The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
87. Persalinan Gaby


__ADS_3

"Ayo ... tarik napas lalu dorong, Nyonya," Steve memandu Gaby yang sedang berjuang untuk melahirkan bayinya.


Jamie merelakan tangannya digenggam kuat oleh Gaby, untuk mendapatkan tambahan kekuatan.


"Ayo, sekali lagi. Yang kuat dan penuh tenaga, ya." Steve kembali memberikan dorongan semangat.


"Apa tak bisa dioperasi saja?" Jamie yang melihat ekspresi kesakitan Gaby, jadi tak sabar melihat lambatnya perkembangan persalinan itu.


"Ini sudah hampir keluar kok. Sabar," ujar Dokter Steve.


"Ayo, Nyonya. Bayangkan wajah tampannya tersenyum padamu. Mari kita keluarkan jagoan yang sudah tak sabaran ini." Steve berusaha meredakan ketegangan yang dialami Gaby.


"Apa Anda ingin saya memanggil Tuan Martin? Mungkin Anda bisa menjadi lebih tenang jika dia ada di sini," tawar Jamie.


Gaby tak menjawab. Napasnya terasa memburu dan rasa sakit di pinggulnya tak terkatakan.


"Bisakah Anda ke bawah? tampaknya Nyonya membutuhkan Anda," panggil Jamie lewat ponsel.


"Tentu!" Martin segera lari masuk ke rumah dan melompati dua anak tangga sekaligus. Dia tak percaya Gaby mengijinkan Jamie memanggilnya.


"Apa yang bisa kubantu?" tanya Martin begitu mencapai kamar Gaby di basement.


"Beri dia support, anak ini harus segera dilahirkan. Atau saya akan melakukan operasi darurat!" Dokter Steve mengatakan situasinya.


"Ya Tuhan!" Martin terkejut. "Sayang, jangan banyak pikiran. Kau harus percaya, dia akan tumbuh besar dengan baik dan penuh kasih sayang." Martin segera bicara dengan cerewetnya.


"Dia bukan putramu!" dengus Gaby dengan napas memburu.


"Karena kau masih isteriku, maka dia adalah putraku," sahut Martin tak mau kalah.


Gaby menjadi tak senang. Emosinya naik. Tangannya yang menggenggam tangan Jamie, menggenggam makin kuat.


Martin dengan cekatan juga ikut memberikan tangannya untuk dijadikan Gaby sebagai pegangan.


"Aku selalu mencintaimu. Kau sangat tahu itu. Aku juga akan menjadi ayah yang baik untuk putra kita," katanya tak peduli.


"Kau---" Gaby menghela napas. Dia lelah, sementara ocehan Martin membuatnya sakit kepala.


"Tenanglah ... Konsentrasi saja. Pegang tanganku," ujar Martin dengan maksud menenangkan.


"Aku membencimu!" Emosi Gaby naik ke ubun-ubun dengan sikap Martin.


Seiring dengan itu, rasa mulai di perutnya kembali. "Ayo, ini kesempatan terakhir, Nyonya. Dia harus lahir. Atau semua yang kita perjuangkan sia-sia!" tegas Dokter Steve.


"Semangat, Honey. Aku sudah tak sabar ingin melihat putra tampan kita," ujar Martin dengan senyuman.

__ADS_1


Dengan sengaja, Gaby meremas tangan Martin lebih kuat untuk menunjukkan kejengkelannya.


Martin meringis saat kuku-kuku Gaby menancap ke kulit tangannya. Tapi itu hanya sebentar. Ekspresinya kembali berseri-seri.


"Genggamanmu masih sekuat dan semesra yang kuingat," bisik Martin ke telinga Gaby.


"Mm-mar-tin!" pekik Gaby emosi setengah mati. Genggamannya makin kuat. Sekaligus mengedan dan mendorong bayinya untuk melewati jalan lahir.


"Berhasil!" Wajah Dokter Steve tampak lega.


"Jangan didorong lagi. Anda istirahat saja," ujar Dokter Steve lagi.


Martin, Jamie merasa sangat lega. Keduanya otomatis mengamati tangan mereka yang kini telah dilepaskan Gaby. Tangan itu semula memucat, kemudian kemerah-merahan seperti lebam.


Meskipun napasnya terengah-engah, namun senyuman bahagia terlihat jelas di wajah Gaby. Matanya berlinangan dengan air mata bahagia.


"Kau sangat hebat," bisik Martin sambil mengecup dahi istrinya mesra.


Gaby ingin mengelak tapi dia sudah kehabisan tenaga. "Aku akan menghitung kelancanganmu ini, nanti." Suara lemah itu penuh dengan ancaman.


"Tentu, my Darling." Martin tak melepaskan kesempatan emas untuk mengecup pipi Gaby.


Gaby masih ingin marah. Namun, suara tangisan bayi yang melengking kencang, membuyarkan keinginannya.


Wajah semua orang yang ada di ruangan jadi berseri-seri dan penuh rasa ingin tahu. Mereka mengintip dari balik punggung Dokter Steve, saat pria itu sedang membersihkan sang bayi, setelah memotong tali pusarnya.


