The Novelist'S Secret Lover

The Novelist'S Secret Lover
51. Kehamilan Gaby


__ADS_3

Satu minggu berlalu tanpa insiden berarti. Hanya Tuan Scott yang makin sering mengunjungi dan membawakan berbagai keperluan Gaby. Namun, dia tak lagi bersikap cerewet pada wanita itu.


Hari ini, Gaby sedikit flu setelah kehujanan saat kembali dari makan malam di cafe. Tuan Scott datang dan menemaninya hingga di tertidur.


Dan pagi hari, kembali keduanya terkejut melihat bagaimana mereka bisa berakhir di atas tempat tidur yang sama dan dalam keadaan polos.


"Kurasa, sebaiknya kita tak boleh bersama saat malam tiba. Entah apa yang terjadi, kita bahkan tak tahu apapun!" kesal Gaby.


Wajah Tuan Scott dipenuhi penyesalan. Dia juga tak mengerti bagaimana bisa seperti itu. "Hal terakhir yang kuingat adalah duduk di sana!" tunjuknya ke kursi satu-satunya di depan meja kerja Gaby.


"Lupakan! Jangan bahas lagi!" Gaby bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Wajahnya ditekuk cemberut seperti kertas lecek yang habis diremas-remas. Tuan Scott segera merapikan pakaiannya.


Beberapa waktu kemudian Gaby keluar dalam keadaan segar. "Kau mau teh atau cokelat panas?" tawar Tuan Scott. Dia sedang memanaskan teko listrik untuk membuat minuman.


"Cokelat panas!" sahut Gaby.


"Oke!"


Tuan Scott membuatkan permintaannya. Dan menyajikan cokelat panas beserta roti yang sudah diolesi butter dan dipanggang. Sebotol selai blueberry juga ditambahkan di atas nampan. Semua itu dibawa ke meja kerja Gaby.


"Sarapan dulu sebelum kembali kerja," sarannya.


"Hemm," sahut Gaby tak acuh. Dia sedang sibuk mengetik di laptop.


"Aku akan kembali," pamit Tuan Scott.


"Hemmm." Gaby mengangguk tanpa menoleh.


Pria itu pergi dan menutup pintu kamar Gaby setelah keluar.


Setelah langkah kaki Tuan Scott tak lagi terdengar, Gaby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir deras. "Apa yang sebenarnya terjadi?" isaknya lirih.


Betapa dia tak berdaya dengan segala kemisteriusan tanah ini dan juga takdir yang mempermainkannya.


"Jika memang dia takdirku, kenapa dulu aku dibawa pergi ke Amerika? Jika aku tetap di sini, aku tak perlu mengkhianati dan menyakiti Martin!" sesalnya putus asa.


Gaby terus berpikir. Apa sebenarnya tujuan kedua orang tuanya membawanya jauh ke benua lain? Agar dia tak jadi rebutan para guardian? Ingin melawan takdir yang sudah digariskan oleh dewa-dewa mereka? Pada akhirnya, takdir akan menemukan jalannya. Aku dibawa ke tanah ini tanpa menyadari konsekwensinya. Hati kecilku terus memanggil untuk datang ke sini. Itukah yang dinamakan panggilan takdir?

__ADS_1


"Dan takdirku adalah melahirkan penerus seorang guardian. Dan Seperti mimpiku waktu itu. Dia adalah suamiku di masa lalu. Dulu aku juga hamil dan memberinya penerus. Apakah sekarang juga akan seperti itu?"


"Aku harus memeriksakan kehamilan dulu sebelum pulang. ENtah apa yang akan dikatakan Martin jika seandainya aku hamil nanti. Apakah dia akan meninggalkanku?" batin Gaby.


"Tapi, hamil ataupun tidak, rasanya sudah tak adil baginya jika aku terus bersama dengannya. Meskipun aku tidak menyadari apa yang terjadi. Tapi tetap saja ini sebuah pengkhianatan!"


Gaby terpukul saat menyadari hal itu. Hatinya sangat risau. Dia tak dapat memikirkan kata-kata yang ingin ditulisnya. DItariknya kedua kaki ke atas kursi dan memeluknya dengan kedua tangan. Matanya memandang ke luar jendela kaca. Pohon di halaman rumah Emily sudah nyaris gundul. Sebentar lagi, musim dingin akan datang.


"Baiklah ... untuk hari yang damai, maka jangan ijinkan dia menginap di sini. Apapun alasannya, kami tak boleh berada di satu ruangan yang sama saat malam tiba!"


Gaby bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti tadi malam. Dihelanya napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dilakukannya hal itu beberapa kali hingga hatinya kembali tenang. Sekarang dia siap untuk melanjutkan tulisannya.


