
Kembali, Gaby tiba-tiba ikut berada di dalam rumah itu juga. Dia bis melihat dua orang itu berciuman setelah wanita itu mengatakan sesuatu yang membuat pria itu amat sangat bahagia.
Gaby sendiri tercengang melihat reaksi Tuan Scott yang biasanya tenang, kali ini terlihat seperti anak kecil yang mendapat mainan impiannya. Dia menari memutari wanita itu.
Setelah bersorak, Tuan Scott berjongkok dan mencium perut wanitanya.
Gaby tak memperhatikan detail selanjutnya. Adegan Tuan Scott mencium perut Gaby yang asing itu, telah menyadarkannya dari mimpi aneh di siang hari bolong.
Tanpa sadar dia meraba-raba perutnya, membayangkan adegan yang dilihatnya di dalam mimpi.
"Apa betul, dia adalah takdirku?"
"Kami pernah bertemu di masa lalu dan punya bayi?" gumamnya.
Tiba-tiba air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia sudah menikah tiga tahun dengan Martin, tapi belum ada tanda-tanda mereka akan punya bayi. Gaby tidak tahu apa masalahnya.
"Apa mungkin aku hamil dengan Tuan Scott?" batinnya tak percaya. "Tapi nenek bilang, aku akan melahirkan bayi guardian terkuat. Masih ditambahi untuk menjaganya dengan nyawaku."
__ADS_1
Gaby berpikir keras. "Apakah kelahiran bayi itu dapat mengundang bahaya? Atau kelahirannya tak diinginkan pihak lain?"
Bulu tengkuknya meremang ngeri membayangkan jika hal itu memang sebuah kenyataan.
"Lupakan! Untuk apa terlalu dipikirkan. Aku bahkan tidak sedang hamil!" Gaby mengenyahkan segala bayangan yang membuatnya merasa gelisah dan kuatir.
Gaby bangkit dari tempat tidur dan bermaksud turun ke bawah, saat nenek justru naik ke atas. Wanita tua itu membawa sesuatu di tangannya.
"Kenakan ini. Pakaianmu terlalu mencolok dan menarik perhatian orang lain. Dengan ini, kau akan terlihat seperti penduduk asli," ujar Nenek, seraya menyerahkan setumpuk kain yang dipegangnya. Wanita tua itu langsung berbalik dan meninggalkan Gaby yang terbengong bingung.
Dilihatnya pakaian yang sedikit apek dan terasa dingin, tanda terlalu lama disimpan. Entah baju siapa itu. Mungkin pakaian nenek di masa muda. Gaby mengganti pakaiannya yang sudah berhari-hari melekat di tubuhnya.
Digantinya pakaian sesuai permintaan nenek. Baju itu terdiri dari atasan longgar yang mungkin harusnya berwarna kelabu. Tapi kelabu yang terlalu buram karena dimakan usia. Kemudian rok bawah yang terdiri dari dua lapis. Bagian dalam putih kusam dan bagian luarnya motif tartan yang juga sama kusam dan tua. Hingga Gaby tak bisa lagi mengetahui warna asli kain itu.
Tapi dia cukup puas. Setidaknya, pakaian itu bersih dan sangat nyaman untuk dikenakan. Kemudian dilihatnya selembar kain lain. Dia berpikir apa fungsi kain itu? Karena tak mengetahuinya, akhirnya dia memilih turun. Untuk bertanya bagaimana memakai selembar kain itu, sekalian membantu nenek.
Jika tak ingin tercekik, maka dirinya lah yang memasak makan malam.
"Biar aku bantu memasak makan malam." Gaby menjelaskan maksudnya.
"Jika kau lapar, masih ada makanan di mangkuk dekat perapian. Habiskan!" kata nenek tanpa menoleh.
Gaby terpaku di tempatnya. Dia menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit. Membayangkan makanan yang super aneh itu, dia langsung tak berselera.
"Tidak perlu. biarkan itu untuk Tuan Scott," tolak Gaby halus.
"Tidak ada makanan yang boleh dibuang di rumah ini. Lagi pula, itu makanan untuk wanita. Bukan untuk Wingnut!" Nenek menatap Gaby dengan mata yang tajam menusuk.
"Oh, aku mengerti. Tapi bagaimana jika Tuan Scott tiba-tiba bangun dan ingin makan?" Gaby memberi alasan.
"Dia tak akan mati hanya karena terlambat makan beberapa jam!" balas nenek pedas.
__ADS_1
Gaby menyerah berdebat. Dia tak akan menang berdebat dengan wanita tua itu. Kemudian dia ingat sesuatu.
"Kain ini dipakai di mana?" tanya Gaby menunjukkan selembar kain di tangannya.
Nenek mengangkat kepalanya dari buku dan menoleh ke arah Gaby. sedikit mengernyit, kemudian berdiri. Diambilnya selembar kain yang tadi ditunjukkan Gaby.
"Pakai ini seperti ini. Fungsinya untuk menutupi bagian leher dan dadamu agar tidak terlalu terbuka."
Nenek membantu memasangkan kain itu di pundak hingga diletakkan di dada Gaby.
"Selipkan di balik bajumu," perintahnya.
Gaby segera merapikan kain tersebut. Sekarang dia merasa seperti sedang berada di masa berabad-abad lampau.
Nenek kembali pada kesibukannya. Dan Gaby bosan terkurung di rumah. Dia membuka pintu dana melihat keadaan di luar. Matahari mengintip di balik awan. Udara segar bertiup masuk dan mengelus pipinya lembut.
"Jangan lari lagi. Aku tak akan menolongmu lagi, jika kau mengulangi kesalahan itu!" Nenek memberi peringatan tegas.
Gaby mengangguk patuh. Dia juga sudah tak berani. Bayangan pria raksasa itu membuat pinsan Tuan Scott, membuat hatinya ciut. Bagaimana mungkin dia bisa melawan raksasa kasar seperti itu?
"Aku hanya ingin melihat di sekitar sini saja. Apakah aman?" tanya Gaby.
"Tetaplah di depan rumah ini," pesan nenek tanpa menoleh.
"Oke!" sahut Gaby.
Wanita itu segera melangkahkan kaki keluar rumah. Dia sebenarnya tak tahu mau melakukan apa di luar, Dia hanya merasa sumpek di dalam dan hatinya merasa sakit melihat Tuan Scott terbaring tak berdaya seperti itu.
"Bagaimana jika nanti dia melawan Watson? Akankah dia selamat?" batin Gaby kalut.
******
__ADS_1