"Kau lihat itu, Ibumu sudah tak sabar." Dokter Steve bicara pada si bayi.


Kesakitan yang tadi dirasakannya, angsung musnah tatkala bayi itu berada dalam pelukannya. Air matanya tumpah sudah.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku," bisiknya haru.


Martin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ini moment penuh perasaan. Tak cocok jika dia mencoba melucu. Tanpa berkata-apa-apa, dia naik tangga dan kembali ke lantai atas.


Jamie sibuk membantu membersihkan yang perlu dibersihkan. Beberapa kali dia mengambilkan air untuk Dokter Steve membersihkan tangan dan beberapa peralatannya.


"Saya ke atas dulu, Nyonya. Anda bisa beristirahat dengan tenang. Bayi itu belum akan menyusui untuk sementara waktu. Tunggu dia lapar, baru anda bisa memulai pelajaran menyusui pertamanya," saran Dokter Steve.


"Baik. Terima kasih, Dokter," balas Gaby.


Jamie masih membersihkan lantai dari sisa-sisa darah Gaby. Dipelnya beberapa kali, hingga benar-benar bersih dan tak ada lagi bau darah yang tercium.


"Semua sudah bersih, Ma'am. Saya ke atas untuk menyiapkan makanan. Anda bisa beristirahat sebentar," pamit Jamie.


"Aku sudah sangat menyusahkan kalian. Terima kasih," kata Gaby haru.

__ADS_1


"itu sudah menjadi tugas saya, Ma'am," bantah Jamie sebelum pergi.


*


*


Jamie membuka ponsel dan membaca pesan masuk dari Duncan. Pesan itu setengah jam yang lalu. Dia merasa sangat cemas sekarang. Tak ada berita apapun sejak itu. Artinya rekan satu timnya sedang bertempur habis-habisan di luar kota.


"Tuan Martin. Bisakah anda menyiapkan makan untuk menambah tenaga bagi Nyonya? Dia sangat membutuhkannya sekarang," harap Jamie.


"Tak masalah. Aku akan menyiapkan sup ayam bergizi untuknya." Martin menjawab cepat dan bergegas ke dapur.


"Steve, di mana ayahmu?" tanyanya.


"Aku juga belum melihatnya sejak naik ke sini." sahut Steve.


"Dia tadi berjalan ke padang penggembalaan." Martin berteriak dari dapur.


Jamie keluar rumah dan mencari pria tua itu. Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi pada teman-temannya.


"Pak Tua!" panggilnya karena tak juga menemukannya.


Tak ada jawaban, Jamie terus berjalan lebih jauh ke tepi hutan kecil yang berbatasan dengan tempat penggembalaan domba mereka.


Dari kejauhan, dapat dilihatnya Oliver sedang duduk di atas sebongkah batu besar sambil membaca mantera dan tangannya bergerak ke sana-kemari.


"Apa dia sedang meindungi mereka?" pikir Jamie. Dia tak bisa mengganggu pria tua itu saat ini. Atau semua konsentrasi dan rapalan manteranya buyar.


Akhirnya dia kembali ke rumah dan mempersiapkan diri untuk yang terburuk.


"Kukira lebih baik aku menyusul mereka ke luar kota, untuk membantu menekan Watson." Jamie mngutarakan isi pikirannya. "Kalian segeralah pergi dan sembunyikan Nyonya ke tempat aman!" perintahnya.


"Apa itu langkah terbaik? Artinya kau akan meninggalkan kami tanpa perlindungan!"


Martin tak setuju dengan rencana itu. Dalam pandangannya, Jamie adalah benteng perlindungan Gaby yang terakhir. Ibu muda itu akan punya lebih banyak waktu istirahat jika Jamie tetap tinggal di sana.


"Oliver akan menjaga kalian!" Jamie Mac Kay sudah membulatkan tekadnya. Pedang panjangnya sudah disampirkan di punggung. Kunci mobil sudah berada di tangannya.


"Aku akan mencoba menahannya lebih lama di sana!" Beritahukan pada Tuan Muda, kami membaktikan hidup kami untuknya!" kata Jamie sembari berjalan cepat menuju mobilnya di halaman.


Martin dan Dokter Steve saling berpandangan. Mereka sedikit was-was, karena tak ada seorangpun yang ahli bela diri untuk melindungi Gaby di rumah itu.


"Siapkan sup itu secepatnya. Nyonya butuh tambahan tenaga, jika memang kita harus membawanya pergi!"


Dokter Steve cepat tanggap dengan situasi sulit yang sedang mereka hadapi. Pemburu itu tak akan bisa ditahan terlalu lama. Dan dia juga cemas dengan nasib ayahnya yang juga sedang mengadu nyawa untuk melindungi anggota tim lain yang sedang bertarung.

__ADS_1


"Sial! Kalau tahu begini, aku tak akan menolak belajar ilmu sihir. Dasar bodoh kau Steve!" umpatnya kesal.


*******


__ADS_2