Lima hari berikutnya.


Tuan Scott menelepon dan mengajak Gaby untuk memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan. Lusa, wanita itu sudah akan kembali ke Amerika. Jadi dia harus mendapatkan kepastian, agar dapat menyiapkan segala sesuatu untuk Gaby dan putranya nanti.


Pukul tiga sore Tuan Scott menjemput Gaby sesuai janjinya. Mereka berdua pergi ke dokter yang sebelumnya mereka datangi. Kembali Gaby diperiksa. Dan kali ini Dokter itu tersenyum. Suara detak jantung terdengar di ruangan.


Ditunjukkannya satu gambar buram di layar. "Selamat ya. Ini calon bayinya."


"Benarkah?"


Anak yang sudah terpilih sejak dia diciptakan, karena akanp menjadi seorang guardian juga. Berbeda dengan para guardian lain yang muncul setelah guardian satu klannya tewas. Putranya akan menjadi guardian terhebat di Scotland. Belum apa-apa, Tuan Scott sudah merasa sangat bangga. Dilihatnya Gaby yang terpana tak percaya.


"Terima kasih. Aku sangat bahagia," ujarnya sambil merengkuh bahu Gaby ke dalam pelukannya.


Sementara itu, Gaby merasa takjub. Akhirnya dia bisa hamil juga. Ada rasa senang bercampur sedih di hatinya. Senang bisa hamil, tapi sedih, karena ini bukanlah anak Martin.


Dan lebih sedih lagi, karena dia selalu merasa nyaman berada dalam pelukan Tuan Scott. Tubuhnya sama sekali tak mau bekerja sama untuk menolak pria itu seperti di pikirannya. Seperti sebuah naluri, dia membalas pelukan itu dengan sama hangatnya dan tersenyum manis.


Tuan Scott mengecup puncak kepalanya dengan mesra. Mereka sudah seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Sekarang Gaby dan Tuan Scott mendengarkan beberapa nasehat dokter agar kandungannya tetap sehat. Setelah mendapatkan beberapa vitamin, mereka pulang.


"Aku akan memberimu hadiah. Katakan kau ingin apa?" ujar Tuan Scott dalam perjalanan pulang.


"Bawa aku ke katedral. Aku bahkan belum melihat-lihat tempat itu!" ujar Gaby.

__ADS_1


"Sesuai keinginanmu, my darling," sahut Tuan Scott. Dibawanya mobil ke tempat yang ingin dikunjungi Gaby.


Gaby lama duduk dan berdoa di dalam katedral. Entah apa yang didoakannya, Tuan Scott membiarkannya. Pria itu sendiri juga ikut berdoa, mengharapkan putranya itu terjaga keselamatannya hingga dewasa.


"Sudah petang. Lebih baik kita makan malam dulu sebelum kembali ke flatmu," saran Tuan Scott.


"Ya. Aku juga sudah mulai lapar." Gaby mengangguk. Dia bersandar di jok mobil dan memejamkan matanya sejenak.


"Apa kau lelah?" tanya Tuan Scott penuh perhatian.


"Sedikit," angguk Gaby.


"Seharusnya aku membawa serta bantal agar kau bisa bersandar dengan nyaman," ujar Tuan Scot penuh penyesalan.


"Nanti akan lebih tidak nyaman lagi. Dan kau sudah tak ada!" suara Gaby terdengar getir.


"Aku akan mengirim seseorang untuk menjaga dan membantumu!" janji Tuan Scott.


Gaby menoleh padanya. "Apakah seorang pria?" tanyanya.


"Tuan Scott mengangguk sambil memperhatikan jalanan ramai.


"Kau mengirim seorang pria padaku? Apa kau tak khawatir aku jatuh cinta padanya?" selidik Gaby.


"Jika aku sudah mati, maka kau bisa jatuh cinta pada siapa pun!" sahut Tuan Scott.


"Kau tidak cemburu?" tanya Gaby heran.


"Orang mati tak bisa cemburu!" Tuan Scott tersenyum mendengar pertanyaan konyol Gaby.


Gaby mendengus. "Kau tahu maksudku! Kau memilih pria itu sekarang. Apa kau tak cemburu?"


"Demi keamanan kau dan anak itu, Apapun rela kulakukan!" jawab Tuan Scott dengan nada pasti.


Tanpa sadar, mata Gaby berbinar mendengarnya. Dia mendekati Tuan Scott dan mencium pipinya begitu saja.


"Terima kasih!" ujarnya lembut. Tuan Scott tersenyum lembut membalas kecupan Gaby.

__ADS_1


*******


__ADS_2